NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 33: Jadian

Kirana tidak menjawab pagi itu.

Ia meminta waktu sampai malam, dan Arya memberikannya tanpa protes. Tepat pukul tujuh, sebuah pesan masuk: Naik ke atap. Pakai jaket.

Atap apartemen biasanya tertutup untuk penghuni, tetapi malam itu pintunya terbuka. Lampu-lampu kecil membentuk jalur menuju taman sempit di sisi gedung. Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada bunga berlebihan. Hanya dua kursi, termos teh, dan pemandangan Jakarta yang membentang di bawah langit bersih.

Arya berdiri di dekat pagar kaca. Ia tidak memakai setelan kerja, hanya kemeja gelap dengan lengan tergulung. Wajahnya terlihat lebih tegang daripada saat menghadapi ruang rapat atau panggung penuh penonton.

“Mas menyuap pengelola?” tanya Kirana.

“Meminjam tempat selama satu jam.”

“Dengan cara menyuap?”

“Dengan membayar biaya penggunaan.”

Kirana tersenyum, lalu berhenti dua langkah darinya. “Aku sudah datang.”

“Saya lihat.”

Angin malam mengangkat ujung rambutnya. Arya menuangkan teh, tetapi tangannya tidak setenang biasanya. Pemandangan kecil itu membuat dada Kirana sesak oleh harapan.

“Pagi tadi saya mendesakmu,” kata Arya. “Saya tidak akan mengulang cara itu.”

“Aku memang sering kabur.”

“Karena itu saya ingin bicara sampai selesai. Setelahnya, keputusan tetap milikmu.”

Ia berdiri tepat di depan Kirana. Tidak ada nada menggoda saat menyebut nama lengkapnya.

“Kirana Saraswati, saya serius. Ini bukan bagian dari pertunjukan, bukan akibat poster, dan bukan jawaban atas ucapanmu saat mabuk. Saya menyukai kamu sejak Singapura. Saya memilih mendekatimu setiap hari setelah kita bertemu lagi. Jadi pacar saya.”

Kirana menahan napas. “Sejak Singapura?”

“Sejak pertama kali kamu menabrak saya di lobi hotel dan memarahi koper saya.”

“Kopernya menghalangi jalan.”

“Kamu bahkan tidak minta maaf.”

“Mas tetap mengikuti aku ke bar.”

“Karena saya tidak bisa berhenti melihatmu.”

Arya mengeluarkan dompet dan mengambil selembar uang yang sudah dilipat. Di baliknya masih ada tulisan Kirana dari malam itu, catatan kecil yang ia kira sudah dibuang.

Kalau suatu hari bertemu lagi, anggap malam ini tidak pernah terjadi.

“Mas masih menyimpannya?”

“Saya tidak pernah berniat mematuhi kalimat ini.”

“Itu terdengar seperti ancaman.”

“Pengakuan.”

Kirana mengulurkan tangan. Arya menyerahkan uang itu tanpa ragu. Kertasnya sudah melembut di lipatan, tanda bahwa benda tersebut sering dibuka dan ditutup.

“Aku menulis ini karena takut,” kata Kirana. “Bukan karena malam itu tidak berarti.”

“Takut pada saya?”

“Takut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak melakukan hal seperti itu. Aku tidak pergi ke kamar orang asing, tidak bangun lalu kabur, dan tidak memikirkan orangnya berbulan-bulan.”

“Kamu memikirkan saya?”

Kirana mendengus. “Mas hanya mendengar bagian yang menguntungkan.”

“Bagian lain bisa dibahas nanti.”

Arya menceritakan pagi setelah Kirana pergi. Ia mencari ke meja resepsionis, tetapi tidak bisa meminta data tamu. Ia kembali ke kamar dan menemukan uang bercatatan itu di bawah gelas. Selama perjalanan pulang, ia menghafal tulisan Kirana seolah bentuk huruf dapat memberinya petunjuk.

“Lalu Mas menemukan aku begitu saja di kampus?”

“Saya datang ke UN untuk rapat pendanaan dan menemanimu dari kejauhan di koridor. Saya baru tahu kamu mahasiswa Prof Hartono setelah mendengar namamu dipanggil.”

“Jadi sebelum mengajar, Mas sudah tahu?”

“Ya.”

“Itu sedikit menyeramkan.”

