kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sementara itu di penthouse, Nina terbangun dari tidurnya saat mendengar adzan subuh di ponselnya. Mata sembapnya mengedip lambat.
Begitu memiringkan badan, pandangannya tertuju pada gelas berisi air putih botol kecil yang berisi vitamin di meja samping tempat tidur, beserta selembar kertas kecil di bawahnya.
Nina mengambil kertas itu dan membaca tulisan tangan yang tegas di atasnya.
"Minum ini kalau terbangun. Jangan sakit."
Nina memegang gelas itu dengan kedua tangannya. Senyum tipis yang hangat dan tulus terukir di bibirnya. Perhatian kecil yang begitu kontras dari sikap dingin Jafar mendadak mengalirkan rasa hangat yang menyelimuti dadanya yang sempat hampa.
Saat Nina keluar kamar dan menuju ruang makan, Jafar sudah duduk rapi dengan setelan jas hitam mewahnya, bersiap untuk pergi ke kantor. Masker hitam masih menutupi wajahnya, namun tatapannya langsung mengunci Nina begitu gadis itu mendekat.
"Sudah diminum vitamin nya?" tanya Jafar datar tanpa beralih dari tabletnya.
Nina mengangguk pelan, menyunggingkan senyum manisnya. "Sudah, Tuan... Terima kasih banyak."
Jafar mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja marmer, mengamati wujud Nina yang tampak jauh lebih tenang dari kemarin.
"Dako bilang kamu makan bakso pinggir jalan semalam," sela Jafar dingin. "Mulai hari ini, koki penthouse akan memasak menu yang kamu suka. Kamu tidak perlu mencari makanan sembarangan di luar hanya karena cemas."
Nina tersentak pelan. Tatapannya beradu lekat dengan Jafar. Di balik topeng pria dingin yang angkuh itu, Nina kini menyadari satu hal. Jafar tidak pernah benar-benar mengabaikannya. Pria itu menjaga dan melindunginya dengan cara diam-diam yang teramat dalam.
Masalah dengan Faris dan keluarganya benar-benar telah ia tutup rapat. Di sudut kota lain, Faris kini menempuh alur jalannya sendiri, menjalani hari-hari berat penuh keikhlasan demi membayar setiap perbuatan masa lalu. Nina tidak lagi dendam, ia hanya ingin melangkah maju.
Hari ini, Setelah pulang kuliah, Nina memutuskan untuk pergi ke sebuah mall mewah di kawasan Jakarta Selatan. Ia sengaja mengajak Tania, sahabat karibnya yang selalu setia mendukungnya dari nol. Bagi Nina, ini adalah momen pertamanya menghirup udara bebas tanpa beban dendam yang mengikat dada.
Namun, di balik kehidupan tenang yang mulai Nina susun, roda takdir sebenarnya sedang menyeretnya mendekati kandang serigala baru, dunia keluarga besar Jafar yang penuh intrik dan dingin.
____
Suasana boutique dress papan atas di mall tersebut tampak tenang sebelum kehebohan kecil terjadi. Nina sedang memegang sebuah gaun simpel berwarna krem yang menurutnya sangat elegan, sementara Tania sibuk mencocokkan tas tangan di sampingnya.
"Nina, gaun ini pas banget buat kamu! Simpel tapi kelihatan berkelas," ujar Tania dengan mata berbinar.
Belum sempat Nina menjawab, sebuah jemari berhias cincin berlian besar mendadak merenggut gantungan gaun itu dengan kasar dari tangan Nina.
Sret!...
Nina tersentak dan spontan menoleh. Di hadapannya berdiri seorang wanita dewasa dengan riasan tajam, mengenakan pakaian desainer ternama, dan menatap Nina dengan pandangan penuh penghinaan dari atas ke bawah. Itu adalah Miska..., Tante dari suaminya. Namun Nina memang tidak tahu apa-apa mengenai jafar dan keluarganya.
"Gaun ini saya yang ambil duluan," ucap Miska dingin, suaranya sarat akan keangkuhan yang kentara. Ia melirik pakaian Nina yang sederhana dengan tatapan jijik. "Lagipula, baju sekelas ini tidak cocok dipakai oleh orang-orang kelas bawah seperti kalian. Jangan mengotori kainnya dengan tangan murahanmu."
