NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Jejak yang Tersembunyi

DEGGG!

Rika tersentak hebat, wajahnya seketika pucat pasi. "P-pembunuhan berencana?"

"Pak Bambang meninggal sekadar serangan jantung biasa, Bu Rika. Tapi penelantaran secara sengaja hingga menyebabkan kematian. Ditambah lagi penganiayaan terhadap Bima. Bukti rekaman cctv tersembunyi sudah merekam semuanya," sambung Rayven dingin, menatap Rika tepat dimatanya.

"Kalian berdua bukannya butuh diselamatkan oleh pengacara, tapi kalian butuh bersiap menghadapi ancaman hukuman," lanjut Rayven, lalu menatap Fadel dengan pandangan membunuh.

Di balik kaca, Rhea mengepalkan tangannya puas melihat perlawanan Fadel yang hancur total di tangan Rayven.

Rika yang duduk disebelah Fadel mendadak bernapas memburu secara tidak teratur. Dadanya naik turun parah, wajahnya yang pucat pasi dibasahi keringat dingin. Ancaman hukuman berat dan tumpukan bukti itu menghantam mentalnya sampai hancur berkeping-keping.

"Nggak... saya gak mau masuk penjara, saya gak bersalah," racau Rika dengan terbata-bata dengan pandangan kosong.

BRUKK

Mata Rika mendadak memutar ke atas dan tubuhnya seketika ambruk pingsan ke atas meja besi, membuat suasana di dalam ruangan interogasi semakin kacau.

"Mama, ma," teriak Fadel, mencoba mengguncangkan tubuh ibunya meski tangannya terkunci besi.

Fadel mendongak menatap Rayven, rasa angkuhnya berubah total menjadi ketakutan yang luar biasa.

"Pak Rayven, tolong... kita bisa bicarakan ini baik-baik kan? Kamu butuh berapa pun saya kasih. Asal cabut laporan ini," jelas Fadel sambil. memohon.

Rayven berdiri dari kursinya dengan tenang. Ia membetulkan posisinya, menatap Fadel tanpa rasa iba sedikitpun.

"Penawaran kamu terlambat, Fadel. Nikmati sisa hari-harimu di dalam sel," ujar Rayven dingin, lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar.

Rayven memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan interogasi tanpa menoleh lagi. Pintu besi tertutup rapat di belakangnya, menyisakan teriakan panik Fadel yang tertahan di dalam.

Di koridor luar, pintu ruang pemantauan terbuka. Rhea dan Zora melangkah keluar menyambut Rayven dengan senyum lebar dan binar mata lega yang luar biasa.

"Keren banget, Mas Rayven. Gue puas banget lihat muka Fadel yang sok jagoan langsung rata gitu, pas sebut hukum pidana dan bukti cctv," puji Zora tak tahan untuk tidak bertepuk tangan pelan.

Rhea ikut mengangguk, melipat kedua tangannya dengan tatapan penuh kebanggan pada Rayven.

"Kamu bikin mereka gak punya celah sama sekali buat mengelak," kata Zora akhirnya.

"Itu semua karena kerja kalian. Bukti-bukti yang kalian kumpulkan di lapangan bikin posisi kita tak tergoyahkan," kata Rayven menyunggingkan senyum tipis.

"Yaudah, kalau gitu kita makan atau ngopi-ngopi dulu yuk? Mumpung tugas disini udah beres, kita butuh penyegaran dikit sebelum masuk ke tahap persidangan," ajak Rayven sambil melihat ke arah Rhea dan Zora.

Zora yang mendengar ajakan itu mendadak mengangkat pergelangan tangannya dan melirik j tangan yang melingkar di sana. Mata Zora membelalak pelan.

"Aduh, jam segini ternyata," seru Zora menepuk jidatnya pelan.

"Aduh, sorry banget kayaknya gue gak bisa ikut deh. Gue baru inget ada sisa dokumen administrasi biro dan berkas saksi Bima yang harus dikirim malam ini juga ke staff kejaksaan. Kalau gak diurus sekarang bisa keteteran buat persidangan besok," lanjut Zora.

