Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Malam di Eclipse
Sekar menerima pesan Renard pada pukul tujuh malam.
Pakai sesuatu yang pantas untuk makan malam. Hans akan menjemput.
Tidak ada penjelasan.
Ia sudah belajar bahwa pesan dari Renard jarang memberi ruang untuk bertanya. Tetap saja, ia berdiri lama di depan lemari Paviliun Mei, memandangi gaun-gaun Felicia Tan yang terlalu mahal dan terlalu asing di tubuhnya.
Akhirnya ia memilih gaun hitam sederhana dengan lengan panjang. Cukup anggun untuk makan malam, cukup tertutup untuk membuatnya merasa punya pertahanan.
Ketika ia keluar, Hans sudah menunggu di sisi mobil.
"Ke mana?" tanya Sekar.
"Eclipse."
Nama itu membuat perutnya mengencang.
Eclipse di malam hari tampak lebih hidup daripada kunjungan pertamanya. Lampu-lampu rendah menempel di dinding batu gelap. Musik jazz terdengar dari ruang utama, lembut tetapi mahal. Pria dan perempuan berpakaian rapi bergerak dengan tawa pelan, seolah tempat ini hanya klub pribadi untuk orang-orang yang tidak perlu menanyakan harga.
Tetapi Sekar sudah tahu permukaan itu bohong.
Di balik pintu-pintu tertutup, Renard bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu panggilan.
Renard menunggunya di koridor menuju ruang makan privat. Ia memakai jas gelap tanpa dasi. Ada sesuatu pada caranya berdiri yang membuat orang-orang di sekitar otomatis memberi jalan.
Matanya menilai Sekar dari kepala sampai kaki.
"Cukup."
Sekar hampir tersinggung. "Itu pujian?"
"Itu berarti kamu tidak salah kostum."
"Aku tersentuh."
Sudut mulut Renard bergerak sangat tipis. Hampir tidak ada, tetapi Sekar melihatnya.
"Malam ini kamu Felicia Tan," katanya. "Tunangan Kevin yang kebetulan punya akses ke Liem. Dengarkan. Jangan menyela. Jangan menerima minuman dari siapa pun selain aku atau Hans."
"Kenapa aku dibawa?"
"Karena Celine bukan satu-satunya orang yang harus belajar bahwa harga keserakahan selalu dibayar tunai."
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Atau mungkin menjelaskan terlalu banyak.
Ruang makan privat itu diisi dua meja panjang. Beberapa pria duduk dengan postur santai yang terlalu dibuat-buat. Kemeja mahal, jam tangan berat, senyum ramah yang tidak menyentuh mata. Di antara mereka ada dua pria bertubuh besar dengan tato samar di balik manset.
Salah satu dari mereka berdiri saat Renard masuk.
"Pak Renard."
Renard tidak menjabat tangan. "Duduk."
Pria itu langsung duduk.
Sekar merasakan udara berubah. Di Kediaman Liem, orang takut pada Renard karena nama Liem, karena Engkong, karena garis keluarga. Di sini, orang takut pada Renard karena mereka tahu apa yang bisa ia lakukan tanpa bantuan siapa pun.
"Nona Felicia Tan," kata Renard, memperkenalkannya tanpa menoleh. "Calon menantu Keluarga Liem."
Beberapa mata langsung menilai Sekar.
Seorang pria dengan cincin besar di jari kelingking tersenyum. "Oh, tunangan Koh Kevin. Kami sering dengar."
Nada suaranya membuat kulit Sekar merinding.
Renard mengambil kursi di kepala meja. Sekar duduk di sampingnya, bukan di ujung jauh seperti tamu. Posisi itu saja sudah membuat beberapa orang saling pandang.
Makan malam dimulai dengan sop bening, ikan kukus, dan percakapan yang terdengar biasa bagi orang luar. Harga properti. Pengiriman barang. Gudang di pelabuhan. Tetapi di sela kata-kata itu ada ancaman yang tidak disebutkan.
"Bos Cao merasa jalur lama masih bisa dipakai," kata pria bercincin besar.
Renard memutar gelas air di tangannya. "Bos Cao merasa terlalu banyak hal."
Senyum di meja menegang.
"Kami hanya menyampaikan."
"Kalau hanya menyampaikan, sampaikan ini juga." Renard menaruh gelasnya. Suaranya rendah. "Jalur itu ditutup karena ada anak di bawah umur yang hampir masuk ke dalam daftar barang. Aku tidak peduli siapa yang lupa aturan. Kalau nama Eclipse terseret, aku kubur jalurnya, gudangnya, dan orang yang membuka pintu."
