NovelToon NovelToon
Karang Hitam 2 ( Senja Temaram )

Karang Hitam 2 ( Senja Temaram )

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Tentara
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Bojone_Batman

Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.

Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Ingin memulai lagi denganmu.

Suasana di ruang rawat Bang Dante terasa sunyi senyap, hanya terdengar suara detak jantung yang teratur dari alat pemantau di samping tempat tidur. Bang Dante terbaring lemah di atas brankar, wajahnya masih pucat, napasnya pelan dan berat. Obat itu mulai bekerja, menenangkan badannya yang sempat gemetar hebat, namun semua orang tau, hati Letnan Wiradante tetap terluka parah melebihi luka di tubuhnya saat ini.

Pak Riegan berdiri di sisi tempat tidur, menatap putranya lekat-lekat. Tangannya yang kasar namun hangat menepuk bahu Bang Dante.

"Sea kritis, dia sangat membutuhkanmu. Berjuanglah sedikit lagi, ayah menemani..!!" Bujuk Pak Riegan.

Lelehan bening menetes dari sudut mata Bang Dante. Pria itu tetap mendengar setiap kata dari ayahnya. Nyatanya efek obat memang membuat sang prajurit itu tidur sesaat. Pak Riegan pun tersenyum, beliau tau.. kontrol emosi Letnan Dante cukup baik.

Perlahan tapi pasti, Pak Riegan mendekatkan wajahnya di sisi telinga putranya, beliau mulai bercerita.

...

Bang Dante perlahan membuka matanya, tatapannya masih kabur dan berat. "Se_a. Dimana Sea??"

"Dia diserang di ICU. Sampai sekarang belum sadar. Seseorang menyusup, mencoba menghabisinya saat dia sedang lemah. Jangkar sedang menanganinya sekarang. Dan kau... kau malah di sini, terluka, mabuk, hampir saja menghancurkan dirimu sendiri dengan obat b*****t itu. Dante.... dengarkan Ayah..!! Musuh belum kalah. Mereka masih di luar sana, dan mereka tau siapa kalian. Kalau kau menyerah sekarang... siapa yang akan melindungi Sea?"

Setiap kata dari ayahnya menembus kabut di kepala Bang Dante. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa begitu berat. "Saya... harus ke sana. Saya harus menemui Sea, yah."

"Nanti dulu. Tunggu tenagamu cukup kuat untuk berdiri dan berpikir jernih. Sekarang, kau istirahat total. Itu perintah." Pak Riegan menatapnya tajam namun penuh kasih sayang. "Dan ingat satu hal. Kesalahanmu itu nyata, sakitmu juga sangat nyata. Tapi kau masih hidup. Sea masih hidup. Dan selama napas masih ada di tubuhmu, kau masih ada harapan untuk menebus kesalahanmu. Maaf itu butuh waktu, Dante. Dan menebusnya butuh seumur hidup. Tapi kau... mulai sekarang, harus bangkit, sembuh dan jangan pernah menyerah."

Dante menutup matanya kembali, perlahan ua kembali berbaring. Air mata menetes di sudut matanya. Sesaat teringat akan calon anaknya yang belum sempat lahir ke dunia. "Saya janji, Yah... Saya tidak akan menyerah. Demi Sea. Demi anak yang sudah pulang... saya akan berjuang."

\=\=\=

Beberapa hari berlalu. Perlahan namun pasti, Bang Dante mulai bangkit. Ia tidak lagi menyendiri dalam kegelapan. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah masuk di depan pintu ICU, ia duduk di samping tempat tidur Sea, menggenggam tangan Sea yang masih terasa dingin.

"Assalamualaikum.. Selamat pagi gadisku.. Saya akan menebus setiap kesalahan yang pernah saya lakukan. Sungguh, saya tidak sengaja memperlakukanmu dengan tidak hormat. Jika masih ada kesempatan untuk saya memperbaiki diri, bolehkah saya meminangmu dengan layak, akan saya perlakukan kamu dengan baik, dan saya akan mengusahakan kamu menjadi wanita paling bahagia di dunia." Bisik Bang Dante.

\=\=\=

"Assalamualaikum, selamat pagi, Sayang..!!" bisiknya lembut, mencium punggung tangan itu perlahan. "Hari ini cuaca cerah. Anginnya sejuk. Entah kapan kita bertemu, tapi ku rasa, kamu benar-benar hadir di hari itu, di kamarku, saat janda anak satu itu datang. Saat itu, angin sedingin ini, sama seperti hari pertama kita bertemu... Kau ingat? Saat kau menyamar jadi Cherry, dan aku marah-marah padamu? Tapi sekarang aku yang mau, bolehkan pria b******k ini, jadi suamimu??" Ucapnya mulai melunak, menunggu saat Sea akan membuka matanya.

\=\=\=

"Assalamu'alaikum, selamat pagi, Cintaku..!!" Bang Dante merebahkan kepalanya di samping bantal Sea. Ingin rasanya menangis, tapi ia menahannya. "Bangun cinta, ijinkan aku meminangmu. Aku sadar, jatuh cinta itu.. Memang sakit. Tapi lebih sakit karena aku baru tau kalau aku, terbiasa mendengar suaramu. Hari-hari ku berat, cinta."

\=\=\=

"Assalamu'alaikum, selamat pagi, pujaan hatiku." Hanya usapan lembut di kening dan usapan tangan. Bahkan satu kecupan kini adalah hal yang begitu ia jaga. "Apa kabar hari ini?? Sebenarnya malaikat gang mana yang menyanderamu sampai lama sekali kau tak merespon pesan kecilku??"

Bang Dante tersenyum tipis namun kemudian hilang berganti air mata yang mulai menggenang.

"Aku masih kuat menunggumu, tapi aku tidak sanggup kau pergi dariku."

Entah kenapa hari ini rasanya Bang Dante begitu frustasi. Ia duduk, menunduk dan terisak. "Kau atur saja yang terbaik Tuhan, tapi aku mohon, satu kali ini saja. Jangan ambil dia..!!"

\=\=\=

"A....... Assalamu'alaikum.." Bang Dante tertegun sejenak melihat Sea sudah bisa membuka matanya. Gadis itu berbaring, setengah duduk.

Reaksi Sea aneh, di luar dugaan dan ketakutan. Ia mencoba bergerak menghindar.

"Kau kenal dia?? Dia Dante."

Untuk beberapa saat, Bang Dante masih terdiam. Tapi pekik Sea seakan menolak nama itu. Sea pun menyilangkan kedua tangan, menutup bagian dada dan tidak mengijinkan siapapun menyentuhnya.

Dokter yang menangani Sea langsung mendekati Bang Dante dan mengajaknya keluar.

"Kenapa Sea jadi begitu, dok??"

"Begini, Dante. Kondisi fisiknya membaik, Tapi... ada hal yang perlu kau ketahui, banyak hal yang bisa mempengaruhi, trauma masa lalu, penyusup yang malam itu masuk di ruangan ini.. Mereka menyuntikkan sesuatu ke tubuh Sea dan Sea pun sempat mengalami guncangan hebat dalam penyerangan, ia mengalami amnesia parsial. Mungkin sementara Ia tidak mengingat siapa dirinya, tidak mengingat kau, tidak mengingat sebagian masa lalu.

"Kalau begitu, saya minta tolong................"

~

Bang Dante melangkah masuk perlahan, kakinya terasa berat. Di atas tempat tidur, gadis itu duduk bersandar bantal, wajahnya mungil dan pucat, mata itu menatapnya dengan tatapan asing, tanpa sedikitpun pandang benih cinta atau pun benci.

