NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran Ning Layla

Deru mesin mobil yang berhenti di pelataran pendopo Pesantren Al-Ikhlas memecahkan keheningan siang. Rombongan tamu yang keluar dari sedan hitam mengkilap itu tampak melangkah anggun. Pria paruh baya dan seorang wanita berbusana muslimah elegan memimpin di depan, diiringi seorang pemuda tampan bersetelan jas koko putih dengan peci hitam yang terpasang rapi. Pemuda itu memancarkan aura terdidik, teduh, dan penuh wibawa.

Kyai Syahuri menyambut mereka dengan senyum mengembang. "Ah, selamat datang, Nak Rayhan... Bapak dan Ibu. Silakan masuk, mari duduk di pendopo."

Shanum dan Aran bergeser sedikit untuk memberikan ruang. Tak lama kemudian, Ning Layla melangkah keluar dari kediaman utama dengan nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat. Paras anggunnya tampak tersipu malu saat matanya tidak sengaja beradu pandang dengan pemuda bernama Rayhan tersebut.

Di selasar pendopo, Kyai Syahuri menyampaikan kabar bahagia itu kepada Shanum dan Aran. Pria muda itu adalah Rayhan, teman kuliah Ning Layla semasa menempuh pendidikan sarjana. Kedatangan keluarga besar Rayhan hari ini adalah untuk menyampaikan niat suci: melamar Ning Layla secara resmi.

"Rayhan ini adalah sahabat lama Layla," tutur Kyai Syahuri lembut. "Seorang pengusaha muda yang amanah dan tekun. Alhamdulillah, hari ini niat baiknya resmi disampaikan kepada kami."

Mendengar hal tersebut, ada gesekan halus di dalam dada Aran. Bukan rasa cemburu atas kepemilikan, melainkan rasa kehilangan atas sosok wanita yang pertama kali menyuntikkan cahaya kebaikan dan kedamaian di masa-masa awalnya keluar dari dunia kelam. Ning Layla adalah simbol keputusasaannya yang berubah menjadi harapan.

Aran terdiam, menundukkan pandangannya menatap ubin pendopo yang dingin. Matanya memancarkan kilatan redup yang begitu tipis—sebuah gejolak batin yang sangat tersembunyi, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh Shanum yang duduk di sampingnya.

Shanum yang memahami betapa besarnya arti keberadaan Ning Layla bagi proses penyembuhan jiwa Aran, perlahan mengikis jarak di antara mereka. Tanpa ragu, Shanum tersenyum kepada Aran dengan lembut.

"Aran..." bisik Shanum teramat halus, hanya bisa didengar oleh pria di sampingnya. "Jangan menunduk. Lihat ke depan. Kamu yang sekarang bukan lagi pria asing yang tak punya arah. Langkahmu sudah jauh, dan Ning Layla berhak mendapatkan kebahagiaannya... seperti kamu yang juga berhak menemukan kedamaianmu sendiri."

Aran berpaling, menatap mata jernih Shanum dari jarak dekat. Kata-kata hangat dan senyum lembut dari Shanum itu bagaikan penawar yang instan meluluhkan sesak di dadanya. Senyum tipis yang tulus perlahan terukir di bibir Aran, menandakan bahwa ia mengerti dan meresapi setiap kalimat penghiburan dari pimpinannya.

Namun, momen kedekatan yang penuh perhatian itu tak luput dari pengamatan Gus Azhar yang berdiri di sudut selasar.

Mata Gus Azhar memicing tajam. Menyaksikan bagaimana Shanum—wanita yang selama ini bersikap dingin dan berjarak pada pria manapun—tampak begitu intens, lembut, dan tanpa canggung berbicara dengan pengawal pribadinya, membakar dada Gus Azhar oleh api kecemburuan yang membara. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Baginya, keakraban itu adalah sebuah penghinaan atas martabat keluarga dan perasaannya sendiri.

"Si pengawal kurang ajar itu..." bisik Gus Azhar dalam hati dengan napas memburu. "Dia benar-benar sudah meracuni pikiran Shanum."

Satu jam berlalu, acara lamaran secara kekeluargaan itu berlangsung khidmat dan penuh rasa syukur. Ketika rombongan keluarga Rayhan sedang berbincang hangat dengan Kyai Syahuri di dalam rumah utama, Ning Layla melangkah ke selasar samping pendopo tempat Aran berdiri menatap kolam ikan.

