Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20. Makan bersama, Rahasia Tiara
Mereka kini telah tiba di rumah makan tepi sungai, masing-masing orang memilih pesanannya sesuai selera mereka.
"Kamu duduk juga dong, Kita kan datang bersama, maka harus makan bersama juga!" Pinta Jhon kepada Tiara.
"Ti.. Tidak perlu. Nanti saya makan di belakang saja. Saya adalah pekerja di rumah makan ini!" Tutur Tiara.
"Walaupun demikian, Kita sudah bersama-sama datang ke tempat ini, maka sudah sewajarnya Kamu juga makan bersama-sama dengan Kami." Bujuk Sari.
"Kalau perlu Aku akan memintakan izin kepada bos Kamu, pemilik Rumah makan ini?" Tanya Jhon segera ingin memaksa Tiara ikut makan bersama dengan mereka.
"Aku rasa ada benarnya Nona Tiara. Tidak elok rasanya kalau Kamu tidak ikut makan bersama dengan Kami, karena Kamu juga bagian dari Kami." Widuri memberikan pendapatnya disertai anggukan kepala Jhon, Sari juga Junaedi. Sedang Harjo karena merasa ini adalah undangan makan dari Jhon, bukan dari dirinya dan Dia hanya mengikuti keinginan yang mengundang makan saja, Dia juga tak ingin Tiara mendapatkan masalah karena ikut makan bersama.
Tiara berfikir sejenak, lalu segera mengiyakan ajakan mereka, karena semua orang sudah mengajaknya untuk ikut makan bersama.
Mitha yang saat ini berada di meja tempat para pelanggan memesan makanan, samar-samar mendengarkan pembicaraan mereka.
Tiara segera berjalan menuju, tempat Mitha berada, seraya meminta izin.
"Aku diajak makan bersama-sama dengan mereka, bagaimana pendapat Kakak?" Tutur Tiara.
"Pergi makan saja bersama-sama dengan mereka, tidak ada aturan yang melarang kamu atau pekerja lainnya untuk makan di tempat ini, selama mereka membayar." Jawab Mitha memberikan izin kepada Tiara.
"Baiklah, terima kasih atas izinnya." Jawab Tiara sambil tersenyum dan melangkah menuju meja tempat Jhon, dan kawan-kawannya duduk.
Jhon tersenyum semringah,
"Begitu dong. Kalau Kita datang bersama-sama ke suatu tempat dan ada seorang dari teman Kita yang tidak ikut menikmati apa yang ada, tentu rasanya kurang nikmat dan ada perasaan ganjil. Kita harus bersama-sama menikmati apa pun itu." Ungkap Jhon kepada Tiara yang sudah duduk di kursinya.
"Ya, mari kita segera makan. Aku sudah sangat lapar." Pinta Sari.
"Ya mari makan!" Ajak Jhon, setelah setiap orang mendapatkan pesanannya.
Mereka pun makan dengan lahap, sebab perut mereka sudah sangat lapar.
Sebenarnya pada saat di Balai Kampung perut mereka sudah beberapa kali berbunyi, yang menandakan mereka sedang merasa kelaparan. Sehingga wajar saja kalau mereka makan dengan lahap saat ini.
Senyum tipis terlihat di wajah Tiara, yang sedikit mencuri pandang kepada seorang Pria yang turut makan di tempat itu, tanpa ada yang tahu.
Sari dan Widuri juga melakukan hal yang sama, sedangkan Jhon semakin merasa nyaman dengan hatinya yang mulai terisi wajah seseorang dihatinya.
Junaedi yang merasa beruntung mendapatkan kesempatan memakan makanan yang enak bersama-sama dengan beberapa orang saat ini, merasa kebahagiaan tertentu sebab selama ini dirinya tidak pernah makan bersama-sama dengan beberapa teman. Dirinya hanya makan sendiri atau teman sesama petugas Linmas dan paling tidak hanya bersama Jhon yang sering mengajaknya, sekaligus menjadi pengawal Jhon dalam berbagai urusannya.
Masing-masing tenggelam dalam perasaan nikmat menyantap makanan dan perasaan lainnya, hanya Harjo yang menikmati makanan tanpa memikirkan apapun.
Selesai makan mereka masih duduk-duduk di rumah makan itu sambil meminum kopi atau teh dan bercengkerama, mengobrol ringan hingga sore hari.
Hanya Tiara yang terkadang kembali ke meja Kasir untuk melayani pelanggan yang datang.
Hari bahagia, setelah menyelesaikan permasalahan, bersama teman dan sahabat adalah hal terbaik ,yang kita lakukan. Kesendirian menimbulkan kesedihan dan perasaan (takut, sedih, gamang dan perasaan negatif lainnya). Usahakanlah bersama seseorang adalah siasat yang tepat ketika galau melanda agar permasalahan menjadi lebih ringan.***
Beberapa hari kemudian Slamet datang ke ruangan Kepala Kampung bersama-sama dengan Wati.
Wati awalnya menolak beberapa kali, sebab dirinya tidak ingin tertipu oleh perkataan Slamet, namun pagi ini saat berangkat ke Sekolah tempatnya bekerja, Wati bertemu dengan Sari dijalan.
"Pagi Wati, apa kabar?" Sapa Sari kepada Wati.
Wati yang awalnya masih sedikit enggan berhubungan dengan Slamet, Jhon dan Sari tentunya, dikarenakan perihal kejadian di Rumah Makan tempo hari, awalnya tidak ingin menyapa, namun karena dirinya sudah di sapa Sari terlebih dahulu, maka dirinya mau tidak mau harus menjawab sapaan dari Sari. Sebab Sari bukanlah orang yang bersalah pada kejadian tersebut.
"Pagi juga Sari. Kabarku baik, Bagaimana dengan Kamu?" jawab Wati sekaligus balik bertanya kepada Sari.
"Oh, baguslah. Kabarku juga baik." Jawab Sari kemudian melanjutkan perkataannya sambil mereka berjalan.
"Oh ya maaf nih! Apakah Slamet sudah meminta maaf kepadamu mengenai masalah di Rumah makan tempo hari?" Tanya Sari tanpa basa-basi.
"Em.. Belum sih. Namun Dia beberapa kali memintaku untuk ikut bersamanya ke kantor Kepala Kampung. Agak aneh, sih. Namun Aku masih menolak ajakannya, sebab Aku takut Dia akan menipuku seperti waktu itu di rumah makan." Ungkap Wati sambil berjalan.
Sari faham tujuan dari Slamet meminta Wati menemui Kepala Kampung. Lalu Sari berkata,
"Slamet itu, sudah diperintahkan oleh Pak Kepala Kampung untuk meminta maaf kepadamu, serta melakukan kegiatan sosial penyuluhan kesehatan dan memperbaiki saluran air, bersama Arif dan Udin." Sari menjelaskan singkat.
"Ha? Apa yang telah terjadi sebenarnya? Aku belum mengetahui kabar ini." Ungkap Wati sedikit terkejut mendengar penjelasan dari Sari.
Sari pun menjelaskan cerita awal dari berpisahnya mereka dari rumah makan hingga pertemuan di Balai Kampung
Slamet juga telah diwajibkan untuk meminta maaf kepada Wati di hadapan Kepala Kampung dan berbagai hukuman lainnya, akibat perkelahiannya dengan Harjo dan seterusnya.
Wati terkejut dengan apa yang telah diceritakan oleh Sari. Dirinya tidak mengetahui kejadian tersebut sebab pada saat itu dirinya sedang berduka dan mengurung diri di dalam kamarnya.
Pada hari itu, dirinya merasa putus asa, sakit hati dan terpuruk akibat perbuatan Slamet dan melihat kemesraan Widuri dan Harjo di persimpangan jalan menuju kerumahnya.
Hatinya perih hingga membuatnya mengurung diri dan tidak keluar dari rumahnya sampai keesokan harinya hingga beberapa hari kemudian.
Dirinya membolos kerja, selama 2 hari, Dia pun hadir kembali dikarenakan para siswanya yang mencari tahu keberadaan guru mereka.
Mereka mendatanginya pada hari selasa sepulang sekolah, tanpa aba-aba atau perintah dari siapapun. Mereka merasa khawatir dan kebingungan sebab guru wali kelas mereka belum hadir juga ke sekolah semenjak kemarin yakni hari senin.
Awalnya mereka menduga Wati guru wali kelas 5 sekolah dasar itu kelelahan akibat berdesakan di Balai Kampung, sehingga mereka merasa wajar kalau Ibu guru Wati tidak masuk sekolah, walaupun Wati termasuk guru teladan yang selalu hadir di setiap hari mengajarnya dan kalau pun tidak hadir pasti membuat surat pemberitahuan kepada sekolah, yang pada akhirnya pasti diberi tahukan kepada siswa tempatnya mengajar.
Wati pun menerima kehadiran siswanya dirumahnya dengan senang hati, mereka memperbincangkan segala sesuatunya dirumahnya itu, hingga sore menjelang.***
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru