Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Savanya membeku, saat mendengar pernyataan sang putri. Entah menatap, dadanya terasa sesak mendengar kalau Leticia tidak mau berurusan lagi dengan keluarga Morana.
“Leticia, tapi ini Ibumu…”
“Ibu yang sejak aku kecil tidak pernah memberiku kasih sayang, Ibu yang selalu menyalahkanku atau kesalahan yang tidak pernah aku lakukan. Dan itu masih ada banyak lagi peran Ibu yang tidak pernah aku rasakan, bahkan sama sekali tidak pernah aku rasakan!” Potong Leticia dengan tatapan lelahnya.
“Lebih jelasnya lagi, lusa aku akan datang ke kediaman Monara bersama Kak Max. Kita lanjut membicarkan hal ini di sana.” Leticia bahkan tidak mau menatap wajah Savanya.
“Mommy, aku pusing,” suara manja Leticia kini ditujukan kepada Calistha.
Dan Calistha langsung mengusap puncak kepala Leticia dengan penuh kasih sayang.
“Pasti kau merasa sangat lelah ya Sayang? Mommy akan mengantarmu pulang, biar temanmu diantar oleh Kai,” suara Calistha juga begitu lembut.
Savanya saja tidak pernah bicara selembut itu kepada Leticia.
Senyuman manis terpantri di bibir tipis Leticia dan itu adalah senyuman paling tulus yang pernah Savanya lihat. Dadanya semakin sesak melihat pemandangan yang begitu hangat antara putrinya dengan wanita lain.
“Iya Mom, sepertinya aku juga tidak bisa menyetir mobil sendiri,” jawab Leticia yang membuat kedua mata Savanya berkaca-kaca.
“Ada Mommy yang akan menyetir mobilmu, sekarang kita masuk ke dalam dan pulang! Besok saja melihat pembangunan tokomu,” Calistha menuntun Leticia memasuki mobil.
Elina mendekat, setelah semua orang membubarkan diri. Ia menepuk bahu Savanya.
“Aku harap Tante tidak mengganggu kehidupan Leticia lagi, sudah cukup Leticia menderita selama dua puluh tiga tahun. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, tetapi dia masih bisa tersenyum dan melewati hari-harinya dengan harapan kalau suatu hari dirinya akan menemukan kebahagiaan.”
Setelah mengatakan itu, Elina meninggalkan Savanya yang masih tetap diam di tempatnya. Saat matanya berkedip, Savanya merasakan cairan hangat keluar dari matanya.
Dengan langkah gontainya, ia berjalan menuju mobilnya. Namun Savanya tidak langsung pergi dari sana, ia masih terdiam dan kembali mengingat bagaimana tatapan Leticia kepadanya.
“Apa yang selama ini aku lakukan? Kenapa aku bisa sejahat ini kepada Leticia yang sama sekali tidak bersalah!”
Bahu Savanya terguncang hebat, ia menangisi kebodohannya selama ini. Kenapa baru sekarang dirinya sadar kalau semua perlakuannya kepada Leticia sudah keterlaluan.
“Aku sangat jahat! Aku adalah Ibu yang jahat!” Savanya memukul kepalanya sendiri, karena ia benar-benar bodoh.
“Putriku bukan hanya Leila, tetapi juga Leticia… tapi kenapa selama ini mataku selalu tertuju kepada Leila? Apa karena Leila memiliki tubuh yang lebih lemah dari Leticia? Tapi sekarang Leila sudah sehat, bahkan hidupnya jauh lebih baik dari Leticia.”
Savanya benar-benar menyesali perbuatannya, ia terus memukul kepalanya sendiri untuk menghukum dirinya yang sudah menyakiti hati Leticia begitu dalam.
“Bahkan aku menyerahkan Leticia kepada orang yang dikenal begitu kejam, aku juga berharap hidup Leticia menderita!” Savanya tiba-tiba tertawa, menertawakan kebodohannya yang sudah terlalu jahat kepada sang putri.
“Leticia, maafkan Ibu! Ibu bersalah kepadamu! Tolong maafkan Ibu, Leticia! Ibu benar-benar bodoh dan selalu menyakitimu! Apa Ibu pantas menerima maaf darimu?” Savanya terus menangis di dalam mobil.
