Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Pagi itu aku terbangun dengan perasaan aneh. Hangat, bahkan terlalu hangat. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku benar-benar terkumpul. Dan ketika mataku akhirnya terbuka sempurna, napasku langsung tertahan di tenggorokan.
Saat ini, Mason berada sangat dekat di depanku. Begitu dekat sampai aku bisa merasakan napas hangatnya menyentuh wajahku secara samar. Salah satu lengannya melingkar di atas tubuhku dengan erat, sementara wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku sendiri. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena tidur, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan jauh lebih manusiawi dibanding biasanya.
Aku membeku. Jantungku langsung berdetak terlalu cepat. Untuk beberapa saat, aku bahkan tidak berani bergerak sedikit pun. Aku hanya menatap wajah Mason dalam diam, menikmati sesuatu yang bahkan tidak pernah berani kubayangkan sebelumnya.
Dalam tidur seperti ini, wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Tidak dingin, tidak penuh jarak, dan tidak seperti pria yang terus membangun dinding tinggi di antara kami sejak awal. Dan untuk pertama kalinya, aku bisa melihat betapa tampannya suamiku dari jarak sedekat ini.
Aku menahan napas kecil ketika pandanganku jatuh pada bibirnya, lalu pada garis rahangnya yang tegas. Bahkan aroma tubuhnya terasa begitu dekat sampai membuat pikiranku kacau sendiri.
Aku tidak tahu berapa lama aku menatapnya seperti itu. Sampai akhirnya bulu mata Mason bergerak pelan. Dan beberapa detik kemudian, matanya terbuka.
Tatapan kami langsung bertemu. Dan aku pun spontan menegang. Mason tampak membeku sesaat sebelum akhirnya menyadari posisi kami. Tatapannya turun pada lengannya yang masih melingkar di tubuhku, lalu kembali ke wajahku lagi. Dan secepat itu pula ia langsung menarik diri.
“Maaf.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Aku perlahan bangkit duduk sambil masih mencoba mengatur napas. Sementara Mason sudah menjauh ke sisi ranjang lainnya dengan ekspresi yang kembali tertutup seperti biasa.
“Tidak apa-apa,” jawabku pelan.
Namun dadaku terasa sedikit sesak. Karena ada sesuatu yang terdengar menyedihkan dari situasi itu. Bagaimana mungkin seorang suami meminta maaf hanya karena tertidur sambil memeluk istrinya sendiri?
Aku menggigit bibir kecil sebelum buru-buru turun dari ranjang. “Aku akan ke kamar mandi dulu,” gumamku pelan.
Mason hanya mengangguk kecil.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku langsung bersandar di sana sambil memegang dadaku sendiri. Jantungku masih berdegup kacau, sementara bayangan wajah Mason yang begitu dekat tadi terus berputar di kepalaku tanpa ampun.
Aku membuka keran wastafel lalu membasuh wajahku berkali-kali dengan air dingin. “Tenang, Hazel,” bisikku pada diri sendiri.
Namun bagaimana aku bisa tenang setelah bangun dalam pelukan pria yang kucintai? Dan yang lebih menyedihkan lagi, pria itu justru meminta maaf karenanya.
Aku keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian dengan wajah yang masih sedikit panas. Sementara Mason sudah berdiri di dekat lemari sambil mengenakan kemejanya.
“Kau bangun lebih siang dari biasanya,” katanya tanpa menoleh.
Aku langsung melirik jam dan membelalak kecil. “Oh tidak…”
Ini pertama kalinya aku bangun sesiang ini sejak menikah. Aku pun buru-buru keluar kamar dan hampir berlari menuju dapur. Namun langkahku langsung melambat begitu melihat Sarah sudah berada di sana bersama beberapa pelayan.
Wanita itu menoleh ke arahku sambil tersenyum lebar. “Nah, pengantin baru akhirnya bangun juga.”
Wajahku langsung memanas.
“Maaf,” ucapku cepat. “Aku tidak sengaja bangun terlambat.”
