Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
DOR! DOR! DOR!
Tanpa menunggu aba-aba, pasukan Antonio langsung memberondong hanggar dengan senapan mesin kaliber berat. Skema senyap tadi berubah total menjadi medan perang terbuka yang sangat brutal dalam sekejap.
Anak buah Dominic yang sedang mengangkut barang 25 ton langsung terperangkap di posisi terbuka. Beberapa dari mereka bertumbangan seketika dengan tubuh yang hancur tercabik-cabik oleh peluru kaliber 50. Darah kembali menyembur, kali ini mengotori peti-peti emas dan persenjataan yang baru saja akan dijarah.
"Tuan! Ini jebakan! Perlindungan!" teriak Jeremy sambil melepaskan tembakan balasan, sementara Darius langsung memasang badan di depan Dominic.
Dominic berdiri di tengah kekacauan itu. Alih-alih panik, rahangnya justru mengeras sempurna dan sepasang mata elangnya berkilat memancarkan kegilaan murni yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Seringai maut (smirk) kembali terbit di wajah tampannya yang kini terciprat darah anak buahnya sendiri.
"Darius, Jeremy! Tahan garis depan, jangan biarkan mereka menyentuh truk logistik!" perintah Dominic, suaranya menggelegar memotong suara desingan peluru.
Darius dan Jeremy mengerti. Mereka berdua langsung melakukan perintah yang di katakan oleh sang Tuan.
Dengan menghindari peluru.
Dominic menarik dua pistol semi-otomatisnya dari balik jas. Dengan gerakan yang luar biasa cepat dan mematikan, ia menerjang maju menembus hujan peluru, mengincar langsung kepala sang ayah yang berdiri di seberang sana. Malam ini tidak ada lagi kata ampun; jika Antonio menginginkan perang berdarah, Dominic akan memastikan jalanan pelabuhan ini digenangi oleh usus dan otak pasukan si tua bangka itu.
DOR! DOR! DOR!
Dominic bergerak seperti bayangan hitam di antara desingan peluru. Dua pistol di tangannya menyalak tanpa henti, mengirimkan timah panas tepat ke dahi para tentara bayaran Antonio yang mencoba menghalangi langkahnya. Setiap kali Dominic menarik pelatuk, kepala musuh retak, menyemburkan gumpalan darah dan isi otak yang langsung hanyut tersapu air hujan di lantai beton.
Suasana di dalam hanggar berubah menjadi neraka jahanam yang luar biasa mengocok perut. Tembakan senapan mesin kaliber berat milik pasukan Antonio menghantam tubuh anak buah Dominic dan sisa pasukan umpan hingga hancur berkeping-keping. Potongan usus yang terburai, daging yang hancur tercacah, hingga bola mata yang lepas berserakan di atas peti-peti emas dan logistik 25 ton yang malam ini diperebutkan dengan darah. Bau anyir darah segar berpadu dengan bau kotoran manusia dari tubuh-tubuh yang tewas seketika, menciptakan aroma kematian yang begitu memuakkan.
"Habisi dia! Jangan biarkan bajingan kecil itu mendekat!" teriak Antonio dari balik perlindungan jip taktisnya, wajah tuanya mendadak pucat melihat bagaimana Dominic membantai pasukannya dengan tangan dingin tanpa rasa takut sedikit pun.
Dominic tidak memedulikan teriakan itu. Ketika peluru pistolnya habis, ia dengan santai menjatuhkan senjatanya, lalu merenggut sebilah senapan serbu otomatis milik mayat di bawah kakinya.
Dominic membalas rentetan tembakan itu dengan brutal. Ia berjalan maju menerobos hujan peluru, menginjak gumpalan daging dan genangan darah kental setinggi mata kaki tanpa berkedip. Bidikannya luar biasa akurat; rahang musuh hancur berterbangan, leher-leher putus terbasuh peluru, dan pekikan sekarat yang melengking memenuhi hanggar.
"Kamu sudah kalah, ingatkan bahwa aku adalah orang yang kau didik selama 30 tahun terakhir." Ucap Dominic dengan dingin.
