Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 03
Kirana menyapu keringat di dahi dengan punggung tangannya yang belepotan debu. Sesuai perkataan Kenan tempo hari, hari Sabtu ini seluruh murid diwajibkan mengikuti kegiatan kerja bakti membersihkan area belakang sekolah, tempat terlarang yang jarang terjamah, penuh rumput liar dan tumpukan meja kayu tua.
"Gue berani bertaruh uang saku seminggu, si Kenan pasti sengaja nempatin kita di area paling parah ini," gerutu Kirana seraya melemparkan ranting kering ke dalam karung sampah.
Maya yang sedang menyapu daun-daun kering di sebelahnya tertawa kecil. "Yah, lagian area belakang ini kan memang bagian kelas kita, Kir. Lagian, bersyukur dikit napa? Tuh, lihat ke depan."
Maya menunjuk dengan dagunya ke arah sudut lapangan dekat pohon beringin. Disana, Kenan berdiri tegak mengenakan kaos olahraga hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Lengan kaosnya yang sedikit tergulung memperlihatkan otot otot tangannya yang mengencang saat ia mengangkat papan kayu. Di sekelilingnya, beberapa siswi pengurus OSIS dan murid kelas lain sibuk menyodorkan botol air mineral dingin dengan wajah merona.
"Kak Kenan, ini minumannya... tadi aku beliin dari kantin," ucap seorang siswi kelas X dengan nada malu-malu.
Kenan melirik botol minuman itu datar tanpa minat. "Makasih, tapi taruh aja di meja panitia. Biar yang lain juga bisa ambil."
"Ih, dingin banget tapi keren banget, ya?" bisik Maya kagum. "Cewek-cewek pada antri cuma buat ngasih minum doang. Tapi ya gitu, jangankan diminum, dilirik aja kaga. Si Es Batu itu emang gak punya hati."
Kirana mendengus keras, mendadak hatinya merasa tidak nyaman. Cemburu? Gak mungkin! Elaknya dalam hati. Gue cuma enek aja lihat cewek-cewek itu pada kegatelan sama cowok sok jual mahal kayak dia!
"Biasa aja kali, May. Muka kayak gitu di pasar induk juga banyak," celetuk Kirana asal, sengaja membesarkan suaranya.
Naas, suara Kirana bertepatan dengan meredanya keriuhan di sekitar Kenan. Sang Ketua OSIS itu menoleh perlahan. Mata hitamnya yang dalam tepat mengunci pandangan Kirana. Kirana buru-buru memalingkan wajah dan kembali berpura-pura sibuk memunguti sampah.
"Kirana," panggil sebuah suara bariton yang sangat ia kenal, siapa lagi kalau bukan ketos sialan itu.
Jantung Kirana menegang. Ia berbalik lambat-lambat. Kenan sudah berdiri hanya berjarak dua meter darinya, memegang papan jalan berisikan daftar kehadiran.
"Area sebelah kiri belum bersih. Rumput liarnya masih tinggi. Buka karung baru dan selesaikan sebelum jam dua siang,"
perintah Kenan tanpa raut emosi.
"Gue kan lagi ngerjain yang bagian sini, Kenan! Lo gak lihat karung gue udah mau penuh?!" protes Kirana berapi-api.
"Kerjakan sesuai pembagian tugas. Jangan banyak alasan," potong Kenan dingin. "Atau poin pelanggaran lo mau gue tambah lagi?"
"Lo—!" Kirana mengepalkan tangannya. Maya di sampingnya sampai menyikut lengan Kirana, memberi isyarat agar sahabatnya itu tidak mencari masalah dengan Ketos yang sedang bertugas.
"Iya! Siap, Pak Ketos yang terhormat!" jawab Kirana sinis sambil menghentakkan kakinya menuju area rumput liar di pojok gudang.
Kenan menatap punggung Kirana yang menjauh. Ada kilatan tipis di matanya sebelum ia kembali mengalihkan pandangan pada papan kertasnya. Ia tahu Kirana kesal, tapi ia sengaja memindahkan Kirana ke area gudang belakang agar cewek itu berteduh di bawah atap bayangan gedung, bukan terus-terusan tersengat matahari terik di tengah lapangan. Tentu saja, cara menyampaikan perhatian ala Kenan selalu salah ditangkap oleh Kirana.
