Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Howard dan Elvis keluar dari laboratorium dengan perasaan yang jauh berbeda.
Howard masih terlihat tenang, tetapi Elvis tidak mampu menyembunyikan kegelisahannya.
"Howard... menurutmu, seberapa besar kemungkinan Ice adalah Snow?" tanya Elvis.
Howard terdiam sejenak.
"Semua petunjuk mengarah kepadanya. Foto itu, nama Snow, alamat rumah lama Paman, dan cerita pengurus panti asuhan. Namun, kita tetap harus menunggu hasil tes DNA."
Elvis mengangguk pelan.
"Aku sudah menunggu selama lebih dari dua puluh tahun. Seharusnya satu hari bukanlah waktu yang lama."
Meski berkata demikian, kegelisahan di wajahnya tidak dapat disembunyikan.
"Aku baru ingat, pantas saja Ice bisa muncul di rumah lama kami. Ternyata dia sedang mencari keluarganya. Tapi aku malah tidak memercayainya dan hampir menyakitinya," ucap Elvis dengan penuh penyesalan.
"Paman, jangan menyalahkan diri sendiri. Saat itu Paman juga tidak tahu siapa Ice sebenarnya," kata Howard.
Elvis menghela napas panjang.
"Howard, kenapa mata Ice bisa bermasalah? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Wajah Howard langsung berubah dingin.
"Sejak kecil, Ice terus menerima kekerasan dari keluarga Meng. Mereka sering memukul dan menyiksanya. Dokter mengatakan ada bekas cedera lama di kepalanya. Kemungkinan benturan-benturan itulah yang mempercepat kerusakan pada korneanya hingga akhirnya dia kehilangan penglihatannya."
Elvis membeku.
"Apa... mereka memperlakukannya seperti itu?"
Howard mengangguk.
"Ice dipaksa bekerja sejak kecil. Dia tidak pernah diperlakukan seperti anggota keluarga. Sedikit saja melakukan kesalahan, dia akan dipukul atau dihukum. Bahkan saat sakit, tidak ada yang benar-benar memedulikannya."
Semakin banyak Howard bercerita, wajah Elvis semakin pucat.
Kedua tangannya mengepal erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.
"Brengsek..." gumam Elvis dengan mata memerah.
"Itu putriku... putriku sendiri. Selama bertahun-tahun aku mencarinya ke mana-mana. Sementara dia hidup dalam penderitaan seperti itu."
Howard menepuk bahu Elvis.
"Tenanglah, Paman. Setelah hasil tes DNA keluar, jika Ice benar-benar Snow, tidak akan ada lagi orang yang bisa menyakitinya."
Elvis mengangguk pelan.
Tatapannya berubah tajam.
"Kalau keluarga Meng benar-benar melakukan semua itu kepada putriku... aku akan membuat mereka membayar semuanya."
"Aku sudah memberi mereka pelajaran. Saat ini mereka masih dirawat di rumah sakit karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pengobatan," kata Howard dengan nada datar.
Elvis menoleh kepadanya.
"Apa yang kau lakukan terhadap mereka?"
Howard hanya tersenyum tipis.
"Hanya pelajaran kecil."
Elvis memandang Howard beberapa saat.
"Pelajaran kecil?" batinnya. "Dengan sifat Howard yang kukenal, tidak ada hukuman ringan baginya. Kalau tidak menghilangkan nyawa seseorang, setidaknya dia akan membuat orang itu cacat seumur hidup"
"Howard," ujar Elvis akhirnya, "aku ingin bertemu dengannya."
Howard mengangguk pelan.
"Baiklah. Ice sedang dirawat di kamar VIP di lantai atas."
Tanpa membuang waktu lagi, Elvis segera melangkah menuju lift, sementara Howard mengikutinya dari belakang.
Sementara itu, di lantai VIP.
Seorang perawat baru saja keluar dari kamar tempat Ice dirawat setelah selesai memeriksa kondisinya.
Di saat yang sama, Lulu yang sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk kembali ke kamar rawatnya tanpa sengaja melewati ruangan tersebut. Wajah wanita itu masih membengkak akibat tamparan anak buah Howard.
Pandangannya langsung tertuju ke dalam kamar yang pintunya masih sedikit terbuka.
"Ice?" gumam Lulu terkejut.
Ia menghentikan langkahnya dan memastikan sekali lagi.
"Kenapa dia dirawat di ruang VIP?" batin Lulu penuh tanda tanya." Dia tidak punya uang tapi bisa dirawat di ruangan VIP. Hebat sekali."
"Hei, anak tidak berguna!"
Suara bentakan terdengar dari depan pintu.
Ice yang sedang berbaring langsung terdiam ketika mengenali suara itu.
"Lulu..." gumamnya.
Lulu melangkah masuk dengan wajah penuh kemarahan.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Ice dengan nada dingin.
Lulu melihat sekeliling kamar VIP, lalu tertawa sinis.
"Hebat sekali. Kau bahkan tidak punya uang untuk membayar biaya keluarga Meng, tapi sekarang kau bisa dirawat di ruangan seperti ini."
Tatapannya berubah tajam.
"Ice Meng, apa kau lupa siapa kami? Setelah semua yang kami lakukan untukmu, sekarang kau malah melepaskan tanggung jawabmu?"
"Keluar dari sini!" kata Ice sambil memalingkan wajah.
Lulu mencibir.
"Keluar? Baik. Tapi berikan uangnya dulu."
"Tidak ada," jawab Ice singkat.
"Tidak ada? Jangan berbohong padaku."
Lulu berjalan mendekati meja kecil di samping ranjang, lalu mengambil tas Ice.
"Apa yang kau lakukan? Kembalikan tasku!" teriak Ice panik.
Ia berusaha bangkit dan mengambil kembali tasnya, tetapi gerakannya tidak terarah.
Lulu yang awalnya ingin marah tiba-tiba terdiam.
Ia memperhatikan gerakan Ice dengan saksama.
Rasa curiga muncul di dalam hatinya.
Lulu membuka tas itu dan mengacak isinya hingga menemukan dompet Ice.
"Kau bilang tidak punya uang?"
Ia membuka dompet tersebut dan menemukan sejumlah uang di dalamnya.
"Kau ada uang, ternyata."
Lulu langsung mengambil uang itu.
"Itu gajiku bulan ini! Kembalikan!" teriak Ice sambil mengulurkan tangan.
Namun karena tidak bisa melihat, tangannya hanya bergerak mencari arah.
Lulu mundur beberapa langkah sambil memperhatikan wajah Ice.
Matanya yang kosong tidak fokus pada satu titik.
Ekspresi Lulu perlahan berubah.
"Kenapa matanya terlihat aneh?
Jangan-jangan... dia tidak bisa melihat?
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya