NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suasana di ruang kerja rumah keluarga besar itu terasa begitu pengap, meskipun pendingin ruangan menyala di suhu terendah.

Udara di dalam ruangan seakan membeku, hanya menyisakan suara ketukan kaki Yanuar yang mondar-mandir gelisah di atas lantai marmer.

Di atas meja kerja kayu jati yang mewah, sebotol wine yang kemarin dibuka untuk merayakan "kematian" Baskara dan Alena kini terabaikan begitu saja.

Gelas-gelas kristal tertelungkup, mencerminkan kepanikan yang mulai merayap di antara mereka.

Billy, yang duduk di sofa dengan wajah pucat pasi, menatap tajam ke arah Yanuar.

Tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat.

"Kenan tadi menelepon lagi, Yanuar! Polisi... polisi terus mendesak untuk memeriksa ulang tempat kejadian perkara. Mereka bilang ada jejak akseleran dan bahan pemicu api yang disengaja. Itu artinya, kebakaran toko roti Alena murni pembakaran berencana!"

Yanuar menghentikan langkahnya. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi.

Seringai kemenangan yang beberapa jam lalu menghiasi wajah mereka kini telah lenyap, berganti dengan teror yang nyata.

"Sialan..." geram Yanuar dengan suara tertahan, matanya memerah menahan amarah bercampur takut.

"Seharusnya preman-preman sewaan itu membersihkan jejak mereka dengan sempurna! Kenapa bisa sampai tercium kepolisian?!"

"Lalu sekarang bagaimana?!" bentak Billy, hilang kesabaran. Jika polisi sampai membongkar kasus pembakaran ini dan menyeret nama mereka, bukan hanya impian menguasai perusahaan yang hancur, melainkan penjara seumur hidup menanti mereka.

"Kalau preman-preman itu tertangkap dan bernyanyi, kita berdua yang akan busuk di penjara!"

Mendengar kepanikan Billy, Yanuar mendadak menyeringai—sebuah senyuman dingin dan kejam yang tidak kalah mengerikan dari rasa takutnya.

Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel sekunder yang tidak terlacak.

"Tenang, Billy. Jangan panik dulu," bisik Yanuar, suaranya terdengar berbisik namun penuh ancaman.

"Sebelum polisi sempat mencium arah ke sana, aku sudah mengambil langkah pengamanan."

Billy mendongak, menatap Yanuar dengan kening berkerut.

"Apa maksudmu?"

Yanuar mengangkat ponselnya, lalu menekan sebuah tombol panggilan cepat.

"Dua jam sebelum kita ke kantor tadi... aku sudah menemui kelompok preman itu di tempat persembunyian mereka dengan dalih memberikan 'sisa pembayaran bonus'. Tapi aku tidak datang membawa uang, Billy."

Jantung Billy seakan berhenti berdetak. "Jangan bilang..."

"Ya," potong Yanuar dengan tatapan kosong yang mematikan.

"Aku sudah membereskan mereka. Kopi yang mereka minum sudah kucampur dengan racun dosis tinggi yang bekerja cepat tanpa meninggalkan jejak mencurigakan. Mayat mereka sekarang sudah dibuang di pelabuhan lama, tenggelam bersama rahasia kita ke dasar laut."

Ruangan itu mendadak sunyi seketika. Billy menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering.

Ia tidak menyangka Yanuar—sepupunya sendiri—begitu nekat dan berdarah dingin hingga tega menghabisi orang-orang bayaran mereka sendiri demi menutup mulut.

"Dengan begitu," lanjut Yanuar sambil mendekati jendela kaca, menatap kosong ke luar ke arah kegelapan malam, "tidak ada satu pun mata rantai yang bisa menghubungkan kebakaran toko Alena kepada kita. Polisi boleh saja menyebutnya sabotase, tapi mereka tidak akan pernah menemukan pelakunya."

Meski Yanuar mencoba meyakinkan diri sendiri, tangan yang ia sembunyikan di dalam saku celana masih bergetar hebat.

Mereka pikir mereka sedang memegang kendali atas kematian Baskara dan Alena, namun di balik bayang-bayang ketakutan itu, mereka tidak tahu bahwa langkah kaki mereka justru semakin dalam melangkah menuju lubang kubur yang telah disiapkan.

Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai kaca ruang ICU di rumah sakit khusus di Seoul tersebut.

Baskara perlahan mengerjap, menyesuaikan retinanya dengan cahaya putih ruangan.

Rasa kaku dan nyeri yang tumpul langsung menjalar di punggungnya, namun kesadarannya kini sudah sepenuhnya kembali.

Di luar ruang ICU, Alena yang sejak semalam hampir tidak tidur—hanya duduk di kursi tunggu dengan ditemani Tanti—langsung berdiri begitu melihat pergerakan di dalam bilik kaca.

Matanya membulat penuh kelegaan saat melihat tangan Baskara bergerak pelan.

"Bas..." gumam Alena, jemarinya mencengkeram erat kaca pembatas, air mata bahagianya hampir tumpah.

Di dalam ruangan, alarm monitor mendeteksi peningkatan kesadaran pasien.

Dokter Han yang kebetulan sedang melakukan kunjungan pagi segera melangkah mendekat ke arah ranjang Baskara.

"Selamat pagi, Baskara," sapa Dokter Han ramah sambil memeriksa layar monitor dan memeriksa refleks mata Baskara dengan lampu kecil.

