### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar dari Nol
Hari kedua di bengkel Pak Slamet, Reyhan datang lebih pagi dari jadwal biasanya, membawa buku catatan kecil berisi istilah-istilah teknis yang dia hafalkan semalam sebelum tidur.
"Pagi, Pak Slamet," sapanya begitu masuk bengkel.
"Pagi, Mas. Wih, rajin amat udah dateng sepagi ini."
"Mau belajar lebih dulu, Pak, sebelum pelanggan mulai dateng."
Yanto, yang sedang menyeruput kopi di pojok bengkel, melirik sekilas tanpa banyak komentar seperti biasa. Reyhan menghampirinya dengan sedikit ragu.
"Yan, boleh nanya lagi nggak soal CVT kemarin? Saya coba hafalin semalem, tapi masih agak bingung urutannya."
Yanto menghela napas panjang, seperti malas tapi akhirnya tetap menjawab. "Ya udah, sini saya tunjukin lagi, tapi kali ini merhatiin bener-bener ya, jangan cuma manggut-manggut doang."
"Siap, Yan."
Reyhan memperhatikan dengan seksama sambil sesekali mencatat di bukunya, membuat Yanto sedikit terkejut melihat keseriusan itu.
"Lho, lo beneran nyatet gini? Kirain cuma pura-pura niat doang," celetuk Yanto, meski nadanya sedikit lebih lunak dari kemarin.
"Serius, Yan. Saya emang belum ngerti banyak, tapi saya niat belajar."
Yanto terdiam sejenak, seperti menimbang sesuatu, sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya dengan nada yang jauh lebih sabar dibanding hari pertama.
Menjelang siang, seorang pelanggan datang dengan motor bebek tua yang mesinnya terdengar kasar setiap kali dinyalakan.
"Pak, motor saya kok belakangan berisik banget ya, kayak ada yang longgar," kata bapak pemilik motor itu.
Pak Slamet memeriksa sebentar. "Ini kayaknya klep-nya udah perlu disetel ulang, Pak. Mas Reyhan, coba Anda tangani ini, saya awasin dari sini."
Reyhan sedikit gugup mendengar dirinya dipercaya menangani pelanggan langsung, meski masih diawasi. "Siap, Pak."
Dengan tangan yang masih agak kaku, Reyhan membuka penutup mesin sesuai arahan yang sudah dia hafalkan dari Yanto kemarin, mengecek celah klep dengan alat ukur yang dipinjamkan Pak Slamet.
"Ini gimana caranya nyetel klepnya, Pak?" tanya Reyhan, sedikit ragu.
"Puter baut penyetelnya pelan-pelan sambil dicek pake feeler gauge, sampe celahnya pas," jawab Pak Slamet dari kejauhan, tetap membiarkan Reyhan mencoba sendiri dengan pengawasan.
Yanto, yang sedang menangani motor lain di sebelah, sesekali melirik ke arah Reyhan dengan raut wajah penasaran, meski tetap berusaha terlihat cuek.
Setelah beberapa kali percobaan dan koreksi kecil dari Pak Slamet, akhirnya suara mesin motor itu terdengar jauh lebih halus.
"Wah, Mas, ini beda banget suaranya! Makasih ya," kata bapak pemilik motor, terlihat puas.
"Sama-sama, Pak," jawab Reyhan, menghela napas lega sambil menyeka keringat di dahinya.
Yanto, yang menyaksikan keberhasilan kecil itu, akhirnya bersuara dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Lumayan juga ternyata, buat orang yang kemarin baru kenal kunci sok doang."
"Makasih, Yan," jawab Reyhan, sedikit terkejut mendengar pujian tak terduga itu.
"Bukan pujian, ini cuma fakta," jawab Yanto ketus, meski ada sedikit senyum tipis yang tidak sepenuhnya bisa dia sembunyikan.
Pak Slamet, yang mendengar pertukaran itu, ikut menimpali sambil tertawa. "Nah, gitu dong, Yan, kasih dukungan dikit ke junior."
"Bukan dukungan, Pak, cuma nggak enak aja kalo ada yang salah pasang baut terus, nanti reputasi bengkel jelek."
"Alesan doang tuh, Yan," canda Pak Slamet, membuat Yanto mendengus kesal sambil kembali fokus ke motor yang sedang dia tangani.
