NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018

Nadia datang ke kios setelah azan zuhur, wajahnya pucat seperti orang yang kurang tidur tiga malam.

Sari sedang memeriksa nota pengiriman. Begitu melihat putrinya, ia menutup buku dan menunjuk kursi plastik di dekat kipas.

“Duduk.”

“Aku cuma mampir sebentar, Ma.”

“Orang yang bilang cuma mampir biasanya membawa masalah panjang.”

Nadia tersenyum lemah. “Mama sudah jadi peramal sekarang?”

“Bukan. Aku cuma ibumu.”

Nadia duduk. Ia meletakkan tas di pangkuan, kedua tangannya menggenggam tali sampai buku jarinya memutih. Ayu datang membawa teh hangat, lalu pergi tanpa banyak bicara. Sejak tinggal beberapa malam di kontrakan Sari, Ayu belajar membaca kapan keluarga itu membutuhkan ruang.

Sari menunggu. Ia tidak mendesak.

Nadia menatap lantai cukup lama sebelum berkata, “Dimas ingin aku berhenti kerja dulu.”

Sari mengangkat alis. “Dulu sampai kapan?”

“Sampai aku hamil.”

“Kalau belum hamil juga?”

“Dia bilang jangan berpikir buruk.”

Sari tertawa kecil, tetapi tidak ada gembira di sana. “Kalimat favorit orang yang tidak mau memberi jawaban.”

Nadia menunduk lebih dalam.

“Bu Marni juga bilang aku terlalu capek. Katanya perempuan kalau banyak pikiran susah isi. Dia minta aku minum jamu dari temannya.”

“Jamu apa?”

“Aku tidak tahu. Bubuk cokelat dalam plastik. Baunya pahit sekali.”

“Kamu minum?”

Nadia menggeleng. “Aku buang di wastafel.”

“Bagus.”

“Tapi Dimas marah.”

“Karena?”

“Katanya aku meremehkan usaha ibunya. Katanya kalau aku terus keras kepala, jangan salahkan dia kalau keluarga besarnya kecewa.”

Sari mengambil napas pelan. Nama Dimas sejak awal tidak pernah membuat hatinya tenang. Menantu laki-laki itu sopan di depan orang, rajin mencium tangan, pandai membawa buah saat berkunjung. Tetapi di belakang senyum itu ada kelembekan yang berbahaya. Ia selalu berkata, “Nanti aku bicara dengan Ibu,” lalu tidak pernah bicara. Ia selalu berkata, “Kamu sabar dulu,” seolah Nadia adalah kain pel yang harus menampung semua tumpahan.

“Kamu ingin berhenti kerja?” tanya Sari.

Nadia langsung mengangkat kepala. “Tidak.”

“Kalau begitu jangan.”

“Tapi rumah tanggaku...”

“Rumah tangga tidak boleh dibangun dari satu orang yang terus menghilang.”

Nadia menggigit bibir. “Aku dokter, Ma. Aku tahu soal tubuh. Aku tahu tidak ada yang salah dari hasil pemeriksaanku. Tapi setiap kali Bu Marni bilang aku belum sempurna sebagai istri, aku merasa...”

Suaranya pecah.

Sari pindah kursi ke samping Nadia. Ia tidak memeluk langsung. Nadia sejak kecil selalu menangis lebih keras kalau dipeluk terlalu cepat. Sari hanya meletakkan tangannya di atas tangan putrinya.

“Kamu sempurna sebagai manusia. Tidak ada rahim yang boleh dijadikan ukuran harga diri.”

Nadia menutup wajah. Bahunya bergetar.

Di luar kios, suara motor dan tawar-menawar tetap berjalan. Hidup orang lain tidak berhenti hanya karena hati seseorang sedang retak.

Sari menunggu sampai napas Nadia kembali teratur.

“Dimas tahu kamu ke sini?”

“Tidak. Aku bilang ada urusan di rumah sakit.”

“Kamu masih cuti?”

“Besok mulai masuk lagi. Tapi Bu Marni minta aku ambil cuti tambahan. Katanya malu kalau tetangga lihat aku pulang malam terus. Katanya orang akan bilang aku terlalu sibuk mencari uang sampai lupa memberi cucu.”

“Tetangga mana yang memberi makan kamu?”

Nadia tertawa basah. “Tidak ada.”

“Kalau begitu jangan hidup untuk mulut mereka.”

Ponsel Nadia berdering. Nama Dimas muncul. Nadia menatap layar seperti melihat jarum.

“Angkat,” kata Sari.

Nadia ragu. “Di sini?”

“Di sini.”

Nadia menekan tombol speaker.

Suara Dimas terdengar tegang. “Kamu di mana?”

“Di kios Mama.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Aku perlu bicara dengan Mama.”

“Nad, kamu tahu Ibu tidak suka kalau masalah rumah dibawa keluar.”

Sari menyandarkan punggung, matanya menyipit.

Nadia menarik napas. “Aku tidak membawa keluar. Aku bicara dengan ibuku.”

“Sama saja. Nanti Mama kamu ikut campur.”

Sari mengangkat jari, meminta Nadia tidak langsung menjawab.

Dimas melanjutkan, “Ibu sudah capek membuatkan jamu, kamu malah buang. Kamu juga belum jawab soal cuti. Aku sebagai suami berhak minta kamu mengurangi kerja.”

Nadia memejamkan mata. “Aku tidak akan berhenti kerja.”

Di seberang, Dimas diam.

“Apa?”

“Aku bilang aku tidak akan berhenti kerja. Aku akan tetap masuk besok. Kalau kamu ingin bicara soal program hamil, kita periksa berdua ke dokter. Bukan aku sendiri yang minum jamu tidak jelas.”

Suara Dimas turun. “Kamu menuduh aku bermasalah?”

“Aku tidak menuduh. Aku minta kita berdua diperiksa.”

“Laki-laki di keluargaku tidak ada yang mandul.”

Kata itu jatuh seperti batu.

Nadia membuka mata. Sari melihat wajah putrinya mengeras pelan.

“Aku juga tidak mandul,” kata Nadia. “Dan aku tidak mau kata itu dipakai untuk menghina siapa pun.”

“Kamu berubah sejak tinggal dengan Mama kamu.”

“Mungkin aku baru ingat aku punya suara.”

Dimas tertawa pendek. “Kalau kamu pulang nanti, kita bicara.”

“Aku pulang setelah magrib.”

“Jangan lama-lama. Ibu sudah menunggu.”

Telepon terputus.

Nadia menatap layar. “Tanganku gemetar.”

“Gemetar tidak apa-apa. Yang penting kamu tidak menelan kata-katamu lagi.”

Nadia menyeka ujung matanya. “Aku selalu takut terdengar durhaka.”

“Durhaka kepada siapa?”

“Kepada suami. Kepada mertua. Kepada rumah tangga.”

Sari menatap putrinya. “Durhaka itu kalau kamu sengaja menyakiti orang yang menjagamu. Kalau kamu membela diri dari orang yang menekanmu, itu bukan durhaka. Itu sadar.”

“Tapi di rumah Dimas, semua kata dibuat seperti dosa.”

“Maka jangan biarkan mereka memegang kamus hidupmu.”

Nadia menarik napas panjang. “Kadang aku iri melihat dokter lain pulang ke rumah dan cuma mengeluh soal pasien. Aku pulang malah dihitung masa subur.”

“Besok, sebelum masuk kerja, catat semua hal yang mereka paksa. Tanggal, jam, siapa yang bicara. Jangan pakai emosi. Pakai data.”

“Seperti rekam medis?”

“Ya. Kali ini pasiennya rumah tanggamu.”

Nadia mengangguk. Setelah beberapa saat, ia berkata lirih, “Ma, aku takut rumah tanggaku gagal seperti Mama.”

Sari menoleh. Kalimat itu menusuk, tetapi ia tidak marah. Anak-anak sering menyebut luka orang tua sebagai peta masa depan mereka.

“Rumah tanggaku tidak gagal karena aku pergi,” kata Sari. “Rumah tanggaku gagal karena aku terlalu lama tinggal sendirian di dalamnya.”

Nadia menangis lagi, kali ini tanpa suara.

Sore itu Sari menutup kios lebih cepat. Ia mengajak Nadia makan soto di warung pinggir jalan. Mereka duduk di meja panjang, berbagi perkedel, bicara tentang hal-hal kecil. Jadwal jaga. Harga sewa pikap. Lintang yang mengirim pesan suara meminta Sari datang lagi. Untuk beberapa menit, mereka terlihat seperti ibu dan anak yang tidak sedang dikejar apa pun.

Di tengah makan, Nadia menerima pesan dari Bu Marni.

Pulang jangan lewat isya. Besok kita ke rumah Tante Rukmini. Dia kenal tukang urut yang bagus untuk membuka jalan rezeki anak.

Nadia menunjukkan layar kepada Sari.

"Aku belum jawab."

"Tidak usah jawab panjang," kata Sari.

Nadia mengetik pelan.

Besok saya dinas. Kalau mau membahas program hamil, saya hanya bersedia konsultasi ke dokter bersama Dimas.

Balasan Bu Marni datang cepat.

Menantu baik tidak mengatur orang tua.

Nadia mematikan layar. Sendok di tangannya berhenti.

"Simpan," kata Sari. "Itu juga catatan."

Nadia mengangguk, lalu memotret layar itu dua kali dan mengirim salinannya ke email pribadi malam itu.

Saat Nadia hendak pulang, Sari memasukkan amplop cokelat ke tasnya.

“Apa ini?”

“Salinan dokumen hasil pemeriksaanmu, nomor pengacara, dan sedikit uang tunai. Simpan di tempat yang tidak diketahui Dimas.”

“Ma...”

“Bukan untuk bercerai. Untuk berjaga-jaga.”

Nadia menatap amplop itu. “Mama sudah memikirkan sejauh itu?”

“Aku dulu tidak memikirkan apa pun. Makanya sekarang aku belajar.”

Nadia memeluk ibunya di depan kios. Kali ini Sari membalas erat.

Dari seberang jalan, seseorang mengambil foto mereka dengan ponsel.

Sari tidak melihat.

Malamnya, foto itu masuk ke ponsel Bu Marni.

Pesan yang menyertainya singkat.

Menantumu makin sering ke tempat ibunya. Hati-hati, Bu. Perempuan yang habis cerai suka mengajari anaknya melawan suami.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!