Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT HATI REY
Keesokan paginya, udara pagi di tengah hutan terasa sangat sejuk dan menyegarkan, menusuk lembut ke kulit namun membawa ketenangan yang tidak pernah dirasakan di kota bising. Cahaya matahari baru saja menembus celah dedaunan yang rimbun, menciptakan berkas-berkas cahaya keemasan yang jatuh di atas tanah berlumut. Joe dan Arthur terbangun perlahan, tubuh mereka terasa segar meskipun tidur hanya di atas tikar sederhana. Saat mereka duduk dan mengusap wajah yang masih mengantuk, pandangan mereka jatuh ke halaman depan rumah kayu.
Di sana, Paman Robert sedang sibuk bergerak perlahan namun mantap, mengumpulkan ranting-ranting kering dan batang kayu yang sudah jatuh, lalu menyusunnya menjadi tumpukan yang rapi. Punggungnya tegap meski usia tidak lagi muda, dan tangannya yang besar serta kasar bergerak dengan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun ia jalani. Saat menyadari kedua pemuda itu telah bangun, Robert menoleh sejenak sambil tersenyum ramah.
"Kayu-kayu ini aku kumpulkan untuk persediaan kayu bakar beberapa hari ke depan," jelasnya sambil menumpuk sepotong batang kayu yang cukup tebal. "Kalian tadi malam tidur sangat lelap sekali, seakan kelelahan yang menumpuk berbulan-bulan baru saja terlepas semua."
Arthur menguap lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pantas saja gue mimpi buruk terus, ternyata gue tidur kayak orang pingsan," gumamnya pelan.
Robert tertawa mendengar itu, lalu menambahkan dengan nada yang bersemangat: "Pagi ini aku akan berburu lagi. Sebelum berangkat, aku sudah menyiapkan sup hangat di atas tungku — kuahnya kental, berisi potongan daging rusa sisa kemarin yang direbus lama hingga empuk dan sarinya keluar semua. Ayo, segera sarapan selagi masih panas. Udara dingin di hutan ini memang membuat perut cepat terasa lapar."
Mereka pun duduk melingkar di dekat tungku yang masih menyala pelan. Mangkuk berisi sup beruap hangat diserahkan kepada Joe dan Arthur. Aroma kuah yang gurih langsung tercium hingga ke hidung, membuat perut mereka seketika terasa kosong dan menagih makanan. Arthur tidak menunggu lama, ia langsung menyendok sup itu dengan lahap, memakan dagingnya yang besar dan menyesap kuahnya hingga habis dalam sekejap. Wajahnya tampak sangat puas, seakan tidak pernah makan enak seumur hidupnya. Joe juga makan dengan tenang namun tetap cepat, menikmati rasa hangat yang menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya.
Melihat mereka berdua, terutama Arthur yang makan dengan sangat lahap hingga keringat menetes di dahi, Robert tersenyum lebar dan berkata dengan hangat: "Makanlah yang banyak, habiskan saja semua yang ada di panci itu. Jangan ada yang tersisa. Kalian butuh tenaga lebih banyak dari biasanya."
Sambil masih menyesap sisa kuah di mangkuknya, Joe menatap Robert dengan tatapan tulus dan sopan. "Paman... jika Paman hendak berburu pagi ini, bolehkah aku ikut membantu? Aku ingin belajar cara Paman melakukannya."
Namun Robert justru menggeleng pelan sambil berdiri dan mengambil senapannya yang bersandar di dinding rumah. "Tidak untuk sekarang, Joe. Kalian masih butuh istirahat yang cukup. Perjalanan jauh yang kalian tempuh belum sepenuhnya pulih di dalam tubuh kalian." Lalu ia menunjuk ke arah tangan Arthur yang masih terbalut gips putih. "Terutama Arthur, tangannya masih belum sembuh sepenuhnya. Biarkan ia beristirahat di sini."
Tanpa menunggu bantahan, Robert berbalik dan melangkah perlahan namun pasti masuk ke dalam kerimbunan hutan yang lebat. Dalam sekejap, sosoknya hilang tertutup pepohonan hijau yang tinggi.
Setelah kepergian Robert, suasana di depan rumah menjadi sepi kembali. Arthur meregangkan tubuhnya yang panjang lalu menghela napas panjang.
"Hei Jo... kira-kira kita bakal jadi apa di sini? Apakah kita bakal hidup seperti Tarzan, tinggal di hutan, makan buah, dan berburu hewan seumur hidup?" tanyanya sambil menatap ke arah hutan yang dalam.