Tidak ada yang makan.
Sekar merasakan darahnya mendingin.
Anak di bawah umur.
Asrama Putri Mulia terlintas di kepalanya. Bella. Foto-foto yang Lilian tunjukkan. Dunia yang ia kira hanya milik mimpi buruk ternyata punya lorong-lorong nyata, meja makan nyata, pria-pria nyata yang bisa tertawa sambil membicarakan manusia seperti barang.
Pria bertato menunduk. "Bos Cao tidak bermaksud melewati batas, Pak."
"Batas dibuat untuk orang yang masih ingin hidup."
Kali ini tidak ada yang menjawab.
Sekar menatap piringnya. Tangannya dingin. Di bawah meja, jari-jarinya mencengkeram kain gaun.
Renard tidak menoleh, tetapi telapak tangannya bergerak sedikit di atas meja. Dua jarinya mengetuk pelan, sekali.
Entah kenapa, gerakan kecil itu seperti perintah agar ia bernapas.
Sekar menarik napas. Pelan. Tidak terlihat.
Setelah makan malam, para pria itu pergi satu per satu. Mereka pamit dengan sopan, lebih sopan daripada saat datang. Hans mengantar mereka sampai koridor, meninggalkan Sekar dan Renard di ruang privat yang mendadak terlalu sunyi.
Renard menuangkan sedikit anggur ke gelasnya. Ia tidak menawarkan kepada Sekar.
"Kamu sengaja memperlihatkan itu padaku," kata Sekar.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena suatu hari kamu akan bertemu orang seperti mereka tanpa aku di sebelahmu."
Sekar menatapnya. "Dan aku harus belajar takut?"
"Kamu sudah bisa takut." Renard minum sedikit. "Yang belum kamu kuasai adalah memilih kapan rasa takut berguna."
Kalimat itu terdengar kejam, tetapi setelah semua yang ia lihat, Sekar tidak bisa mengatakan bahwa itu salah.
"Bos Cao bekerja dengan Nyonya Tan?" tanyanya.
Renard memandang isi gelas. "Terkadang."
"Asrama Putri Mulia?"
"Jangan tanya hal yang jawabannya akan membuatmu ingin melakukan sesuatu sebelum waktunya."
Dada Sekar panas. "Jadi kamu tahu."
"Aku tahu banyak hal."
"Tapi tidak menghentikannya?"
Renard meletakkan gelas. Matanya naik, gelap dan tenang. "Kalau aku bergerak tanpa bukti yang cukup, Nyonya Tan akan membakar semua jejak dan orang-orang kecil yang bisa bicara akan mati lebih dulu. Termasuk orang yang ingin kamu selamatkan."
Sekar terdiam.
Ia benci jawaban itu karena masuk akal.
Renard bersandar. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya terlihat sedikit lelah. Bukan mabuk, tetapi cukup hangat oleh anggur untuk membuat suaranya tidak setajam biasa.
"Kamu tahu kenapa aku suka rubah?"
Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Sekar menggeleng.
"Karena mereka bertahan hidup dengan cara apa pun." Renard menatap ruang kosong di depan mereka. "Mereka tidak paling kuat. Tidak paling besar. Tidak punya taring paling menakutkan. Jadi mereka belajar membaca arah angin, mencari celah, menggigit saat perlu, lari saat harus."
Sekar memikirkan namanya. Renard. Rubah.
"Itu yang kamu lakukan?"
"Itu yang tersisa."
Jawaban itu terlalu pelan.
Di antara lampu rendah dan sisa aroma makanan mahal, Sekar melihat anak laki-laki dalam foto itu sekejap. Anak yang mungkin pernah ingin pulang, lalu diajari bahwa rumah bisa menjadi tempat paling berbahaya.
"Apa rubah juga boleh lelah?" Sekar bertanya.
Renard menoleh kepadanya.
Untuk satu detik, matanya tidak dingin.
Lalu pintu diketuk.
Hans masuk tanpa suara. Wajahnya profesional, tetapi pandangannya lebih tajam dari biasanya.
"Boss."
Renard berdiri. "Apa?"
Hans melirik Sekar, lalu tetap melapor. "Ada yang mengikuti kalian malam ini."
Sekar ikut berdiri. "Siapa?"
Hans merendahkan suara.
"Dari Keluarga Ong."