Semua perlakuannya kepada Leticia kini berputar di kepalanya, membuatnya semakin merasa bersalah kepada sang putri.
...***...
“Sayang, apa perasaanmu sudah membaik?” Tanya Calistha sambil menoleh sekilas ke arah Leticia yang kini tersenyum manis.
“Sudah Mom, malah aku merasa lega dan juga puas melihat wajah Ibu yang terkejut. Awalnya aku merasa sakit hati mendengar alasan Ibu meminta uang sebanyak itu, tapi setelahnya aku merasa sangat muak dan tanpa sadar aku mengeluarkan kata-kata yang sedikit kasar,” jelas Leticia yang saat ini benar-benar merasa lega.
“Tidak apa-apa, keluarkan saja kata-kata kasar atau sebagainya. Dia memang pantas mendapatkan kata seperti itu, karena sudah menyakitiku terlalu dalam. Mommy juga merasa geram dan ingin memukul wajah menyebalkannya. Maaf kalau kata-kata Mommy sedikit berlebihan, tapi baru kali ini Mommy melihat seorang Ibu yang sangat jahat kepada putri kandungnya sendiri,” ujar Calistha dengan jujur.
Leticia hanya tertawa, ia tidak marah dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya.
Sekarang, tidak ada sedikitpun rasa kasihan untuk keluarga Morana. Leticia akan melihat seperti apa kehancuran keluarga Morana yang sekarang sedang kebingungan mencari uang.
“Aku jadi sedikit penasaran, kenapa mereka sampai kekurangan uang dan Leila juga tidak bisa pulang dari luar negeri?” Leticia menatap ke arah jalanan yang mereka lewati.
“Mungkin saja itu karma untuk mereka,” jawab Calistha yang terdengar masuk akal juga.
“Sekarang kau tinggal melihat kehancuran mereka, kemudian rasa penyesalan mereka. Pesan Mommy hanya satu, kau jangan mudah luluh dan gampang memaafkan mereka… kalau seandainya nanti mereka memohon-mohon kepadamu. Boleh egois, karena di sini kau yang disakiti dan mereka sudah menyakitimu selama dua puluh tahun.”
“Aku akan selalu mengingat pesan dari Mommy. Lagipula, untuk apa aku memaafkan mereka yang sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatan mereka kepadaku. Biarkan saja mereka menganggapku sebagai orang jahat, karena mereka yang lebih dulu memperlakukanku dengan jahat.”
Calistha tersenyum tipis, saat melihat sorot penuh kebencian dari mata hijau sang menantu.
Wanita paruh baya itu tidak akan marah kalau nanti Leticia akan menjadi orang jahat kepada orang-orang yang sudah menyakitinya, karena Leticia pantas untuk membalas rasa sakitnya.
Sedangkan di posisi Savanya, wanita paruh baya itu baru sampai di rumah dan matanya terlihat sangat bengkak. Jackson sudah menunggunya di depan pintu utama, dan tatapan pria itu sangat tajam.
“Apa yang kau lakukan? Memalukan nama Morana!” Bentak pria paruh baya itu.
Savanya tidak membalasnya, tubuhnya terasa lelah… begitu pun dengan hatinya yang masih begitu sakit mengingat perlakuannya kepada Leticia.
Jackson menggeram rendah, karena sang istri mengabaikannya. Dengan kasar ia menarik tangan Savanya dan dirinya dibuat terkejut saat melihat kedua mata sang istri yang terlihat sangat bengkak.
“Kenapa kau menangis? Apa dengan keadaanmu seperti ini, aku akan memaafkan kelakukan bodohmu itu?” Marah Jackson yang tidak akan luluh dengan keadaan istrinya.
“Aku jahat! Aku sudah jahat kepada Leticia,” gumam Savanya dengan suara seraknya.
Jackson mengernyit keningnya, lalu ia menyentuh kening istrinya yang terasa hangat.
“Pantas saja bicaranya ke mana-mana, ternyata demam!” Pria paruh baya itu menggendong sang istri yang ternyata sedang demam.
Namun Savanya terus memanggil nama Leticia dan meminta maaf kepada sang putri.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bertingkah sangat aneh sampai menyebut nama anak tidak tahu diri itu?”
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️