Hari semakin sore. Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB ketika kegiatan kerja bakti akhirnya selesai. Sebagian besar murid sudah pulang ke rumah masing-masing. Kirana yang kelelahan setengah mati menyandarkan punggungnya di dinding lorong dekat kamar mandi sekolah.
Seluruh tubuhnya terasa pegal, dan lengannya agak gatal akibat gesekan rumput liar.
"Duh, capek banget..." gumamnya meringis.
Tiba-tiba, sebuah langkah kaki mendekat. Kirana mendongak dan terkejut melihat Rendy, ketua tim basket sekolah yang terkenal tampan dan ramah, berjalan ke arahnya membawa dua botol minuman.
"Hei, Kirana. Kelihatannya capek banget lo," sapa Rendy tersenyum manis, menyodorkan satu botol minuman dingin ke arah Kirana.
Kirana yang tenggorokannya memang sangat kering langsung berbinar. "Eh, Lo Rendy. Makasih banyak ya, kebetulan banget gue lagi haus."
"Sama-sama. Gue lihat dari tadi lo rajin banget bersihin area gudang," kata Rendy sambil menyandarkan bahunya di dinding sebelah Kirana.
"Btw, nanti malam ada acara gak? Anak-anak basket mau nongkrong di cafe baru dekat simpang. Kalau lo mau, gue bisa jemput."
Kirana tersentak. Diingatkan kata 'nanti malam', otak Kirana langsung teringat pada Aturan Nomor 4 yang dibuat oleh Kenan, Jam malam rumah adalah jam delapan malam. Lebih dari jam delapan, pintu dikunci dari dalam dan harus tidur di teras!
"hmm... nanti malam ya? Kayaknya gue nggak bisa deh, Ren," tolak Kirana halus.
"Kenapa? Ada acara keluarga?" tanya Rendy penasaran.
"I-iya, ada acara di rumah." jawab Kirana berbohong demi menyembunyikan statusnya.
"Oh, gitu. Yaudah gak apa-apa, lain kali aja ya," ucap Rendy santai. Ia lalu merengkuh pelan bahu Kirana sekilas sebagai tanda mengerti. "Kalau gitu gue duluan ya, Kir. Duluan!"
"Iya, Ren. Hati-hati."
Saat Rendy melangkah pergi, Kirana menarik napas lega. Namun ketika ia membalikkan badan untuk mengambil tasnya, langkahnya mendadak terhenti.
Di ujung lorong yang remang-remang, Kenan berdiri bersedekap dada. Tatapannya menghujam lurus ke arah Kirana. Aura di sekitar cowok itu mendadak turun beberapa derajat, terasa jauh lebih dingin dan membekukan dibanding biasanya.
"Sejak kapan murid kelas XII IPA 2 suka pamer kemesraan di lorong sekolah?" sindir Kenan pelan, namun setiap kata yang diucapkannya penuh tekanan.
Kirana melotot. "Pamer kemesraan apa sih, gak jelas banget sih Lo. Rendy cuma nawarin minum dan ngajak nongkrong doang!"
"Dan lo menolak?" Kenan berjalan mendekat, langkah sepatu ketsnya berbunyi jelas di atas lantai keramik.
"Ya gue tolak lah! Lagian bukan urusan lo juga!"
Kenan berhenti tepat di depan Kirana. Tingginya yang mencolok membuat Kirana harus mendongak. Kenan merengkuh tali tas nya sendiri, lalu berbisik pelan dengan suara yang hanya bisa didengar mereka berdua.
"Itu jadi urusan gue saat lo lupa kalau lo punya suami yang nunggu di rumah. Dan ingat janji lo, jam lima sore pesan harus masuk kalau lo ada acara di luar."
Wajah Kirana memerah seketika. "Kan gue nggak jadi pergi! Lagian lo gak usah sok ngatur deh! Kita kan nikah cuma gara-gara perjodohan!"
