Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IV - Status yang Ditegaskan
Kirana akhirnya tertidur menjelang subuh, entah jam berapa persisnya, dan bangun kembali tiga jam kemudian oleh alarm yang berbunyi.
Bayangan kafe kecil dekat kampus, tangan yang dulu bertautan di atas meja, dua kata yang menghancurkan segalanya — semua itu masih menempel di kepalanya sepanjang pagi, mengikuti setiap langkah sampai ke kantor.
Ia nyaris lupa hari itu ada urusan untuk mengantar dokumen tambahan yang diminta sekretariat dewan investor, salinan lisensi lingkungan proyek yang tertinggal dari berkas presentasi minggu lalu. Tapi, Kantor pusat Cakra Investindo sedang direnovasi, jadi untuk sementara mereka meminjam ruang administrasi di lantai dasar gedung Wibowo Group.
Ia bisa saja mengirim kurir. Bisa juga minta Nadia yang mengantar. Tapi ada bagian kecil dari dirinya yang ingin datang sendiri — mungkin untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa ia bisa berjalan masuk ke gedung itu tanpa ada rasa yang mengganjal.
Di dalam mobil menuju Gedung Wibowo Group, ia sempat meyakinkan dirinya bahwa ini cuma urusan administratif biasa. Serahkan dokumen, tanda tangan, pulang. Lima belas menit, paling lama.
Ternyata ia salah menilai kekuatannya sendiri.
Lobi utama Wibowo Group begitu megah, membuat lobi kantornya sendiri terasa seperti ruang tamu apartemen kecil. Langit-langit menjulang tinggi, dihiasi lampu kristal besar tergantung di Tengah-tengahnya. Di tengah lobi, air mancur kecil mengalir tenang, dikelilingi kursi tunggu berlapis kulit yang harganya mungkin melebihi total perabot di ruang kerjanya.
Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara familiar dari arah pintu masuk.
"Radit! Aku dengar berita bagusnya!"
Kirana menoleh. Seorang perempuan muda, cantik, mengenakan pakaian kerja krem, melenggang masuk dengan percaya diri.
Radit berdiri di dekat lift, sedang berbincang dengan dua direktur senior. Mendengar suara itu, wajahnya berubah — bukan senang, tapi semacam senyum yang dipaksakan agar terlihat ramah.
"Valerie," Radit menyapa. "Aku nggak tahu kamu datang hari ini."
Valerie melangkah mendekat. "Tentu saja aku harus datang," katanya, cukup keras hingga terdengar oleh semua orang di lobi, termasuk beberapa staf yang sengaja memperlambat langkah untuk menguping. "Ayahku baru saja telepon ayahmu pagi ini. Katanya lamaran kita bisa dipercepat jadi bulan depan, bukan tahun depan seperti rencana awal."
Sesuatu di dalam diri Kirana runtuh, isi kepalanya berusaha keras mengingatkan bahwa ia tak punya hak apa pun untuk merasa sakit seperti ini. Tujuh tahun telah berlalu. Radit bukan lagi miliknya, dan memang tak pernah benar-benar jadi miliknya lagi sejak kejadian menyakitkan itu.
Tapi mendengar kata ‘*lamaran*’ diucapkan, ia merasa seperti ada tamparan yang tak pernah siap ia terima.
Valerie merangkul lengan Radit. "Aku udah mulai mikirin konsep dekorasinya. Tema klasik-modern kayaknya cocok, mengingat status keluarga kita berdua."
"Valerie," Radit berkata lebih pelan, "sekarang mungkin bukan waktu dan tempat yang tepat buat bahas ini."
"Kenapa nggak?" Valerie tertawa kecil dan ringan. "Semua orang di sini pasti udah tahu, kok. Bukan rahasia lagi kalau kita bakal menikah."
Kirana berdiri di dekat meja resepsionis, dokumen yang baru saja ia serahkan sudah terlupakan, jantungnya berdebar dan dadanya terasa sakit. Ia tahu, seharusnya ia segera pergi. Tapi kakinya seolah terpaku ke lantai marmer itu.