“Saya memastikan jadwal dan identitasmu melalui jalur resmi, bukan mengikuti kehidupan pribadimu.”

“Mas tetap menyusun pertemuan.”

“Saya menyusun kesempatan untuk bicara. Semua keputusan setelahnya tetap kamu buat sendiri.”

Kirana mempertimbangkan itu. Arya memang memaksa masuk ke orbitnya, tetapi ketika menyangkut tubuh, nilai, dan perasaan, pria itu selalu berhenti di depan batas dan menunggu izin.

Ia melipat kembali uang itu dengan hati-hati. “Malam itu bukan kesalahan bagi saya. Pagi setelahnya, kamu pergi sebelum saya bisa meminta nomor teleponmu. Ketika saya melihatmu di kelas, saya tahu saya mendapat kesempatan kedua.”

Kirana menatap kota agar air di matanya tidak jatuh. “Mas menyusun semuanya?”

“Saya meminta Prof Hartono memberi saya slot mengajar. Tapi nilai dan proses akademikmu tidak pernah saya sentuh. Kalau kamu mengatakan tidak malam ini, saya tetap menyelesaikan semester secara profesional.”

“Kenapa aku?”

Pertanyaan itu keluar lebih kecil daripada yang ia inginkan. Arya terdiam sejenak, seperti ada jawaban lebih besar yang belum bisa ia berikan.

“Karena saat bersamamu, saya merasa seluruh hidup saya akhirnya mengarah ke tempat yang benar,” katanya. “Saya tidak punya penjelasan yang lebih rasional.”

Kirana teringat semua ketakutannya. “Aku sembilan belas. Mas dua puluh tujuh. Delapan tahun bukan jarak kecil.”

“Saya tahu.”

“Mas dosenku.”

“Dosen pengganti satu semester. Saya sudah membuat pemisahan penilaian dan siap mengundurkan diri dari evaluasi apa pun yang menimbulkan konflik.”

“Orang akan bilang aku naik karena Mas.”

“Kita simpan semua bukti proses. Kalau ada pertanyaan sah, kita jawab. Kalau ada fitnah, saya tidak akan membiarkanmu berdiri sendiri.”

“Dunia Mas juga bukan duniaku.”

Tatapan Arya berubah, tetapi ia tidak menjelaskan. “Kalau ada bagian hidup saya yang belum kamu pahami, saya akan menunjukkan pelan-pelan. Saya tidak meminta kamu mengejar saya. Saya yang akan berjalan di sampingmu.”

“Diana bilang aku bisa merusak nama Mas.”

“Nama saya adalah tanggung jawab saya. Nama baikmu tidak boleh menjadi harga yang dibayar untuk hubungan ini.”

“Bagaimana kalau aku masih ingin kuliah, bekerja, dan punya nama sendiri?”

“Saya akan bangga.”

“Kalau pekerjaanku membuatku jauh?”

“Kita atur jarak, bukan memotong mimpimu.”

“Kalau aku salah?”

“Kita bicara. Saya tidak menjanjikan selalu setuju.”

Jawaban itu justru lebih meyakinkan daripada janji manis tanpa batas. Kirana tidak membutuhkan laki-laki yang mengatakan iya pada semua hal. Ia membutuhkan pasangan yang tidak mengubah cinta menjadi sangkar.

Arya melanjutkan, “Ada satu hal yang saya minta. Kalau kamu takut, jangan menghilang seperti di Singapura. Beri saya kesempatan untuk mendengar.”

“Mas juga. Jangan membuat keputusan atas namaku hanya karena merasa sedang melindungi.”

“Sepakat.”

“Dan jangan ganggu nilai.”

“Itu bukan bahan negosiasi.”

Mereka berjabat tangan seperti menutup kontrak. Namun Arya tidak melepaskan. Ia membalik telapak Kirana dan mencium buku-buku jarinya, membuat seluruh keseriusan berubah menjadi kehangatan yang memanjat ke pipinya.

Setiap jawaban merobohkan satu alasan. Namun Arya tidak menjanjikan dunia tanpa masalah. Ia menjanjikan bahwa masalah itu tidak akan menjadi beban Kirana seorang diri.

“Sekarang giliranmu,” katanya. “Kalau jawabannya tidak, katakan. Saya akan mundur.”