Tania yang mendengar hal itu langsung naik pitam. "Hei, Tante! Jaga ya bicaranya! Sahabat saya yang pegang gaun itu duluan dari tadi! Tante yang main serobot!"
Miska terkekeh sinis, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Tante? Kurang ajar sekali mulutmu. Kamu tidak tahu sedang berbicara dengan siapa? Saya bisa membeli seluruh isi toko ini beserta diri kalian kalau saya mau!"
Nina meremas jemarinya pelan. Emosinya membumbung, namun ingatan akan segala penggemblengan hidup membuat Nina mampu menahan diri. Ia tidak boleh lepas kontrol. Tatapan mata Nina berubah tenang, sebuah ketenangan tajam yang justru membuat aura di sekitarnya terasa menekan.
"Maaf, Nyonya," panggil Nina dengan nada suara yang teratur, datar, namun penuh penekanan. "Status atau kekayaan seseorang tidak memberi Anda hak untuk bersikap tidak sopan di tempat umum. Kalau Anda menginginkan gaun ini, silakan ambil. Kami tidak kekurangan harga diri hanya karena mengalah pada orang yang lebih tua."
Miska tersentak. Wajahnya yang terpoles bedak tebal mendadak merah padam. Ia tidak menyangka gadis muda bersahaja di hadapannya memiliki tatapan dan nada bicara yang begitu kuat, bahkan mengingatkannya pada dominasi dingin yang biasa ia lihat pada Jordi dan Jafar.
"Kamu... berani mengajari saya?!" desis Miska dengan mata membelalak marah. "Gadis tidak berpendidikan! Dasar tidak tahu diri!"
"Sudah, Nina... kita pergi saja dari sini. Bau orang sombongnya menggebu-gebu," sindir Tania sengaja dengan nada keras hingga menjadi perhatian beberapa pengunjung boutique.
Nina menarik tangan Tania pelan, menatap Miska sekali lagi tanpa rasa takut sedikit pun sebelum berbalik pergi dengan langkah anggun dan tenang.
Miska berdiri mematung di tengah toko, meremas gaun di tangannya dengan napas memburu karena gemas dan murka. “Gadis sialan... Siapa dia berani menatapku seperti itu? Aku akan cari tahu siapa dia!” batin Miska penuh dendam.
Tanpa Miska ketahui, gadis yang baru saja ia hina adalah wanita yang telah sah menjadi istri siri dari keponakannya sendiri, sang pewaris tunggal klan Jafar.
"Siapa sih dia Tan.. suamimu kan kaya raya, pasti tahu dong atau setidaknya sering melihat wanita-wanita kelas atas seperti tadi" tanya Nina saat menyantap es krim di kedai mall itu
Tania mengangkat kedua bahunya acuh, sambil memakan dengan lahap es krim stroberi kesukaan nya.
"Aku juga tidak tahu, Setiap Mas Ameer mengajakku ke pesta, Aku tidak pernah melihat wanita itu, ".
"Apa rencanamu sekarang Nin, bukannya keluarga ayahmu sudah hancur?..., Apa kau puas sekarang?" Tanya Tania pelan.
Nina mengaduk-aduk mangkuk yang berisi es krim dengan malas" Entahlah Tan, sebenarnya aku sakit melihat Ayah seperti itu... Tapi biarlah, Ini pelajaran untuk Ayah agar berubah menjadi manusia yang lebih baik".
Tania mengangguk pelan, Tak sengaja melihat Wanita tadi berjalan angkuh keluar dari boutique, beberapa laki-laki berbadan besar membawa banyak paperbag yang berisi barang-barang mewah ." Lihatlah..., seperti di film-film ".
Nina menengok, melihat arah tatapan Tania..., Nina terkekeh " Benar, Kamu yang istri seorang konglomerat aja tidak di kawal seperti itu "
"Kata siapa...., lihat itu ..itu...itu...!" jawab Tania sambil menunjuk ke beberapa orang.
Sales kacamata, Ob, laki-laki pakai tongkat seperti orang pincang dan lainnya.
"Mereka adalah orang-orang mas Ameer yang selalu menjagaku dari jarak dekat namun selalu menyamar agar tidak mencolok" balas Tania ketus.
Nina tidak kuat menahan tawanya,ia tertawa terpingkal-pingkal sampai sudut matanya mengeluarkan air mata. "Ternyata, orang kaya sama saja".
sungguh terlalu kamu Faris