"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isyarat di ambang pintu
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah seolah badai besar yang mengguyur kota semalam tidak pernah terjadi. Aira turun dari taksi daring beberapa blok sebelum Menara Wijaya, lalu berjalan kaki menuju gedung kantor. Dia sengaja melakukan itu demi menjaga jarak aman dan memastikan tidak ada satu pun pasang mata karyawan yang melihatnya turun dari mobil mewah milik Rayyan.
Hari ini, Aira kembali mengenakan "perisai" andalannya: sebuah kemeja oversized berwarna pastel yang dipadukan dengan celana kulot kain yang longgar di bagian pinggang. Potongan baju itu menyembunyikan perut buncit empat bulannya dengan sangat sempurna. Di mata semua orang, dia hanyalah Aira Kirana—mahasiswi magang biasa yang pendiam.
Begitu melangkah masuk ke area lantai 35 untuk mengantarkan berkas rekonsiliasi bank ke meja eksekutif, suasana mendadak terasa dingin. Tepat di depan ruang kerja sang CEO, berdiri Sandra, asisten pribadi utama Rayyan yang baru kembali dari perjalanan dinas luar kota.
Sandra menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. Sebagai wanita karier yang merasa dirinya paling berkelas dan memiliki akses terdekat dengan Rayyan, Sandra selalu tidak suka melihat ada anak magang baru, apalagi yang berwajah polos dan cantik seperti Aira, berkeliaran di lantai eksekutif.
"Oh, jadi kamu anak magang jalur cepat yang sering diomongin orang-orang?" cibir Sandra sambil melipat tangan di dada, menghalangi langkah Aira. "Pakaianmu longgar-longgar sekali seperti mau ke pasar. Ini Menara Wijaya, korporasi internasional, bukan tempat penampungan tunawisma. Jaga penampilanmu, jangan memalukan divisi keuangan."
Aira menghentikan langkahnya. Kata-kata tajam itu menusuk telinganya, namun dia tidak membalas sepatah kata pun. Dia hanya menundukkan kepala, memeluk map dokumennya erat-erat di depan dada.
Sandra yang melihat kediaman Aira justru semakin melonjak. Dia melangkah satu langkah lebih dekat, berbisik dengan nada sinis, "Jangan pikir karena kamu masuk lewat jalur rekomendasi dekan, kamu bisa menarik perhatian Pak Rayyan, ya. Pria sekelas beliau tidak akan pernah sudi melihat gadis kelas bawah sepertimu. Jadi, tahu diri sedikit."
Mendengar nama suaminya disebut dengan nada peringatan seperti itu, Aira diam-diam menahan senyum di dalam hatinya. Dia sama sekali tidak merasa sakit hati dengan cibiran Sandra. Alih-alih marah, Aira justru memilih diam karena dia memegang teguh perjanjian rahasianya dengan Rayyan. Dia tidak ingin memicu keributan yang bisa membuat seluruh karyawan kantor tahu bahwa wanita berpakaian longgar yang sedang dicaci oleh Sandra ini... sebenarnya adalah istri sah dan Nyonya Besar dari bos tertinggi mereka.
"Baik, Bu Sandra. Maaf atas kelalaian saya. Berkas ini saya letakkan di meja depan, ya," jawab Aira dengan nada suara yang sangat tenang dan sopan.
Aira meletakkan dokumen tersebut, lalu membungkuk hormat sebelum membalikkan badannya untuk kembali ke divisinya di lantai bawah. Di balik punggung Sandra yang masih menatapnya dengan pandangan sinis, Aira berjalan dengan langkah santai, mengusap perut buncitnya pelan di balik kain kemeja. Rahasia besar ini adalah senjatanya, dan dia tahu, jika Rayyan sampai mendengar satu kalimat saja dari cibiran Sandra tadi, posisi asisten pribadi itu akan hilang dalam hitungan detik.
Aira baru saja membalikkan badannya untuk melangkah keluar dari area meja eksekutif ketika pintu kaca otomatis ruang kerja utama terbuka. Sosok tegap Rayyan Wijaya melangkah keluar dengan aura kepemimpinan yang begitu pekat. Setelan jas formal berwarna abu-abu gelap melekat sempurna di tubuhnya, membuatnya tampak luar biasa berwibawa pagi ini.
Melihat sang CEO keluar, Sandra seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi luar biasa ramah dan penuh pesona. Namun, ego dan rasa tidak sukanya pada Aira membuat wanita itu nekat melakukan tindakan kecil yang kekanak-kanakan. Saat Aira berjalan melewatinya, Sandra sengaja memundurkan langkahnya dan menyenggol siku tangan Aira dengan cukup keras.
Bruk.
Aira yang tidak siap sontak terhuyung satu langkah ke samping. Map kosong yang dipegangnya hampir saja terlepas dari tangan. Karena tubuhnya sedang mengandung empat bulan, keseimbangan Aira memang tidak sekuat biasanya, membuat gerakan terhuyungnya terlihat cukup kentara.
"Ups, maaf ya. Lantainya agak licin, makanya kalau jalan pakai mata," ucap Sandra dengan nada ketus yang disamarkan, berpura-pura seolah itu adalah ketidaksengajaan.
Sandra tidak menyadari bahwa setiap detail gerakan tangannya baru saja disaksikan langsung oleh sepasang mata elang Rayyan Wijaya.
Deg!
Suasana di lorong lantai eksekutif itu seketika mendadak mencekam. Aura di sekitar Rayyan berubah drastis menjadi sedingin es yang mematikan. Rahang tegas sang CEO mengeras sempurna, dan urat-urat di pelipisnya menegang menahan amarah yang siap meledak. Melihat istri sahnya—wanita yang semalam dia dekap dengan penuh kelembutan dan sedang mengandung penerus takhtanya—disenggol dengan sengaja oleh karyawannya sendiri, membuat darah Rayyan mendidih seketika.
Rayyan mengambil langkah lebar, mendekati Sandra dengan tatapan membunuh. Dia sudah membuka mulutnya, siap mengeluarkan kata-kata kasar yang bisa menghancurkan karier Sandra hari itu juga. Kalimat pemecatan mutlak sudah berada di ujung lidahnya.
"Kamu—"
Namun, sebelum kata-kata penuh murka itu lolos dari bibir Rayyan, Aira bergerak cepat. Gadis itu menegakkan tubuhnya, lalu dengan sengaja menatap langsung ke dalam manik mata suaminya. Di sela-sela kepanikan Sandra yang belum menyadari bahaya, Aira mengedipkan sebelah matanya dengan lembut ke arah Rayyan—sebuah isyarat rahasia yang sangat cepat namun sarat akan makna.
“Ingat perjanjian kita, Rayyan. Jangan buat semua orang tahu,” begitulah arti dari kedipan mata dan gelengan kepala kecil yang diberikan Aira.
Isyarat dari sang istri seketika bagai guyuran air es yang meredam amarah membara di dada Rayyan. Pria itu menghentikan kalimatnya di udara. Dia teringat kembali akan janji yang mereka sepakati di penthouse kemarin malam: di lingkungan kantor, status mereka harus tetap menjadi rahasia mutlak demi ketenangan Aira.
Rayyan mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana, mencoba sekuat tenaga menata kembali napas dan ekspresi wajahnya agar kembali datar dan dingin, meskipun matanya masih memancarkan kilat peringatan yang tajam pada asisten pribadinya.
"Ada apa ini?" tanya Rayyan akhirnya, suaranya terdengar berat dan penuh penekanan yang membuat Sandra merinding tanpa tahu sebabnya.
"Ah, tidak ada apa-apa, Pak Rayyan," jawab Sandra dengan senyum kaku, mendadak merasa ngeri melihat tatapan bosnya. "Hanya anak magang ini yang kurang hati-hati saat berjalan."
Rayyan tidak memedulikan ucapan Sandra. Mata elangnya beralih menatap Aira, memastikan dari jauh bahwa istrinya tidak mengalami cedera atau kesakitan akibat senggolan tadi. Setelah melihat Aira mengangguk kecil dengan sangat samar sebagai tanda dia baik-baik saja, barulah Rayyan bisa bernapas lega.
"Kembali ke divisimu," ucap Rayyan pada Aira dengan nada suara yang diusahakan sedatar mungkin, walau terselip sedikit kelembutan yang tersembunyi bagi yang menyadarinya. "Dan kamu, Sandra... ikut saya ke ruang rapat sekarang. Ada beberapa laporan kinerja timmu yang perlu saya 'evaluasi' dengan serius."
"B-Baik, Pak Rayyan," jawab Sandra gugup, mendadak merasa ada badai besar yang sedang menantinya di dalam ruang rapat.
Aira membungkuk hormat dengan sopan seperti anak magang pada umumnya, lalu melangkah pergi menuju lift dengan senyuman kecil yang terkembang di bibirnya. Di balik punggung suaminya yang kini sedang berjalan dengan aura dingin menakuti Sandra, Aira tahu bahwa meskipun mereka harus bersembunyi di balik perjanjian rahasia, Rayyan akan selalu menjadi perisai tak terlihat yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusiknya.