Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah lucas 2
"Intinya kamu jaga diri aja baik-baik," ucap Lucas pelan. Nadanya tegas, tapi ada khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.
Aku terdiam. Mengingat lagi gerak-gerik Samudra yang memang agak aneh dari kemarin. Cara ia menatapku terlalu lama. Cara ia sengaja lewat di depanku saat aku di dapur. Semuanya membuat bulu kudukku berdiri.
"Luc..." suaraku tercekat. "Terus... kenapa kamu kemarin ke pernikahan Samudra sama Ibu saya cuma sebentar?"
Lucas menoleh padaku. Bibirnya membentuk senyum tipis. Senyum yang dingin.
"Aku tidak diundang," jawabnya. "Aku cuma memata-matai dia."
"Hah?"
Aku bingung dengan ucapan Lucas. Dahi ku berkerut.
Lalu seketika, ingatanku melintas. Tentang bisik-bisik orang. Tentang bisnis yang tidak pernah jelas. Tentang tatapan takut orang-orang kalau menyebut namanya.
Dia adalah mafia.
Tanganku langsung dingin. "Kamu... memata-matai ayah tiriku?" tanyaku hati-hati.
Lucas mengangguk. Ia tidak menyangkal. "Sejak Bibi Wijaya memperkenalkan dia ke Ibumu. Ada banyak hal yang janggal tentang dia, Angel. Terlalu banyak yang dia tutupi."
Aku menelan ludah. Dadaku sesak. "Terus... kamu nemu apa?"
Lucas diam. Ia menatapku dalam-dalam, lalu menggeleng. "Belum waktunya kamu tahu semuanya."
Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela. Punggungnya tegak, tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Untuk sekarang," lanjutnya tanpa menoleh, "kamu pulang seperti biasa. Tapi ingat satu hal."
Ia berbalik menghadapku. Tatapannya tajam.
"Jangan pernah sendirian dengannya. Kalau dia mendekat, cari alasan untuk pergi. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku."
Aku mengangguk pelan. "Iya..."
Di dalam hati aku kacau. Pulang ke rumah itu rasanya seperti masuk ke kandang singa. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Setidaknya... untuk sekarang aku harus lebih hati hati lagi.
Suasana hening cukup lama. Sampai akhirnya Lucas membuka suara.
"Dulu aku dan ayahmu pernah bekerja sama," ucapnya pelan. "Ayahmu orang yang baik. Beliau selalu membantuku."
Aku menoleh kaget. "Kerja sama?"
Lucas mengangguk. Pandangannya lurus ke depan, tidak menatapku.
"Karena itulah aku hanya ingin membalas budiku kepadamu. Mengingat ayahmu sudah tidak ada."
Ia berhenti sebentar, lalu menoleh sekilas ke arahku. Nadanya kembali datar seperti biasa.
"Jadi... jangan terlalu percaya diri."
Kalimat terakhir itu membuat dadaku tercekat. Antara lega dan sakit.
Jadi selama ini dia memperhatikanku... hanya karena ayah?
Bukan karena aku.
Aku mengangguk kecil, menahan perih di dada. "Aku mengerti."
Lucas tidak menjawab. Ia kembali diam. Tangannya masih di dalam saku, rahangnya mengeras.
Di dalam hati aku berbisik:
_Kalau memang hanya karena balas budi... kenapa sorot matamu tadi terlihat khawatir sekali, Luc?_
Aku hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan Lucas.
Jadi semua ini karena ayah. Karena hutang budi.
Rasanya ada yang mengganjal di dada, tapi aku memilih diam. Tidak perlu bertanya lebih jauh.
Lucas juga tidak banyak bicara setelah itu. Ia berdiri di dekat jendela cukup lama. Punggungnya tegak, rahangnya masih mengeras.
Aku duduk di sofa, menunduk. Jari-jariku meremas ujung rok. Pikiran melayang pada ayah, pada Samudra, dan pada tatapan Lucas yang entah mengapa tidak sesuai dengan kata-katanya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Akhirnya Lucas berbalik. Ia melirikku sekilas, lalu berjalan keluar ruangan tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Aku tetap di tempat. Dada terasa sesak, namun juga sedikit lega.
Setidaknya sekarang aku tahu alasannya.
"Jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku ingin pulang," ucapku akhirnya, memecah keheningan yang terasa berat.
Lucas tidak langsung menjawab. Ia menatapku beberapa detik, seolah menimbang ucapanku.
"Baik," jawabnya singkat. Nadanya tetap datar, seperti biasa.
Ia berjalan mendahuluiku. Langkahnya pelan menuju pintu depan. Aku mengikutinya dari belakang dengan jarak beberapa langkah.
Rumah itu terasa terlalu besar dan terlalu sepi. Setiap sudutnya mengingatkanku pada ayah. Dulu ayah pernah cerita tentang rekan kerjanya yang bernama Lucas. Dulu aku tidak pernah menyangka orang itu adalah dia.
Sampai di teras, angin sore menerpa wajahku. Agak dingin. Langit mulai menguning.
Aku berhenti di anak tangga paling atas. Lucas berdiri satu anak tangga di bawahku, sehingga tingginya hampir sama denganku.
"Terima kasih, Lucas, sudah memberitahuku."kataku pelan.
Ia tidak menoleh. Hanya mengangguk kecil.
Aku menggenggam tali tasku erat-erat. "Tolong sampaikan kepada nenekmu aku pulang dulu."
"Baik," sahutnya. Lalu ia menoleh sekilas. "Kamu hati-hati di jalan."
"Simpan nomorku, aku akan menghubungimu"kata lucas.
Aku mengeluarkan ponselku dari tas. Dia mengambil ponselku, lalu menuliskan dan menyimpan nomornya disana.
Belum sempat aku menjawab, suara notifikasi dari ponselku berbunyi. Ojek online yang kupesan sudah tiba. Mobil berwarna silver berhenti tepat di depan pagar besi yang tinggi itu.
Aku melangkah turun. Setiap anak tangga terasa berat. Bukan karena capek, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal di dada.
Di depan pagar, aku berhenti sebentar dan menoleh.
"Sampai jumpa," ucapku.
Lucas masih berdiri di teras. Tangannya di saku. Wajahnya tidak berekspresi.
"Sampai jumpa," balasnya singkat.
Aku masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup.
Dari kaca jendela, aku melihatnya. Ia tidak bergerak dari tempatnya. Berdiri di bawah cahaya lampu teras yang mulai menyala, menatap ke arah mobilku sampai jarak kami semakin jauh.
Pintu pagar tertutup pelan di belakang.
Dan aku baru sadar, dadaku terasa sesak sejak tadi.