Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan sayang
Raina dan Sari sedang membersihkan area lantai 2 gedung perkantoran itu. Sejak insiden dihari pertama bekerja, Bu Dewi sudah tidak pernah lagi terlihat ada di kantor. Menurut kabar yang ia terima, jika wanita itu sudah di pecat.
Tidak ada yang tahu alasannya. Raina berpikir apakah mungkin karena insiden itu? atau hanya kebetulan semata? Entahlah. Tapi yang pasti Raina tetap bersyukur, karena ia bisa bekerja dengan baik tanpa ada yang mengganggu.
"Rain!" Sari memanggil.
"Apaan?"
"Kamu tahu gak sih bos disini siapa?"
Raina menggeleng.
"Katanya, semua karyawan disini tuh gak ada yang pernah lihat wajah bosnya!" Sari makin mendekat. "katanya juga, dia itu misterius banget. Bahkan asistennya aja jarang banget kelihatan!"
Raina yang awalnya tidak terlalu tertarik dengan obrolan itu jadi penasaran. "Semisterius itu memang?"
Sari mengangguk. Karena sejak perusahaan itu berganti kepimpinan, tidak ada satupun karyawan yang pernah bertamu dengannya. Dan, semua urusan apapun akan ditangani oleh asistennya.
"Memang nama bosnya siapa?" Raina jadi makin penasaran.
"Kalau gak salah namanya Hadijaya Bimantara!" jawab Sari.
Deg!
Raina terdiam seketika. "Apa nama asistennya Laras?"
Sari mengangguk cepat. "Kok kamu tahu? aku kira kamu si yang gak pernah bergosip gak akan tahu.
Raina lanjut kerja. Ia tidak lagi berkomentar apapun Otaknya juga sedang bekerja dan menyimpulkan sesuatu yang ia yakini.
"Apa perusahaan ini milik Mas Hadi? Karena dari nama bosnya sampai asistennya terlalu janggal kalau hanya kebetulan. Memang sih Mas Hadi gak pernah jelasin siapa Laras. Tapi dari cara Mas Hadi bicara dan dari sikap Laras terlalu hormat... mustahil jika mereka hanya sekedar berteman!" batin Raina.
Memang Raina sudah tahu jika Hadi bukan pria biasa seperti yang banyak orang ketahui. Tapi jujur, Raina tidak pernah berekspektasi jika tenyata Hadi adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
"Raina kamu tidak apa-apa?" Sarai kembali menghampiri. Karena ia melihat Raina mendadak diam tak bersuara.
"Aku gak apa-apa! Lanjut kerja dulu ya?"
Raina membawa trolinya menuju ke tempat yang berikutnya. Melanjutkan pekerjaan adalah cara yang paling ampuh untuk melupakan hal yang sama sekali bukan urusannya.
Ya, Raina tidak ingin mencari tahu hal ini lebih dalam. Hadi pasti punya alasan kanapa ia menyembunyikan identitasnya dengan rapat. Raina akan berpura-pura tidak tahu apa-apa, sampai Hadi sendiri yang berniat untuk bercerita padanya.
Ting!
Dering notifikasi di ponselnya berbunyi. Raina menghentikan pekerjaan sejenak.
"Sayang, nanti kita makan siang bareng ya?"
Kedua pipi Raina merona. Entah sejak kapan Hadi memanggil dirinya dengan sebutan sayang. Rasanya berbunga-bunga dan sedikit malu. Padahal pesan itu hanya dia seorang yang baca. Tapi Raina merasa seperti banyak pasang mata yang memperhatikannya.
"Ternyata begini rasanya dipanggil sayang!" Raina menangkap kedua pipinya sendiri.
Ia makin malu, tapi senang juga. Karena sepanjang perkenalan sampai pernikahannya bersama Robby. Pria itu bahkan bisa dihitung pakai jari, berapa kali memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Oke, aku tunggu di tempat biasa!"
Raina menyimpan kembali ponselnya tanpa menunggu balasan dari kekasihnya. Ah! ia benar-benar seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
---
Tidak terasa jam makan siang datang dengan cepat. Raina yang biasanya cuek dengan penampilan saat bekerja. Kini, di dalam toilet ia merapikan kembali riasannya yang sedikit berantakan.
"Parfum jangan sampai lupa!"
Raina menyemprotkan parfum beraroma vanila lembut ke berbagai titik di tubuhnya. Leher, pergelangan tangan tak luput dari semprotan cairan harum itu.
"Eseeh! tumben berdandan. Kayak mau ketemu gebetan aja!" ejek Sari, yang baru keluar dari salah satu bilik.
"Apaan sih Sar!" Raina seperti maling yang ketahuan mencuri. Padahal tidak ada yang salah dari apa yang ia lakukan.
"Uluh uluh! Salting nih yeee!"
Sari makin gencar menggoda. Sejak ia mengenal Raina, baru kali ini wanita itu merona dan malu-malu kucing seperti ini.
"Mau ketemu pacar ya?" Sari yang terlalu kepo, tentu ingin tahu semuanya.
Raina buru-buru menyimpan kembali alat make-upnya. Tanpa sadar, sejak ia menjalin hubungan dengan Hadi... ia jadi rutin membawa peralatan yang membuat wajahnya jadi cantik.
"Kamu mau kemana?" Sari mengikuti, saat Raina melangkah cepat menuju keluar kantor.
"Bukan urusan kamu! makan siang aja sana!"
Raina melangkah cepat. Ia tidak ingin Sari tahu jika ia akan jalan dengan pria lain. Ya Sari tahu jika ia sudah punya suami. Jadi Raina tidak ingin Sari tahu lebih jauh. Karena urusan pribadinya, tidak akan pernah menjadi konsumsi temannya.
Ia melambaikan tangan saat melihat Hadi duduk di atas motor kesayangannya.
Hadi tersenyum, ia membalas lambaian tangan kekasihnya yang berjalan menuju ke arahnya.
"Sudah dari tadi?" tanya Raina.
Hadi menggeleng. "Barus saja! kamu cantik sekali?"
Bluush!
Raina kembali merona. Pipinya merah, setelah kembali mendapatkan pujian itu.
"Dasar gombal!" Raina memukul pelan lengan Hadi. Ia tak kuat. Rasanya sudah terlalu tua untuk ada di posisi ini.
"Aku tidak bohong! kekasihku memang yang paling cantik!"
"Sudah ah jangan terus menggodaku! aku laper nih!"
Hadi mengangguk. Ia memakaikan helm di kepala Raina, lalu menurunkan pijakan motor untuk kekasihnya.
"Pegangan!" Hadi melingkarkan tangan Raina di pinggangnya.
Dekat, sangat dekat. Tubuh mereka menempel, bahkan Hadi dapat merasakan empuknya belahan gunung kembar milik Raina.
"Sepertinya besar!" batinnya. "astaga Hadi, fokus!"
Pria itu melajukan motornya menuju ke sebuah restoran. Restoran sederhana yang Raina kira biasa. Tapi ternyata itu adalah tempat makan eksklusif yang bahkan harus reservasi dari jauh hari.
"Restorannya kok sepi ya? Sepertinya gak ada yang makan disini selain kita?" Raina berbisik, saat mereka sudah ada didalam ruang privat yang ada hanya mereka berdua.
Hadi tersenyum. Kekasihnya ternyata sangat polos. Untuk hal seperti ini saja ia tidak tahu. Berbeda dengan Monica yang tahu segalanya.
"Ini namanya ruang privat sayang!" jalas Hadi. "Disini bukan tidak ada yang makan. Tapi restoran ini memang memberikan privasi dan kenyamanan penuh kepada pelanggannya!"
Raina mengangguk dengan bibir bulat. "Oh gitu! katrok banget aku!"
Raina tertawa sendiri. Ia sama sakali tidak malu dengan kepolosannya atau mungkin kebodohannya itu.
"Setelah ini, aku akan menunjuk banyak hal yang sebelumnya tidak kamu tahu sayang!"
Raina mengangguk cepat. Ia sudah tidak fokus dengan apa yang Hadi ucapkan. Karena sekarang, fokusnya sedang tertuju pada piring makanan yang menggugah selera.
"Laper?"
"Iya!" Raina tertawa malu sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Makanlah!" Hadi mengusap lembut puncak kepala kekasihnya.
Raina mulai menyicipi makanan. Awalanya sedikit, hanya ingin tahu rasa. Tapi setelah tahu kenikmatannya, Raina langsung makan dengan lahap. Tidak ada yang ia tutupi, ia makan seperti biasa. Tidak ada kata jaim. Tidak ada kata pura-pura lembut. Raina menjadi dirinya sendiri, dan Hadi... sangat menyukainya.
"Sayang! minggu depan kita ketemu orangtua ku ya?" ucap Hadi.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang