Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Derita Pelakor Murahan
"Mulai malam ini, hubungan kita selesai! Jangan pernah lo telepon gue, jangan pernah lo berani datang ke kantor gue lagi!" bentak Randy dengan napas memburu, menunjuk wajah Valeria dengan telunjuknya yang gemetar.
Valeria yang terduduk di lantai setelah diguncang beringas oleh Randy, mendongak dengan tatapan tidak percaya. Air matanya mengalir deras, merusak sisa riasannya.
"Mas... kamu tega mutusin aku cuma karena ketakutan? Aku lakuin ini semua demi kita, Mas Randy! Demi kita bisa bersatu!"
"Demi kita? Lo murni gila, Valeria! Lo hampir ngebunuh anak gue!" Randy melangkah mundur, menatap Valeria dengan pandangan jijik dan penuh ketakutan.
"Mulai besok, semua fasilitas kartu debit dan aliran uang ke lo gue stop. Urus hidup lo sendiri!"
Tanpa menunggu jawaban, Randy berbalik, membanting pintu rumah sewa itu dengan sangat keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Valeria menjerit histeris, memukul-mukul lantai dengan kepalan tangannya.
Dia jatuh miskin seketika. Seluruh perhiasan emasnya sudah habis dijual demi membayar Bitcoin untuk Alvin, dan kini Randy memotong satu-satunya sumber keuangannya.
Randy mengendarai mobilnya membelah malam dengan tubuh yang tidak berhenti bergetar. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya, suasana terasa begitu sunyi dan mencekam.
Di ruang makan yang remang, Anita sedang duduk dengan sangat tenang. Di atas meja di depannya, berserakan beberapa lembar berkas dengan map tebal. Anita sedang menyesap teh hangatnya perlahan saat menyadari kedatangan suaminya.
"Lama banget pulang kantornya, Mas? Jam sebelas malam baru sampai," sapa Anita dengan nada suara yang teramat tenang, namun sanggup membuat bulu kuduk Randy berdiri.
"Habis menenangkan seseorang yang lagi panik di luar sana, ya?"
Randy menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mencoba tersenyum, meski senyum itu terlihat sangat kaku.
"Ah... enggak, Sayang. Tadi... tadi ada urusan mendesak sama klien di luar kota. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Pelipis kamu kan masih luka."
"Aku nggak bisa tidur, Mas. Setiap kali merem, aku selalu ingat gimana truk raksasa itu hampir menggilas mobilku dan Vano," jawab Anita santai, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Randy yang terus bergerak gelisah.
Anita menggeser map tebal di atas meja ke hadapan Randy.
"Karena itu, demi masa depan dan keamanan keluarga kita, aku butuh kamu tanda tangan ini."
"Ini... berkas apa, Anita?" tanya Randy dengan tangan gemetar saat membuka lembaran kertas tersebut.
"Surat pengalihan 50% saham perusahaan sepenuhnya atas nama aku dan Vano, serta dokumen jaminan perlindungan aset hukum," sahut Anita anggun.
"Kalau sampai terjadi 'sesuatu' yang melibatkan hukum pada diri kamu di masa depan, aset perusahaan kita akan tetap aman dan tidak bisa disita. Kamu mau kan melindungi aku dan Vano?"
Kata 'melibatkan hukum' langsung menghantam mental Randy yang memang sedang berada di ambang batas. Pikirannya dipenuhi ketakutan bahwa polisi akan mendeteksi transaksi dark web Valeria dan menyeret namanya sebagai sekongkol juga kasus pembunuhan Melati.
Tanpa membaca lebih detail lagi, Randy meraih pulpen di saku kemejanya.
"Tentu, tentu saja. Aku bakal tanda tangan demi keamanan kalian," ucap Randy tergesa-gesa.
Dengan tangan bergetar, dia membubuhkan tanda tangannya di atas beberapa lembar dokumen tersebut.
Anita menerima kembali berkas itu, menyatukannya dengan rapi, lalu mengulas senyuman kemenangan yang sangat tipis.
"Bagus, Randy. Setengah dari kejatuhanmu sudah sah secara hukum di atas kertas ini," batin Anita puas.
Beberapa bulan kemudian, neraka yang sesungguhnya baru saja dimulai bagi Valeria. Suara gedoran kasar di pintu depan membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak.
Brak! Brak! Brak!
"Valeria! Keluar kamu! Bayar uang sewa rumah ini yang sudah nunggak dua bulan!" teriak suara melengking Ibu kos dari luar.
Valeria membuka pintu dengan wajah kusut dan pucat.
"Bu... tolong beri saya waktu beberapa hari lagi. Saya pasti bayar."
"Nggak ada hari-hari lagi! Kalau sore ini kamu nggak transfer tiga puluh juta, semua barang kamu saya lempar ke jalanan! Dasar perempuan nggak tahu diri!" semprot Ibu pemilik rumah sebelum melengos pergi.
Valeria menutup pintu, tubuhnya merosot ke lantai. Perutnya berbunyi nyaring karena lapar, namun saat dia memeriksa aplikasi mobile banking-nya, saldo rekeningnya benar-benar menunjukkan angka nol akibat pemblokiran sepihak dari Randy.
Kelaparan, jatuh miskin, dibuang oleh suami orang,, dan dikejar oleh ancaman pengusiran. Otak Valeria yang sudah terdistorsi oleh depresi dan obsesi gila kini benar-benar patah. Pandangan matanya mendadak kosong, berganti dengan kilat kegilaan murni yang mengerikan.
"Gue nggak akan biarkan kalian bahagia di atas penderitaan gue..." desis Valeria dengan tawa yang terdengar mengerikan di dalam rumah sewa yang sepi itu.
"Kalau gue harus hancur... kalian berdua juga harus hancur bareng gue!"
Sore harinya, Anita mencoba menenangkan diri dengan berjalan-jalan di sebuah mall di pusat kota Jakarta. Saat sedang melangkah keluar dari salah satu toko pakaian anak, sebuah suara familier yang hangat mendadak memanggil namanya dari arah belakang.
"Anita?"
Anita menoleh dan mendapati Trian sedang berdiri di sana, mengenakan kemeja kasual yang rapi.
Wajah pria itu seketika dipenuhi rasa cemas yang teramat sangat begitu melihat wajah risau Anita. Tanpa memedulikan kecanggungan, Trian langsung melangkah mendekat.
"An, kamu nggak apa-apa? Aku lihat berita di media sosial soal kecelakaan beruntun kamu beberapa bulan lalu. Kenapa kamu gak ngabarin aku? Aku cemas setengah mati, mau hubungi kamu tapi takut ganggu," ucap Trian dengan nada suara yang bergetar penuh kekhawatiran yang tulus.
Anita tersenyum tipis, merasa sedikit hangat di tengah badai teror yang sedang dihadapinya.
"Aku nggak apa-apa, Trian. Untunglah aku dan Vano selamat tanpa luka serius."
Trian menghela napas lega, namun matanya tetap menatap Anita dengan lekat. Dia kemudian menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan area koridor mall itu cukup sepi sebelum menurunkan volume suaranya menjadi bisikan yang serius.
"Anita... soal rencana kamu yang waktu itu. Kapan kamu akan benar-benar mengajukan perceraian dan meninggalkan Randy? Pria itu dan selingkuhannya sudah terlalu berbahaya buat keselamatan kamu dan Vano."
Mendengar pertanyaan itu, sorot mata Anita mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh tekad yang tidak tergoyahkan. Dia menatap Trian dengan tajam, lalu menjawab dengan suara yang pelan namun sarat akan ketegasan.
"Aku nggak akan menggugat cerai Randy sekarang, Trian. Tidak sampai aku mendapatkan bukti mutlak tentang kematian Melati."
Trian tertegun, menahan napasnya sejenak.
"Aku tahu kecelakaan kemarin dan kematian tragis Melati dulu berada di bawah benang merah yang sama," lanjut Anita, mengepalkan tangannya dengan erat.
"Randy dan Valeria harus membayar semuanya. Aku baru akan melepaskan mereka ke pengadilan agama setelah aku memastikan mereka berdua mendekam di balik jeruji besi atas kasus pembunuhan."
Bersambung