NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boom pertama.

Parkiran Kampus, Pukul 13.00

Pukul 13.00, suasana parkiran kampus mulai lengang karena sebagian mahasiswa sudah kembali ke kelas, dan sebagian lainnya bersiap meninggalkan kampus.

Cheyrin menatap jam di ponselnya sebentar.

“Jayden, gue harus berangkat sekarang. Shift siang di L’Evanne jam setengah dua.”

Jayden mengangguk, lalu berjalan menuju motornya yang terparkir di ujung barisan. Ninja berwarna hitam itu tampak mencolok di antara motor-motor lain.

“Yaudah, ayok cepat. Gue anter, jangan sampai lo telat,” katanya sambil menyerahkan helm.

Cheyrin tertawa kecil.

“Jayden, gue bukan anak SD yang harus diingetin waktu.”

Jayden tidak menanggapi. Ia membuka tali helm dan memasangkannya ke kepala Cheyrin dengan hati-hati, memastikan posisinya pas.

“Ngomong apa pun, helm ini harus kepakai. Lo kerja di dapur aja, tangan lo bisa ke iris. Gimana kalau jatuh dari motor?”

Cheyrin hanya menghela napas pelan, membiarkan Jayden merapikan tali helmnya.

“Iya, iya. Makasih, Pak Dosen.”

Jayden mengernyit.

“Jangan becanda. Pegangan yang erat.”

Cheyrin mengangguk pasrah, sudah terbiasa diperlakukan seperti anak kecil.

Dari sudut parkiran, Dara melihat pemandangan itu tanpa berkedip.

Ia berdiri bersandar pada motornya, tangan memegang helm yang belum dipasang. Di sebelahnya, Lisa mengikuti arah pandangannya.

“Lihat nggak?” gumam Lisa pelan.

“Kayak ngurus anak kecil.”

Dara tidak menjawab. Ia hanya menatap Jayden yang masih sedikit menaikkan visor helm Cheyrin sambil mengomel pelan tentang kecepatan motor.

Wajah Cheyrin terlihat pasrah, tapi tidak ada penolakan di sana.

Dara menghela napas pelan, lalu menunduk dan mulai memasang helmnya sendiri.

“Udah, ayo pulang,” katanya singkat kepada Lisa.

L'Evanne, Pukul 13.45

Cheyrin mendorong pintu belakang L’Evanne dengan napas yang masih terengah.

Ia terlambat 15 menit.

Apron putih segera ia ikat. Rambut dirapikan dan diikat. Sarung tangan dikenakan. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju area persiapan. Matanya menelusuri daftar pesanan yang masuk di layar.

Menu makan siang. Steak, pasta, salad. Tangan Cheyrin bergerak cepat. Pisau, talenan, wajan. Semua berjalan seperti biasa.

Hingga suara tegas terdengar dari belakang.

“Cheyrin.”

Manager berdiri dengan kedua tangan terlipat. Ekspresinya tidak senang.

“Kamu tahu sekarang jam berapa? Ini restoran, bukan tempat nongkrong. Terlambat 15 menit. Lain kali kalau di ulang lagi, kamu saya pulangkan.”

Cheyrin menunduk. Gerakan tangannya yang sedang memotong bawang berhenti sejenak.

“Maaf, Pak. Tadi macet di flyover.”

“Itu alasan. Karyawan lain juga kena macet tapi bisa tepat waktu. Udah lanjut kerja.”

Jemari Cheyrin mencengkram ujung apron sampai memutih.

Seluruh staf di dapur melirik. Ada yang berpura-pura sibuk, ada yang berbisik pelan.

Cheyrin mengangguk. “Baik, Pak.”

Setelah dimarahi, ia langsung diperintahkan keluar, untuk mengantarkan pesanan.

Setelah mengantar Cheyrin ke L’Evanne, Jayden langsung memutar arah motornya. Pulang ke rumah.

Westhaven Estate. Kediaman Keluarga Pratama. Pukul 14.20

Gerbang besi hitam setinggi tiga meter di bukakan oleh satpam. Jayden memarkirkan motor Ninja hitamnya di pelataran marmer yang luas. Tanpa melepas jaket, ia langsung masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai dua.

Tepatnya ke ruang kantor milik Evan, kakaknya.

Pintu didorong tanpa diketuk.

“Woi Bang!”

Evan yang semula fokus pada layar laptop langsung mendongak. Kacamata di hidungnya sedikit turun.

“Apa teriak-teriak?”

Jayden berdiri di depan meja, rahangnya mengeras.

“Cheyrin lo suruh kerja apa sih di L’Evanne? Sampai tangannya luka gitu.”

Evan mengerutkan dahi. Ia menutup laptopnya pelan.

“Luka? Ya mungkin kena pisau atau apa. Namanya juga kerja di bagian dapur.”