'Kenapa kisah kita sama seperti perjuangan hidup Ayah Hernand??? Aku tidak ingin berhenti disini, aku masih ingin berjuang bersamamu melewati setiap detik hidup ini. Maukah kau menyambut tanganku, Sea??'

Baru saat itu, Bang Dante membuka masker medisnya.

"Siapa? Orang jahat???" Tanya gadis itu.

Bang Dante berusaha meyakinkan diri bahwa gadis itu adalah memang benar Sea.

"Bukan. Apa kau ingat apa yang kau alami??"

"Oohh.. Polisi??" Gadis itu kemudian mengangguk mantap. "Iya, ingat. Rintan belajar naik sepeda listrik, terus masuk parit."

Bang Dante mencoba menggali, pasalnya ia hanya mengganti nama Sea demi keamanan gadis itu. Nama yang ia ambil dari salah satu nama panjang gadis itu.. G. S. Rintan Seruni "Sepedamu warna apa??"

"Pink dan ungu." Jawab Sea yang kini hanya tau nama dirinya adalah Rintan.

"Apa hobby yang kamu sukai??" Selidik Bang Dante.

"Bikin konten."

Bang Dante tersenyum tipis, mungkin hanya dirinya yang memahami kebenarannya.

"Om.. Benar dari penyidik?? Om polisi, kan?? Nama Om, siapa??" Tanya Sea.

"Saya bukan bekerja di bidang itu. Yaaa.. Ada sedikit kemiripan, saya dari tentara. Nama saya..." Bang Dante terdiam sejenak. "Afrinald Diego Wira. Ya.. Itu nama saya. Terserahmu saja mau panggil saya siapa. Tugas saya, menjagamu." Jawab Bang Dante.

"Oohh.. Iya, Om........"

Sea terdiam, mendadak kepalanya terasa sangat sakit. Bang Dante mencoba untuk menenangkannya.

"Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu ingat??"

.

.

.

.

1
Adriana Simanjuntak
walaahhh makin berat sakit Bian, makin stress nih bang Wira
Tanti
aduh mba Nara...pengen 😭😭😭
Maysuri
tuhan ......😭😭😭
dyah EkaPratiwi
berat sekali cobaan bang dante
Tanti
sabar dan tenangkan hatimu Bian... smua pasti akan berlalu... yakinlah klo Bang Dante mampu mengatasinya....

lanjut mba Nara
Tanti
siippp Bang Dante, lindungi marwah istrimu👍👍
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
Maysuri
siiippp lah mbak nara,....👍🏻👍🏻👍🏻
Tanti
Aman mba Nara....ditunggu cerita lanjutnya mba👍👍🥰
Tanti
baca sambil ngebayangin adegannyaaa..bikin merinding ngeriii...

lanjut mba nara👍
Tanti: asssiyaappp mba Nara🤭
total 4 replies
Maysuri
kau bangunkan macan yg lg tidur y vivian...awas kau....🤣🤣🤣🤣
Bojone_Batman: tinggal tunggu saja hasil dari karyanya.
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
cari masalah aja vivian
Bojone_Batman: Tapi watak manusia emang ada yang gitu sih.
total 1 replies
Tanti
sedih bacanya🥺😭😭
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹

huaaa...ga rela klo pada pisah😭
Tanti
tabir masa lalu akhirnya terbuka, smuanya sdh jelas...tinggal masing² menata hati dan pikiran
lanjut mba Nara🥰
dyah EkaPratiwi
bener2 ya vivian 😭
dyah EkaPratiwi
bener2 ya vivian
Maysuri
ohhhh gitu toh kejadiannya....semangat mbak nara 💪💪
Tanti
aduh... ini tau- tau datang lg ibu² bikin rusuh rmh org...bikin gedegg ae....
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki

lanjut mba nara
Ayu FazRina Satiasari
pasti ulah vivian ini sang provokator
dyah EkaPratiwi
ada aja cobaannya
dyah EkaPratiwi
😄 Alhamdulillah sudah bisa mengungkapkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!