Sarah malah tertawa kecil sambil melambaikan tangannya santai. “Tidak masalah. Kau pasti memiliki malam yang panjang dan melelahkan.”
“Sarah…”
Aku langsung salah tingkah sampai tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Sarah tampak sengaja menikmati reaksiku.
Aku akhirnya membantu para pelayan menyiapkan sarapan di meja makan sambil berusaha mengalihkan rasa malu di wajahku. Namun Sarah masih sesekali tersenyum geli setiap kali menatapku.
Tidak lama kemudian Mason turun dari lantai atas dengan penampilan rapi seperti biasanya. Ia langsung berjalan menuju meja makan sambil menyapa ibunya.
“Ibu masih di sini ternyata.”
Sarah mendecakkan lidah kecil. “Ya. Ibu baru mau pulang pagi ini. Tenang saja, Mason. Ibu tidak akan mengganggu malam panjang kalian lagi.”
Mason duduk di kursinya lalu melirikku sekilas. Dan hanya karena tatapan singkat itu saja, jantungku kembali mengingat kejadian pagi tadi.
Aku hampir tersedak jusku sendiri.
Mason langsung membalas dengan nada datar. “Jangan menggodanya, Bu.”
“Aku tidak sedang menggoda.” balas Sarah sambil tersenyum.
“Benarkah?” Mason mengangkat alis. “Wajah Hazel sudah merah sejak tadi.”
Aku langsung menunduk pura-pura fokus memotong roti. Sementara Mason tampak menahan senyum tipis sebelum akhirnya mulai menikmati sarapannya. Dan ini pertama kalinya aku menyaksikan Mason tersenyum saat tengah membicarakan tentangku
Pagi itu suasana meja makan terasa jauh lebih ringan dibanding biasanya. Sarah terus berbicara tentang banyak hal, sementara Mason menanggapinya sesekali dengan nada santai. Dan aku hanya duduk di antara mereka sambil diam-diam menikmati suasana hangat yang jarang kurasakan seperti ini.
“Aku harus kembali pagi ini,” ujar Sarah setelah sarapan hampir selesai. “Rowan sudah menghubungiku sejak tadi malam.”
Mason langsung tersenyum kecil. “Ayah pasti merindukan Ibu.”
“Tentu saja.” Sarah terkekeh ringan. “Kami tidak seperti dirimu yang lebih mencintai pekerjaan dibanding rumah sendiri.”
Mason hanya menggeleng kecil mendengar sindiran itu. “Aku akan mengantar Ibu,” katanya kemudian. “Sekalian berangkat ke kantor.”
Sarah tampak puas mendengarnya. Sebelum benar-benar pergi, ia berdiri lalu memelukku erat. Aroma parfumnya yang lembut langsung memenuhi indra penciumanku. “Aku harap kau bahagia selalu, Hazel,” bisiknya pelan sambil mencium pipiku hangat.
Dadaku langsung terasa menghangat. “Terima kasih, Sarah.” jawabku lirih.
Kadang aku merasa Sarah terlalu baik padaku. Dan justru karena itu, aku semakin takut mengecewakannya.
Beberapa menit kemudian Mason dan Sarah akhirnya pergi meninggalkan rumah. Suasana rumah pun langsung terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Aku berdiri cukup lama di ruang tengah sambil memandang rumah yang kembali tenang. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa sedikit bosan.
Aku akhirnya mengambil ponselku lalu membuka grup chat sahabat-sahabatku.
'Aku butuh keluar rumah sebelum menjadi gila.'
Pesanku langsung dibalas cepat.
'AKHIRNYA PENGANTIN BARU MUNCUL JUGA.' , balas Amber.
'Kupikir kau terlalu sibuk berbulan madu.' , balas Brie.
'Jadi, jam berapa kita berkumpul?' , tanya Linda langsung pada intinya.
Aku tertawa kecil sendiri sebelum akhirnya mengajak mereka bertemu di kafe favorit kami. Sebelum pergi, aku tetap menghubungi Mason lebih dulu. Aku
'Aku pergi bertemu teman-temanku siang ini.'
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
'Baik.'
