Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7
Siska mundur dua langkah dengan tubuh gemetar hebat. Tangannya mencengkeram kusen pintu kamar utama begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah hendak melompat keluar dari dadanya. Mata Siska masih terpaku pada kolong lemari rias kuno di sudut kamar yang gelap.
Namun, hanya dalam kedipan mata, bayangan pucat dan dua titik merah menyala itu lenyap. Kolong lemari itu kembali kosong, hanya menyisakan kegelapan yang sunyi.
Siska mengucek matanya berulang kali. Napasnya tersengal-sengal. Apakah dia berhalusinasi lagi? Mengapa teror ini seolah-olah hanya mengejar dirinya, sementara penghuni rumah yang lain tampak tenang-tenang saja?
"Siska? Kamu kenapa berdiri di situ?"
Suara lembut Selfi memecah ketegangan. Kakak iparnya itu perlahan mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang. Wajah Selfi memang tampak lelah karena menahan perutnya yang sering kencang, tetapi ekspresinya sangat normal. Dia tidak melihat apa pun. Dia tidak merasakan atmosfer dingin yang mencekam yang baru saja membuat Siska hampir pingsan.
"Eh... enggak apa-apa, Mbak. Siska... Siska cuma memastikan Mbak Selfi aman," jawab Siska dengan suara yang masih agak bergetar. Dia berusaha keras menyembunyikan rasa takutnya.
Selfi tersenyum, lalu mengelus perut buncitnya. "Mbak enggak apa-apa, Sis. Tapi sepertinya dedek bayi beneran mau keluar hari ini. Melilitnya sudah mulai teratur, setiap sepuluh menit sekali."
Siska langsung mendekat, mencoba mengalihkan fokusnya ke kondisi persalinan Selfi. Saat memegangi lengan Selfi untuk membantunya berdiri, Siska sempat melirik ke arah tangan kanan kakak iparnya. Cincin permata merah itu masih melingkar erat di sana, tertutup sebagian oleh lengan daster. Kulit di sekitarnya tampak semakin membiru, seolah cincin itu sudah mengikat urat nadi Selfi sepenuhnya. Namun, Selfi sendiri seperti tidak merasakan sakit sama sekali pada jarinya. Dia hanya fokus pada rasa mulas di perutnya.
Tak lama kemudian, suara deru sepeda motor terdengar berhenti di halaman depan. Itu Ferdi. Dia pulang lebih cepat karena firasatnya sebagai seorang calon ayah merasa tidak tenang di kantor.
"Ferdi! Alhamdulillah kamu sudah pulang," seru Selfi saat suaminya bergegas masuk ke dalam rumah dengan wajah panik.
"Sel, kamu sudah ngerasa mules banget? Air ketuban belum pecah, kan?" tanya Ferdi beruntun sambil memegangi kedua pundak istrinya.
"Belum, Mas. Tapi rasanya sudah makin sering. Kita ke rumah Bu Bidan sekarang saja, yuk. Baju-baju bayi dan kain jarik sudah disiapkan Siska di dalam tas," kata Selfi dengan tenang.
Tanpa membuang waktu, Ferdi segera memanggil mobil sewaan milik tetangga depan lorong untuk membawa Selfi. Siska ikut masuk ke dalam mobil, duduk di jok belakang sambil mendekap tas besar berisi keperluan persalinan. Selama perjalanan menuju rumah bidan desa yang terletak sekitar dua kilometer dari rumah mereka, Siska terus menatap ke luar jendela.
Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, dia merasa lega karena mereka keluar dari rumah tua yang menyeramkan itu. Di sisi lain, bayangan bayi berkaki bengkok bermata merah yang dia lihat di bawah lemari rias tadi terus membayangi pikirannya. Siska merasa ada sesuatu yang salah, tetapi dia tidak tahu harus bicara kepada siapa. Jika dia bercerita pada Ferdi, kakaknya pasti akan menganggapnya stres karena kurang tidur.
Rumah Bidan Tuti terasa jauh lebih hangat dan menenangkan. Suasana di klinik bersalin sederhana itu cukup ramai dengan suara radio yang menyala kecil dan aroma minyak telon yang khas.
Setelah diperiksa di atas ranjang bersalin, Bidan Tuti tersenyum ramah pada Ferdi dan Selfi. "Wah, ini sudah pembukaan tujuh, Bu Selfi. Pinter banget, jalannya cepat. Perkiraan saya, sebelum magrib bayinya sudah lahir. Ibunya tenang saja ya, atur napasnya yang teratur."
Ferdi menarik napas lega. Dia duduk di sebelah bantal Selfi, menggenggam erat tangan kiri istrinya, memberikan semangat dan bisikan doa tanpa henti.
Sementara itu, Siska memilih untuk menunggu di ruang tunggu depan. Dia duduk di kursi kayu panjang, menatap lantai semen dengan pandangan kosong. Waktu berjalan lambat. Jam dinding di ruangan itu berdetak konstan, menemani rasa cemas Siska yang tidak kunjung surut.
Sore berganti malam. Tepat saat azan magrib berkumandang dari masjid desa, dari arah dalam ruang bersalin, terdengar suara tangisan yang sangat nyaring dan melengking sehat.
Oeeeekkk... Oeeeekkk... Oeeeekkk...
Jantung Siska berdegup kencang, namun kali ini karena rasa haru. Itu adalah suara tangisan bayi normal. Suara yang begitu bersih, penuh kehidupan, dan sangat berbeda jauh dengan suara geraman mengerikan yang ada di dalam halusinasi atau mimpi buruknya selama ini.
Pintu ruang bersalin terbuka. Ferdi keluar dengan mata yang berkaca-kaca karena menangis bahagia. Dia menatap Siska dengan senyuman paling lebar yang pernah Siska lihat.
"Sis! Anak Mas sudah lahir! Laki-laki, Sis! Sempurna, ganteng banget mirip Mbakmu," kata Ferdi dengan suara yang serak karena haru. Dia langsung memeluk adiknya erat-erat.
Siska ikut menangis lega. "Alhamdulillah, Mas... Alhamdulillah. Mbak Selfi bagaimana?"
"Mbakmu sehat, lagi dibersihkan sama Bu Bidan. Ayo masuk, lihat keponakanmu," ajak Ferdi sambil menarik tangan Siska.
Di dalam ruangan, Selfi berbaring bersandarkan bantal yang agak tinggi. Wajahnya tampak sangat lelah, tetapi matanya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Di atas dadanya, sesosok bayi kecil berkulit merah muda yang bersih sedang tertelungkup tenang. Bayi itu memiliki sepasang kaki yang lurus, mungil, dan sehat—sama sekali tidak bengkok. Rambutnya hitam tipis, dan saat dia membuka matanya sedikit, Siska bisa melihat bola mata bayi itu berwarna hitam legam yang lucu. Sangat normal.
Siska mendekati ranjang, mengelus kaki mungil keponakannya dengan jari tangannya yang gemetar. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Ya Tuhan, terima kasih. Ternyata ketakutanku selama ini benar-benar hanya halusinasi, batin Siska, merutuki dirinya sendiri yang terlalu paranoid.
"Ganteng kan, Sis? Namanya Doni. Doni Aditya," bisik Selfi dengan suara yang masih lemah namun penuh kebanggaan.
"Ganteng banget, Mbak. Sehat walafiat," jawab Siska tulus.
Malam itu, mereka bertiga menginap di rumah Bidan Tuti untuk memulihkan kondisi Selfi. Suasana malam terasa sangat damai. Tidak ada hawa dingin yang menusuk tulang, tidak ada suara seretan di langit-langit, dan tidak ada bau anyir yang busuk. Siska akhirnya bisa tidur dengan sangat nyenyak di atas kasur lipat di sudut ruangan, mendengarkan suara napas halus bayi Doni yang tertidur di dalam boks bayi di samping ranjang Selfi.
Keesokan harinya, Bidan Tuti memperbolehkan mereka pulang karena kondisi Selfi dan bayi Doni sangat stabil. Ferdi membawa pulang anak dan istrinya kembali ke rumah baru mereka di pinggiran kota dengan penuh rasa suka cita.
Saat mobil sewaan berhenti di depan pagar rumah, Siska turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu pagar besi. Namun, gerakan tangannya terhenti ketika dia melihat ke arah rumah sebelah.
Pak Cahyo sedang berdiri di teras rumahnya. Pria tua itu tidak memegang cangkir kopi seperti biasanya. Dia hanya berdiri mematung, menatap lurus ke arah mobil sewaan, tepatnya ke arah Ferdi yang sedang menggendong bayi Doni yang dibalut selimut kain hangat.
Wajah Pak Cahyo tampak sangat kaku. Matanya yang cekung tidak menunjukkan binar kebahagiaan sama sekali atas kelahiran tetangga barunya. Dia hanya menatap bayi itu dengan tatapan datar yang dingin, sebelum akhirnya pandangannya beralih menatap Siska yang sedang memegangi pagar.
Pak Cahyo tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menganggukkan kepalanya satu kali—sebuah gerakan lambat yang terasa seperti sebuah tanda atau sebuah pengingat yang kelam. Setelah itu, dia berbalik masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu.
Siska menelan ludahnya dengan susah payah. Rasa dingin yang sempat hilang semalam mendadak kembali merayap di tengkuknya. Ucapan-ucapan janggal yang pernah melintas di pikirannya tentang rumah ini kembali berputar.
Bayi Doni lahir dengan sangat normal dan sehat hari ini. Namun, Siska tidak tahu, bahwa kelahiran ini bukanlah akhir dari ketakutannya, melainkan awal dari hitung mundur seratus hari yang sesungguhnya. Cincin di jari Selfi masih melingkar di sana, diam, menanti saat yang tepat untuk menagih apa yang menjadi haknya.