Dan tepat saat itu, mata Valerie berpindah ke arahnya.
"Oh," Valerie berkata, nadanya berubah — lebih dingin, lebih menyelidik. "Kamu pasti Kirana Ayu Pradipta. Aku dengar banyak tentang kamu belakangan ini."
Kirana memasang topengnya, senyum profesional tersungging di wajahnya meski dadanya masih terasa sesak. "Benar. Senang bertemu Anda."
"Aku juga senang akhirnya kita bisa ketemu langsung." Valerie melangkah lebih dekat, tersenyum ramah, meski ada sesuatu yang lebih tajam tersimpan di balik senyuman itu. "Perusahaan kamu cukup mengesankan, dari yang aku dengar. Sampai bikin Wibowo Group harus ketar-ketir buat proyek pesisir itu."
"Terima kasih," Kirana menjawab singkat, tak yakin harus merespons seperti apa.
"Radit bilang presentasi kamu luar biasa," Valerie melanjutkan, merangkul lengan Radit lebih erat, seolah sengaja menegaskan sesuatu. "Dia jarang banget muji kompetitor. Kalian pasti udah saling kenal lama sebelum ini, ya? Dunia bisnis properti Jakarta kan nggak terlalu besar."
Ada sesuatu dalam cara Valerie mengucapkan kalimat itu — terlalu halus untuk disebut tuduhan, tapi cukup tajam untuk membuat Kirana sadar bahwa Valerie sudah tahu, atau setidaknya curiga, ada sejarah di antara mereka.
Kirana melirik sekilas ke Radit. Wajahnya benar-benar tidak nyaman, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu yang ingin ia katakan.
"Kami satu almamater," Kirana menjawab hati-hati, memilih kalimat paling netral. "Jakarta memang nggak terlalu besar, seperti yang Anda bilang."
Valerie menatapnya lebih lama, seolah menimbang jawaban itu, lalu tersenyum lagi. "Aku harap kalian bisa tetap profesional selama proses evaluasi ini," katanya, nadanya kembali ringan meski ada peringatan tersirat di baliknya. "Dewan investor sangat menghargai kandidat yang bisa menjaga hubungan kerja yang sehat, bahkan dengan kompetitor mereka."
"Tentu," Kirana menjawab, mempertahankan senyum profesionalnya meski setiap kata dari mulut Valerie terasa seperti anjing penjaga sedang menandai wilayahnya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu," Radit akhirnya menyela. "Valerie, ayo. Aku ada rapat sebentar lagi."
Valerie mengangguk, melepaskan rangkulannya dari lengan Radit. "Sampai bertemu lagi, Kirana. Semoga proyeknya lancar buat kalian berdua, siapa pun yang menang nanti."
Kirana mengangguk, mengucapkan salam perpisahan yang sopan, meski di dalam dadanya sesuatu terasa hancur berkeping-keping.
Ia menyaksikan Radit dan Valerie berjalan menuju lift. Radit menoleh ke belakang, hanya sekali, sekilas — dan mata mereka bertemu beberapa detik sebelum pintu lift menutup di antara mereka.
Kirana berdiri di lobi itu lebih lama dari seharusnya, menahan diri agar tidak bertanya-tanya kenapa ini terasa begitu menyakitkan.
Beberapa staf yang tadi sengaja memperlambat langkah untuk menguping kini melirik ke arahnya, penasaran, seolah menunggu reaksi yang bisa jadi bahan gossip untuk teman makan siang. Kirana memaksa dagunya tetap terangkat, melangkah menuju pintu keluar.
Sudah tujuh tahun. Radit sudah bukan lagi bagian dari hidupnya. Ia tidak punya hak untuk cemburu.
Tapi jauh di dalam batinnya, sebuah suara kecil terus membisikkan pertanyaan yang sama: kalau Radit benar-benar sudah selesai dengannya tujuh tahun lalu, kenapa tatapannya di lift tadi terasa begitu penuh permintaan maaf?
...****************...
DRRRTTT.
Ponselnya bergetar dua kali di saku jasnya begitu ia keluar dari gedung, matahari siang menyambutnya dengan panas yang terasa asing setelah dinginnya AC lobi mewah itu.