Kenan menatapnya intens selama beberapa detik. "Perjodohan atau bukan, status lo sekarang istri gue. Jalan ke gang minimarket sekarang. Motor gue udah siap."
Tanpa menunggu tanggapan Kirana, Kenan berbalik dan melangkah pergi. Kirana hanya bisa menggeram frustasi sambil meremas botol di tangannya.
Sesuai prosedur rahasia mereka, Kirana menaiki motor sport Kenan dari dalam gang sempit minimarket. Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang canggung. Kirana sengaja memberi jarak di antara mereka, memegang erat besi pegangan di belakang jok motor. Kenan pun tidak memacu motornya dengan ugal-ugalan seperti tadi pagi, melainkan mengendarainya dengan kecepatan sedang dan stabil.
Sesampainya di rumah minimalis dua lantai mereka, Kirana langsung melepas sepatunya dan berjalan masuk ke dalam. Rumah rasanya begitu sepi tanpa kehadiran orang tua mereka.
Kirana langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu, memejamkan mata. Rasa lelah dari kegiatan kerja bakti benar-benar menguras energinya.
Tak lama kemudian, Kenan muncul dari arah dapur membawa sebuah mangkuk kecil berisikan air hangat dan selembar handuk kecil, serta sebuah salep gatal. Ia meletakkan peralatan itu di atas meja kaca di depan sofa.
Kirana membuka matanya sedikit, memandang Kenan curiga. "Mau ngapain lo?"
Kenan tidak menjawab. Ia duduk di lantai beralaskan karpet, tepat di samping sofa tempat Kirana berbaring. Tanpa permisi, Kenan meraih lengan kanan Kirana yang memerah dan berbintik akibat terkena ulat atau rumput gatal saat kerja bakti tadi.
"Aduh! Sakit, Kenan!" ringis Kirana mencoba menarik tangannya.
"Diem," tegas Kenan pelan namun tak dapat dibantah.
Dengan perlahan dan lembut, Kenan mencelupkan handuk ke air hangat, memerasnya, lalu mengusap kulit lengan Kirana yang memerah dengan sangat hati-hati. Kirana tertegun. Sentuhan Kenan amat berbanding terbalik dengan sikap dingin yang biasa ditunjukkannya di sekolah. Cowok yang dikenal sebagai 'Iblis OSIS' itu kini telaten merawat lukanya tanpa mengeluh sedikit pun.
Setelah mengusap dengan air hangat, Kenan membuka tutup salep gatal, mengoleskan krim putih itu ke jarinya, lalu meratakan nya di kulit lengan Kirana. Rasa dingin yang sejuk langsung menggantikan rasa gatal dan panas yang menyiksa.
Kirana menatap wajah Kenan dari samping. Rahangnya yang tegas, bulu matanya yang lentik, dan alis tebalnya yang sedikit bertaut karena fokus merawat tangannya.
Dalam jarak sedekat ini, Kirana baru menyadari betapa tampannya Ketua OSIS yang sering dimaki-maki nya itu.
"Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Kenan tiba-tiba tanpa berpaling dari lengan Kirana.
Kirana tersentak, dengan cepat mengalihkan pandangannya ke langit-langit rumah. "S-siapa yang ngeliatin lo! Pede banget!"
"Kulit lo sensitif," ucap Kenan tenang sambil membereskan botol salep.
"Makanya kalau dibilang bersihin area yang nggak banyak rumput liar, nurut. Sok-sokan mau pamer bisa ngerjain semuanya sendiri."
"Ya kan lo yang nyuruh gue ke area sana!" seloroh Kirana tidak terima.
"Gue nyuruh lo di bawah naungan atap gudang, bukan menyusup ke dalam semak-semak rumput gajah," balas Kenan datar seraya berdiri. Ia menatap Kirana.
"Mandi sana. Bau matahari."
"Kenan sialan!" amuk Kirana melempar bantal sofa ke arah Kenan, namun dengan sigap Kenan menangkap bantal itu dengan satu tangan sambil tersenyum tipis, senyuman sangat tipis yang hampir tak terlihat.
Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam, hujan deras mengguyur kota. Suara petir sesekali bersahut-sahutan di luar rumah.
Kirana berada di kamar tidurnya di lantai dua. Sejak sore tadi, barang-barang tambahan milik mereka memang sudah diantar oleh kurir, sehingga kamar sebelah tempat Kirana tidur kini sudah memiliki ranjang kasur sendiri. Namun, ada satu masalah besar: Kirana sangat takut pada suara petir guntur yang keras.
DUAARRR!
Suara kilat yang menyambar dahsyat membuat aliran listrik di rumah minimalis itu mendadak padam. Seketika, seluruh ruangan menjadi gelap gulita.
"KYAAA!" jerit Kirana histeris dari dalam kamarnya.
Kirana langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, berguling membentuk gulungan gulung, dan gemetaran hebat. Pengalamannya saat kecil yang pernah terjebak dalam pemadaman listrik bersama petir dahsyat membuatnya trauma setengah mati pada kegelapan dan guntur.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamarnya terdengar di antara deru suara hujan.
"Kirana?" suara Kenan terdengar dari balik pintu.
"Kenan! J-jangan pergi! Gue takut!" teriak Kirana dari balik selimut, suaranya bergetar menahan tangis.
Pintu kamar terbuka. Cahaya temaram dari lampu darurat yang dipegang Kenan menerangi ruangan. Kenan melangkah masuk, melihat buntalan selimut di atas kasur yang gemetaran hebat.
Kenan meletakkan lampu darurat di atas meja belajar, lalu melangkah menuju tepi kasur. Ia duduk di sana dan perlahan menarik ujung selimut Kirana.
"Keluar. Nanti lo megap-megap di dalam sana," kata Kenan pelan.
Kirana membulatkan matanya yang berkaca-kaca, muncul dari balik selimut. Begitu melihat sosok Kenan di sampingnya, tanpa berpikir panjang Kirana langsung memeluk pinggang Kenan erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang cowok itu.
"Gue takut petir, Kenan... gelap banget..." bisik Kirana lirih, tangannya mencengkeram kaus Kenan.
Kenan sempat tubuhnya membeku sejenak saat dekapan hangat Kirana menyapa dadanya. Namun perlahan, mengikis rasa gengsinya, Kenan mengangkat tangannya dan mengusap rambut panjang Kirana dengan lembut.
DUAARRR!
Petir kembali menyambar di luar. Kirana semakin mempererat pelukannya pada Kenan.
"Gak apa-apa. Ada gue di sini," ucap Kenan dengan nada suara yang amat lembut—nada yang belum pernah didengar oleh siapa pun di SMA Garuda.
"plisss jangan tinggalin gue..." pinta Kirana pelan.
"gak bakal gue tinggal. Gue di sini sampai listriknya menyala," balas Kenan tenang.
Kirana mendongak sedikit, menatap wajah Kenan di bawah remang cahaya lampu darurat. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Kenan dan detak jantung cowok itu yang berdegup teratur atau mungkin sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Kenan..." panggil Kirana lirih.
"Hm?"
"Lo... sebenarnya jahat apa baik sih?" tanya Kirana polos.
Kenan menatap manik mata Kirana dengan dalam. "Gue cuma jahat sama orang yang gak bisa diatur. Tapi buat cewek penakut yang kebetulan jadi istri gue... kayaknya gue harus mikir dua kali."
Wajah Kirana mendadak terasa panas. Ia bermaksud melepas pelukannya karena malu, namun Kenan justru memegang belakang kepalanya lembut, menahannya untuk tetap bersandar di dadanya.
"Udah, merem. Tidur," gumam Kenan pelan.
Di tengah keheningan malam yang terisolasi oleh hujan deras dan kegelapan, dua orang manusia yang tadinya saling menyindir di koridor sekolah tadi, kini saling menaruh hangat di bawah satu atap yang sama. Dan bagi Kirana, suara detak jantung Kenan malam itu mendadak menjadi melodi paling menenangkan dan mampu menghapus rasa takutnya.
Bersambung…