NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Dua hari setelah pengujian di gedung pengujian lama, suasana laboratorium kembali tenang. Tidak ada eksperimen, tidak ada alarm, dan tak ada anomali—seolah semua kejadian menengangkan dalam beberapa hari terakhir tidak pernah terjadi.

Namun, justru ketenangan tanpa cela itulah yang membuat Profesor Surya semakin gelisah.

Pagi itu, ia kembali membuka pintu ruang arsip—sebuah ruangan yang sudah puluhan tahun menyimpan seluruh rekam jejak penelitiannya. Zain ikut membantu menurunkan beberapa kotak kardus dari rak paling atas yang penuh debu.

"Mencari apa, Prof?"

"Tidak tahu."

"Lho?"

Profesor tersenyum tipis. "Kadang kita tidak sedang mencari jawaban spesifik. Kita hanya mencari sesuatu yang pernah terlewat."

Zain mengangguk pelan. Ia mulai terbiasa memahami pola piker Profesor yang kerap tak terduga.

...

Kotak demi kotak mulai dibuka. Laporan lama, foto-foto dokumentasi percobaan, hingga buku catatan yang halamannya sebagian besar telah menguning dimakan usia.

Saat membongkar kotak ketiga, Zain menemukan sebuah amplop cokelat tebal.

"Ini apa, Prof?"

"Buka saja."

Di dalamnya terdapat belasan lembar foto fisik yang diambil sekitar akhir tahun 1990-an. Tampak gambaran laboratorium masa lalu, para peneliti muda, prototipe awal mesin, dan... sebuah foto yang seketika membuat Profesor tertekan diam.

Foto itu memperlihatkan halaman depan laboratorium. Di sana berdiri beberapa mahasiswa—salah satunya Rio muda, di sampingnya ada Ardi, dan di belakang mereka tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar lima atau enam tahun.

Anak itu tampak sedang memegang helm motor yang ukurannya jauh terlalu besar untuk kepalanya.

"Siapa anak ini?" tanya Zain penasaran.

Profesor mengambil foto itu dengan jemari sedikit bergetar. Tatapannya berubah tajam. "Sebentar..."

Ia membalik foto lain, lalu foto berikutnya. Anak laki-laki yang sama muncul berulang kali—di kantin, di area halaman, hingga di depan pintu bengkel.

"Dia memang sering ada di sini waktu itu..." gumam Profesor pelan.

...

Ardi yang baru saja melangkah masuk ke ruangan ikut menunduk melihat jajaran foto tersebut. Wajahnya seketika berubah.

"Prof... saya ingat anak ini."

"Siapa?"

"Dia cucunya Pak Hasan, satpam laboratorium kita dulu."

Profesor mengangguk pelan. "Benar... Pak Hasan memang bertugas di sini bertahun-tahun. Cucu kecilnya sering diajak ke sini karena orang tuanya bekerja sampai larut malam."

Ardi mencoba mengingat-ingat memori masa lalunya. "Namanya..."

Beberapa detik berlalu dalam keheningan, hingga mata Ardi membelalak kaget.

"Zain."

...

Ruangan mendadak diselimuti kesunyian total. Zain yang masih memegang foto tersebut ikut membeku di tempatnya.

"Hah?"

Ardi menatap lekat wajah Zain dewasa, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke foto lusuh itu. "Ini bukan sekadar mirip. Anak kecil ini memang kamu."

Zain tertawa gugup, mencoba mencairkan suasana. "Tidak mungkin, Bro. Saya tidak ingat pernah main atau datang ke kampus ini waktu kecil."

Profesor tidak ikut tertawa. Pria tua itu mengambil kaca pembesar di meja kerja, memperhatikan detail wajah anak kecil dalam foto, lalu membandingkannya langsung dengan wajah Zain.

Bentuk mata, garis alis, hingga lesung pipi tipis di sebelah kiri. Semuanya persis sama.

Profesor mengembuskan napas panjang. "Aku seharusnya sadar sejak awal..."

Zain semakin diselimuti kebingungan. "Tapi... kalau saya memang pernah ke sini waktu kecil, kenapa saya tidak mengingat apa-apa?"

Profesor menatap foto itu cukup lama sebelum menjawab pelan, "Karena saat itu... usiamu masih terlalu kecil."

...

Ruangan kembali hening. Tiba-tiba, banyak hal aneh yang selama ini mengganjal terasa mulai masuk akal.

Mengapa motor itu bereaksi secara spesifik pada Zain, mengapa anomali gelombang selalu muncul saat ia mendekati laboratorium, dan mengapa Profesor merasa wajah Zain begitu tidak asing sejak pertama kali mereka bertemu.

Namun di balik itu semua, sebuah pertanyaan besar yang jauh lebih misterius kini muncul: Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Zain kecil di laboratorium ini puluhan tahun lalu... hingga jejaknya masih seolah tertinggal di sana sampai hari ini?

Ruangan arsip seketika diselimuti kesunyian. Zain masih memegang foto lusuh itu, berkali-kali membandingkan wajah anak kecil di dalamnya dengan bayangan dirinya yang terpantul di kaca lemari. Semakin ia perhatikan, semakin sulit hal itu untuk dibantah.

