Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Tolong lepas infus ini Suster... saya mau pulang," titah Megawati saat dokter dan suster masuk, ia mengatakan kepada mereka bahwa dirinya sudah tidak sakit lagi.
"Ibu Mega, tolong tenang dulu. Ibu masih harus menjalani rawat inap paling tidak dua sampai tiga hari," kata dokter, mengatakan bahwa cedera akibat benturan masih harus diobservasi minimal dua hari lagi.
"Tapi badan saya sudah tidak sakit lagi, Dok!" pangkas Mega berkaca-kaca, menatap sang dokter. Ia tetap ingin pulang karena merasa badanya sudah lebih baik tidak seperti saat bangun tidur pagi tadi. Dengan raut wajah sedih, Mega beralih menatap Bintang yang berdiri di sampingnya, seolah minta bantuan untuk bicara kepada dokter agar dibolehkan pulang.
"Kami mohon, Ibu jangan nekat, karena yang ibu Mega rasakan saat ini hanya reaksi obat sementara. Sangat berbahaya jika Ibu memaksa untuk pulang," dokter Alisha lagi-lagi menjelaskan sedetail mungkin. Pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab jika Mega tetap pulang, misal terjadi infeksi pada luka-luka tersebut dan yang lainnya.
"Saya mengerti, Dok," Bintang akhirnya menyela, walau bagaimana ia pun tidak ingin sang mama pulang dalam keadaan luka masih basah seperti itu.
"Terima kasih Pak Bintang, tolong beri pengertian ibu Mega," pungkas Dokter Alisha, lalu izin keluar karena harus memeriksa pasien lain, hanya tinggal Bintang dan mama di ruangan itu.
"Benar Mah, kalau Mama ingin pulang karena Mentari yang menjadi alasan, jangan khawatir, di rumah sudah banyak yang menjaga," Bintang menyebut dua art, Mama Ratih, Sherly, dan juga dokter yang siap menangani jika terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Ratih sedang di Indonesia?" Tanya Megawati sedikit terkejut.
"Iya Mah, beberapa hari yang lalu beliu datang ke Indonesia dan saat ini tinggal di rumah."
"Kamu tadi bilang, di rumah ada dokter yang mengawasi Mentari, maksudnya?" Mega deg-degan, jika di rumah sampai ada dokter pribadi, itu artinya penyakit Mentari sangat parah.
Bintang diam sejenak, bingung ingin menjawab apa, hingga beberapa detik kemudian, ia mendengar pertanyaan mama untuk yang kedua kalinya.
"Dokter itu teman Mentari Mah," Bintang pada akhirnya punya alasan untuk memberi jawaban yang tidak mencurigakan.
Setelah mendengar banyak nasehat, Mega akhirnya mengalah, hari itu dan besok tetap menjalani perawatan di rumah sakit. Bintang memberi perhatian khusus hingga waktu berganti siang, saat ini baru saja selesai menyuapi Mega.
"Sebaiknya kamu pulang dulu melihat Mentari," titah Mega, wanita itu rupanya sangat sayang dan khawatir kepada menantunya.
Bintang hanya diam berpikir, jika di kantor ia memang selalu pulang siang hari demi Mentari, tapi saat ini antara mama dan istri dua-duanya sungguh sangat berat ia tinggalkan.
"Sudahlah Bintang, tidak usah bingung," Mega menepuk bahu putranya agar jangan memikirkan dirinya, karena ia hanya menderita luka luar, sementara sakit menantunya dekat sekali dengan nyawa.
"Ya, aku pulang dulu, Mah," Bintang mengatakan ingin pamit Mentari bahwa malam nanti tidak pulang, kemudian kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga mama.
"Sebaiknya kamu tidak usah bilang Mentari kalau Mama di sini, Bin," potong Mega, ia tidak ingin menantunya mengkhawatirkan dirinya.
"Iya Mah," pungkas Bintang, pria itu akhirnya pulang, inilah kesempatan dirinya untuk berbicara kepada Mentari dan Bulan untuk merahasiakan pernikahannya dengan Rembulan.
Tiba di rumah, Bintang langsung bersih-bersih badan sebelum menemui istrinya.
"Mas..." ucap Mentari saat Bintang ambil pakaian di lemari.
"Sayang... kamu pasti kaget karena aku masuk ya..." kata Bintang, kemudian balik badan menampilkan tubuhnya yang tanpa pakaian selain celana pendek. Bintang memasang kaos sambil berjalan mendekati ranjang istrinya.
"Tidak..." Mentari menggeleng, lalu mencoba untuk duduk.
Bintang segera membantu Mentari, menganjal bahunya dengan bantal, memastikan istrinya duduk dengan nyaman.
"Bagaimana rasanya hari ini?" Bintang duduk di samping Mentari, memegang tangannya lembut.
"Lebih enak Mas, tadi pagi aku diajak Bulan berjemur," Mentari menceritakan saat pagi tadi Bulan mendorong dirinya dengan kursi roda ke halaman rumah, hingga tubuhnya tidak lagi kedinginan seperti hari-hari sebelumnya.
"Oh iya?" Bintang terharu, Bulan memang benar-benar tulus membantu istrinya.
"Iya Mas, Bulan itu baik sekali, makanya jangan pernah sakiti dia..." Mentari minta Bintang untuk selalu menyayangi Bulan.
Bintang hanya tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan, jika mama Mega datang ke Jakarta.
"Lalu, sekarang Mama mana?" Mentari seketika berbinar-binar, jujur ia lebih akrab dengan mertuanya daripada Ratih mamanya sendiri. Mungkin karena sejak kecil ia tidak tinggal bersama Ratih.
"Nanti malam rencananya mau aku jemput ke hotel," Bintang terpaksa berbohong demi kesehatan Mentari.
"Loh, kenapa Mas biarkan Mama menginap di hotel sih..." protes Mentari.
"Beliu tiba di Jakarta terlalu malam. Mama tidak mau mengganggu tidur kita sayang, makanya langsung ke hotel. Sudah ya, jangan dipikirkan lagi."
"Iya, Mas..."
"Emmm... Kalau Mama sudah tiba nanti, sebaiknya kita rahasiankan dulu pernikahan aku dengan Bulan ya..." pesan Bintang. Begitu Mentari mengangguk, Bintang izin menemui Bulan hendak menceritakan kedatangan mama.
Bintang menuju kamar Bulan. Namun, begitu pintu kamar ia dorong pelan, kalimat yang sudah disusunnya di sepanjang jalan mendadak tertahan di tenggorokan.
Di atas tempat tidur, Bulan sedang terlelap. Wajah istrinya terlihat sangat damai dalam tidurnya, diiringi dengkur lirih. Walau waktu siang hari, tidak ada celah matahari masuk kerena jendela kayu terhalang gorden, hingga kamar itu tampak redup.
Bintang berdiri di samping tempat tidur, menatap paras Bulan yang tampak begitu tenang, jauh dari kata ketus saat terjaga dan berbicara kepadanya.
Melihat pemandangan itu, Bintang tidak tega membangunkan. Ia tahu betapa lelahnya Bulan setelah shift malam, bahkan beberapa minggu terakhir setelah menikah dengannya, Bulan hampir tidak ada waktu untuk beristirahat dan mengurus dirinya sendiri. Bintang merasa bersalah karena telah memasung kebebasan Bulan.
Bintang menarik napas panjang, mencoba mengurai gemuruh panik di dadanya, lalu naik ke atas tempat tidur, beristirahat beberapa menit sebelum kembali ke rumah sakit tidak ada salahnya, dengan hati-hati merebahkan tubuhnya di samping Bulan.
Ia tidur posisi miring menghadap istrinya, menatap lekat wajah Bulan yang sangat cantik sempurna. Pertahanan pria itu pun akhirnya goyah, kemudian merengkuh pinggang Bulan, menyembunyikan wajahnya di celuk leher sang istri yang sama sekali tidak terganggu karena terlalu lelap.
Hawa sejuk AC kamar tidak sanggup mengikis kehangatan napas suami istri itu. Namun, Bintang tidak ingin mengikuti hasrat yang hanya ia rasakan sepihak. Cukup memeluk tubuh Bulan hingga akhirnya tertidur.
Mereka tidak tahu jika di luar pintu bahaya mengintai.
Brak!
Bulan seketika bangun, kaget, ketika suara pintu dibuka dengan kasar. Ia tatap dua orang wanita yang berdiri di tengah pintu dengan tatapan horor.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