Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam itu, keheningan di dalam kamar terasa kian mencekam. Mereka tidur dengan posisi saling memunggungi. Tidak adanya balasan atau sepatah kata pun dari Renata membuat Aris lama-kelamaan merasa kesal dan jengkel. Dia mengembuskan napas kasar, menarik selimutnya, dan memilih untuk tidur dalam diam tanpa mau berusaha membujuk istrinya lagi.
Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Begitu fajar menyingsing, Renata merogoh ponselnya di bawah bantal. Dia segera menghubungi Ririn melalui pesan singkat, memberi tahu kalau hari ini dia tidak bisa masuk kerja karena badannya terasa sedikit tidak enak badan dan kepalanya pening. Ririn yang sangat mengerti bagaimana hancurnya keadaan psikis Rena saat ini pun langsung memberikan izin dengan senang hati.
“Iya, Mbak Rena. Istirahat saja di rumah. Lagipula suami saya juga libur hari ini, jadi dia bisa membantu saya menjaga bayi dan membersihkan rumah. Jaga kesehatan ya, Mbak,” balas Ririn menenangkan.
Di rumahnya sendiri, Rena masih tetap konsisten dengan keputusannya; dia enggan melakukan pekerjaan rumah tangga apa pun pagi ini. Dia hanya memandikan Dio, lalu mengantar putranya itu pergi ke sekolah. Sepulang dari sekolah Dio, Rena mampir ke warung tenda untuk membelikan Dio sarapan di luar, sekaligus mengisi perutnya sendiri yang terasa kosong.
Meski tidak menjawab sepatah kata pun atas ucapan Aris semalam mengenai rencana kedatangan sepupu jauhnya, Rena sebenarnya mendengar dan merekam semuanya dengan sangat jelas di dalam kepala. Dia sengaja mengambil libur hari ini karena ingin melihat dengan mata kepala sendiri; siapa sebenarnya saudara jauh mereka yang akan menambah beban dan menumpang hidup di rumah yang sudah sekacau ini.
Setelah mengantarkan Dio dan selesai menyantap sarapan yang tenang di luar, Rena mengayuh sepedanya kembali ke rumah. Ketika melangkah melewati pintu depan, dia melihat ibu mertua dan suaminya sedang duduk bersantai di ruang tengah. Mereka tampak sedang berbincang akrab dengan tawa renyah yang bersahutan—sebuah kehangatan yang tidak pernah sekalipun mereka bagikan kepada Rena atau Dio selama bertahun-tahun.
Namun, begitu mata mereka menangkap kedatangan Rena, tawa renyah itu seketika terhenti. Bu Broto dan Aris langsung diam dan terlihat sangat terkejut, karena mereka menduga Rena seharusnya sudah pergi bekerja jam segini.
"Lho, jam segini kok kamu sudah pulang, Ren? Kamu tidak kerja hari ini?" tanya Aris dengan kening berkerut heran, menatap jam dinding yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi.
Tapi Rena tidak peduli. Dia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan suaminya. Dia terus melangkah lurus menuju kamarnya dengan wajah sedingin es.
Melihat sikap acuh tak acuh menantunya, Bu Broto langsung naik pitam. Dia berdiri dari sofa dan meneriaki punggung Rena dengan suara melengking. "Rena! Kamu dengar tidak?! Jangan malas-malasan begitu! Cepat bersihkan rumah ini dan pergi ke pasar untuk memasak! Sebentar lagi akan ada tamu jauh yang datang ke rumah kita! Kamu harus menyambut mereka dengan layak!"
Teriakan itu seolah menguap begitu saja di udara. Rena tetap tidak peduli, dia melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri dan langsung menutup pintu.
Merasa harga diri ibunya diinjak-injak dan jengkel karena sikap membangkang istrinya yang semakin menjadi-jadi, Aris sampai menyusul Rena ke dalam kamar. Dia membuka pintu dengan kasar dan berkacak pinggang di depan Rena yang sedang duduk di tepi kasur.
"Rena, tolonglah jangan keterlaluan!" tegur Aris dengan nada tinggi yang tertahan. "Cepat keluar dan lakukan apa yang diperintahkan oleh Ibu tadi. Malu kalau nanti saudaraku datang dan rumah ini masih berantakan!"
