Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir x Permulaan 3
Kembali ke kantor Disnaker. Suasananya ramai oleh bapak-bapak dan ibu-ibu dari berbagai daerah, sebagian besar membawa koper atau tas ransel usang, bersiap mengadu nasib ke luar negeri.
Reza duduk di kursi antrean plastik warna biru. Poltak duduk di sebelahnya, kakinya terus bergoyang-goyang gelisah.
"Za, kau lihat bapak yang di ujung sana itu? Badannya kekar macam binaragawan aja mau ke Taiwan jadi kuli bangunan. Lah kau? Dada rata macam papan penggilasan, mau kerja apa kau di Cina? Ditiup angin topan dikit juga terbang kau nanti!" Poltak masih terus melancarkan serangan mentalnya, berharap Reza berubah pikiran di detik-detik terakhir.
Reza tidak menoleh, matanya terpaku pada loket nomor 3 yang melayani pendaftaran Calon Pekerja Migran Indonesia. "Kalau gue terbang, malah bagus, Tak. Hemat ongkos tiket pesawat. Tinggal landing aja di Guangzhou."
Poltak mengerang frustrasi. "Suka-suka kaulah, Za! Pusing kepalaku!"
"Nomor antrean 072! Silakan ke Loket 3!" suara panggilan dari speaker memecah antrean.
Reza berdiri. Ia merapikan kemejanya, menarik napas dalam-dalam, dan melangkah mantap menuju loket. Poltak memperhatikan dari belakang, mulutnya berkomat-kamit merapal doa dalam bahasa Batak.
Tuhan, tolonglah. Tolaklah berkas anak ini. Bilang saja tinggi badannya kurang, atau matanya minus, atau otaknya agak konslet. Pokoknya pulangkan dia ke Depok! Jangan biarkan kawan aku ini jadi babu di negeri orang! doa Poltak dengan sangat khusyuk.
Di depan loket, seorang petugas wanita berkacamata separuh baya menerima map merah Reza. Ia membuka map itu, memeriksa dokumen di dalamnya satu per satu.
"Reza Adhitama?" tanya petugas itu sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Siap, Bu. Betul," jawab Reza dengan suara lantang dan tegap, seolah ia sedang ospek.
"Lulusan SMA ya? Usia masuk. KTP, KK, SKCK lengkap. Surat izin orang tua... ada." Petugas itu menatap Reza sejenak. "Kamu mau daftar untuk penempatan negara mana?"
"Tiongkok, Bu. Ke Cina. Spesifiknya kalau bisa daerah Guangzhou," jawab Reza cepat. Tangannya di bawah meja loket refleks merogoh sakunya, menyentuh kelereng baret motif merah-biru yang selalu menemaninya.
Petugas itu mengetik sesuatu di komputernya. "Untuk Tiongkok, kebetulan kita lagi ada pembukaan pendaftaran untuk tenaga kerja di sektor manufaktur dan perakitan elektronik di kawasan industri Guangdong. Lokasinya lumayan dekat dengan Guangzhou. Tapi kerjanya sistem shift padat, pabrik besar. Gajinya lumayan buat pemula. Kamu sanggup kerja fisik?"
Reza mengangguk tanpa ragu satu milimeter pun. "Sanggup, Bu. Suruh saya ngerakit radio sampai bikin kapal selam juga saya sanggup, yang penting saya sampai di sana."
Petugas itu tersenyum kecil melihat semangat Reza. "Bagus. Kebetulan kamu ada nilai plus. Di biodata kamu nulis pernah kuliah Sastra Cina satu semester. Berarti kamu ada dasar bahasanya dong?"
"Ada, Bu. Ujian lisan saya A minus, sebelum saya... eh, sebelum saya resign dari kampus," Reza sedikit memelintir sejarah DO-nya demi kelancaran administrasi.
"Wah, ini modal bagus. Kadang pabrik di sana butuh supervisor lapangan yang bisa komunikasi dua bahasa buat handle pekerja dari Indonesia. Nanti saya kasih catatan khusus di berkas kamu biar di- highlight sama agensi." Petugas itu kemudian mengecap dokumen Reza dengan stempel besar berwarna biru bertuliskan DITERIMA.
Mendengar suara cap yang menghantam meja itu, Reza tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca. Di saat ia diusir dari pintu depan kesuksesan, Tuhan membukakan jendela pendaftaran tenaga kerja untuknya.
Ia berbalik, mengangkat map merahnya yang sudah di-ACC tinggi-tinggi ke arah Poltak. Wajah Reza memancarkan kebahagiaan yang murni, kemenangan kecil yang telah lama ia nantikan.
Di kursi antrean, Poltak langsung menepuk jidatnya dengan keras. Doanya bouncing alias tidak tembus ke langit.
"Mampuslah kau, Poltak. Beneran jadi TKI kawan kau ini," gumam Poltak lemas, merosot di kursinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, melihat Reza yang tersenyum seterang itu, Poltak tidak bisa menahan seulas senyum tipis di bibirnya yang masih bengkak. Kesetiaan sahabatnya pada janjinya itu memang layak mendapatkan satu benua utuh.
Reza berjalan menghampiri Poltak, menepuk bahu lebar pemuda itu. "Gue berangkat, Tak. Guangzhou, I'm coming!"