"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Salju & Bahaya
Keesokan paginya, tim produksi membawa mereka ke sebuah indoor snow park di kawasan Bandung.
Begitu pintu besar terbuka, udara dingin buatan langsung menyapu wajah Wenny. Lantai putih, lampu terang, papan seluncur, dan lintasan latihan yang tidak terlalu curam membuat tempat itu terlihat seperti potongan musim dingin yang sengaja dipinjam untuk kebutuhan acara.
Kevin langsung merapatkan jaket. "Aku orang tropis. Aku tidak diciptakan untuk penderitaan estetis seperti ini."
Stella tertawa. "Baru lihat salju buatan saja sudah drama."
Koko berdiri di depan kamera dengan senyum lebar. "Hari ini, kita akan lihat siapa yang paling stabil di atas papan. Tenang, ada instruktur, helm, pelindung lutut, dan lintasannya untuk pemula."
Instruktur menjelaskan aturan keselamatan satu per satu. Cara memasang sepatu, cara berhenti, cara jatuh yang benar, dan tanda yang harus diberikan jika seseorang kehilangan kendali. Semua peserta wajib melakukan pemanasan dan percobaan pendek sebelum masuk lintasan utama.
Wenny mendengarkan serius.
REYN berdiri di sampingnya, lebih serius lagi.
"Aku belum jatuh," kata Wenny pelan tanpa menoleh.
"Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu sudah bilang semuanya."
REYN menatap lintasan. "Aku cuma menilai risiko."
"Aku pacarmu atau proyek mitigasi bencana?"
Satu detik kemudian, REYN menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum.
Wenny menggigit bibir agar tidak ikut tersenyum terlalu jelas di depan kamera. Sejak mereka sepakat merahasiakan hubungan, godaan kecil seperti itu terasa berbahaya sekaligus manis. Tidak ada orang lain yang mendengar kata pacar karena suara mereka rendah, tetapi bagi Wenny, itu cukup untuk membuat udara dingin terasa hangat.
Saat giliran latihan, Wenny hampir kehilangan keseimbangan pada dorongan pertama.
Tangan REYN langsung berada di pinggangnya.
"Tekuk lutut sedikit," katanya rendah di belakangnya. "Jangan kaku."
"Aku tidak kaku."
"Wen."
Satu suku kata itu membuat Wenny langsung diam.
REYN tidak tertawa. Ia berdiri di belakangnya, satu tangan menjaga pinggang, tangan lain mengarahkan pergelangan Wenny agar tidak terlalu tegang. Di depan kamera, itu bisa disebut instruksi. Di tubuh Wenny, itu terasa seperti pelukan yang sengaja ditahan agar tidak terlalu jelas.
"Lihat ke depan," kata REYN. "Kalau takut jatuh, jangan lihat kakimu. Lihat arah yang mau kamu tuju."
Wenny menarik napas.
Ia mengikuti.
Papan bergerak pelan.
REYN ikut meluncur di sampingnya, tidak melepaskan jarak lebih dari satu lengan. Ketika Wenny mulai terlalu cepat, ia tidak panik. Ia hanya menggeser tubuh, menahan arah, dan berkata, "Pelan. Aku di sini."
Kamera menangkap semuanya.
Kevin di bawah lintasan berteriak, "Aku minta pelatih seperti itu juga!"
Stella menjawab, "Kamu minta mukjizat."
Tawa kru pecah.
Wenny akhirnya berhasil berhenti tanpa jatuh. Ia menoleh pada REYN dengan mata berbinar.
"Aku bisa."
"Kamu memang bisa."
Kalimat itu sederhana.
Tetapi cara REYN mengatakannya membuat pipi Wenny memanas lebih kuat daripada jaket tebalnya.
Di sisi lain area, Rosa berdiri dekat rak peralatan cadangan.
Ia tersenyum saat kamera melewati wajahnya.
Begitu kamera bergerak ke Kevin yang jatuh duduk di lintasan latihan, senyumnya hilang. Matanya mencari Natasha.
Natasha sedang memegang papan seluncurnya dengan tangan gemetar.
Rosa berjalan mendekat seolah ingin membantu. "Tali pengamannya miring."
Natasha menegang. "Aku bisa minta instruktur."
"Terlalu lama." Rosa berjongkok, menyentuh bagian pengikat dengan gerakan cepat. "Diam saja."
"Rosa..."
"Kamu mau video itu keluar?"
Natasha langsung pucat.
Rosa menekan satu bagian pengunci, tidak sampai rusak total, hanya cukup membuat papan itu lebih mudah kehilangan arah jika tekanan tubuh Natasha salah. Gerakannya tertutup oleh tubuhnya sendiri dan keributan Kevin yang masih berdebat dengan instruktur.
