Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 SETITIK PERHATIAN
Sebelumnya Bee sudah mengirim pesan kepada Mamah Lana.
Bee : Mah, malam ini Bee menginap di rumah Cristal ya.
Tak lama kemudian balasan datang.
Mamah Lana : Baik Sayang. Jaga diri baik-baik.
Bee tersenyum. Setidaknya ia sudah memberi kabar.
Sementara itu...
Di rumah keluarga Luwis. Malam itu mereka kembali duduk bersama di meja makan, Makanan tersaji lengkap.
Namun satu kursi kembali kosong, Kursi milik Bee. Anehnya...
Tidak ada yang benar-benar membahasnya. Papah Prans sibuk dengan pekerjaannya.
Mamah Lana sesekali melamun.
Sedangkan Darius hanya menganggap Bee masih merajuk karena kejadian kemarin. " terus saja merajuk ." pikirnya dalam hati.
Tidak ada yang sadar bahwa Bee bahkan tidak kembali ke rumah hari ini Dan tidak ada yang bertanya apakah Bee sudah makan atau belum.
Berbeda dengan Jelita. Gadis itu justru terlihat sangat santai Bahkan lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya.
Ia bisa bercerita panjang lebar tentang kampus.
Tentang teman-teman barunya, Tentang dosen yang ia temui.
Seolah tidak ada yang kurang dari meja makan itu. Sesekali matanya melirik kursi kosong milik Bee.
Lalu kembali tersenyum kecil, Dan tidak ada satu pun orang yang menyadari hal itu.
KELUARGA KYLER.
Bee sedang duduk di meja makan sambil menikmati semangkuk bubur hangat buatan Mamih.
Cristal duduk di sampingnya.
Papih membaca koran.
KakJuna meminum kopinya.
Dan Mamih terus memastikan Bee makan dengan baik.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang melelahkan... Bee merasa tenang.
Usai makan malam, Bee dan Cristal langsung naik ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup, kedua gadis itu langsung menjatuhkan diri ke atas kasur.
"Akhirnya!" seru Cristal sambil memeluk guling.
Bee tertawa "Kamu masih sama seperti dulu."
"Tentu saja." Cristal mengambil sebungkus keripik dari meja "Ini malam perempuan."
"Malam perempuan apanya."
"Curhat, gosip, makan."
Bee mengangguk setuju. "Itu benar."
Tak lama kemudian berbagai camilan memenuhi kasur. Keripik, Cokelat, Permen Dan minuman dingin.
Keduanya mengobrol tentang banyak hal Mulai dari dosen yang menyebalkan, Mahasiswa yang suka menyontek, Sampai kenangan masa sekolah yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Di tengah obrolan itu, Bee tiba-tiba berbicara. "Cris."
"Hm?"
"Aku mau cari kerja."
Cristal yang sedang makan keripik langsung berhenti. "Kerja?"
Bee mengangguk "Iya."
Cristal mengernyit "Kenapa?"
Bee tersenyum santai. "Pengen punya penghasilan sendiri."
Cristal langsung duduk tegak. "Bee."
"Hm?"
"Kamu lagi kekurangan uang?"
Bee tertawa. "Tidak."
"Serius?"
"Iya."
"Kalo iya, pakai uangku aja."
Bee langsung tersenyum hangat Memang seperti inilah Cristal. Selalu menawarkan segalanya tanpa diminta.
"Terima kasih."
"Aku serius. Aku punya tiga kartu " Cristal menunjukkannya kepada bee " yang ini dari mami, dari papih dan ini dari kakak. kamu bebas pilih kartu yang mana saja. Asalkan kamu tidak kesulitan "
" Kamu baik sekali kepadaku "
" karena kamu sahabatku "
Bee tersenyum mengambil bantal dan memeluknya. "Sebentar lagi masa magang."
Wajah Cristal langsung berubah. "Oh iya."
"Aku harus mulai cari tempat magang."
"Benar."
"Aku juga harus mempersiapkan skripsi."
Cristal langsung mengeluh panjang. "Jangan ingatkan aku soal skripsi."
Bee tertawa kecil. "Tahun ini kita harus lulus."
Cristal menunjuk Bee. "Betul."
"Kita harus wisuda bersama."
Bee mengangguk. "Dan setelah lulus?"
"Kita tetap bersama."
Bee tertawa. "Kamu mau ikut aku terus?"
"Tentu." Cristal menjawab tanpa ragu "Aku akan jadi sahabatmu sampai tua."
Bee tersenyum. "Kalau aku menikah?"
"Aku tetap datang."
"Kalau aku pindah negara?"
"Aku ikut liburan."
"Kalau aku pindah planet?"
Cristal berpikir sejenak. "Itu mahal."
Bee langsung tertawa sampai memegangi perutnya.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Setelah mengobrol berjam-jam, keduanya akhirnya tertidur.
Namun beberapa saat kemudian...
Bee perlahan membuka matanya Tenggorokannya terasa kering. "Haus..." gumamnya pelan.
Bee tidak ingin membangunkan Cristal yang tidur seperti orang pingsan.
Akhirnya Bee turun dari kasur dan berjalan keluar kamar. Koridor rumah terlihat sunyi, Semua lampu sudah dimatikan.
Hanya lampu malam yang masih menyala redup.
Bee berjalan menuju dapur. Namun langkahnya berhenti ketika melihat cahaya dari bawah pintu ruang kerja Kak Juna. "Loh?"
Bee mendekat Lampunya masih menyala, Dengan rasa penasaran, Bee mengintip sedikit Dan benar saja.
Kak Juna masih berada di dalam.
Pria itu sedang menatap layar laptop dengan beberapa dokumen berserakan di meja.
Bee mengetuk pelan.
Tok tok.
"Kak?"
Kak Juna mengangkat kepala Sedikit terkejut melihat Bee. "Belum tidur?"
Bee membuka pintu sedikit. "Harusnya aku yang tanya."
Kak Juna menutup laptopnya. "Kamu ngapain ke sini?"
"Aku haus."
"Lalu?"
"Aku mau ambil minum." Bee menunjuk ke arah dapur "Tapi lihat lampu ruang kerja Kakak masih nyala."
Kak Juna menghela napas. "Jadi kamu mampir."
"Iya."
Kak Juna berdiri dari kursinya Lalu berjalan mendekat, Pria itu bersandar di tepi meja dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
Tatapannya tetap dingin seperti biasa Namun entah kenapa Bee sudah terbiasa melihat ekspresi itu. "Sudah malam. " ucap Kak Juna "Cepat ambil minum lalu kembali tidur."
Bee tersenyum. "Kakak juga."
"Aku masih ada pekerjaan."
"Besok juga masih ada."
Kak Juna mengangkat alis "Kamu sedang menasihatiku?"
"Sedikit."
"Kamu berani sekali."
Bee terkekeh "Kakak terlalu sering begadang."
"Dokter memang begitu."
"Itu alasan."
"Bukan alasan."
"Alasan."
"Bukan."
"Alasan."
Kak Juna menatap Bee datar.
Bee langsung tertawa puas. "Akhirnya Kakak kalah."
"Aku tidak sedang berdebat."
Bee mendekat beberapa langkah. Kemudian memperhatikan wajah Kak Juna. "Kak."
"Hm?"
"Kakak capek ya?"
Kak Juna terdiam sejenak Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun sudah lama tidak ada yang menanyakannya. "Aku baik-baik saja."
Bee langsung menggeleng. "Itu jawaban standar orang dewasa."
Kak Juna hampir saja tersenyum Hampir.
"Dan itu jawaban standar orang yang tidak mau tidur." Bee langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Aduh ketahuan."
"Sudah sana."
Bee tertawa kecil.
Kemudian berjalan mundur menuju pintu. "Selamat bekerja Dokter Galak."
"Selamat minum Nona Berisik."
Bee langsung memegang dada pura-pura tersakiti. "Wah, ternyata Kakak bisa bercanda."
"Keluar."
Bee terkekeh. "Baik."
Namun sebelum benar-benar pergi, Bee menoleh sekali lagi. "Kak."
"Apa lagi?"
"Kakak jangan terlalu capek."
Untuk sesaat Kak Juna hanya diam Lalu mengangguk pelan. " Dan untuk kamu jangan terlalu sering memendam semuanya sendirian."
Senyuman di wajah Bee perlahan memudar.
Kak Juna menatap pipi Bee yang masih menyisakan bekas kemerahan. "Kakak tidak bodoh, Bee."
Bee terdiam.
"Tapi kalau suatu hari kamu ingin bercerita..." Suara Kak Juna terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Pintu ruang ini tidak pernah terkunci."
Bee merasakan dadanya menghangat Sangat hangat. "Terima kasih, Kak."
Kak Juna hanya mengangguk Lalu Bee kembali berjalan menuju dapur.
Sementara Kak Juna berdiri di tempatnya. Menatap punggung gadis itu hingga menghilang di ujung koridor. Entah kenapa...