NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: tamat
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 : Saling Berhadapan

Adrian kembali menuju ruangan tempat acara berlangsung. Langkahnya tetap tenang, tetapi pikirannya masih dipenuhi percakapan yang baru saja ia dengar.

Dokumen asli mengenai malam kejadian itu.

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Adrian baru saja hendak membuka pintu ketika seseorang tiba-tiba muncul dari arah samping.

“Adrian!” ucapnya pelan.

Adrian langsung berhenti. Nadira berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil memegang tas kecilnya. Wajah wanita itu tampak sedikit terkejut.

“Astaga, Adrian! Kamu ngagetin aja.”

Adrian menoleh, tapannya langsung tertuju kepada Nadira. "Kamu mau kemana?” tanyanya singkat.

“Aku mau ke toilet.”

Adrian terdiam sesaat. Ia memperhatikan Nadira, kemudian melirik ke arah koridor. Beberapa tamu masih berlalu-lalang di sekitar mereka.

Entah kenapa, Adrian tiba-tiba teringat percakapan Dimas tadi. Ia tidak ingin membicarakan hal itu di tempat terbuka. Tanpa banyak berpikir, Adrian meraih tangan Nadira.

Nadira sontak terkejut. “Eh! Kamu mau apa?”

Adrian tidak menjawab. Ia justru menarik Nadira menuju arah berlawanan dari toilet.

“Adrian!”

“Ikut aku sebentar.”

“Kamu mau bawa aku ke mana?”

Adrian terus berjalan sampai mereka tiba di sebuah tangga darurat yang jarang dilewati orang. Ia mendorong pintu besi itu hingga terbuka, lalu membawa Nadira masuk. Pintu kembali tertutup di belakang mereka. Suasana seketika berubah sunyi.

Nadira menatap Adrian dengan bingung. “Kamu sebenarnya mau apa?”

Adrian melepaskan tangannya. “Aku mau bicara sama kamu.”

Nadira mengernyit. “Kenapa harus di sini?”

“Aku nggak mau ada yang dengar.” Nada suara Adrian terdengar serius.

Nadira yang semula ingin mengomel akhirnya ikut terdiam. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi Adrian.

“Ada apa?” tanyanya lebih pelan.

Adrian memastikan pintu tangga darurat itu tertutup rapat. Setelah itu, ia kembali menatap Nadira. “Tadi aku mendengar sesuatu.”

“Mendengar apa?”

“Aku habis mendengar percakapan Dimas.”

Mata Nadira langsung berubah. “Dimas?”

Adrian mengangguk. “Aku mengikutinya karena aku merasa ada yang aneh. Dia masuk ke sebuah ruangan bersama seorang pria. Aku mendengar mereka membicarakan sesuatu.”

Nadira menelan ludah. “Jangan bilang kamu ketahuan.”

“Nggak.”

“Lalu mereka membicarakan apa?”

Adrian terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Dokumen.”

“Hah... dokumen?”

“Iya, dan sepertinya ini bukan dokumen biasa.”

Nadira semakin penasaran. “Memangnya dokumen apa?”

Adrian menggeleng. “Aku belum tahu.”

“Terus kenapa kamu sampai membawaku ke sini?”

Adrian menatap Nadira cukup lama. “Karena aku pikir kamu harus tahu.”

Nadira semakin bingung. “Aku?”

“Iya.”

Adrian mendekat sedikit, lalu merendahkan suaranya. “Mereka menyebut tentang dokumen asli mengenai malam kejadian itu.”

Wajah Nadira perlahan berubah. “Maksudnya... kejadian yang berhubungan dengan ayahmu?”

Adrian tidak langsung menjawab. Namun tatapan matanya sudah memberikan jawaban.

Nadira seketika terdiam.

Adrian mengepalkan tangannya. “Mereka bilang kalau dokumen itu jatuh ke tangan orang yang tepat, semuanya bisa terbongkar.”

Nadira menarik napas pelan. “Jadi selama ini... ada sesuatu yang mereka sembunyikan?”

“Itulah yang ingin aku cari tahu.” Adrian menatap pintu di belakang Nadira, memastikan tidak ada suara dari luar. “Aku yakin dokumen itu adalah salah satu kunci untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ayahku.”

Nadira menatap Adrian dengan serius. “Kalau begitu, kamu harus hati-hati.”

“Aku tahu.”

“Kalau Dimas memang terlibat, dia pasti nggak akan tinggal diam kalau tahu kamu sedang mencarinya.”

Adrian tersenyum tipis. “Karena itu aku nggak bisa membicarakan ini di tempat ramai.”

Nadira mengangguk pelan, namun sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan... terdengar suara langkah kaki dari balik pintu tangga darurat.