"Itu memang saya..." gumamnya pelan. "Tapi saya benar-benar tidak ingat pernah ke sini."

Profesor Surya mengangguk paham. "Itu hal yang wajar."

"Kenapa, Prof?"

"Ingatan anak-anak usia lima tahun jarang tersimpan secara utuh dalam memori jangka panjang, apalagi jika ia hanya datang beberapa kali."

Profesor mengambil album foto berdebu lainnya dari dalam kotak. Di dalamnya terdapat lebih banyak dokumentasi: Pak Hasan, sang satpam laboratorium, sedang menyapu halaman; lalu di sampingnya tampak anak kecil tadi sedang asyik bermain di dekat sebuah motor bebek tua keluaran awal tahun sembilan puluhan.

Di lembar foto lain, anak itu terlihat duduk manis di ruang tunggu sambil menggambar. Ada pula foto saat para peneliti merayakan ulang tahun laboratorium, dan anak itu juga tampak hadir di sana.

"Berarti saya memang sangat sering ke sini..." kata Zain lirih.

"Iya," jawab Profesor. "Cukup sering."

...

Ardi membuka buku absensi petugas keamanan masa lalu. Nama Hasan tercatat hampir setiap hari selama belasan tahun. Di kolom catatan khusus, beberapa kali tertulis keterangan singkat: *Membawa cucu.*

"Jadi Kakek dulu pernah bekerja di sini..." Zain tersenyum tipis.

Selama ini ia tak pernah mengetahuinya secara pasti. Sang kakek hanya pernah bercerita bahwa beliau dulu bekerja menjaga sebuah gedung penelitian tua, tanpa pernah menyebutkan nama maupun lokasi tempatnya.

"Tunggu..." Zain mendadak teringat sesuatu. "Waktu masih kecil dulu, saya pernah beberapa kali mengalami mimpi aneh."

Profesor menoleh tertarik. "Mimpi seperti apa?"

"Dalam mimpi itu, saya sering berjalan di sebuah lorong panjang berlampu putih terang. Di ujung lorong, selalu terdengar suara dengungan halus yang konstan. Dulu saya pikir itu cuma bunga tidur biasa."

Profesor dan Ardi saling berpandangan. Lorong utama yang menuju ke bengkel bawah tanah laboratorium ini memang memiliki ciri visual yang persis sama: berlampu putih terang dan selalu diiringi dengungan halus dari mesin pendingin daya.

Profesor tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia hanya bertanya lembut, "Ada hal lain lagi yang kamu ingat?"

Zain memejamkan mata, berusaha menggali memorinya dalam-dalam. Cukup lama ia terdiam sebelum akhirnya menggeleng pasrah. "Hanya itu. Selebihnya benar-benar kosong."

...

Sore harinya, untuk pertama kali Profesor mengajak Zain masuk ke sebuah ruang penyimpanan khusus yang sudah lama terkunci rapat di belakang area arsip.

Aroma debu tebal langsung menyeruak saat pintu dibuka. Rak-rak besi tua berdiri sejajar, sebagian besar memuat peralatan laboratorium yang sudah tidak terpakai.

Di sudut ruangan paling dalam, tampak sebuah kursi plastik kecil berwarna biru dengan cat yang mulai mengelupas.

Profesor tersenyum tipis menatapnya. "Aku ingat kursi ini."

"Ada cerita apa dengan kursi itu, Prof?"

"Dulu, setiap kali Pak Hasan mendapat giliran tugas jaga malam, kamu selalu duduk di kursi ini sambil menggambar kertas-kertas bekas."

Zain mendekati dan memandangi kursi kecil itu. Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak oleh sebuah sensasi emosional yang asing. Rasa-rasanya seperti sedang berdiri di tempat yang sangat familiat, namun benaknya tak sanggup mengingat detail kejadiannya.

...

Saat Zain tanpa sadar melangkah mendekat dan menyentuh bagian sandaran kursi itu...

Bip...

Gelang sensor di pergelangan tangan kirinya mendadak berbunyi nyaring.

Semua orang spontan menoleh kaget. Ardi dengan cepat memeriksa layar tabletnya—grafik sinyal terangkat melonjak tajam.

"Prof..." panggil Ardi gagap, "...sinyal anomali ini bukan berasal dari motor, bukan pula dari Inti Resonansi."

"Lalu dari mana?"

Ardi menatap kursi plastik tua itu dengan pandangan tak percaya. "Resonansinya... terpancar dari ruangan ini."

Profesor perlahan-lahan mendekati kursi kecil berwarna biru tersebut. Tatapan matanya berubah tajam dan penuh keheranan.

Selama ini mereka menduga anomali energi tersebut selalu terikat dan berpindah mengikuti keberadaan motor Zain. Kini, mereka justru menemukan kemungkinan lain yang jauh lebih mengejutkan.

Bahwa jejak fenomena yang mereka cari selama ini mungkin sudah berada dan tersembunyi di laboratorium ini sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu—sedangkan motor Zain hanyalah pemicu yang bertugas membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!