Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Mobil mewah berwarna hitam melaju pelan memasuki gerbang kediaman Aditya dan Marissa. Di dalamnya duduk Hendra Wijaya beserta istrinya, Lidya, dan putri tunggal mereka, Gisella. Wajah Hendra tampak tegang sepanjang perjalanan, rahangnya mengeras menahan amarah yang sejak tadi tersimpan di dadanya. Lidya sesekali merangkul bahu putrinya yang duduk di sisi lain, Gisella yang sejak tadi diam saja dengan mata sembab dan hidung merah.
Begitu mobil berhenti di halaman rumah yang luas itu, pelayan sudah menunggu di depan pintu utama. Aditya dan Marissa pun segera menyambut mereka di teras rumah, namun senyum di wajah kedua tuan rumah itu perlahan memudar saat melihat raut wajah keluarga Wijaya yang datang bukan untuk berkunjung santai.
"Silakan masuk," ucap Aditya dengan nada sopan namun tetap tegas, seakan sudah menduga kedatangan ini membawa urusan yang tidak ringan.
Di ruang tamu yang luas dan berpendingin udara, suasana seketika menjadi hening begitu semua duduk. Pelayan menyajikan minuman dan camilan, namun tidak ada satu pun yang menyentuhnya. Hendra meletakkan kedua tangannya di pangkuan, napasnya terdengar berat sebelum akhirnya ia bersuara.
"Kami datang ke sini bukan untuk berbasa-basi, Aditya, Marissa," buka Hendra dengan nada rendah namun penuh ketegasan. "Kami datang karena kami merasa dipermalukan."
Marissa hendak menyahut, namun Hendra melanjutkan dengan suara yang meninggi, menahan kemarahan yang mulai meluap.
"Kami sudah berbaik hati mendukung Reynand Group sejak awal. Tanpa dukungan finansial dan koneksi dari keluarga Wijaya, perusahaan itu tidak akan pernah berdiri tegak setinggi sekarang. Tapi apa balasan yang kami terima? Putri kami diperlakukan seperti orang asing di rumah tangganya sendiri. Reynand menolak tinggal bersama istrinya, ia mengajukan perceraian secara sepihak."
Lidya yang sedari tadi menahan diri akhirnya ikut bersuara, suaranya terdengar bergetar menahan emosi.
"Kami hanya ingin Gisella bahagia, Mas Aditya, Mbak Marissa. Kami menikahkan mereka dengan harapan membangun rumah tangga yang baik. Tapi kalau Reynand sendiri tidak menginginkannya... untuk apa dipaksakan? Apakah putri kami tidak cukup berharga untuk dihormati sebagai seorang istri?"
Di samping mereka, Gisella yang sedari tadi menunduk akhirnya tidak mampu lagi menahan isak tangisnya. Bahunya berguncang pelan, air mata kembali menetes membasahi pipi yang sempat kering. Lidya segera menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan, membiarkan Gisella menyandarkan kepala di bahu ibunya dan menangis sepuasnya.
"Sudah... sudah, Sayang..." bisik Lidya lembut sambil mengusap punggung putrinya. "Mama di sini. Papa di sini. Kami tidak akan membiarkan kamu diperlakukan tidak adil seperti ini."
Aditya menghela napas panjang, lalu menatap Hendra dengan pandangan yang tetap tenang namun penuh wibawa.
"Aku mengerti kekecewaanmu, Hendra. Aku pun tidak menyangka anakku akan bertindak sejauh ini. Namun aku memohon satu hal... biarkan kami berbicara empat mata dengan Reynand terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan yang bersifat permanen. Apakah mungkin ada kesalahpahaman yang belum terungkap?"
"Kesalahpahaman?" Hendra mendesis tidak terima. "Reynand sendiri yang bilang lebih memilih kehilangan segalanya daripada tetap bersama Gisella. Kalau begitu, biarkan dia membuktikan ucapannya. Surat penarikan dukungan resmi akan kukirimkan ke kantornya. Biar dia sadar, bagaimana nasib perusahaan itu tanpa dukungan dari keluarga Wijaya."
Pandangan Aditya tertunduk sesaat, menyadari betapa seriusnya situasi ini.
"Kami paham kemarahan kalian, Mbak Lidya, Mas Hendra," kata Marissa yang sedari tadi diam akhirnya bersuara pelan namun tegas. "Tapi perceraian bukan hal yang sepele. Biarkan kami mencoba bicara dengan anak kami. Setidaknya demi nama baik kedua keluarga yang selama ini terjalin harmonis."