"Bagaimana perasaanmu? Jangan banyak bergerak dulu."

Baskara menatap Dokter Han, lalu mengeluarkan suara serak dari tenggorokannya.

"S... sakit..." ucapnya lirih, mencoba mengenali batasan tubuhnya sendiri.

"Itu wajar, efek pembedahan dan obat bius mulai meluntur," balas Dokter Han sambil tersenyum menenangkan.

Ia memeriksa area perban di punggung Baskara secara hati-hati tanpa memposisikannya secara berlebihan.

"Tapi tanda-tanda vitalmu sangat bagus. Tubuhmu merespon operasi ini dengan luar biasa."

Lima belas menit pemeriksaan intensif berlalu dalam keheningan yang tegang bagi Alena yang terus mengawasi dari balik kaca.

Akhirnya, Dokter Han menegakkan tubuhnya, merapikan stetoskop di lehernya, lalu melangkah keluar menemui Alena di ruang tunggu.

Alena langsung menyongsongnya. "Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanyanya dengan napas tertahan.

Dokter Han tersenyum hangat, garis lelah di wajahnya tergantikan oleh kelegaan.

"Tenanglah, Alena. Suamimu adalah pria dengan tekad baja. Kondisinya sangat stabil pagi ini, dan jaringan lukanya menunjukkan progres pemulihan awal yang sangat positif."

Dokter Han menepuk bahu Alena pelan. "Karena keadaannya sudah membaik dan keluar dari fase kritis pasca-operasi, kita bisa memindahkannya sekarang. Sebentar lagi perawat akan memindahkannya ke ruang perawatan VIP yang lebih nyaman agar kamu bisa menemaninya dengan leluasa."

Mendengar itu, beban berat yang sejak kemarin menghimpit dada Alena seakan menguap seketika.

Ia mengangguk cepat, mengucapkan terima kasih berulang kali kepada sang dokter, sebelum bersiap menyambut kembalinya sang suami ke kamar perawatan.

Tidak lama setelah percakapan dengan Dokter Han, pintu ruang ICU terbuka lebar.

Tim perawat dengan sangat hati-hati mendorong brankar Baskara keluar, memindahkannya menuju kamar perawatan VIP yang jauh lebih tenang, luas, dan nyaman.

Alena dan Tanti segera mengekor di belakang brankar tersebut.

Sesampainya di kamar baru, Baskara diposisikan senyaman mungkin di atas tempat tidur khusus pasien dengan posisi miring, menjaga agar area punggungnya yang masih terbalut perban tebal tidak tertekan.

Begitu perawat selesai memasang selang infus dan mengatur alat pemantau medis, mereka pamit keluar, meninggalkan Alena dan Baskara berdua di dalam ruangan.

Tanti memilih menunggu di sofa luar area istirahat, memberikan ruang privasi bagi pasangan suami istri itu.

Alena langsung melangkah mendekat. Ia menarik sebuah kursi kecil ke sisi ranjang, duduk, lalu meraih tangan Baskara yang bebas dari jarum infus.

Jemarinya menggenggam erat telapak tangan suaminya yang masih terasa agak dingin.

"Bas..." panggil Alena lembut, matanya kembali berkaca-kaca karena rasa haru bercampur lega.

"Kamu sudah sadar. Bagaimana rasanya?"

Baskara menolehkan kepalanya pelan ke arah Alena.

Bibirnya yang sedikit kering, membentuk senyuman tipis yang melemah, namun tatapan matanya tetap memancarkan kehangatan dan ketegasan yang sama.

"Aku... baik-baik saja, Sayang," jawab Baskara dengan suara yang masih serak dan berat.

Ia meremas pelan tangan Alena untuk meyakinkannya.

"Jangan... jangan pasang wajah cemas begitu. Aku sudah melewati bagian terburuknya."

Alena menggeleng pelan, sudut matanya basah oleh air mata bahagia.

"Mana mungkin aku tidak cemas melihatmu seperti ini. Tujuh jam kemarin rasanya seperti tujuh tahun bagiku, Bas."

Baskara mengulurkan tangannya yang satu lagi secara perlahan—dengan gerakan yang menahan nyeri di otot punggungnya—lalu menyentuh pipi Alena, menghapus sisa air mata di sana dengan ibu jarinya.

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Baskara lirih namun penuh keyakinan.

"Aku masih punya banyak urusan yang harus diselesaikan di Jakarta... dan aku harus melihat anak kita lahir ke dunia."

Mendengar sebutan "anak kita", tangan Alena secara instan beralih mengusap perutnya sendiri, lalu tersenyum hangat di tengah rasa sakit dan lelah yang mendera.

"Iya," balas Alena dengan suara bergetar.

"Jadi, cepatlah sembuh total, Bas. Di Jakarta, Billy dan Yanuar sedang panik karena polisi mulai mencium aroma pembakaran di toko roti kita. Kenan terus memberi mereka umpan, dan mereka mulai masuk ke perangkap yang kita buat."

Mata Baskara menyipit tajam mendengar nama kedua musuhnya itu disebut. Senyuman dingin terukir di bibirnya.

"Bagus..." gumam Baskara pelan.

"Biarkan mereka menikmati ketakutan itu perlahan-lahan. Kepanikan adalah awal dari kehancuran mereka."

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!