Kirana menatap pria yang menunggu tanpa menyentuhnya. Ia teringat malam di Singapura, ketika keduanya sama-sama asing dan kesepian. Ia teringat rumah sakit, bubur sumsum, sandal kelinci, tangan di balik kursi bus, serta panggung ketika satu tatapan Arya mengembalikan seluruh kata yang hilang.

“Aku marah waktu Mas muncul sebagai dosen,” katanya.

“Saya tahu.”

“Aku juga takut karena semuanya terlalu cepat.”

“Saya tahu.”

“Aku benci Mas selalu kelihatan yakin.”

“Yang itu tidak bisa saya ubah.”

Kirana tertawa di antara air mata. “Tapi aku mulai suka Mas bahkan sebelum rumah sakit. Mungkin sejak kelas pertama, waktu aku sadar laki-laki di Singapura benar-benar kembali.”

Arya tidak bergerak. Hanya napasnya yang berubah.

“Aku suka saat Mas menjagaku tanpa membuatku merasa lemah. Aku suka Mas minta izin sebelum menyentuh. Aku suka Mas percaya aku bisa berdiri sendiri, tapi tetap ada kalau aku jatuh.”

Ia mengambil satu langkah mendekat.

“Semalam itu aku yang bicara, bukan alkohol.”

Arya menelan ludah. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku sadar.” Kirana menatap lurus ke matanya. “Aku mau jadi pacar Mas.”

Untuk pertama kali sejak Kirana mengenalnya, ketenangan Arya benar-benar pecah. Ia mengembuskan napas seperti baru keluar dari air, lalu menarik Kirana ke dalam pelukan.

“Ulangi,” bisiknya di rambut Kirana.

“Aku pacar Mas Arya.”

“Sekali lagi.”

“Jangan serakah.”

“Saya menunggu terlalu lama.”

Kirana mengangkat wajah. “Aku pacar Mas.”

Arya menyentuh pipinya. “Boleh saya cium?”

“Boleh.”

Ciuman pertama mereka sebagai pasangan terasa berbeda dari semua ciuman sebelumnya. Tidak ada penonton, hujan buatan, alkohol, atau alasan kecelakaan. Arya mencium dengan perlahan, seolah memberi waktu bagi Kirana untuk menarik diri. Kirana justru memegang tengkuknya dan memperdalam ciuman.

Tangan Arya mengencang di pinggangnya. Panas menyusuri tubuh Kirana meski angin atap dingin. Saat bibir mereka terpisah, Arya menempelkan kening dan tertawa sangat kecil.

“Mas tertawa?”

“Saya sedang memastikan ini nyata.”

“Prof Arya ternyata dramatis.”

“Panggil saya Mas Arya saat kita sendiri.”

“Kalau di kelas?”

Pertanyaan itu mengembalikan kenyataan. Arya membawa Kirana ke kursi dan membungkus bahunya dengan jaket.

“Di kampus, kita rahasiakan dulu,” katanya. “Sampai semester selesai atau mekanisme konflik kepentingan disetujui fakultas. Saya tidak ingin hubungan kita merusak pekerjaanmu.”

“Berarti pura-pura tidak kenal?”

“Pura-pura sebagai dosen dan mahasiswa biasa.”

“Mas bisa?”

“Tidak.”

Kirana tertawa. Arya menggenggam tangannya di bawah meja kecil. “Tapi saya akan berusaha.”

Ponsel Kirana berbunyi. Pesan dari Winda hanya berisi tiga puluh tanda tanya. Feby mengirim, Kalau sudah jadian, video call sekarang. Bima mengirim stiker orang bersujud syukur.

Kirana memotret dua cangkir teh tanpa wajah mereka dan mengirimkannya ke grup kecil.

Sudah, tulisnya.

Layar langsung dipenuhi panggilan, tetapi ia membalik ponsel. Malam ini tidak perlu dibagi lebih jauh.

Ia bersandar di dada Arya dan mendengarkan detak jantung yang masih cepat. Delapan tahun, status kampus, dan omongan orang belum menghilang. Namun untuk pertama kalinya, semua itu tidak tampak seperti alasan untuk menyerah.

Arya mencium puncak kepalanya. “Besok, di kampus, kita simpan ini sebagai rahasia.”

Kirana merapatkan pelukan. Rahasia itu belum terasa seperti beban. Di dalam lingkaran lengan Arya, itu terasa seperti awal dari rumah yang mereka pilih bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!