Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C023: Ingin Pulang
...Selamat Baca...
Setelah hari pertemuan dan pembukaan rahasia tanggal 24 Agustus, suasana di kediaman itu berubah perlahan namun pasti.
Bukan lagi tempat yang dingin atau penuh sekat, melainkan ruang yang mulai bernapas. Waktu berjalan santai,
Mengikuti irama pergantian musim — akhir panas bergeser lembut ke awal gugur; udara pagi makin sejuk, angin berhembus pelan menyapu halaman.
Beberapa hari berlalu dengan tenang.
Pagi‑pagi Liana selalu bangun lebih awal. Ia duduk di meja kerjanya, meneliti jadwal yang tersusun rapi, memeriksa satu per satu rencana unggahan dan kegiatan.
Minggu kedua sudah berjalan baik:
•Senin: jalan‑jalan ke pantai
•Selasa: lagu sampiran Flying — karya Aurora, dibawakan sebagai Putri Bangsawan Virlan
•Rabu: istirahat
•Kamis: bagian pertama A Day in My Life
•Jumat: obrolan langsung bagian kedua
•Sabtu: segmen bercanda ringan dengan Alexander
•Minggu: istirahat kembali
Kini masuk minggu ketiga, pola sama namun materi berganti: perjalanan lanjutan, rekaman keseharian lanjutan, obrolan lanjutan, dan lagu sampiran baru berjudul Firework karya Lilyan.
Begitu terus berputar, dua hari libur tetap dipertahankan agar ia tidak kelelahan. Menjelang akhir bulan, lagu asli keduanya dirilis, disambut antusiasme tinggi,
Jumlah pengikut di Neotube perlahan namun pasti naik hingga mencapai angka 50 ribu. Sebuah pencapaian yang ia nikmati dengan tenang, tanpa terburu‑buru.
Salah satu pagi yang cerah, setelah selesai menulis catatan, Liana berjalan turun perlahan ke lantai bawah.
Di dapur, di antara aroma masakan yang sedap, ia melihat Viviane sedang berdiri di dekat meja persiapan.
Wanita itu mengenakan pakaian sederhana namun tetap anggun, sedang mengamati cara pelayan mengolah bahan seolah sedang menikmati suasana yang lama tak ia rasakan.
Liana mendekat dengan sopan, sedikit ragu namun hangat.
“Selamat pagi, Nyonya Besar,” sapanya lembut.
Viviane menoleh, tersenyum ramah. Ia mengangguk. “Selamat pagi, Liana. Tidurmu nyaman di sini?”
“Sangat nyaman, terima kasih,” jawab Liana.
Hari itu berlalu tenang. Begitu juga hari‑hari berikutnya. Viviane tidak langsung pergi; ia tampak betah,
Berkeliling pelan, menyentuh perabotan lama, duduk di teras, ikut hadir saat sarapan atau makan malam tanpa menuntut tata krama kaku.
Barulah pada hari keempat atau kelima, saat mereka sedang duduk santai sambil menikmati teh sore, perubahan itu terjadi secara alami.
Viviane menatap Liana yang duduk tak jauh darinya, tatapannya begitu lembut seperti melihat anak sendiri.
“Liana…” ucapnya pelan.
“Di sini, di rumah ini… tidak perlu lagi memanggilku dengan sebutan yang begitu berat."
"Aku bukan lagi Nyonya Besar yang duduk di kursi tertinggi. Jika kau berkenan… cukup panggil aku Ibu. Rasanya akan jauh lebih tenang bagi kita berdua.”
Liana tertegun sejenak, lalu rasa haru menyelinap. Ia mengangguk perlahan. “Baik… Ibu. Terima kasih.”
Hari‑hari terus berjalan, terasa lambat namun penuh makna. Alexander selalu ada di dekatnya, tenang dan mendukung.
