6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. NAMA KETUJUH DI KAIN
Malam itu balai desa tidak lagi terasa seperti balai desa.
Sejak kami menemukan kain kafan itu di dalam sumur tua kemarin sore, hawa di Desa Mati ini berubah total. Warga yang biasanya masih nongkrong di warung sampai jam 8 malam, sekarang jam 6 sore saja sudah sepi. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara anak kecil. Yang ada hanya suara angin yang membawa bau kemenyan dari arah hutan.
Aku, Sinta, dan Bima akhirnya memutuskan tidur di balai desa. Kami beralasan ke Pak Lurah mau merapikan laporan KKN, padahal kami takut tidur di rumah Mbok Darmi. Sejak kemarin, Mbok Darmi terlihat aneh. Dia sering melamun sambil menatap sumur tua di belakang rumahnya, dan semalam aku mendengar dia mengigau menyebut satu nama yang sama terus-menerus: "Selvi... Selvi... maafkan mbok..."
Kami duduk melingkar di tengah balai desa yang dingin. Hanya ada satu lampu senter yang baterainya sudah mau habis, cahayanya kuning dan berkedip-kedip. Di tengah kami, terhampar kain kafan yang kami ambil dari sumur. Kain itu masih basah, masih meneteskan air hitam yang bau tanah dan anyir darah. Bau amisnya menusuk sampai ke otak.
Awalnya kami kira noda coklat di kain itu hanya tanah. Tapi setelah Sinta memberanikan diri mengelapnya pelan-pelan dengan air mineral, noda itu justru semakin jelas membentuk tulisan.
Tulisan tangan. Tulisan tangan perempuan, miring, ditulis dengan tergesa-gesa menggunakan arang atau darah kering.
Sinta yang membacanya pertama kali, suaranya bergetar hebat sampai hampir menangis.
"Rukiyah... Sarmi... Tohari... Lestari..."
Aku langsung merinding. Itu adalah nama-nama yang disebutkan Mbok Darmi dua hari lalu saat kami wawancara. Nama-nama mahasiswa KKN tahun 1998 yang hilang di desa ini dan tidak pernah ditemukan jasadnya.
Bima melanjutkan dengan suara pelan, "Wagiman... Siti..."
Enam nama. Pas enam nama. Semua nama yang hilang di tahun 98.
Lalu Sinta berhenti. Tangannya berhenti di baris paling bawah. Ada jarak yang cukup jauh dari enam nama di atas. Tulisannya beda. Jika enam nama di atas sudah kering, coklat kehitaman dan pudar, tulisan di baris ketujuh ini masih basah. Warnanya merah segar, berkilau terkena cahaya senter, dan terlihat baru ditulis beberapa jam yang lalu.
Di baris ketujuh itu tertulis satu nama yang membuat jantungku serasa berhenti.
"SELPI"
Bukan Selvi. Tapi Selpi. Namaku.
Aku terdiam. Tenggorokanku kering. "Itu... itu namaku," bisikku.
Sinta langsung menatapku dengan mata melotot, wajahnya pucat pasi seperti mayat. "Sel, demi Allah jangan bercanda. Ini gak lucu!"
"Aku gak bercanda, Sin! Aku gak pernah nulis ini! Siapa yang nulis namaku di kain kafan bekas pocong!"
Bima mengambil kain itu dan mengendusnya. Wajahnya langsung berubah mual. "Ini darah segar, Selpi. Ini bukan darah lama. Ini baru. Anyirnya masih kuat. Ada yang baru nulis namamu pakai darah hari ini."
Saat itu juga, angin kencang menerobos masuk dari sela-sela dinding bambu balai desa. Anginnya dingin sekali, dinginnya tidak wajar, seperti angin dari dalam kulkas mayat. Lampu senter kami berkedip cepat, lalu mati total.
Gelap gulita.
Kami bertiga langsung saling berpegangan. Aku bisa merasakan kuku Sinta mencengkeram lenganku sampai perih. Napas kami memburu.
Lalu kami mendengarnya.
Srek... srek... srek...
Suara kain berat diseret di atas lantai kayu balai desa. Suara itu mengelilingi kami, pelan tapi pasti mendekat.
"SELPI..."
Suara perempuan tua, serak, memanggil namaku tepat di belakang telingaku. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang bau bangkai di leherku. Aku menjerit sekeras-kerasnya dan memukul-mukul senter itu.
Senter menyala lagi. Redup.