Shanum yang melihat kesempatan itu, sengaja melangkah mundur beberapa meter, memberi ruang bagi pengawalnya untuk menyelesaikan simpul emosional di hatinya.

"Mas Aran," sapa Ning Layla santun dari jarak yang terjaga.

Aran berbalik, menundukkan pandangannya sedikit sebagai bentuk rasa hormat. "Ning Layla. Selamat atas niat suci yang baru saja disampaikan."

Ning Layla mengulas senyum yang sangat menyejukkan. "Terima kasih, Mas Aran. Kehadiran Mas Aran dan Mbak Shanum hari ini menjadi pelengkap kebahagiaan bagi keluarga kami."

Aran menghembuskan napas panjang. Udara sejuk pesantren merasuk ke dalam paru-parunya, membawa kelapangan dada yang luar biasa. Tidak ada lagi rasa sesak atau keraguan di dalam jiwanya.

"Saat pertama kali saya datang ke tempat ini dengan tubuh penuh darah dan jiwa yang tanpa tujuan..." tutur Aran dengan suara rendah yang amat jujur, "...kehadiran Ning Layla dan nasihat Abah Kyai adalah alasan pertama saya percaya bahwa manusia seperti saya masih pantas disembuhkan."

Ning Layla mendengarkan dengan penuh keprihatinan yang teduh.

"Hari ini, melihat Ning Layla mendapatkan pasangan yang soleh dan tepat..." lanjut Aran seraya menatap lurus ke arah Ning Layla dengan pandangan mata yang jernih tanpa beban, "...hati saya merasa sangat ikhlas dan bersyukur. Doa terbaik saya selalu menyertai pernikahan Ning Layla dan Mas Rayhan kelak. Semoga tuhan melimpahkan kebahagiaan dan keberkahan yang tak terputus."

Tersentuh oleh ketulusan yang memancar dari diri mantan pembunuh bayaran itu, Ning Layla mengangguk anggun. "Alhamdulillah... terima kasih banyak, Mas Aran. Mas Aran adalah orang baik. Allah sudah menyiapkan jalan yang indah untuk Mas Aran, di tempat di mana keberadaan Mas Aran sangat dibutuhkan."

Mata Ning Layla melirik melintasi bahu Aran, menatap Shanum yang berdiri sabar menunggunya dari jauh. Aran mengerti arti tatapan itu, dan ia mengangguk mantap.

Sore harinya, matahari mulai menyunggingkan warna jingga keemasan di atas langit pesantren. Mobil SUV Al-Maktoum Group sudah bersiap untuk bertolak kembali ke Jakarta.

Setelah berpamitan dengan Kyai Syahuri dan Ning Layla, Shanum dan Aran melangkah berdampingan menuju mobil.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Shanum santai, melirik Aran dari balik pasminanya saat mereka berada di samping pintu mobil.

Aran menghentikan langkahnya, menatap bentangan kompleks pesantren untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke mobil. Dada Aran terasa begitu ringan. Tembok beban masa lalu dan bayang-bayang ikatan emosionalnya kini telah benar-benar runtuh, berganti dengan rasa lapang yang menenangkan.

"Sangat lega, Mbak Shanum," jawab Aran, menatap Shanum dengan kedalaman mata yang mantap. "Terima kasih atas kata-kata Anda tadi di pendopo."

Shanum tersenyum manis, sebuah senyuman lepas yang menawan. "Sudah kewajiban saya untuk memastikan pengawal pribadi saya tidak menggalau di tengah acara orang lain."

"Saya tidak menggalau, Mbak," sangkal Aran pelan dengan nada tenang yang memancing tawa kecil dari Shanum.

"Terserah kamu saja," terkekeh Shanum seraya membuka pintu mobil. "Ayo kita pulang. Jakarta dan tumpukan pekerjaan kantor sudah menunggu kita."

Aran membungkukkan badannya memberi jalan, lalu menutup pintu mobil Shanum dengan mantap. Saat melangkah ke pintu pengemudi, Aran menyadari satu hal, jiwanya tidak lagi tertinggal di masa lalu. Takdir telah menuntunnya ke jalan yang baru sebuah jalan di mana seluruh hidup, perisai, dan raganya kini sepenuhnya didedikasikan untuk melindungi Shanum Al-Maktoum.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!