NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Mantan Suamiku Tak Tahu Aku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.

Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.

Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: MOMEN DIA MENGAGUMI "CEO MISTERIUS

Keesokan paginya, sebuah majalah bisnis ternama menayangkan laporan khusus tentang pemimpin muda yang paling berpengaruh di kota ini. Halaman utamanya menampilkan foto Nadia dengan judul besar: "Nadia Kirana Arka: Sang CEO Misterius yang Mengubah Cara Dunia Memandang Kekuasaan". Artikel itu membahas kepemimpinannya yang tegas namun adil, keberaniannya memberi kesempatan pada pihak yang belum dikenal, serta keteguhan prinsipnya yang tak mudah tergoyahkan oleh tawaran keuntungan sesaat.

Rian membaca tulisan itu di meja kerjanya, satu per satu kalimatnya. Setiap paragraf yang ia baca membuat dadanya terasa penuh—campuran antara rasa bangga yang mendalam dan rasa malu yang tak bisa disembunyikan. Orang-orang memujinya sebagai sosok yang cerdas, berhati besar, dan jauh di atas rata-rata pemimpin perusahaan pada umumnya. Namun hanya Rian yang tahu: kehebatan ini bukan baru muncul kemarin. Ia sudah melihatnya sejak dua tahun lalu, hanya saja saat itu ia menutup matanya rapat-rapat.

"Dia jauh lebih hebat dari yang mereka tulis semua ini," gumam Rian pelan pada dirinya sendiri sambil menyentuh halaman foto itu dengan jari telunjuk. "Mereka hanya melihat gedung-gedung dan angka-angka keuntungan. Tapi aku pernah melihatnya berjuang sendirian, menahan lapar demi menyisakan makanan untukku, tersenyum saat hatinya hancur hanya agar aku tidak merasa terbebani. Itulah kehebatan sesungguhnya yang tak tertulis di koran manapun."

Tanpa sadar, Rian teringat percakapan mereka dulu di rumah kecil itu. Dulu ia sering memuji-muji sosok CEO besar yang diidamkannya, berharap bisa menjadi seperti mereka. Ia pernah berkata: "Wanita yang berada di posisi setinggi itu pasti luar biasa, jauh lebih berharga dibandingkan hal-hal sepele yang ada di sekitarku sekarang." Saat itu Nadia hanya diam mendengarkan, menunduk menyembunyikan rasa sakit sekaligus keinginannya untuk berkata: "Aku ada di sini, dan aku juga bisa menjadi seperti itu, jika kau hanya mau melihatku."

Kini saat momen itu terulang kembali—saat Rian berdiri terpaku mengagumi sosok yang kini dikagumi seluruh dunia—ia baru sadar: pujian yang dulu ia tujukan pada orang lain, seharusnya ia ucapkan untuk wanita yang setiap malam menunggunya pulang. Sosok "CEO misterius" yang begitu ia puja, ternyata adalah wanita yang tidur di sampingnya setiap malam, yang ia perlakukan dengan remeh dan dingin.

Langkah kakinya perlahan membawanya ke ruang kerja Nadia. Ia tidak membawa berkas penting, hanya majalah yang terlipat rapi di tangannya. Saat pintu terbuka, Nadia sedang menandatangani dokumen, namun segera berhenti saat melihat wajah Rian yang penuh gejolak.

"Ada yang bisa dibantu, Tuan Rian?" tanyanya lembut, meletakkan pena di atas meja.

Rian meletakkan majalah itu di hadapannya, jari telunjuk menunjuk foto yang menampakkan wajah Nadia. "Mereka semua kagum padamu. Mereka menyebutmu luar biasa, hebat, langka... Dan aku..." Suaranya tercekat sejenak sebelum kembali melanjutkan dengan jujur dan pilu. "Aku dulu pernah berdiri di tempat yang sama, memuji sosok ini tanpa tahu bahwa dia sedang duduk tepat di hadapanku. Aku mengagumi bayangan yang tak kutemukan, padahal cahayanya ada di rumahku sendiri, dan aku matikan perlahan-lahan."

Nadia menatap foto itu sekilas, lalu menatap mata Rian yang berkaca-kaca. Ada rasa haru yang menyelinap di hatinya, namun ia tetap tenang. "Bukan salahmu sepenuhnya. Aku yang memilih menyembunyikan siapa diriku. Aku ingin kau mencintaiku tanpa nama besar yang melekat. Aku hanya tidak menyangka... yang kau lihat justru kekuranganku, bukan hatiku."

"Sekarang aku melihatnya," jawab Rian mantap. "Aku melihat semuanya. Dan aku kagum—bukan karena nama Arka yang tertera di gedung-gedung tinggi, tapi karena kamu tetap menjadi Nadia yang aku kenal dulu: tulus, teguh, dan tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Kamu hebat, Nadia. Lebih hebat dari semua pujian yang ada di koran ini."

Nadia tersenyum tipis, senyum yang mulai terasa lebih hangat dan tulus dari sebelumnya. "Terima kasih. Setidaknya... sekarang kau sudah melihatku. Itu sudah cukup bagiku."

Rian keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang ringan namun penuh tanggung jawab. Ia sadar, momen ini adalah awal yang baru. Ia tidak lagi mengagumi sosok yang jauh dan misterius—ia kini mengagumi wanita yang nyata, yang pernah terluka olehnya, dan yang kini berdiri tegak di hadapannya. Dan di dalam hatinya, ia berjanji: mulai hari ini, pujian dan penghargaan yang dulu terlambat datang, akan ia berikan setiap hari—bukan dengan kata-kata yang berlebihan, melainkan dengan sikap yang menunjukkan betapa berharganya wanita yang kini ada di dekatnya.

 

(Lanjut ke Bab 30?)

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Ayu Gerimis: Siap, akan dilanjutkan segera ya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!