NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Merah yang Sama

Saat membuka mata, Ryan tidak melihat langit-langit kamar asramanya.

Di atas sana hanya terbentang langit hitam legam tanpa bintang, bulan, ataupun awan. Seolah seluruh semesta telah dihapus dan menyisakan dirinya sendirian di tengah ketiadaan.

Ryan mencoba untuk bangun dan menegakkan tubuhnya. Namun, saat bergerak, ia tidak merasakan kelembutan kasur asrama yang seharusnya menopang punggungnya.

Anehnya, meski tidak ada satu pun sumber cahaya di tempat itu, ia bisa melihat dengan jelas kedua belah tangannya sendiri. Menatap jemarinya, Ryan teringat sesuatu yang familier.

Apakah ini dimensi batin?

Ia segera memeriksa sekeliling untuk memastikan posisinya. Di tengah-tengah kehampaan hitam yang tak berujung itu, berdiri tegak sebuah bangunan yang sangat dikenalnya.

Rumah tua yang menyimpan sisa-sisa kehangatan masa lalu sekaligus awal dari seluruh kutukan dalam hidupnya. Ryan memandangi pintu rumah yang tertutup rapat.

Tak menunggu lama terdengar suara derit pintu kayu tua yang bergeser. Sosok kakek misterius itu melangkah keluar, masih sama seperti dalam ingatan Ryan terakhir kali.

“Sudah belajar mengendalikan emosimu?”

“Mengendalikan emosi?” ulang Ryan.

“Benar,” kakek itu mengangguk pelan. “Untuk bisa mengendalikan kekuatanmu, kamu perlu belajar mengendalikan emosi. Bukankah selama ini kau hanya menekan emosimu?”

Ryan mengangguk pelan. Baginya, jika emosi itu dilepas, ia mungkin kehilangan semangat hidup... atau justru menghajar siapa pun yang membuatnya kesal. Ia pikir, menepis emosi adalah satu-satunya cara menjauhkannya dari masalah.

Namun, kakek itu menggelengkan kepala, menyayangkan pemikiran Ryan.

“Dengarkan baik-baik, Ryan. Bukan menekan emosi, tetapi mengendalikannya,” tegas sang kakek. “Dengan menekan emosi, kau hanya akan menimbun bom waktu.”

“Emosi apa yang harus kukendalikan? Amarah? Kesedihan? Atau... ketakutan?”

“Semua emosi,” jawab kakek itu tanpa ragu.  “Dengan mengendalikannya, pikiranmu akan tetap jernih, dan energi yang dihasilkan akan menjadi jauh lebih kuat serta patuh pada kehendakmu.”

Belum sempat Ryan mengajukan pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan siluet rumah tua dan sosok di hadapannya mendadak mulai mengabur.

“Waktunya sudah habis,”

“Tunggu dulu!” seru Ryan, menolak untuk kehilangan kesempatan ini lagi. Sambil melangkah maju dengan tergesa.

“Sebenarnya... kakek itu siapa?!”

Detik itu juga, pijakan di bawah kaki Ryan runtuh. Tubuhnya seketika terjatuh bebas ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar. Namun, tepat sebelum batinnya benar-benar terputus, sebuah bisikan samar namun jelas bergema langsung di lubuk hatinya. Sebuah jawaban yang selama ini ia nantikan.

“Aku kakekmu.”

Ryan tersentak.

Keringat dingin membasahi pelipisnya.

Saat membuka mata, ia kembali mendapati langit-langit kamar asrama. Sinar mentari pagi menerobos masuk dari celah jendela, menerangi ruangan yang semula remang dan menghangatkan kulitnya.

Ryan bangkit dan duduk di tepi kasur.

“Akan kutanyakan hal ini pada Om Jo,” bisik Ryan. Hanya pamannyalah satu-satunya keluarga tersisa yang mungkin memegang kunci rahasia masa lalu keluarganya.

Di dalam kamarnya, Rahman tengah menatap kosong ke arah dinding. Jarum jam di kamarnya berdetik pelan, menunjukkan pukul 09:10 pagi.

Meski selama ini Rahman selalu tampak tenang, isi kepalanya pagi itu dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Ia mengingat petugas kebersihan sekolah yang ditemuinya kemarin mendadak memancarkan aura merah selama beberapa detik.

Warna itu… sama dengan yang muncul di tubuh ayahnya ketika terbatuk dihadapannya saat itu. Dulu, ayahnya pernah memberitahunya. “Aura merah adalah tanda keberadaan hantu, atau... aura milik para pemuja iblis. Jadi berhati-hatilah.”

Pikiran itu seketika membuat dada Rahman sesak. Logikanya menolak keras spekulasi tersebut. Tidak mungkin ayahnya adalah seorang pemuja iblis. Begitu pula dengan Pak Dadang, seorang petugas kebersihan sederhana yang selalu tersenyum ramah. Ia benar-benar tidak bisa membayangkannya.

Ia butuh udara segar demi mengusir rasa cemas yang kian mencekik batinnya.

Rahman memutuskan untuk keluar dari kamar, menuju lapangan latihan.

Dari kejauhan, perhatiannya teralih pada siluet seorang pemuda yang tengah berlari dengan peluh yang bercucuran. Itu Agil yang tengah memutari lapangan berusaha menempa fisiknya.

Rahman menghampiri deretan kursi di tepi lapangan, lalu duduk sambil memperhatikan Agil yang masih berlari.

Menyadari kehadiran Rahman di pinggir lapangan. Ia mempercepat ritme larinya, melakukan sprint terakhir sebelum akhirnya berjalan pelan menghampiri Rahman. Dengan napas yang memburu dan kaos yang basah kuyup, Agil menjatuhkan diri di samping Rahman yang sejak tadi hanya menatap hamparan rumput.

“Hei, sedang banyak pikiran?”

“Bukan apa-apa,” jawab Rahman pendek.

Mendengar jawaban yang diplomatis itu, Agil tidak memaksanya untuk bercerita lebih jauh. Agil cukup tahu diri kapan harus mendesak dan kapan harus memberikan ruang bagi privasi kawannya.

“Ayo,” Agil tiba-tiba berdiri kembali, menepuk bahu Rahman. “Lebih baik ikut aku keliling lapangan daripada kamu cuma bengong sendirian di sini. “

Rahman menghela napas panjang dan segera berdiri menyusul langkah Agil. Mereka mulai berjalan santai memutari tepi lapangan yang luas, ditemani obrolan-obrolan ringan seputar kelas teori dan gurauan.

Sekitar sepuluh menit berlalu dalam ketenangan. Keduanya menangkap sosok yang tak asing di ujung lapangan. Pak Dadang sedang berada di sana, tampak sibuk dengan tugas hariannya.

Namun, ada yang salah. Langkah kaki Pak Dadang terlihat limbung dan tidak stabil. Dari jarak beberapa puluh meter, Rahman dan Agil menyaksikan Pak Dadang tiba-tiba menjatuhkan alat pembersihnya. Kedua tangannya bergerak cepat, mencengkeram dadanya sendiri dengan amat kuat seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa hebat.

Tanpa sempat mengeluarkan suara atau meminta pertolongan, petugas kebersihan itu seketika tumbang.

Agil langsung berlari secepat mungkin. Tetapi Rahman malah terdiam melihat aura merah dari tubuh Pak Dadang. Kali ini aura itu tidak lagi muncul sesaat. Warnanya justru semakin pekat, seolah sesuatu di dalam tubuh Pak Dadang sedang terbangun.

“Rahman! Sini bantu, cepat kita bawa ke UKS!”

Seketika tersadar, Rahman dan segera berlari menyusul. Bersama-sama, mereka membopong Pak Dadang, bergegas menuju UKS.

Di atas ranjang berseprai putih, Pak Dadang perlahan membuka matanya. Karena sudah bertahun-tahun bekerja di sekolah ini, ia langsung mengenali langit-langit ruangan itu.

“Pak Dadang sudah bangun rupanya. Sepertinya bapak sedang sakit, kenapa tidak mengajukan cuti saja?” sapa sebuah suara lembut di samping ranjang. Seorang petugas UKS berparas cantik yang mengenakan jas medis putih tengah duduk di sana.

Pak Dadang memaksakan sebuah senyuman tipis. “Saat pagi bapak hanya batuk ringan, Neng... tenaga juga rasanya masih kuat. Jadi bapak tidak tahu kalau tiba-tiba badan bisa langsung lemas begini.”

Srek.

Pintu geser UKS terbuka perlahan. Ryan, Rahman, dan Agil melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Sudah bangun, Pak!” sapa Agil dengan nada ceria. “Saat bapak pingsan tadi, saya yang menggendong bapak sampai ke sini loh. Makanya, lain kali kalau sedang tidak enak badan, mending cuti saja. Jangan dipaksakan.”

Pak Dadang tertawa singkat. “Waduh... terima kasih banyak loh, Nak. Bapak merepotkan kalian lagi.” Pandangan matanya kemudian bergeser melewati bahu Agil dan Rahman, lalu mendarat tepat pada sosok Ryan. “Bapak lihat... kalian berdua sudah bertemu dengan teman yang kalian cari-cari waktu itu, ya?”

Ryan mengangkat tangan kanannya sedikit, sebuah gestur berniat menyapa yang minimalis.

“Hahaha, ekspresinya masih sedatar yang bapak ingat,”

“Hehe, iya Pak. Teman kami yang satu ini memang agak kurang sop-“

Belum sempat Rahman menyelesaikan kalimatnya, tubuh Pak Dadang mendadak menyentak. Pria tua itu kembali terbatuk-batuk hebat.

Rahman seketika menegang.

Bulu kuduknya meremang.

Di mata Rahman, pemandangan itu berubah menjadi mimpi buruk. Aura merah di tubuh Pak Dadang kini membara jauh lebih pekat daripada sebelumnya.

“Minum dulu, Pak, lalu istirahat,” saran petugas UKS, menyodorkan segelas air hangat.

Setelah memastikan kondisi Pak Dadang sedikit tenang, petugas UKS itu mengalihkan pandangannya. “Kalian bertiga, tolong keluar dulu ya. Biarkan pasien beristirahat agar kondisinya tidak semakin menurun.”

Tanpa membantah, ketiganya melangkah keluar dari ruang UKS.

Ada sesuatu yang sangat tidak beres di sini.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Pak Dadang? Jika Pak Dadang memang seorang pemuja iblis, bukankah seharusnya fisik Pak Dadang menjadi jauh lebih kuat? Kenapa ia justru terlihat semakin melemah?

Rahman mengepalkan tangan.

Menolak mempercayai kemungkinan itu.

“Man, ada apa?” Ryan mencoba mencari tahu mengapa temannya itu terlihat linglung sejak keluar dari UKS.

Rahman menghentikan langkah kakinya di koridor yang sepi. Ia menatap Ryan, lalu beralih menatap Agil yang juga memandangnya dengan raut wajah penuh kebingungan. Tanpa penjelasan darinya, kedua temannya ini tidak akan pernah bisa memahami kengerian yang baru saja ia saksikan.

 “Ryan, bukankah aku pernah memberitahumu tentang kemampuanku?”

“Iya,”

Agil yang berdiri di samping mereka mengerutkan dahi, rasa penasarannya terpantik. “Memangnya kemampuan apa lagi yang kamu punya? Bukan tentang si harimau putih itu, kan?”

Rahman menggeleng pelan. “Aku bisa melihat warna aura spiritual seseorang. Bahkan sebelum orang itu mengaktifkan kekuatan mereka secara sadar.”

“Lalu?”

“Tadi... aku melihat tubuh Pak Dadang memancarkan aura berwarna merah pekat,” bisik Rahman, suaranya bergetar tipis. “Warna merah yang sama persis dengan yang dipancarkan oleh Jamal waktu itu.”

“Hah?!”

Mata Agil membelalak.

“Mana mungkin Pak Dadang berkomplot dengan Jamal atau sekte pemuja iblis! Dia itu cuma orang tua yang ramah.”

“Nah, iya kan? Itu dia masalahnya...”

“Kalau bukan pemuja... apa Pak Dadang sedang dikutuk?”

Kalimat yang keluar dari mulut Ryan membuat Rahman dan Agil seketika tercengang.

Mengapa aku tidak pernah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya?!

Seketika Rahman teringat adegan ketika ayahnya batuk, jika aura merah yang memancar pada ayahnya adalah sesuatu yang sama seperti Pak Dadang maka ayahnya juga sedang dalam bahaya.

Rasa dingin yang menjalar dari telapak kakinya membuat seluruh persendiannya terasa lemas. Jantungnya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya.

“Aku harus kembali ke Pak Dadang dan menanyainya secara langsung!”

Tanpa memedulikan panggilan Agil, Rahman berlari secepat mungkin kembali menuju ruang UKS, memacu seluruh tenaganya demi mencari kebenaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!