"Perlu gue bantu ga, Zor?" Rhea menatap sahabatnya itu.

"Gak usah, Rhe. Ini cuma masalah print out sama kelengkapan stempel doang kok. Kalian berdua aja yang pergi, kasihan tu Mas Rayven juga capek banget. Gue balik ke biro duluan ya," tolak Zora cepat sbil tersenyum.

Tanpa menunggu balasan lagi, Zora melambaikan tangannya dan setengah berlari menuju pintu keluar kantor polisi.

Rayven menatap Rhea sambil terkekeh pelan. "Jadi gimana, Rhe? Masih mau nemenin saya?"

"Boleh deh," Rhea tersenyum tipis dan mengangguk.

Dua puluh menit. kemudian, mereka berdua sudah duduk di sebuah sudut restoran klasik yang cukup sepi. Di atas meja kayu, dua porsi hidangan utama dan dia cangkir teh hangat sudah tersaji.

Rhea menyesap teh hangatnya perlahan, merasakan hawa hangat mengalir di tenggorokannya

"Jadi gimana kelanjutan laporan Fadel dan ibunya. Pihak kepolisian bakal langsung limpahkan ke kejaksaan, kan?" tanya Rhea serius, menyendok makanan nya.

"Iya. Dengan adanya bukti rekaman cctv penganiayaan fisik pada Bima serta pemalsuan dokumen warisan," jawab Rayven mantap.

"Kalau untuk hukumannya bagaimana?" cerca Rhea lagi.

"Ancaman maksimalnya lima bekas hingga dua puluh tahun penjara, atau bahkan seumur hidup kalau hakim menilai ada unsur pembunuhan berencana yang kuat," terang Rayven dingin.

Rhea mengangguk-angguk puas. "Baguslah, mereka harus membayar semuanya. Tapi bagaimana dengan si Rudi?"

"Rudi masih aman. Fadel sampai detik ini gak tahu kalau di persidangan nanti Rudi bakal sebagai saksi kunci yang bakal memukul hancur sisa pembelaanya," kata Rayven dengan senyum misterius.

"Strategi kamu benar-benar kejam, Rayven," Rhea tertawa pelan.

"Demi keadilan buat Bima, Rhe. Dan memastikan perjuangan kamu gak sia-sia," balas Rayven tulus, menatap matanya dalam-dalam.

Rhea sempat tertegun sejenak menatap binar mata Rayven yang begitu intens, sebelum akhirnya tersenyum manis dan melanjutkan makannya.

Setelah mengantar Rhea pulang dengan selamat, Rayven kembali ke kantornya sebentar untuk memindahkan salinan berkas digital ke dalam flashdisk enkripsi yang akan dibawa ke persidangan.

Lampu ruang kerja dipadamkan, menyisakan pendar layar laptop di atas meja. Jemari Rayven bergerak lincah meneliti satu per satu dokumen.

Namun, saat ia membuka folder lampiran visum medis almarhum Pak Bambang yang baru saja dikirimkan oleh dokter forensik kepolisian lewat email resmi, gerakan tangan Rayven mendadak berhenti.

Alisnya berkerut tajam.

Di lembar kedua laporan forensik tambahan, ada sebuah temuan zat kimia yang sebelumnya sempat terlewatkan dalam pemeriksaan awal.

Terdapat jejak senyawa kalium sianida dosis rendah pada sampel darah almarhum, yang diinjeksi atau dicampurkan secara bertahap beberapa hari sebelum kematian.

Napas Rayven seketika tertahan. Hatinya bergetar pelan di atas touchpad.

Jika Pak Bambang diracuni secara bertahap dengan sianida, itu artinya kematian beliau bukan sekadar penelantaran jantung biasa selama ini.

Mungkin secara aktif mereka menyuntikkan racun itu ke tubuh Pak Bambang.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!