Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
#13
Zion mendarat dengan selamat di airport setempat, anak buahnya datang secara khusus untuk menjemput Zion.
Mereka terlibat pembicaraan serius yang selama ini hanya bisa mereka lakukan melalui perantara alat komunikasi, telepon, direct message atau email.
Louis memberikan beberapa berkas, yang lagi-lagi berhasil ia dapatkan tentang kelompok mafia The King. Dimulai dari biodata orang-orang penting di kelompok tersebut.
“Ini data terbaru?”
“Bukan, itu adalah data dari sisa arsip lama yang tidak ikut terbakar dalam peristiwa ledakan.”
Zion kembali mengamati biodata tersebut dengan cermat, ada foto yang menempel di lembaran kertas tersebut, sayangnya semuanya buram.
“Adam Romanov mendapatkan anak-anak ini dari mana?” selidik Zion, sebab asal muasal mereka sangat random.
“Sepertinya, didapat dari mafia yang melakukan praktek human trafficking, namun, ada juga yang asalnya dari panti-panti asuhan. Mereka sengaja membuat panti asuhan bangkrut dan kehabisan dana, lalu membawa paksa anak-anak yang ada di sana.
“Siapa mafia yang kamu tahu sebagai makelar illegal trafficking?”
“Alan Romanov, tapi pria itu menggunakan organisasi lain sebagai tameng untuk menutupi kejahatannya.”
“Mafia di belakang mafia?”
“Semacam itulah.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di lokasi bekas bangunan megah milik Adam Romanov.
Louis nampak heran, sebab puing-puing bangunan itu kini telah dipagari dengan tali pembatas, sepertinya hendak dibangun kembali, atau entahlah.
“Kenapa? Sepertinya kamu heran?” tanya Zion saat melihat Louis celingukan kesana kemari seperti sedang bingung.
“Terakhir kali saya kemari, tempat ini belum diberi pagar pembatas,” ungkap Louis, yang coba menyingkirkan tali pembatas untuk masuk.
Tapi, sebelum Louis sempat melangkah lebih lanjut, sebuah mobil mendatangi mereka dengan kecepatan tinggi.
Louis kembali mundur, begitupun Zion.
Beberapa pria berbadan kekar dan tinggi, keluar dari mobil, menghampiri Zion dan Louis yang sedang mengambil jarak dengan sikap waspada. Mereka sudah sangat siap andai orang-orang itu mencari gara-gara.
“Sedang apa kalian?” tanya salah seorang pria tersebut, dengan bahasa setempat.
“Kami tersesat,” jawab Louis asal bunyi, tapi cukup masuk akal, karena tempat tersebut, cukup jauh dari keramaian.
“Pergilah, tempat ini sedang dalam proses renovasi, dan siapapun dilarang datang mendekat, apalagi masuk ke dalam.”
Zion dan Louis mengangguk singkat, mereka meminta maaf sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Menurutmu, kenapa mereka melakukan itu?” tanya Zion, saat mobil melaju pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tak ada yang tahu motif mereka sebenarnya, karena jawaban itulah yang sedang Zion cari.
•••
Merasa tak tenang, sebab seseorang dari masa lalunya datang, Lizie kini menjelma menjadi seseorang yang lebih paranoid. Sedikit saja senggolan tanpa sengaja di tengah perjalanan, membuat wanita itu menoleh ke belakang dengan sikap waspada.
Lizie juga lebih sering termenung di tengah kesendiriannya saat sang suami tidak sedang ada di dekatnya.
Meskipun ada mertua, namun, Lizie tak mau mengandalkan mereka karena ini berkaitan dengan masa lalu yang selalu coba ia kubur dalam-dalam.
Tak mau terus terusan was-was, Lizie memilih pergi ke tempat ia menyembunyikan perlengkapan tempurnya, ia menyiapkan senjata yang bisa ia bawa kemanapun dan kapanpun. Lalu menyelipkannya di dalam tas yang kerap ia bawa pergi kemana-mana.
Seperti saat ini, Lizie sudah berdiri di depan gerbang sekolah Zea bersama beberapa ibu yang lain, namun, sikap dan gerak-geriknya terlihat waspada dan tidak nyaman.
Seringkali ia menoleh, melihat ke sekitar, fokus pada satu orang, tapi ternyata orang itu hanya pejalan kaki biasa. Terus begitu setiap kali melihat orang yang mencurigakan.
“Mama!”
Seruan riang Zea membuyarkan kewaspadaan Lizie.
Lizie melambaikan tangan dengan wajah tak kalah riang, nampak Zea sedang kerepotan dengan beberapa barang di kedua tangannya.
“Ini Mama, kata Miss Eva, ini baju buat pentas.”
“Oh, iya, sini Mama bantu.” Lizie mengambil alih barang-barang tersebut dari tangan Zea, karena kedua tangan kecil Zea kesulitan membawa kedua barang tersebut.
