NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008

Hari ujian selalu punya bau yang sama.

Kertas baru, tinta printer, kopi murah dari kantin, dan kecemasan yang keluar dari napas mahasiswa. Aula ujian Universitas Prestasi pagi itu dipenuhi meja berjajar dengan jarak rapi. Di depan, jam dinding bergerak terlalu keras untuk ruangan sesunyi itu.

Meiran duduk di baris ketiga.

Hafeng duduk dua baris di belakangnya, agak ke kanan. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu. Sejak open studio, keberadaan Hafeng terasa seperti garis tajam di punggungnya: tidak menyentuh, tetapi membuat kulit sadar.

**【Sistem Predator】Status sebelum ujian: Nilai Cinta -95. Respons kompetitif target stabil.**

"Bagus," batin Meiran. "Hari ini kita beri dia alasan untuk tidak bisa tidur."

Soal dibagikan.

Begitu lembar pertama dibalik, suara kertas memenuhi aula seperti hujan tipis. Meiran membaca instruksi satu kali, lalu mulai menulis. Pertanyaan pertama tentang teori ruang negatif. Pertanyaan kedua meminta analisis visual dari studi kasus stasiun kecil. Pertanyaan ketiga adalah sketsa solusi cepat.

Di kehidupan sebelumnya, ia akan menyelesaikan bagian mudah, lalu menghabiskan waktu menggambar wajah Hafeng di kertas buram.

Hari ini, ia menggunakan setiap menit.

Tangannya bergerak cepat. Bukan panik, melainkan terukur. Setiap jawaban ia buat padat: teori, contoh, risiko, solusi. Pada bagian sketsa, ia tidak mengejar gambar cantik. Ia menggambar alur gerak, titik berhenti, area bayangan, dan catatan material.

Tiga puluh menit sebelum waktu habis, ia selesai.

Meiran tidak langsung mengumpulkan.

Ia membaca ulang dari awal. Mencoret satu kalimat yang terlalu berbunga, menggantinya dengan analisis yang lebih tajam. Menambahkan satu panah pada sketsa. Memastikan tidak ada celah yang bisa dipakai Hafeng untuk menyebutnya beruntung.

Baru ketika pengawas memberi tanda lima menit terakhir, ia meletakkan pulpen.

Di belakang, Hafeng masih menulis.

Meiran tidak menoleh.

Itu bagian terbaiknya.

Sore harinya, papan pengumuman digital di lobi fakultas dikerumuni mahasiswa.

Hasil ujian gabungan biasanya tidak keluar secepat itu, tetapi Pak Darma terkenal kejam dalam efisiensi. Nilai teori, proyek, dan review sudah digabung menjadi peringkat sementara untuk taruhan akademik kecil yang kini diketahui hampir seluruh angkatan.

"Sudah keluar!"

"Cepat, lihat!"

"Hafeng pasti nomor satu."

"Tapi Meiran kemarin gila sih jawabannya."

Meiran datang paling terakhir.

Ia tidak terburu-buru. Ia baru selesai mengirim portofolio ringkas ke alamat email yang tertulis di kartu nama Kho Yanting. Setelah menekan tombol kirim, ia berjalan ke lobi dengan langkah tenang, seolah hasil di layar bukan sesuatu yang menentukan satu bulan ke depan.

Padahal tentu saja menentukan.

Kalau kalah, ia harus meminta maaf di grup angkatan, berhenti mendekati Hafeng, dan kehilangan jalur interaksi yang baru saja dibuka dengan susah payah.

Kalau menang, Lo Hafeng menjadi miliknya dalam batas aturan.

Kerumunan membelah ketika seseorang menyadari kedatangannya.

Wanyu sudah berada di sana. Wajahnya lembut, tetapi matanya terus bergerak antara layar dan Hafeng yang berdiri tidak jauh. Chiko ada di samping Hafeng, mulutnya setengah terbuka seperti ingin tertawa tapi belum berani.

Meiran mengangkat wajah ke layar.

Peringkat 1: Lim Meiran.

Peringkat 2: Lo Hafeng.

Selisih: 1,7 poin.

Satu detik.

Dua detik.

Lobi meledak.

"Tidak mungkin."

"Meiran nomor satu?"

"Selisihnya kecil, tapi tetap menang."

"Taruhannya jadi beneran dong?"

Chiko akhirnya tertawa. Ia menepuk bahu Hafeng sekali, lalu cepat menarik tangan ketika Hafeng menoleh.

"Maaf, refleks."

Hafeng tidak bergerak.

Wajahnya dingin, tetapi mata gelapnya terpaku pada layar. Ia membaca ulang angka itu seperti berharap digitnya berubah jika dipaksa cukup lama.

Meiran berdiri di sampingnya.

"Satu koma tujuh poin," katanya.

Hafeng menatapnya. "Kamu puas?"

"Lumayan."

"Jangan sombong. Selisih sekecil itu bukan penghinaan untukku."

"Aku tidak berniat menghinamu." Meiran melihat layar lagi. "Aku hanya berniat menang."

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada ejekan.

Karena benar.

Wanyu maju pelan. "Ko Hafeng, mungkin ada kesalahan input. Nilai proyekmu biasanya paling tinggi. Kita bisa tanya Pak Darma."

Hafeng belum sempat menjawab ketika Pak Darma muncul dari koridor dosen, membawa tablet di tangan.

"Tidak ada kesalahan input," katanya datar.

Semua orang langsung diam.

Pak Darma menatap Hafeng, lalu Meiran. "Nilai Pak Lo unggul di struktur visual. Nilai Bu Lim unggul di analisis pengguna dan argumentasi. Totalnya sudah dihitung dua kali."

Sebutan `Pak Lo` dan `Bu Lim` membuat beberapa mahasiswa menahan senyum. Formalitas itu terasa lucu di tengah drama kampus, tetapi sekaligus menutup celah protes.

Wanyu masih tidak menyerah. "Pak, maaf, tapi review dari Ko Yanting kemarin mungkin memengaruhi persiapan Meiran. Dia mendapat masukan tambahan, kan? Apakah itu tetap adil?"

Pertanyaan itu terdengar sopan.

Tetapi lobi langsung menjadi lebih sunyi.

Meiran menatap Wanyu. Jadi inilah tusukan berikutnya: bukan menuduh curang secara langsung, melainkan membuat orang membayangkan kemungkinan curang.

Pak Darma mengangkat alis.

"Review kemarin terbuka untuk semua peserta. Masukan Pak Yanting juga diberikan di depan mahasiswa lain. Selain itu, materi ujian hari ini tidak mengambil proyek open studio sebagai soal utama." Ia mengetuk layar tabletnya. "Kalau ada yang ingin memeriksa lembar penilaian, fakultas menyediakan sesi klarifikasi besok pagi. Tapi hasil peringkat tidak berubah hanya karena ada yang tidak siap menerima."

Beberapa mahasiswa menunduk menahan reaksi.

Wanyu memucat halus. "Saya hanya bertanya, Pak."

"Dan saya menjawab."

Meiran hampir ingin bertepuk tangan untuk Pak Darma.

Di belakangnya, beberapa mahasiswa mulai menghapus komentar lama di grup angkatan.

Hafeng menarik napas pelan.

"Baik, Pak."

Wanyu menggigit bibir bawahnya.

Meiran menoleh pada Hafeng. "Kamu dengar?"

"Aku punya telinga."

"Bagus. Berarti kamu juga ingat tanda tanganmu."

Hafeng menatapnya dengan mata yang bisa membekukan air.

**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**

Panel muncul di sisi layar pengumuman, hanya terlihat oleh Meiran.

Nilai Cinta: -60.

Meiran hampir kehilangan ekspresi tenangnya.

Lonjakan sebesar itu?

**【Sistem Predator】Kebencian target bercampur dengan pengakuan kompetitif. Tubuh dan pikiran target mulai menerima keberadaan Host sebagai lawan bernilai.**

Meiran menahan napas sebentar.

Lawan bernilai.

Untuk Lo Hafeng, itu mungkin pintu pertama menuju apa pun yang lebih berbahaya daripada kebencian.

Chiko berdehem. "Jadi... bulan asisten pribadi dimulai kapan?"

Kerumunan langsung menahan tawa.

Hafeng menatap Chiko. "Kamu mau menggantikanku?"

"Tidak, terima kasih. Aku masih sayang hidupku."

Meiran mengeluarkan kertas taruhan yang sudah ia laminasi tipis. Ia memang menyiapkannya. Hafeng melihat itu dan wajahnya makin gelap.

"Kamu melaminasinya?"

"Dokumen penting harus dirawat."

"Kamu benar-benar..."

"Gila?" Meiran menyelesaikan untuknya. "Mungkin. Tapi mulai hari ini, selama satu bulan, kamu mengikuti instruksiku sesuai perjanjian."

Ia mendekat satu langkah, cukup dekat untuk membuat Hafeng menegang, tetapi tidak menyentuh.

Meiran tersenyum.

"Mulai sekarang, Lo Hafeng, kamu adalah asisten pribadiku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!