Gimana urusan dokumennya? Udah kelar?
Ternyata, Nadia yang mengirimkannya pesan.
Kirana menatap layar lama sebelum mengetik balasan.
Udah. Tapi ada hal lain yang perlu gua ceritain. Nanti gua ceritain begitu sampai kantor.
Di dalam mobil, ia mencoba memaksa diri kembali fokus — daftar dokumen yang masih perlu disiapkan, jadwal rapat internal minggu depan, apa pun yang bisa mengalihkan pikirannya. Tapi jarinya berhenti di atas layar, karena bayangan Valerie merangkul lengan Radit terus berputar di kepalanya, menolak pergi.
Kapan terakhir kali ia merasa seposesif ini terhadap sesuatu yang bahkan bukan miliknya?
Jawabannya tujuh tahun lalu. Tepat sebelum semuanya rusak.
Dan ketika mobilnya mulai bergerak melewati jalanan Jakarta yang sibuk, satu pertanyaan terus menghantui pikirannya: kenapa satu tatapan singkat dari pria yang seharusnya sudah jadi masa lalu, masih bisa membuat dunia yang susah payah ia bangun terasa begitu goyah?
...****************...
Nadia sudah menunggu di depan pintu kantor begitu Kirana turun dari mobilnya, dua cangkir kopi take-away di tangan, seolah sudah menduga sahabatnya akan butuh sesuatu yang lebih kuat dari air putih.
"Cerita," Nadia berkata singkat, menyodorkan salah satu cangkir sambil menyeret Kirana masuk ke ruang kerjanya, lalu menutup pintu rapat-rapat.
Kirana duduk, menghela napas panjang sebelum akhirnya bicara. "Gua ketemu tunangan Radit di lobi Wibowo Group tadi."
Mata Nadia melebar. "Tunangan? Dia udah tunangan?"
"Belum resmi. Tapi katanya acara lamarannya dipercepat, bulan depan." Kirana meremas cangkir kopinya, matanya menerawang ke luar jendela. "Namanya Valerie. Dan dia... nggak tahu, deh, Nad. Kayaknya dia udah curiga ada sesuatu antara gua sama Radit. Caranya ngomong tuh nusuk, tapi halus banget."
"Terus lu bilang apa?"
"Gua bilang kita satu almamater. Netral banget." Kirana tertawa getir. "Tapi kayaknya percuma. Keliatannya dia udah curiga dari awal, sih."
Nadia duduk di kursi seberangnya, memperhatikan wajah sahabatnya dengan saksama. "Kirana, gua boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Lu masih ada rasa sama dia?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Ia membuka mulut untuk membantah. Tapi kali ini, kata-kata itu tidak mau keluar dari tenggorokannya.
"Gua nggak tahu," Kirana akhirnya mengaku, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Dan itu yang bikin gua takut."
Nadia tidak menjawab apa-apa, hanya menggenggam tangan sahabatnya sebentar, membiarkan keheningan mengisi ruangan — untuk saat ini, keheningan itu terasa lebih menenangkan daripada kata-kata apa pun.
Ketukan pelan di pintu memecah keheningan itu. Dimas menyembulkan kepala, membawa map berisi revisi anggaran. "Eh, maaf ganggu. Ini yang tadi —" Ia berhenti, memperhatikan mata Kirana yang berkaca-kaca. "Lu nangis?"
"Nggak," Kirana berbohong, meraih map dari tangan Dimas. "Alergi debu aja."
Dimas tidak percaya, itu jelas dari caranya menatap Kirana. Tapi ia memilih untuk tidak mendesak, seperti biasa. "Oke. Kalau lu butuh apa-apa, gua di ruangan sebelah."
Ia keluar, menutup pintu pelan-pelan. Nadia menunggu sampai langkahnya benar-benar menjauh sebelum berbisik, "Dia sayang banget sama lu, tahu."
"Gua tahu," Kirana menjawab, sembari menatap map di tangannya. "Makanya gua nggak mau nyakitin dia dengan sesuatu yang bahkan gua sendiri belum ngerti."
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