Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23.Berusaha Menyangkal Perasaan
Meski segalanya terasa begitu indah dan nyata di antara mereka, keraguan perlahan mulai merayap masuk ke dalam hati Kenzo maupun Anisa. Setiap kali kebersamaan itu berakhir dan mereka kembali ke tempat masing-masing, pikiran-pikiran kecil mulai berputar liar di kepala, menimbulkan keraguan yang perlahan tumbuh menjadi keinginan kuat untuk menyangkal apa yang sebenarnya tengah terjadi. Bukan karena tak tulus hatinya, melainkan karena takut. Takut salah paham, takut misunderstood, dan takut menyakiti satu sama lain bila ternyata perasaan itu hanya sesaat semata.
Anisa adalah yang pertama kali melakukannya. Setiap kali senyum lembut Kenzo tertuju padanya, hatinya berdebar kencang namun bibirnya berusaha melengkungkan senyum biasa seakan tak merasakan apa-apa. Setiap kali Kenzo memberikan perhatian-perhatian kecil, Anisa berusaha bersikap seakan hal itu wajar saja, seakan setiap orang pun akan melakukan hal yang sama. Ia terus membisikkan dalam hatinya berulang kali: "Jangan berharap lebih, Anisa. Mungkin dia hanya bersikap baik. Mungkin dia begitu kepada semua orang. Jangan menyimpulkan hal-hal yang bukan hakmu untuk menyimpulkan."
Begitu pun saat teman-teman sekelas menyindir mereka yang tampak semakin dekat, Anisa buru-buru membantahnya dengan suara yang sedikit lebih lantang dari biasanya, berusaha meyakinkan bukan saja kepada mereka, melainkan lebih kepada dirinya sendiri. "Kalian berlebihan sekali. Kami hanya mulai akrab dan saling memahami sebagai teman. Tidak ada yang lain. Benar-benar tidak ada apa-apa di antara kami." Ucapannya terdengar begitu tegas, namun hatinya justru terasa semakin gelisah tak tenang. Sebuah kebohongan yang terus diulang berkali-kali, berharap perlahan ia pun akan mempercayainya sendiri.
Kenzo pun tak jauh berbeda. Di balik tatapan matanya yang lembut dan perhatian yang ia berikan diam-diam, tersembunyi keraguan yang sama. Setiap kali hatinya berdebar melihat senyum Anisa, ia berusaha mendinginkan pikirannya. "Ini mungkin hanya perasaan sesaat. Hanya rasa senang karena tak lagi bertengkar. Jangan menjadikannya sesuatu yang lebih dari yang seharusnya." Begitu bisik hatinya berulang kali, berusaha meredam getaran halus yang setiap kali muncul setiap kali berada di dekat gadis itu.
Ketika teman-teman sesekali menggoda dan menyebut nama Anisa sebagai seseorang yang istimewa baginya, wajah Kenzo tetap tenang namun matanya berusaha berpaling menjauh. "Hanya teman satu kelompok. Tidak lebih dari itu. Jangan mengada-ada." Ucapannya terdengar begitu pasti, namun jantungnya justru berdetak semakin kencang, takut keraguannya terbaca oleh siapa pun—terutama oleh Anisa sendiri.
Akibat penyangkalan yang terus-menerus itu, perlahan perubahan kecil mulai tampak pada sikap mereka. Anisa mulai sengaja menjaga jarak, berusaha tidak terlalu lama berdekatan dengan Kenzo, sesekali berpaling lebih cepat saat tatapan mata mereka bertemu, dan menanggapi perhatian-perhatian kecil Kenzo dengan sikap yang terkesan dingin dan berjarak. Ia berpikir: dengan bersikap demikian, perasaannya perlahan akan hilang dan kembali seperti sedia kala. Namun yang justru terjadi adalah sebaliknya—semakin ia berusaha menyangkal, semakin berat hatinya terasa, dan semakin sering ia mendapati dirinya justru semakin memikirkan sosok yang berusaha dijauhinya itu.
Kenzo pun merasakan hal yang sama. Melihat Anisa yang perlahan menjaga jarak dan bersikap dingin, hatinya kembali menegang. Ia ikut berusaha bersikap biasa saja, tidak lagi terlalu terbuka, tidak lagi menatap terlalu lama, dan tidak lagi memberikan perhatian yang terlihat jelas. Namun setiap kali ia menahan diri untuk tidak melirik ke arah Anisa, hatinya justru terasa semakin kosong. Setiap kali ia berpura-pura tak acuh, justru semakin menyadari betapa ia sebenarnya ingin terus memperhatikannya.
Suatu sore, saat mereka berpapasan di koridor yang sepi, keduanya sama-sama terhenti sejenak. Mata mereka saling bertemu sebentar, lalu sama-sama buru-buru memalingkan wajah. Anisa menggenggam erat tas di tangannya, menahan diri agar tidak menoleh kembali. Kenzo mengepalkan tangannya pelan di sisi tubuh, menahan diri agar tidak menyapa seperti yang diinginkan hatinya. Dalam diam, keduanya sama-sama merasa berat dan sesak. Mereka berusaha menyangkal perasaan itu demi ketakutan yang tak beralasan, namun ternyata menyangkalnya justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada mengakuinya.
Dan di dalam hati mereka masing-masing, bisik halus yang tak bisa dibendung terus terdengar, mematahkan segala penyangkalan yang berusaha dibangun: "Kau boleh menyangkalnya kepada siapa pun. Kau boleh berpura-pura tak peduli. Namun hatimu... hatimu tahu kebenarannya. Kau tak bisa membohonginya selamanya."
Mereka belum berani mengakuinya saat itu. Namun penyangkalan yang terus-menerus itu justru menyadarkan satu hal yang tak bisa dielakkan: semakin berusaha disembunyikan, semakin nyata terlihat bahwa perasaan itu sungguh ada, nyata, dan tak bisa begitu saja dihapuskan hanya dengan kata-kata penyangkalan belaka.
BERSAMBUNG...