Keduanya langsung terdiam. Langkah itu semakin mendekat. Adrian spontan memberi isyarat agar Nadira tidak bersuara.

Nadira menatapnya dengan mata melebar. Seseorang berhenti tepat di depan pintu. Kemudian terdengar suara gagang pintu bergerak.

Klik.

Adrian dan Nadira saling berpandangan.

Pintu mulai terbuka.

Nadira refleks menahan napas. Tubuhnya menegang, sementara Adrian segera bergeser mendekat dan berdiri di hadapannya. Ia mengangkat satu jari ke depan bibir, memberi isyarat agar Nadira tetap diam.

Cahaya dari koridor perlahan masuk melalui celah pintu. Namun, bukan Dimas atau orang mencurigakan yang muncul.

Tapi itu adalah seorang petugas kebersihan terlihat berdiri di ambang pintu sambil membawa alat pel dan ember kecil. Petugas itu melongokkan kepalanya ke dalam.

“Kirain ada yang masuk,” gumamnya. Ia menoleh ke sudut tangga, kemudian memperhatikan lantai yang terlihat sedikit kotor. “Harus dicek juga, takut ada sampah,” katanya pelan pada dirinya sendiri.

Adrian dan Nadira masih membisu di balik sisi pintu yang agak terlindung. Keduanya nyaris tidak bergerak. Petugas itu kemudian memeriksa sebentar bagian lantai dekat tangga. Setelah merasa tidak ada yang perlu dibersihkan, ia menghela napas kecil.

“Kayaknya masih bersih.” Ia menarik kembali gagang pintu. Pintu kembali tertutup.

Klik.

Suara kunci pintu yang kembali menutup membuat Adrian dan Nadira sama-sama mengembuskan napas lega.nNamun, ketika keduanya menyadari posisi mereka, suasana justru berubah.

Nadira baru menyadari bahwa sejak tadi tubuhnya berdiri sangat dekat dengan Adrian. Jarak di antara mereka hampir tidak ada, tatapan mereka bertemu.

Nadira mendongak, sementara Adrian menatap wanita itu tanpa berkata-kata. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Napas Nadira terdengar pelan, tetapi jelas. Begitu pula dengan napas Adrian yang kini terasa begitu dekat hingga keduanya bisa merasakan hembusan hangat satu sama lain.

Nadira menelan ludah. “Adrian...” bisiknya.

Adrian tidak langsung menjawab, tatapannya masih tertuju pada mata Nadira. Seolah baru menyadari bahwa tangannya sudah berada di sisi tubuh wanita itu.

Ketika Nadira hendak mundur, tubuhnya justru menyentuh dinding di belakangnya. Ia terdiam, Adrian spontan mengangkat tangannya dan memegang pinggang Nadira, menahannya agar tidak kehilangan keseimbangan.

Nadira langsung membeku. “Adrian...” panggilnya lagi, kali ini jauh lebih pelan.

“Aku cuma menahan kamu,” jawab Adrian dengan suara rendah.

Namun tangannya masih berada di pinggang Nadira. Keduanya kembali saling tatap, wajah Nadira mulai memanas. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Kita... terlalu dekat,” gumamnya.

Adrian menatap wajah Nadira beberapa saat sebelum akhirnya menyadari perkataan itu. Tangannya perlahan mengendur.

Namun sebelum ia benar-benar menjauh, suara dari luar kembali terdengar samar.

“Permisi!”

Nadira kembali terkejut.

Adrian spontan menahan gerakannya agar mereka tetap diam. Keduanya kembali saling berpandangan.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bergerak.

Suasana di tangga darurat kembali sunyi.

Nadira menarik napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Kalau kita terus di sini,” bisiknya, “orang bisa curiga.”

Adrian akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang Nadira dan mundur satu langkah.

“Benar.”

Nadira segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia berusaha menghindari tatapan Adrian, tetapi wajahnya masih terlihat memerah.

Adrian memperhatikannya sejenak, lalu kembali memasang ekspresi serius.

“Tapi sebelum kita keluar, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Nadira mengangkat wajah. “Apa?”

Adrian mendekat sedikit, tetapi kali ini tetap menjaga jarak. “Kalau dokumen asli itu benar-benar masih ada, berarti seseorang selama ini sengaja menyembunyikan bukti tentang kematian ayahku.”

Nadira hanya terdiam... dan kali ini, rasa gugup yang tadi muncul perlahan tergantikan oleh kekhawatiran.

“Jadi... siapa pun yang memegang dokumen itu sekarang,” ucap Nadira lirih, “pasti tahu seluruh kebenarannya.”

Adrian mengangguk. “Dan aku akan menemukannya.”

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!