Gisella mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap kedua mertuanya dengan pandangan yang bercampur antara sedih dan berharap.
"Aku tidak ingin bercerai, Pa, Ma..." suaranya terdengar lemah dan bergetar. "Aku hanya ingin Reynand kembali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan agar dia mau mengubah keputusannya untuk bercerai."
Lidya merapatkan pelukannya pada putrinya, menatap pasangan di hadapannya dengan sorot mata yang penuh tuntutan.
"Itulah sebabnya kami datang. Putri kami masih berharap pada pernikahan ini. Tapi Reynand sendiri yang menutup pintu. Sekarang terserah orang tuanya... apa yang akan dilakukan untuk menegakkan keadilan bagi putri kami?"
Suasana kembali hening dan menyesakkan. Hanya terdengar isak tangis tertahan dari Gisella di pelukan ibunya, serta detak jarum jam dinding yang seakan menghitung waktu menentukan nasib dua keluarga besar ini.
-
-
-
Anindya berdiri di depan pintu lift The Ascend Residences. Ia mengenakan blazer berwarna hitam, rok kerja selutut, dan rambutnya dikuncir rapi. Di tangan kanannya tergenggam map berwarna cokelat, sementara di tangan kirinya tergantung kantong kertas berisi potongan buah segar.
Ding
Lift berhenti di lantai dua puluh delapan. Lorong itu tampak sunyi, hanya terdapat satu pintu hunian di ujungnya.
Anindya menarik napas panjang, lalu menekan tombol bel berwarna perak.
Tiiing-tong...
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat dari dalam.
Klik.
Pintu terbuka.
Reynand berdiri di sana. Ia mengenakan kaos hitam polos dan celana olahraga berwarna abu-abu. Rambutnya sedikit berantakan, belum tersisir rapi. Wajahnya pucat, lingkaran gelap terlihat jelas di bawah matanya, dan pandangannya masih sedikit kabur, seakan kepalanya terasa berat menahan sisa pusing yang tak kunjung hilang sejak semalam.
Melihat Anindya yang berpakaian seragam kantor, keningnya seketika berkerut pelan, seakan butuh waktu sejenak untuk memastikan siapa yang datang.
"Kamu?" suaranya terdengar serak dan rendah.
Anindya secara refleks membungkuk sopan, namun matanya tak lepas dari wajah pria di hadapannya itu.
"Selamat siang, Pak. Mohon maaf telah mengganggu waktu istirahat Bapak..." ucapnya pelan, cemas mulai merayap di dadanya melihat kondisi Reynand yang tampak lemah demikian. "Saya mengantarkan dokumen yang harus segera Bapak periksa. Dan ini..." ia mengangkat kantong kertas di tangannya, "...titipan dari Bu Lita."
Reynand terdiam sejenak, lalu ia menggeser tubuhnya ke samping.
"Masuk."
Anindya melangkah masuk. Hunian itu rapi dan sejuk, persis seperti karakter pemiliknya yang tenang dan tertib.
"Duduklah," perintah Reynand sambil menunjuk arah sofa. Ia sendiri berjalan menuju dapur.
Anindya duduk di tepi sofa dengan perasaan kaku, lalu meletakkan map di atas meja.
Tak lama, Reynand kembali membawa segelas air putih. Ia meletakkannya di hadapan Anindya.
"Minum."
"Terima kasih, Pak."
Reynand duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengannya, menyandarkan punggung ke belakang. Kaos hitam yang dikenakannya membuat bahunya tampak lebih lebar dari biasanya.
"Keadaan di kantor bagaimana?" tanyanya sambil membuka map tersebut.
"Tertib, Pak. Ini naskah perjanjian yang memerlukan tanda tangan Bapak pada hari ini," jawab Anindya sambil menyodorkan lembar dokumen.
Reynand membacanya, namun matanya kerap melirik ke arah Anindya. Suasana hening sejenak.
Ia meletakkan pulpen, lalu mengusap wajahnya dengan gerakan pelan.
"Anindya."
Anindya seketika menoleh. "Ya, Pak?" ia mengangkat gelas dan meneguk isinya.
"Apakah kamu punya pacar?"
Krak.
Air yang baru saja ditelannya seketika tersangkut di kerongkongan.
"Kugh! Ukh!" Anindya terbatuk hebat, wajahnya memerah seketika.
-
-
-
Bersambung...