Joe tersenyum tipis namun wajahnya tetap serius. "Bukan begitu, Arthur. Aku butuh waktu untuk membujuk Paman Robert agar mau bergabung dengan kita. Dia adalah orang yang sangat berharga bagi perjuangan kita. Namun di samping itu... kita memang harus tetap bersembunyi untuk sementara waktu. Aku yakin pihak musuh — Dodi, Jefri, dan yang lainnya — pasti masih melakukan pencarian besar-besaran terhadap kita berdua."
Pikirannya perlahan melayang ke orang-orang yang ditinggalkan di luar sana. Wajahnya berubah menjadi muram dan penuh kekhawatiran.
"Aku juga khawatir dengan keadaan Lisa... dan Tante Susi," ucap Joe pelan dengan nada yang penuh cemas. "Mereka terlibat karena membantu kita. Semoga... semoga tidak ada hal buruk yang menimpa mereka berdua."
Arthur ikut terdiam mendengar itu, menyadari betapa beratnya beban yang sedang dipikul Joe. Setelah sejenak hening, Joe berdiri dan menepuk lututnya pelan.
"Sudahlah, kita tidak boleh berdiam diri terus. Mari kita cari sungai terdekat untuk membersihkan diri. Udara pagi yang sejuk ini sangat cocok untuk menyegarkan badan dan pikiran," ajak Joe.
Mereka pun berjalan menjauhi rumah kayu itu, menyusuri jalan setapak yang tertutup rumput hijau, menuju arah aliran air yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
Sementara itu, jauh dari kesunyian hutan, di pusat kota yang bising dan penuh kemewahan, suasana sangat berbeda.
AJ HOTEL — bangunan tinggi yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi yang mulai terik. Alex melangkah masuk dengan wajah dingin dan angkuh, melewati lorong-lorong mewah menuju pintu lift. Ia menekan tombol lantai paling atas — tempat hiburan malam eksklusif yang hanya dibuka bagi kalangan tertinggi dan terpilih. Pintu lift terbuka perlahan, dan suara musik pelan berpadu dengan gemerlap lampu lembut langsung menyambutnya. Ruangan itu luas, penuh meja berbalut kain mahal, dan penghuninya adalah orang-orang yang namanya tercatat di kalangan berpengaruh.
Alex berjalan menuju meja paling sudut yang paling sepi namun paling luas — meja VIP yang selalu disiapkan khusus untuknya. Ia duduk sendirian, menyandarkan punggungnya dengan santai namun matanya terus bergerak meneliti setiap sudut ruangan, seakan mencari seseorang yang bisa menemani kesepiannya. Di samping mejanya berdiri dua orang berbadan tegap dengan wajah dingin — pengawal pribadi yang khusus ditugaskan menjaga agar tidak ada orang yang mengganggu Alex.
Belum lama Alex duduk, pintu ruangan terbuka kembali. Rey masuk dengan langkah yang agak terburu-buru, matanya menyapu seluruh ruangan dengan cepat. Saat melihat sosok yang dicari sedang duduk di sudut ruangan, Rey segera berjalan mendekat dan menarik kursi di hadapan Alex.
"Kenapa telat?" tanya Alex singkat, tanpa basa-basi.
Rey menghela napas pendek sambil merapikan pakaiannya. "Tadi aku sempat menelepon ayahku. Menanyakan sejauh mana pencarian terhadap Joe dan Arthur."
Alex mencondongkan tubuh sedikit ke depan, matanya menyala penuh minat. "Lalu? Apakah mereka sudah tertangkap?"
Rey menggeleng pelan. "Belum. Ayahku masih melancarkan pencarian besar-besaran, namun semuanya dilakukan secara diam-diam. Tidak boleh ada yang tahu bahwa mereka sedang diburu."
Mendengar itu, sudut bibir Alex terangkat membentuk senyum yang kejam dan dingin. "Semoga mereka cepat ditemukan," ucapnya pelan namun penuh penekanan. "Aku sudah tidak sabar lagi... agar aku bisa menyiksa mereka berdua dengan rasa sakit yang sedalam-dalamnya."
Tiba-tiba getaran halus terdengar dari ponsel di saku Rey. Ia mengambilnya dengan cepat dan membuka pesan yang baru saja masuk. Matanya berubah seketika saat membaca isi pesan itu — bukan karena takut, melainkan karena ada rencana lain yang harus segera dilaksanakan. Pesan itu dari Mama Billy:
"Aku ingin menemuimu, Rey. Tapi jangan di Loyalty Hotel. Ayah Billy sudah pulang dari luar kota lebih awal."
Rey berpikir sejenak, lalu mengetik balasannya dengan cepat. "Kalau begitu, kita bertemu di sebuah penginapan di tepi pantai. Lokasinya agak jauh dari kota, aman dan sepi." Ia menyertakan alamat lengkap tempat itu.
Tak lama kemudian, pesan balasan masuk lagi: "Baik. Tunggu aku di sana. Jangan terlambat."
Rey langsung meneguk habis minuman berwarna gelap di gelasnya — minuman mahal yang baru saja disajikan — lalu berdiri dengan tergesa-gesa.
"Kau mau pergi ke mana lagi? Baru saja datang," tanya Alex dengan nada heran.
"Ada urusan yang mendesak. Harus segera berangkat," jawab Rey singkat tanpa banyak penjelasan.
Alex hanya menatap punggung Rey yang berjalan menjauh. Dalam hatinya ia sempat bertanya: Urusan apa yang begitu mendesak sampai harus buru-buru begitu? Namun Alex segera menggeleng dan menepis pikiran itu. Ia tidak peduli dengan urusan pribadi siapa pun, termasuk Rey. Ia kembali menyandarkan tubuhnya, menuangkan minuman ke gelasnya sendiri, dan meminumnya perlahan. Tidak lama kemudian, seorang wanita berpakaian mencolok berjalan mendekat dengan senyum menggoda, lalu duduk di samping Alex. Alex pun tersenyum dan melupakan segala hal lain, sepenuhnya terhanyut dalam kesenangan yang tersedia di hadapannya.
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju cepat menjauhi pusat kota, Rey menatap jalanan di depannya dengan tatapan yang tajam dan penuh perhitungan. Pikirannya bukan tentang kebahagiaan bertemu, melainkan tentang cara membalaskan dendam yang sudah lama ia simpan. Semua yang terjadi — kematian, pengkhianatan, kepura-puraan — semuanya harus dibayar. Dan Billy... Billy adalah orang pertama yang harus ia buat jatuh.
Mobilnya melaju hingga sampai di kawasan pantai yang tenang dan sepi. Di sana berdiri sebuah penginapan kecil namun bersih dan rapi, dengan halaman yang menghadap langsung ke laut lepas. Rey turun, masuk ke dalam, dan segera memesan kamar dengan jendela yang menghadap ke arah laut biru yang luas. Baru saja ia meletakkan tasnya di atas meja, ponselnya berdering pesan masuk lagi.
"Aku sudah sampai di depan."
Rey tersenyum lebar, matanya berbinar penuh harap sekaligus penuh rencana yang tersusun rapi. Ia membalas: "Aku sudah di dalam kamar nomor 7. Naiklah."
Menunggu beberapa saat terasa sangat lama baginya, namun akhirnya terdengar ketukan pelan di pintu. Rey berjalan mendekat, membukanya perlahan, dan sosok wanita yang ia tunggu-tunggu berdiri di ambang pintu — Mama Billy. Tanpa banyak bicara, Rey tersenyum penuh arti, menariknya masuk, lalu menutup dan mengunci pintu kamar itu rapat-rapat.
Mereka berpelukan dengan erat, seakan tidak ingin melepaskan lagi. Ciuman yang hangat dan penuh kerinduan pun saling dipertukarkan di antara mereka.
"Rey..." bisik Mama Billy dengan suara lembut namun penuh perasaan. "Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku yang selama ini tidak bisa meluangkan waktu untukmu. Terlalu banyak masalah yang menimpa keluarga kami belakangan ini."
Rey mengusap lembut rambutnya yang terurai indah, lalu menatap matanya dengan lembut namun tegas. "Kita tidak perlu membahas masalah Joe, Arthur, atau siapa pun sekarang. Biarkan semuanya berlalu dulu. Saat ini hanya ada Tante dan aku. Tidak ada beban, tidak ada kekhawatiran. Hanya kita berdua."
Mama Billy tersenyum lembut dan mengangguk setuju. Di ruangan yang hangat dan sunyi itu, mereka berdua melupakan sejenak dunia luar yang penuh bahaya dan pengkhianatan — setidaknya untuk saat ini.