NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26 - mak comblang

Daffa menatap layar ponselnya, jari terhenti di atas tombol kirim. "Andai kamu tahu, aku berat sekali meninggalkanmu di keadaan seperti ini..."

Gunawan melangkah mendekat, menepuk bahu anaknya. "Bagaimana, Daffa? Besok jadi kan? Kamu akan dipindahkan sementara ke kota Surabaya."

Daffa menghela napas pelan. "Jadi, Yah. Cuma... Daffa belum siap saja harus jauh tiba-tiba."

Gunawan tersenyum tipis. "Kamu ini anak muda, masih kepikiran Indah ya?"

"Bukan begitu, Yah. Daffa cuma belum terbiasa pergi dinas sejauh ini secepat ini," jawabnya pelan.

"Kamu ini jago banget cari alasan. Kalau kamu benar-benar suka sama dia, kamu harus berusaha mendapatkannya, bukan cuma diam saja," ujar ayahnya bijak.

"Iya, Yah. Daffa sedang berusaha," Daffa tersenyum tipis.

Gunawan menatapnya sambil tersenyum bangga. "Anak ayah ini ganteng kok, mana mungkin tidak ada yang suka. Kenapa kamu masih mengejar dia saja? Di luar sana banyak perempuan baik lainnya."

Daffa menggeleng mantap. "Daffa tidak tertarik dengan yang lain, Yah."

"Kamu ini susah dibilangin," Gunawan menggeleng sambil tersenyum pasrah. "Mending kamu lebih dekat dengan Mawar, anak Pak Irwan. Dia kan jelas suka sama kamu."

Wajah Daffa langsung berubah tak tertarik. "Dia... Daffa tidak suka, Yah. Jangan jodoh-jodohkan Daffa sama dia, Daffa malas sekali kalau membahas itu."

"Tapi terlihat sekali dia sangat menyukaimu, Daffa."

"Bagaimanapun juga, bagi Daffa dia hanya teman. Tidak lebih."

"Yasudah kalau begitu. Besok kamu tetap berangkat, rekan kerjaku sudah menghubungiku, mereka sangat membutuhkan tenaga medis di sana segera," Gunawan berganti nada serius. "Dan satu hal lagi: jaga Mawar. Pak Irwan sudah menitipkan pesan padaku, kamu harus menjaganya selama di sana."

Daffa mengeluh dalam hati. Dasar... pasti setiap langkahku nanti selalu ada dia.

 

Malam semakin larut, langit mulai gelap pekat.

Di sisi lain, Indah baru saja akan beristirahat ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Ini siapa ya? Kok dia punya nomorku?" gumamnya pelan. Ia membuka pesan itu:

Assalamualaikum, Indah. Ini Tante Maya, mamanya Rizki. Maaf mengganggu malam-malam. Tante ingin mengajakmu makan malam di rumah Tante besok malam, boleh ya?

Indah terbelalak seketika. Jantungnya berdebar kencang.

Waalaikumsalam, Tante. Iya, tidak apa-apa. Ada apa ya, Tante?

Oh, tidak ada yang khusus. Sekadar makan bersama saja. Tunggu kedatanganmu ya besok malam, Insya Allah.

Baiklah Tante, nanti Indah usahakan datang.

Setelah pesan terkirim, Indah menatap layar ponselnya yang gelap.

"Pasti Tante Rini yang kasih nomorku ke Tante Maya..." rintihnya pelan sambil menutup wajah dengan bantal. "Aduh, malu banget! Jangan-jangan Tante Rini benar-benar mau menjodohkan aku sama Rizki? Padahal tadi aku cuma jawab asal-asalan saja... Gimana nih besok? Pasti bakal ditanya-tanya terus sama Tante Maya."

Ia menghela napas panjang, pipinya terasa panas. Masa sih perempuan harus pasrah begitu saja dengan urusan jodoh?

 

Tante Maya tersenyum lebar setelah membaca pesan balasan itu.

"Dia memang perempuan yang aku cari untuk Rizki. Semoga anakku suka dengannya."

Ia menatap foto Indah yang ada di ponselnya dengan pandangan lembut.

"Indah anaknya baik, lembut, dan sopan. Jauh berbeda dibanding Siska itu... sikapnya terlalu lincah dan kurang tertata. Indah jauh lebih tenang dan menyenangkan."

Tante Maya tersenyum puas sambil menaruh ponselnya di meja.

