Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Puncak Pertarungan
Diaken memandang ketiga murid yang tersisa. Ning Su berdiri dengan pedang tipis di tangan, Qiao Rin memutar kedua belatinya pelan, dan Huang masih dengan empat gelang besi di tangan dan kakinya.
"Kalian bertiga istirahatlah. Nanti saat siang hari, kita akan lanjutkan pertarungan terakhir."
Huang, Ning Su, dan Qiao Rin mengangguk.
"Peraturan untuk memenangkannya jelas," lanjut Diaken. "Yang kalah pertama kali akan mendapatkan posisi tiga. Setelah tinggal dua peserta, siapa yang bertahan hingga akhir menjadi pemenang utama."
Ketiganya mengangguk lagi.
Kemudian.
Huang segera pergi menuju tempat di pinggir arena untuk bermeditasi. Dia duduk bersila di atas lantai batu. Energi spiritual di sekitarnya perlahan bergerak memasuki tubuhnya, memulihkan luka-luka kecil dan tenaga yang terkuras.
Waktu berlalu. Matahari naik perlahan hingga tepat di atas kepala.
Tepat siang hari, Huang membuka matanya. Dia bangkit lalu berjalan menuju arena. Semua penonton tampak antusias. Para murid luar berdesakan di barisan depan, sementara murid dalam duduk di area lebih tinggi dengan wajah serius. Lei Shan melambai ke arah Huang. Luo Mei hanya mengangguk kecil.
Huang tersenyum dan mengangguk.
Ning Su dan Qiao Rin sudah menunggu di arena. Kedua wanita itu berdiri dengan aura dingin masing-masing. Pedang tipis Ning Su berkilat di bawah sinar matahari. Dua belati Qiao Rin berputar pelan di tangannya.
Huang tiba di arena. Diaken langsung meminta mereka bertiga membentuk posisi segitiga. Huang berdiri di satu sudut, Ning Su di sudut lain, dan Qiao Rin di sudut terakhir. Jarak di antara mereka sama panjang.
Kemudian...
Diaken mengumumkan dengan suara lantang, "Pertarungan final resmi dimulai! Dan ketiga murid ini sudah resmi menjadi murid dalam, hanya tinggal menunggu peresmian di sekte bagian dalam."
Teriakan dan sorakan langsung meledak dari kerumunan.
"Ketiganya jadi murid dalam!"
"Sangat Pantas! Mereka memang yang terkuat!"
"Tapi siapa yang akan jadi juara?"
Diaken melanjutkan, suaranya mengatasi keramaian. "Namun, siapa yang mendapatkan posisi satu dan dua akan mendapatkan hadiah tambahan. Hanya posisi ketiga yang tidak mendapatkan apa pun selain diterima menjadi murid dalam."
Setelah itu Diaken mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Bersiap... Mulai!"
Ning Su dan Qiao Rin saling berpandangan. Tatapan mereka bertemu selama satu tarikan napas. Lalu keduanya secara bersamaan menatap Huang.
Ning Su berbicara dengan nada sopan namun dingin. "Maafkan kami, Saudara Huang. Kami akan menyerangmu bersama-sama. Tidak ada larangan sama sekali untuk bekerja sama di pertarungan ini. Sebaiknya kau menyerah jika tidak ingin terluka parah."
Huang terkejut. Memang benar tidak ada aturan yang melarang kerja sama. Tapi dia tidak menyangka dua wanita ini akan bersatu melawannya.
"Nona, kalian berdua sungguh tidak adil," ucap Huang sambil menangkupkan tangannya. "Baiknya kita lakukan pertarungan tiga arah, tanpa ada teman. Barulah itu pertarungan yang adil."
Qiao Rin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak suka laki-laki. Karena itu kau harus keluar terlebih dahulu."
Huang mengangkat tangannya hendak berbicara lagi.
BRAKK!
Suara kendi arak pecah menggema keras ke seluruh pelataran.
"HUAANG!!!" Tetua Mo berdiri dari kursinya. Wajahnya muram, urat di lehernya menonjol.
Dia tidak memedulikan para tetua lain yang menatapnya terkejut. Bahkan Yun Guicheng sedikit mengernyitkan dahinya.
"Jangan jadi pengecut! Kau dengar?!"
Huang menegang. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa dingin. Dia mengingat pesan gurunya beberapa hari yang lalu. Pesan untuk menjadi tegas dan pesan untuk tidak menjadi pengecut seperti sebelumnya.
Huang mengeluarkan pedang perak dari cincin ruang. Tatapannya berubah.
"Kalian berdua, silakan serang bersamaan. Aku... tidak mungkin kalah hari ini. Mustahil!"
Ning Su dan Qiao Rin sedikit terkejut dengan perubahan sikap Huang yang mendadak. Namun keduanya langsung kembali tenang. Mereka mengedarkan energi spiritual ke seluruh tubuh, lalu bersiap menyerang.
Huang juga mengangkat pedangnya, siap menghadapi apa pun.
Wush!
Mereka bergerak bersamaan. Ning Su melesat dari kiri, pedang tipisnya menebas horizontal ke arah pinggang Huang. Qiao Rin datang dari kanan, kedua belatinya menusuk ke arah bahu dan paha.
Huang langsung mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah.
"Teknik Pedang Gravitasi!"
Wumm!
Tekanan besar langsung menimpa area di sekitarnya. Ning Su dan Qiao Rin merasakan tubuh mereka tiba-tiba menjadi sangat berat. Langkah mereka melambat. Bahu mereka membungkuk sedikit. Namun karena mereka berdekatan, keduanya bisa melihat dengan jelas arah serangan Huang.
Ning Su tiba-tiba menendang keras ke arah Qiao Rin.
Duk!
Tubuh Qiao Rin terlempar keluar dari area gravitasi. Dia berguling di lantai sekali, lalu bangkit dengan cepat.
Begitu beban gravitasi hilang, Qiao Rin langsung melesat lagi ke arah Huang. Kedua belatinya menebas menyilang ke dada.
Huang buru-buru menangkis dengan pedangnya.
Trang!
Percikan api keluar.
Fokus Huang terbagi. Pada saat itu tekanan gravitasi pada Ning Su berkurang drastis. Ning Su langsung memanfaatkan celah itu. Dia melepaskan diri dari area gravitasi dengan melompat mundur, lalu mengayunkan pedangnya.
"Tebasan Angin!"
Tebasan itu sangat tipis. Hampir tidak terlihat oleh mata biasa. Seperti benang sutra yang melayang di udara.
Huang hendak menghindar ke kiri. Namun Qiao Rin sudah menusuk ke arah kakinya.
Sret!
Satu belati Qiao Rin berhasil melukai betis kanan Huang. Darah segar mengalir deras.
Huang langsung berlutut, kehilangan keseimbangan sesaat.
Pada saat yang sama, tebasan Ning Su mengenai punggung Huang.
Slash!
Punggung Huang terkoyak begitu lebar. Jubah abu-abu murid luar miliknya robek panjang, darah langsung membasahi seluruh punggungnya. Lukanya sangat dalam, hampir mengenai tulang belakang.
"Astaga!"
"Lihat punggungnya!"
"Itu pasti sakit sekali!"
Semua penonton melihat luka itu dan merasa ngeri. Luo Mei mengepalkan tangannya. Lei Shan menggigit bibirnya sendiri.