Rena mengangkat wajahnya, menatap Aris dengan pandangan yang sangat menusuk. "Aku menolak, Mas. Aku sedang tidak enak badan hari ini, badanku lemas."
"Tidak enak badan bagaimana? Tadi saja kamu bisa mengantar Dio dan kelayapan di luar!" bantah Aris, wajahnya mulai memerah menahan gusar. "Cuma masak dan menyapu apa susahnya, sih?!"
Rena tersenyum sinis, menatap suaminya dengan pandangan meremehkan yang amat sangat. "Kalau kamu memang mau menyambut tamumu dengan mewah, belilah makanan jadi di luar sana, Mas. Bukankah uangmu selama ini masih tersisa sangat banyak dari gajimu sebagai pengawas lapangan? Jangan terlalu pelit untuk keluarga dan tamumu sendiri, Mas Aris. Kurasa membelikan makanan restoran untuk mereka bukanlah hal sulit bagimu."
Mendengar kalimat yang menyentil rahasia jabatannya itu, Aris langsung tertegun. Dia mengeraskan otot-otot rahangnya, merasa terpojok oleh ucapan Rena yang terasa sangat menyindir. Tanpa berani memperpanjang perdebatan, Aris berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah kaki yang lebar dan berdentum keras.
Di luar kamar, kembali terdengar omelan berapi-api dari ibu mertuanya yang mengutuk tabiat Rena, tapi Rena benar-benar sudah tidak peduli lagi. Baginya, suara-suara itu hanyalah angin lalu.
Di dalam keheningan kamarnya, Rena bergerak menuju lemari pakaian. Dengan gerakan yang tenang namun pasti, dia mulai melipat pakaian miliknya dan pakaian Dio. Satu per satu baju-baju itu dimasukkan, menaruhnya ke dalam dua buah tas punggung berukuran sedang yang sengaja dia siapkan.
Saat semua pakaian selesai dimasukkan, Rena menatap kedua tas itu dengan pandangan yang kosong. Ternyata, selama tujuh tahun membaktikan hidup dan tenaganya di rumah ini sebagai seorang istri dan menantu, pakaian miliknya dan pakaian Dio tidak terlalu banyak. Semua harta benda mereka di dunia ini hanya muat dimasukkan ke dalam dua tas ransel saja. Rena tersenyum miris, meratapi betapa miskinnya dia selama mendampingi Aris, sementara uang suaminya mengalir deras ke tempat lain.
Tok! Tok! Tok!
Tepat pukul delapan pagi, terdengar ketukan pintu depan diiringi suara seorang wanita muda yang mengucapkan salam dengan nada yang sangat manis dari arah luar.
"Assalamu'alaikum... Ibu... Mas Aris..." panggil suara itu.
Dari dalam kamar, Rena bisa mendengar dengan jelas bagaimana Bu Broto langsung berlari kecil menuju pintu depan dan menyambut tamu tersebut dengan senyum sumringah yang luar biasa lebar.
"Wa'alaikumussalam! Ya ampun, akhirnya datang juga! Ayo masuk, Nak, masuk!" seru Bu Broto dengan nada suara yang teramat renyah dan penuh kerinduan.
Kebisingan itu disusul dengan suara cicitan riang dari seorang anak kecil. "Nenek...!"
Mendengar panggilan 'nenek' dari suara anak kecil yang terasa sangat asing di rumah ini, rasa penasaran yang teramat besar seketika membakar dada Rena. Suara itu, seolah menarik benang merah yang dia temukan di seberang jalan kemarin siang.
Dengan perlahan, Rena membuka pintu kamarnya. Dia melangkah keluar menuju ruang tamu untuk melihat siapa sebenarnya tamu jauh yang disambut dengan karpet merah oleh keluarga suaminya itu.
Namun, begitu matanya menangkap sosok tamu yang berdiri di ambang pintu, seluruh persendian di tubuh Rena seketika melemas. Kaki Rena langsung membeku di tempatnya berdiri, matanya membelalak sempurna dengan dada yang terasa seperti dihantam oleh ribuan ton batu besar.