"Kau pikir ucapan ku hanya omongan belakang? aku juga sama seperti kamu Dad. Ucapan selalu di iringi oleh aksi"
Antonio tidak bereaksi karena ia kalah jumlah dengan anak buah putra nya. Antonio hanya menatap dingin Dominic yang sudah berani menggagalkan transaksi nya.
Antonio menatap marah Dominic. Ini di luar predeksi nya.
"Ini peringatan yang yang pertama dan terakhir. Jangan sekalipun aku melihat kau mengganggu keluarga ku. Atau kau akan tahu akibat nya."
"Dan 25 ton mu tidak akan membuat mu jatuh miskin" Dominic tersenyum dengan kemenangan. Apalagi melihat wajah Daddynya yang sedang menahan amarah.
"Kau juga akan tahu akibat nya Dominic, karena telah mengganggu bisnis ku" jawab Antonio dengan tak kalah dingin juga dari Dominic.
Di matanya membagi bisnis adalah nomor satu hampir sama seperti presiden yang ada di Amerika itu.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan jadi gembel duluan." sinis Dominic.
DOR....
Suara dentuman keras yang memekakkan telinga tiba-tiba menggema dari arah lantai atas hanggar, memotong kalimat Dominic seketika. Peluru kaliber besar melesat cepat menembus kegelapan, menghantam tepat di bahu kiri Dominic hingga tubuh tegapnya terdorong mundur beberapa langkah. Darah segar seketika menyembur, membasahi kaus taktis hitam yang dikenakannya.
Jeremy dan darius kaget karena ada yang menembak Tuan mereka.
"Tuan!!" Teriak Darius segera melindungi nya.
Di saat yang sama, Jeremy dengan refleks secepat kilat langsung menarik pistolnya, mengarahkan bidikan ke arah koridor atas hanggar—tempat seorang penembak runduk (sniper) cadangan Antonio yang tersisa bersembunyi di balik bayang-bayang besi.
DOR! DOR!
Dua tembakan akurat dari Jeremy langsung menembus kepala penembak runduk tersebut, membuatnya jatuh terjerembap dari lantai atas dan mendarat mati dengan bunyi debuman keras di atas beton, tepat di dekat tumpukan mayat lainnya.
"Hahahaha....kau kalah satu point Dominic. Ingatkan juga bahwa aku yang mendidik mu." Tawa Antonio begitu renyah di malam yang kegelapan ini.
Sialan..." desis Dominic dengan suara baritonnya yang rendah dan sangat dingin.
"Satu poin?" Dominic mendengus sinis, sebuah smirk dingin yang teramat kejam terukir di bibirnya yang mulai pucat. "Kau menukar 25 ton seluruh hartamu, kematian tiga puluh pasukan elitmu, dan kehancuran total bisnismu... hanya untuk sebutir peluru di bahuku, Dad?"
"Jika ini adalah hasil dari 30 tahun didikanmu, maka kau adalah guru yang sangat buruk," bisik Dominic tepat di depan wajah ayahnya, suaranya terdengar begitu tenang namun sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Aku tidak kalah, Antonio. Peluru ini hanya menunda kematianmu menjadi sedikit lebih lambat dan jauh lebih menyakitkan."
DOR...
Dengan secepat kilat Dominic menembak paha Antonio.
"Itu balasannya untuk mu pria busuk, cuihh..." Puas Dominic.
Antonio memekik pelan. Ia menatap Dominic dengan marah. Bukan marah karena tembakan nya. Tapi marah karena perkataan yang di lontarnya.
"Kau... anak durhaka!" desis Antonio dengan suara serak yang bergetar hebat oleh murka, mengabaikan darah segar yang mengalir deras membasahi celana kain mahalnya. "Tanpa pria busuk ini, kau tidak akan pernah ada di dunia ini, Dominic! Kau tidak akan pernah memegang takhta sialan itu!"
Dominic sama sekali tidak bergeming. Mendengar makian itu, ia justru tertawa rendah—sebuah tawa dingin tanpa emosi yang terdengar sangat menyiksa di telinga Antonio. Dominic melangkah maju, menginjak tepat di atas luka tembak di paha Antonio tanpa belas kasihan, membuat pria tua itu kembali memekik tertahan hingga urat-urat di lehernya menegang parah.