Suasana di meja makan makin santai; tidak ada urutan duduk yang kaku, tidak ada aturan ketat. Liana tetap mengenakan pakaian kerjanya yang rapi namun nyaman, siap berangkat ke studio setelah makan.
Suatu pagi, saat percakapan mengalir ringan, Viviane menyinggung hal yang sudah lama tersimpan di benaknya.
“Kalian berdua sudah saling menemukan kembali, dan segala masa lalu yang memisahkan kini sudah terang,” ucapnya pelan.
“Maka aku ingin bertanya: kapan kalian berencana melangkah lebih jauh? Kapan ikatan ini akan diresmikan?”
Liana terkejut begitu rupa hingga tersedak minumannya. Ia terbatuk sedikit, wajahnya memerah karena kaget dan malu.
Alexander segera menggeser kursinya mendekat, menepuk punggungnya dengan lembut dan teratur, lalu menatap Viviane dengan tenang.
“Kami sudah membicarakannya,” jawabnya pelan namun tegas.
“Aku tidak ingin membebani Liana. Aku akan menunggu sampai masa jeda pasca‑perceraian berakhir sepenuhnya, sampai statusnya resmi menjadi janda."
"Saat waktunya tiba, kami akan menikah — namun sederhana dan tertutup saja. Kami ingin Liana bebas berkarier tanpa gangguan.”
Viviane mengangguk paham, lalu menoleh kepada Liana yang sudah tenang kembali.
“Lalu apa rencanamu ke depannya, selain bersama dia?”
Liana tersenyum percaya diri namun lembut. “Aku bekerja sebagai penyanyi bertopeng, dengan nama Putri Bangsawan Virlan."
"Namun aku juga berharap bisa melangkah lebih jauh, mungkin menjadi aktris kelak. Topeng ini melindungiku sekaligus membiarkanku berkarya bebas.”
“Sebuah jalan yang indah,” puji Viviane tulus.
“Dan aku mendukungnya sepenuhnya. Aku rasa aku akan tinggal di sini lebih lama dulu; rumah ini terasa jauh lebih hidup daripada kediaman utama yang penuh aturan kaku.”
Bulan pun berganti. Udara makin sejuk, dan di suatu sore yang tenang, saat mereka bertiga sedang bersantai di ruang tengah,
Liana menatap jendela sejenak sebelum berbalik menatap Alexander dengan pandangan yang jujur dan penuh harap.
“Alex… aku sudah lama menyimpan keinginan ini, dan sekarang rasanya waktunya sudah tepat,” ucapnya pelan.
“Aku ingin pulang ke Virlan. Aku ingin melihat tanah kelahiranku, dan yang paling penting… aku ingin bertemu Ayah.”
Alexander langsung menggenggam tangannya erat. “Tentu saja kita akan pergi. Apa pun yang kau inginkan, akan aku usahakan terwujud.”
Dari sudut ruangan, Viviane menutup buku yang dibacanya perlahan. Matanya berbinar rindu yang mendalam. Ia berdiri dan menghampiri mereka.
“Jika kalian berangkat… izinkan aku ikut serta,” ucapnya lembut.
“Sudah puluhan tahun aku tidak ke sana. Aku sudah berpesan pada suamiku bahwa ini waktuku sendiri — liburan panjang, tenang, tanpa urusan keluarga. Aku ingin ikut dengan kalian.”
Maka kesepakatan pun terjalin perlahan namun mantap. Mereka akan berangkat, menetap di sana selama satu bulan penuh.
Segala alasan disusun rapi:
•Bagi Liana: membuka cabang studio di tanah asalnya.
•Bagi Alexander: membuka kantor cabang perusahaannya, yang belum pernah ada sebelumnya di sana.
•Bagi Viviane: perjalanan istirahat sekaligus mengenang masa lalu.
Pembicaraan itu berakhir dalam keheningan yang hangat. Waktu persiapan kini tinggal berjalan pelan menuju keberangkatan.