Di sudut balai desa, di bawah foto Garuda yang sudah miring, berdiri sosok perempuan. Rambutnya panjang menutupi wajah, kebaya hitamnya sobek-sobek penuh tanah basah. Dia tidak punya kaki, dia melayang. Dan yang paling mengerikan, dia memegang ujung kain kafan yang sama dengan yang ada di tangan kami. Kami terhubung oleh satu kain yang sama.
Dia menarik kain itu pelan-pelan. Tarikannya kuat, tidak wajar.
"LEPASIN, SELPI! LEPASIN KAINNYA!" Sinta menjerit histeris.
Aku mencoba melepas, tapi tidak bisa. Telapak tanganku seperti dilem, seperti ada jarum-jarum kecil dari kain itu yang menancap ke kulitku. Darahku menetes dan langsung diserap kain, membuat tulisan SELPI semakin menyala merah.
Semakin dekat, wajahnya semakin terlihat. Matanya bolong hitam, mulutnya robek lebar sampai ke telinga. Dari dalam mulutnya yang menganga, keluar potongan-potongan kain kafan yang terus mengalir.
Dia berbisik, tapi suaranya masuk langsung ke dalam kepalaku.
"Tujuh harus genap, Selpi. Enam sudah jadi penunggu. Kamu yang ketujuh. Kamu penggantinya Selvi..."
Selvi? Nama itu lagi. Nama yang diigau Mbok Darmi semalam.
Bima yang masih waras, langsung mengambil korek api dan membakar kain itu. "Bakar aja!"
Wussshh! Api biru menyambar. Api itu aneh, warnanya biru kehijauan. Kain itu terbakar cepat, tapi tulisannya tidak ikut terbakar. Malah menyala seperti bara api. Terutama tulisan namaku, SELPI, menyala paling terang, panas.
Sosok perempuan itu menjerit melengking, jeritan yang memecahkan gendang telinga. Dia lenyap bersama asap hitam pekat yang bau rambut terbakar.
Kain itu hilang. Yang tersisa hanya lingkaran abu hitam yang sempurna di lantai. Di tengah lingkaran abu itu, ada lipatan kertas kecil yang masih bersih, tidak ikut terbakar.
Aku mengambilnya dengan tangan gemetar. Isinya tulisan tangan yang sama:
"JANGAN SEBUT NAMANYA DI SUMUR. DIA MARAH KARENA SELVI."
"Selvi lagi!" Sinta menangis. "Siapa Selvi itu, Sel?"
Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Tapi firasatku buruk. Mbok Darmi pasti tahu sesuatu tentang Selvi ini.
Kami memutuskan tidak tidur di balai desa malam itu. Jam 5 pagi, saat adzan subuh baru terdengar sayup-sayup, kami bertiga lari kembali ke rumah Mbok Darmi untuk mengambil tas dan menceritakan semuanya.
Tapi saat kami sampai di depan rumah Mbok Darmi, pintu rumahnya terbuka lebar. Angin mengayun-ayunkan pintunya. Berderit.
"Mbok? Mbok Darmi?" Bima memanggil.
Tidak ada jawaban.
Kami masuk. Rumahnya kosong. Tikar tempat Mbok Darmi tidur masih hangat, tapi orangnya tidak ada. Di atas tikar, hanya ada jejak kaki basah yang penuh lumpur hitam, jejak itu menuju ke arah belakang rumah.
Arah sumur tua.
Dan di atas bantal Mbok Darmi, tergeletak kain jarik milik Mbok Darmi yang robek, dan di atasnya ada bercak darah segar yang membentuk satu kata.
"SELVI"
Sinta langsung terduduk lemas. "Mbok Darmi... hilang..."
Aku menatap ke arah sumur di belakang rumah. Dari dalam sumur itu, samar-samar aku mendengar suara perempuan tertawa pelan, dan suara gamelan mulai berbunyi lagi.
Seolah sumur itu baru saja mendapatkan penghuni baru.
Pertanyaan Untuk Pembaca KKN DESA MATI:
Gimana guys? Merinding? 😭
Ternyata nama SELPI di kain itu ada hubungannya sama SELVI yang diigau Mbok Darmi!
Menurut kalian siapa Selvi itu? Apakah Selvi adalah nama asli hantu kebaya hitam itu?
Dan yang paling bikin penasaran... KEMANA MBOK DARMI MENGHILANG? Apakah Mbok Darmi diambil karena dia tahu rahasia Selvi?
Tulis teori kalian di komen! Tim #SelviAdalahHantu atau #MbokDarmiDiculik ?
Besok BAB 23. MBOK DARMI MENGHILANG bakal aku spill kenapa sumur itu ngikutin Selpi terus! Jangan lupa Vote & Follow ya!
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