"Semoga rencanaku menjodohkan mereka berdua berjalan sempurna. Mereka pasti pasangan yang serasi sekali."

 

Maya berjalan cepat menuju ruang kerja anaknya, lalu mengetuk pintu pelan.

"Rizki, boleh Mama masuk? Mau bicara sebentar."

"Boleh, Mah. Silakan masuk," jawab Rizki sambil meletakkan pena di tangannya.

Maya duduk di tepi meja. "Besok pulangnya agak cepat ya, Nak."

Rizki mengangkat alis. "Ada apa, Mah? Tumben menyuruh pulang lebih awal."

"Pokoknya ada tamu penting besok. Kamu harus sudah ada di rumah sebelum tamu itu datang, ya."

"Baiklah, Mah. Rizki janji akan pulang lebih awal besok."

Maya tersenyum puas. "Baguslah. Oh iya, Mama sudah siapkan camilan favoritmu di meja makan. Jangan terlalu malam tidurnya, besok kan masih kerja."

"Iya, Mah. Terima kasih ya."

Rizki menggeleng-gelengkan kepalanya setelah kepergian mamanya.

"Tamu penting siapa ya sebenarnya? Aneh banget, tumben Mama sampai menyuruhku pulang cepat begini."

Ia tersenyum tipis sambil kembali mengambil pena di tangannya.

"Mama ini ada-ada saja, jadi penasaran begini saja. Tapi sudahlah... daripada aku terus kepikiran, mending selesaikan dulu kerjaku. Nanti malah jadi berantakan kalau aku terus-terusan melamun."

 

Baru saja Rizki hendak kembali bekerja, tiba-tiba ponselnya berdering. Itu telepon dari Hana.

"Halo, ada apa, Sayang?"

"Sayang... aku kangen banget sama kamu," suara Hana terdengar manja dari seberang.

"Kan tadi kita baru saja ketemu di kantor," jawab Rizki sambil tersenyum tipis.

"Tetap saja aku masih kangen," rengeknya pelan.

Rizki tertawa kecil. "Iya iya, katakan saja kamu mau apa."

"Begini... besok bisa tidak kamu temani aku ke mal?"

Rizki teringat pesan mamanya. "Besok ya... sepertinya aku belum bisa, Sayang. Ada urusan di rumah."

"Yah, kamu mah tidak ada waktu terus buat aku," suaranya berubah sedih.

"Sayang, jangan ngambek dong... Ya sudah, aku transfer saja ya. Kamu bebas beli apa saja yang kamu mau, anggap saja ganti temanku tidak bisa menemani besok."

Rizki segera membuka aplikasinya dan mentransfer sebesar 500 juta rupiah ke rekening Hana.

"Sudah aku kirimkan. Maaf ya, besok aku benar-benar belum bisa menemanimu."

"Tidak apa-apa, Sayang. Aku mengerti kok. Makasih ya transferannya!"

"Sama-sama, Sayang."

"Mwah! Cintamu, Hana."

 

Di ujung telepon, senyum licik terukir di bibir Hana.

"Rizki itu gampang sekali aku ambil uangnya. Baru bilang kangen aja, dia langsung menyerahkannya. Memang akulah cintanya... bodoh sekali dia tidak sadar."

Ia memutar-mutar ponselnya di jari sambil tertawa pelan.

"Aku tidak akan melepaskannya. Harus aku manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, selagi dia belum tahu siapa aku sebenarnya."

 

Hana masuk dengan wajah berseri-seri, langsung duduk di dekat ibunya. "Mah, aku dapat uang lagi dari Rizki!"

Siska tersenyum bangga sambil mengelus rambut putrinya. "Hebat, anak Mama paling pintar!"

"Iya dong, Mah," Hana tertawa kecil. "Lagipula, mencintai Rizki itu cuma pura-pura kok. Yang aku suka sebenarnya cuma uangnya saja."

"Benar juga, Nak. Kita harus manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya," bisik Siska dengan mata berbinar. "Nanti kita bisa hidup foya-foya, semuanya dari dia."

Hana menyeringai. "Memang benar dia bodoh, persis seperti bapaknya."

Siska tersenyum miring, matanya menatap tajam ke arah luar jendela. "Rasakan itu, Maya. Dulu kamu selalu merasa lebih dan menindas aku... sekarang lihat saja, posisinya sudah berubah. Anakmu sudah cinta mati sama anakku, dan dia tidak tahu apa-apa."

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!