Hanya satu kata. Datar, singkat, dan sangat Mason. Namun setidaknya ia tidak melarangku.
Siang itu aku tiba di kafe favorit kami dengan perasaan jauh lebih ringan. Tempat itu masih sama seperti biasanya—hangat, ramai, dan dipenuhi aroma kopi yang nyaman. Amber langsung memelukku begitu aku datang. Rambut cokelat panjangnya bergoyang saat ia tertawa heboh.
“Lihat dirimu,” katanya sambil menatapku dari atas sampai bawah. “Kau benar-benar sudah menjadi istri orang.”
Brie ikut terkekeh kecil dari kursinya. “Dan kau masih terlihat kalut.”
“Aku memang sedang kalut,” sahutku jujur.
Linda yang duduk paling tenang hanya tersenyum kecil sambil mendorong minuman ke arahku. “Minum dulu sebelum mulai ceritamu.”
Dan seperti itu akhirnya kami menghabiskan siang bersama. Amber bercerita soal persiapannya untuk program master di New York bulan depan. Ia terdengar sangat bersemangat sampai matanya berbinar terus sepanjang cerita. Brie menunjukkan foto-foto perjalanan traveling terakhirnya ke Yunani sambil mengeluh karena hampir kehilangan paspornya di bandara. Sementara Linda bercerita bahwa ia akan kembali ke Dallas untuk membantu bisnis butik keluarga mereka minggu depan.
“Aku akan merindukan kalian,” gumamku pelan setelah mendengar semuanya.
“Kami juga,” sahut Amber cepat. “Makanya kau harus bahagia supaya hidup kami tenang.”
Aku tertawa kecil. Namun suasana berubah begitu mereka mulai menanyakan kehidupan pernikahanku.
“Jadi?” Amber langsung mencondongkan tubuh penuh rasa penasaran. “Bagaimana kehidupanmu dengan suami super tampanmu itu?”
Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mulai bercerita. Tentang rumah besar Mason, tentang betapa hangat dan penyanyang sosok Sarah, tentang sikapnya yang tetap dingin, tentang aturan yang ia buat seperti tidur di kamar yang terpisah, juga tentang Jennifer. Dan entah kenapa, semakin banyak aku bicara, semakin terasa jelas betapa rumit pernikahanku sebenarnya.
“Adik tirinya... sepertinya terlalu dekat dengannya,” gumam Brie sambil mengerutkan dahi.
“Tapi mungkin karena mereka tumbuh bersama,” balasku cepat. “Jennifer hanya terlihat cukup protektif.”
Amber langsung menggeleng heboh. “Kalau aku jadi kau, aku sudah menarik kerah suamiku dan menciumnya sampai dia lupa namanya sendiri.”
“Amber!” seruku, menahan perasaan malu.
“Apa? Itu berhasil di film-film.”
Brie ikut menyela santai. “Atau kau bisa pura-pura jatuh di depannya dengan pakaian seksi.”
“Itu bahkan jauh lebih buruk.”
Kami semua tertawa kecil mendengar ide-ide aneh mereka. Namun Linda yang sejak tadi diam akhirnya bersandar tenang sambil menatapku lembut.
“Hazel,” katanya pelan. “Kurasa kau terlalu fokus membuat Mason mencintaimu.”
Aku terdiam.
“Cobalah mengenalnya lebih dulu,” lanjut Linda. “Bukan sebagai pria yang harus jatuh cinta padamu… tapi sebagai seseorang yang memang ingin kau pahami.”
Aku menatapnya perlahan.
“Jangan buru-buru mengejar perasaan,” lanjutnya lagi. “Kadang orang seperti Mason justru takut ketika seseorang datang terlalu cepat.”
Kalimat itu membuatku diam cukup lama. Karena untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang akhirnya benar-benar memahami situasiku. Dan mungkin, Linda benar. Mungkin aku memang harus berhenti berlari terlalu cepat. Mungkin yang dibutuhkan Mason bukan seseorang yang terus mengejarnya. Tapi seseorang yang bersedia berjalan pelan di sampingnya.