“Yaelah Bang,” Jayden mendengus frustasi. “Pindahin kek. Ke kasir kek, atau jadi mandor. Nggak usah kerja yang berat-berat.”

Evan menghela napas panjang. Nadanya datar tapi terdengar lelah.

“Ya kalau gitu mending nggak usah kerja sekalian.”

Jayden menyilangkan tangan. “Ya emang sebenarnya dia nggak pernah kerja. Orang dia anak direktur. Ya kali dia kerja di dapur, pegang panci aja nggak pernah.”

Gerakan Evan berhenti.

“Anak direktur?”

“Iya,” jawab Jayden cepat. “Papanya yang punya perusahaan itu. Pak Mahendra.”

Evan terdiam beberapa detik. Matanya membesar.

“Jadi... dia anak Pak Mahendra?”

Jayden mengangkat alis, seolah itu hal yang paling jelas di dunia.

“Emang.”

Evan bersandar di kursi kerjanya. Ia menatap adiknya tidak percaya.

“Terus ngapain dia kerja capek-capek kalau bapaknya aja yang punya perusahaan besar?”

Jayden mengangkat bahu. Nadanya ringan, tapi ada keras kepala di sana.

“Ya suka-suka dia lah.”

Hening beberapa saat. Evan memijat pelipisnya.

L'Evanne

“Meja nomor 5. Antar sekarang.”

Cheyrin menarik napas, lalu memasang senyum profesionalnya dan mendorong troli kecil keluar.

Sikapnya kembali ramah, seolah tidak terjadi apa-apa beberapa menit sebelumnya.

“Selamat siang. Ini pesanannya, steak wagyu dan truffle pasta.”

Ia mulai menata piring satu per satu di atas meja.

Sampai sebuah suara membuatnya menghentikan gerakannya.

“Lho... Kamu Cheyrin, kan?”

Cheyrin mendongak.

Pria di meja nomor 5 itu. Mengenakan jas mahal dan jam tangan mengilap. Wajah yang dulu sering ia lihat di ruang tamu rumahnya, duduk bersama Ayahnya.

Pak Heri. Rekan bisnis Ayahnya dulu.

Jantung Cheyrin seakan berhenti berdetak sesaat.

“Selamat siang, Pak,” jawabnya pelan. Tangannya tetap menata sendok dan garpu agar tidak terlihat gemetar.

Pak Heri menyipitkan mata, menatap apron putih yang ia kenakan dari atas hingga bawah.

“Kok kamu bisa ada di sini? jadi pelayan lagi?”

Ia tertawa kecil, tetapi nadanya terdengar merendahkan.

“Kamu anak Pak Mahendra, kan? Rumah kalian kan sebesar vila. Kamu ngapain di sini?. Nggak menyangka ya...”

Suasana di meja sekitar menjadi hening. Beberapa tamu ikut melirik ke arah mereka.

Cheyrin tetap tersenyum. Senyum yang sudah ia latih berbulan-bulan di depan cermin kamar kosnya.

“Silakan menikmati hidangannya, Pak,” ucapnya datar namun sopan.

Lalu ia menunduk, merapikan sisa peralatan, dan berbalik.

Langkahnya dipercepat menuju dapur.

Begitu pintu ayun tertutup, senyum itu menghilang.

Ia bersandar di dinding, memejamkan mata, dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Di luar, suara Pak Heri masih terdengar saat berbicara kepada rekannya,

“Anak Pak Mahendra... jadi pelayan di sini. Dunia memang nggak ada yang tahu.”

L'Evanne - Dapur, Pukul 22.50

Cheyrin duduk sendirian di kursi sudut dapur.

Meja di depannya kosong. Hanya ada setengah botol air mineral dan ponselnya.

Seluruh tubuhnya terasa sakit. Kakinya pegal karena telah berdiri sejak empat jam lalu.

Tangan kirinya terdapat luka kecil akibat terkena pisau tadi, tetapi ia mengabaikannya.

Ia meneguk air. Lama. Sampai habis.

Ruangan hening. Sebagian lampu dapur telah dimatikan.

Hari ini terasa sangat panjang. Ditegur. Dipermalukan oleh Pak Heri. Menahan tangis di balik pintu.

Namun ia tetap kuat. Seperti biasanya.

Cheyrin menghela napas, lalu meraih tasnya. Ia bersiap untuk pulang.

Tiiiit

Ponsel di atas meja bergetar. Layarnya menyala.

Sebuah notifikasi muncul.

Mama

"Nak... Mama sama Papa mau bicara serius sama kamu.

Kami... akan bercerai."

Jari Cheyrin terhenti di resleting tas.

Ia menatap layar itu cukup lama.

Tidak disentuh. Tidak dibuka.

Seakan dunia berhenti berputar selama beberapa detik.

Kemudian layar kembali menghitam.

Cheyrin masih duduk di tempatnya. Diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!