"Ini berbahaya," bisik Natasha.
"Lintasan pemula. Tidak akan ada yang mati."
"Kamu tidak tahu itu."
Rosa berdiri, merapikan rambutnya. "Aku tahu kamu akan melakukan persis yang aku bilang."
Natasha menatap papan di tangannya seolah benda itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang hidup.
Koko memanggil kelompok berikutnya.
"Natasha, Rosa, Felix, siap?"
Natasha menoleh panik.
Rosa sudah berjalan lebih dulu, wajahnya kembali lembut.
***
Wenny dan REYN berada di sisi bawah lintasan setelah latihan kedua. Wenny sedang melepas satu sarung tangan karena terasa terlalu ketat. REYN membantunya menarik ujung tali pergelangan.
"Kalau begini terus, orang akan sadar kamu terlalu sering membantuku," kata Wenny pelan.
"Biar."
Wenny menatapnya cepat.
REYN tidak melihat kamera. Ia melihat tali sarung tangannya.
"Kamu tadi bilang rahasia dulu."
"Aku bilang tidak membuat kru repot." REYN mengangkat mata. "Aku tidak bilang akan pura-pura tidak peduli."
Jantung Wenny terasa melompat.
Ia hampir menjawab ketika suara panik terdengar dari atas lintasan.
"Minggir!"
Wenny menoleh.
Natasha meluncur terlalu cepat.
Wajahnya pucat, matanya melebar, dan tubuhnya tidak berada di posisi yang benar. Papan seluncurnya bergerak menyilang, seperti sulit dikendalikan. Instruktur di sisi atas sudah meniup peluit, tetapi jarak Natasha dengan bawah lintasan menyusut terlalu cepat.
Ia mengarah ke Wenny.
Semua terjadi dalam beberapa detik.
REYN menarik Wenny ke belakang dengan satu tangan, tubuhnya bergerak lebih cepat daripada teriakan orang-orang. Wenny hanya merasakan pinggangnya ditarik, punggungnya membentur dada REYN, lalu tubuh mereka berputar ke sisi pagar bantalan.
Natasha meluncur lewat tepat di depan mereka.
Papan seluncurnya menghantam tumpukan bantalan pengaman. Natasha jatuh miring, napasnya tersengal. Instruktur langsung berlari mendekat. Kru berteriak meminta kamera utama berhenti maju.
"Wenny!" REYN memegang kedua bahunya. "Kena?"
Wenny menggeleng cepat. "Aku tidak apa-apa."
"Kaki?"
"Tidak."
"Tangan?"
"REYN, aku tidak apa-apa."
Baru setelah mengatakan itu, Wenny sadar tangan REYN gemetar.
Ia menutup tangannya di atas tangan REYN. "Aku tidak apa-apa."
REYN menarik napas, tetapi wajahnya belum kembali tenang.
Di sisi bantalan, Natasha duduk dengan wajah putih. Instruktur memeriksa pergelangan kakinya. Ia tampak tidak terluka serius, hanya terguncang. Tetapi ketika matanya bertemu mata REYN, Natasha langsung menunduk.
Itu bukan rasa malu karena hampir menabrak.
Itu rasa takut pada sesuatu yang lebih besar.
REYN melihatnya.
Ia juga melihat Rosa berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya menampilkan kekhawatiran yang tepat untuk kamera, tetapi matanya terlalu kering.
"Maaf," Natasha berkata dengan suara kecil. "Aku kehilangan kendali."
Wenny berjalan mendekat, masih digenggam REYN. "Kamu terluka?"
Natasha menggeleng, tetapi tidak berani menatapnya. "Tidak. Maaf."
Wenny tersenyum lemah. "Tidak apa-apa. Yang penting kamu aman."
Semua orang menghela napas seolah insiden itu sudah selesai.
Kevin bahkan berusaha mencairkan suasana. "Oke, aku resmi tidak akan naik lintasan itu."
Beberapa kru tertawa gugup.
Namun REYN tidak tertawa.
Tangannya tetap berada di punggung Wenny.
Matanya tidak lagi melihat lintasan.
Ia melihat Natasha, lalu Rosa, lalu kembali pada pengikat papan yang sedang diperiksa instruktur.
Wenny berkata pelan, "Aku benar-benar tidak apa-apa."
REYN menoleh padanya.
Ekspresinya tidak melembut.
"Ini bukan cuma kehilangan kendali," katanya rendah.
Wenny terdiam.
Di depan mereka, Natasha masih menunduk dengan wajah penuh ketakutan.
Dan REYN tahu, ketakutan itu bukan milik seseorang yang baru saja jatuh.
Itu ketakutan seseorang yang dipaksa mendorong bahaya ke arah orang lain.