Sore harinya, saat sedang istirahat sebentar, Reyhan menerima telepon dari Fajar yang penasaran dengan perkembangan hari kedua.
"Bang, gimana? Masih dimarahin karyawan galak itu?"
"Enggak separah kemarin, Jar. Malah tadi dia sempet muji dikit, meski gengsi banget ngakuinnya."
"Wih, progress bagus tuh, Bang! Berarti strategi rajin belajar semalem kepake ya?"
"Kayaknya sih gitu, Jar. Tadi saya berhasil benerin klep motor pelanggan sendirian, meski masih diawasin Pak Slamet."
"Mantap, Bang! Eh, tapi jangan lupa, kalo nanti ketemu masalah lebih rumit, kabarin saya, saya coba cariin di buku panduannya."
"Siap, konsultan teknis."
"Bukan konsultan biasa, Bang, saya ini konsultan spesialis buku bekas."
Reyhan tertawa mendengar candaan Fajar yang selalu berhasil mencairkan suasana, meski hari itu jauh lebih baik dari yang dia bayangkan sebelumnya.
Menjelang tutup bengkel, Pak Slamet memanggil Reyhan untuk membicarakan sesuatu yang membuat Reyhan sedikit was-was.
"Mas, besok ada pelanggan spesial yang bakal dateng," kata Pak Slamet, nadanya terdengar lebih serius dari biasanya.
"Spesial gimana, Pak?"
"Itu, mobil mewah punya salah satu pengusaha di daerah sini. Biasanya dia servis di bengkel resmi, tapi katanya lagi kecewa sama pelayanan di sana, jadi coba-coba ke bengkel kita."
Reyhan menelan ludah mendengar itu. "Mobil mewah? Saya bahkan belum pernah pegang mobil sama sekali, Pak, apalagi yang mahal."
"Makanya saya kasih tau dari sekarang, biar Anda siap-siap belajar dulu malam ini. Besok kita tangani bareng-bareng, saya nggak bakal lepas tangan penuh kok."
Yanto, yang mendengar percakapan itu dari kejauhan, ikut nimbrung dengan nada meremehkan seperti biasa. "Wah, mobil mewah dipegang orang yang baru dua hari belajar motor bebek? Mantap risikonya, Pak."
"Ya makanya kita bantu bareng-bareng, Yan. Nggak dilepas sendirian kok," jawab Pak Slamet, mencoba menenangkan suasana.
Reyhan menghela napas panjang, menyadari tantangan besar sudah menanti besok pagi — jauh dari sekadar motor bebek yang mesinnya berisik, melainkan sesuatu yang jauh lebih berisiko kalau sampai ada kesalahan.
Malam itu, sebelum tidur, Reyhan membuka layar holografik sistem sebentar, memastikan pintu kamarnya benar-benar tertutup rapat terlebih dahulu.
> [Progres Misi: 1/10 perbaikan dengan kepuasan tinggi.]
> [Sisa waktu: 5 hari, 20 jam.]
> [Catatan tambahan: Tantangan signifikan diperkirakan terjadi dalam 24 jam ke depan.]
Reyhan menatap catatan tambahan itu dengan alis terangkat. "Kamu udah tau soal mobil mewah besok ya, Sistem?"
Tidak ada jawaban langsung, hanya keheningan seperti biasa yang membuat Reyhan semakin yakin bahwa sistem ini punya semacam "mata" yang mengawasi jauh lebih detail dari yang pernah dia sadari sebelumnya.
Ia menutup layar itu, merebahkan diri di kasur dengan pikiran dipenuhi bayangan besok pagi sebuah tantangan yang, entah kenapa, terasa jauh lebih menegangkan dibanding motor bebek berisik yang berhasil dia tangani hari ini.
Sebelum benar-benar tertidur, Reyhan mencari-cari video tutorial dasar tentang perawatan mobil di ponselnya, mencoba menyerap sebanyak mungkin informasi dalam waktu semalam. Namun semakin banyak dia menonton, semakin dia sadar betapa berbedanya dunia mobil dibanding motor yang baru dia pelajari kemarin dan hari ini.
"Sistem pendingin, transmisi otomatis, ECU..." gumamnya sambil menatap layar ponsel dengan mata mulai berat. "Ini bahkan lebih ribet dari CVT motor."
Ponselnya bergetar, pesan masuk dari Fajar.
*"Bang, tadi Kak Sinta chat saya, nanya kabar Abang. Katanya kangen nasi goreng."*
Reyhan tersenyum membaca pesan itu, membalas singkat sebelum melanjutkan tontonan tutorialnya. *"Bilang aja lagi sibuk belajar jadi montir dadakan, Jar. Kalo sempet nanti saya kabarin lagi."*
Balasan Fajar datang cepat. *"Siap, Bang! Btw, jangan lupa istirahat juga, jangan sampe besok malah ngantuk pas megang mobil orang."*
*"Iya, Jar, ini juga udah mau tidur."*
Reyhan meletakkan ponselnya, mematikan video tutorial yang baru setengah jalan, menyadari bahwa memaksakan diri belajar semalaman tanpa istirahat cukup justru bisa jadi bumerang besok. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikiran yang masih dipenuhi istilah-istilah teknis asing, berharap esok pagi otaknya bisa bekerja lebih jernih menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dari sekadar motor bebek berisik.
Keesokan paginya, sebelum berangkat ke bengkel, Reyhan sempat berpapasan dengan Bu Sari di halaman kos yang sedang menyiram tanaman.
"Lho, Mas Reyhan, pagi-pagi udah rapi gini, mau kerja apa lagi minggu ini?" tanya Bu Sari, penasaran melihat penampilan Reyhan yang mengenakan pakaian kerja lengkap dengan sarung tangan kerja yang baru dibeli semalam.
"Jadi montir, Bu. Minggu ini lagi belajar benerin motor sama mobil."
"Wah, macem-macem aja ya pekerjaan Mas Reyhan tiap minggu. Kemarin jualan nasi goreng, sekarang jadi montir."
"Iya nih, Bu, hidup emang penuh kejutan," jawab Reyhan sambil tertawa kikuk, tidak bisa menjelaskan lebih jauh soal alasan sebenarnya di balik perubahan karier yang selalu terjadi setiap minggu itu.
"Ya udah, semangat ya, Mas. Kalo perlu bawa bekal, saya bikinin nanti."
"Wah, makasih banyak, Bu Sari. Baik banget."
Reyhan melanjutkan langkahnya menuju bengkel dengan perasaan campur aduk antara gugup dan penasaran, membawa serta sarung tangan baru dan tekad untuk tidak mengecewakan kepercayaan Pak Slamet yang sudah bersedia membimbingnya menghadapi tantangan besar hari ini.
Sesampainya di bengkel, suasana terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pak Slamet sudah sibuk mengelap-elap area kerja yang biasanya penuh debu, sementara Yanto terlihat lebih rapi dari biasanya, seolah ikut merasakan tegangnya menyambut pelanggan penting.
"Pagi, Pak, Yan," sapa Reyhan begitu masuk.
"Pagi, Mas. Udah siap mental?" tanya Pak Slamet, sedikit bercanda meski nada seriusnya tetap terasa.
"Udah nonton beberapa video semalem, Pak, tapi ya tetep aja deg-degan."
Yanto, yang biasanya sinis, kali ini malah memberi semacam dukungan tak terduga. "Tenang aja, Bapak udah nangani banyak mobil mahal sebelumnya. Yang penting Mas jangan sotoy, ikutin instruksi aja."
"Siap, Yan. Makasih semangatnya," jawab Reyhan, sedikit terkejut dengan perubahan sikap Yanto yang tiba-tiba lebih kooperatif.
"Bukan semangat, cuma nggak mau reputasi bengkel jelek doang," jawab Yanto ketus lagi, meski kali ini nadanya terdengar lebih seperti bercanda dibanding benar-benar sinis.
Pak Slamet tertawa mendengar pertukaran itu. "Nah, gini kompak dikit, biar hari ini lancar."
Mereka bertiga bersiap-siap menyambut kedatangan pelanggan spesial itu, dengan Reyhan yang masih menyimpan rasa gugup di balik penampilan tenangnya, sambil terus mengulang dalam hati semua istilah teknis yang sudah dia hafalkan semalam sebuah persiapan kecil yang, dia harap, cukup untuk menghadapi tantangan besar yang akan datang tak lama lagi pagi itu, sebuah tantangan yang akan menentukan apakah kepercayaan Pak Slamet padanya benar-benar layak diberikan sejak awal.