“Telimakacih, Mama,” ucap Zea senang.
“Sama-sama, Sayang.” Lizie menggandeng lengan Zea, keduanya menunggu hingga lampu menyeberang jalan berubah menjadi warna hijau.
“Mama, Oma dan Opa cudah puyang beyum?”
“Kenapa? Zea kangen?”
Daddy Danesh dan Mommy Dhera memang sempat pulang sejenak, sebelum keberangkatan Zion. Namun, weekend kemarin mereka kembali ke Geraldy Kingdom, sementara Lizie dan Zea tetap di rumah, karena Zea agak demam.
“Iya, Ma.”
“Tadi Oma dan Opa bilang, sudah di perjalanan. Mungkin sekarang sudah sampai rumah.”
Kedua mata Zea berbinar cerah, “Benelan, Ma?!”
Lizie mengangguk. “Benar, Dong. Masa Mama bohong?”
“Yeay! Acik! Bica main ciat! Ciat! Ciat! Sama Opa dan Oma.” Dengan antusias Zea memperagakan gerakan kecil yang diajarkan Daddy Danesh.
Zea mungkin masih kecil, tapi gadis itu mewarisi bakat alami keluarga mereka, menyukai olah tubuh. Jadi Daddy Danesh melatihnya memukul dan menendang ala atlet kick boxer, tentu dengan kapasitas setara anak-anak. Sekedar menguatkan otot tangan dan kedua kaki kecilnya.
Lampu hijau menyala, mereka berjalan bersama beberapa orang tua yang juga hendak menyeberangi jalan menuju tempat parkir mobil berada.
“Kenapa nggak bilang Mama kalau mau latihan ciat! Ciat!”
“Mama ga bica, mama bicana cuma macak dan belcih-belcih lumah.”
Lizie tertawa geli, lagipula ia juga tak berminat mempertontonkan keahliannya di depan Zea, khawatir Zea shock.
•••
Tiba di gerbang rumah, Lizie kembali menerima sebuah paket misterius.
“Kapan datangnya, Pak?”
“Beberapa saat sebelum Anda datang, Nyonya.”
Lizie hanya tersenyum, lalu berterima kasih. Padahal di dalam hati ia benar-benar dag, dig, dug tak karuan.
Tebakan Lizie benar, karena ia melihat mobil milik mertuanya sudah parkir di garasi paviliun mereka.
“Yeay! Oma, Opa cudah puyang.”
Selepas turun dari mobil, Zea langsung berlari ke paviliun yang ditempati Daddy Danesh dan Mommy Dhera.
Lizie memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuka paket yang ia terima, dadanya berdegup kencang, apalagi saat melihat benda yang diterimanya.
Hanya selembar kertas putih di sana terukir sebuah gambar, seperti logo berbentuk pedang yang saling bersilang. Jika kebetulan ada orang lain yang membuka paket Lizie tanpa izin, orang itu tak akan tahu, karena yang memahaminya hanya Lizie seorang.
Gambar tersebut bermakna perintah baginya, dan orang yang harus ia akhiri hidupnya memiliki ciri-ciri, gambar, atau benda apa saja yang berkaitan dengan kode yang diterima Lizie.
Lizie menggeram marah, kenapa sulit sekali melepaskan diri? Padahal ia sudah berlari sejauh mungkin, melakukan berbagai macam upaya hingga mengganti identitasnya entah berapa kali sampai saat ini. Termasuk mendatangi dokter spesialis demi melakukan operasi plastik dengan hasil terbaik.
Kenapa? Tentu saja untuk menghapus bekas luka, baik itu luka sayatan atau luka tembak, dan tato kepala singa bermahkota dari tubuhnya. Agar suami dan keluarga besarnya tak mencurigai masa lalunya, Lizie merasa semua telah sempurna hingga ia mulai menyadari bahwa hidupnya kembali diusik.
Beberapa saat kemudian Zea kembali, “Mama, kata Oma, kita kecana aja, Oma dan Opa yagi ada tamu.”
Lizie menyanggupi dengan senang hati, tapi sebelumnya ia mengeluarkan semua barang-barang mereka dari mobil dan menyimpannya di rumah. Setelah itu ia menyusul Zea ke rumah kedua mertuanya.
Benar saja, mereka sedang kedatangan tamu, seorang pria kira-kira sebaya dengan Daddy Danesh.
“Nah, ini menantuku,” kata Daddy Danesh memperkenalkan Lizie dengan bahasa perancis.
Lizie menyambut uluran tangan pria itu, namun, senyumnya memudar saat ia melihat lengan kanan pria itu memiliki tato serupa dengan gambar yang diterimanya dari paket misterius beberapa saat yang lalu.
Siapa pria ini?