Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Ayah
"Ayah..." suara Aluna terdengar begitu lemah dan terasa menyakitkan dari dalam mobil.
"Apakah dengan turun sekarang, segalanya akan selesai?" tanya Gavin dengan nada sedingin es.
"Lalu apa aku harus diam saja? Menyaksikan mereka memperlakukan Ayah dan Kak Rendra seperti binatang?!"
Emosi Aluna runtuh sepenuhnya. Ia menangis tersedu-sedu tanpa kendali. Hari ini ia telah menguras air matanya begitu banyak hingga kelopak matanya membengkak, membuatnya tampak sangat rapuh dan menyedihkan.
"Pikirkan dengan logis. Jika kamu bergegas turun saat ini, apakah massa yang sedang mengamuk itu akan langsung bubar?" Gavin tetap menampilkan ekspresi datar, seolah huru-hara di luar sana sama sekali tidak mengusik dirinya.
"Sudah kubilang, lepaskan aku!" Dalam keputusasaan yang memuncak, Aluna menarik tangan Gavin dan langsung menggigit punggung tangan pria itu dengan sangat keras.
Gavin sedikit mengerutkan kening menahan perih, namun cengkeramannya tidak melonggar sedikit pun. Ia berucap, menekankan setiap kata dengan artikulasi yang tajam, "Pikirkan baik-baik, Aluna. Begitu kamu melangkah keluar dari mobil ini, kamu tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk kembali meminta bantuanku."
Tubuh Aluna langsung bergetar hebat. Kalimat Gavin seketika memicu ingatan akan ucapan Rendra sebelum pergi: "Gavin berjanji akan membantu melunasi sebagian utang perusahaan, asalkan kamu bersedia tinggal bersamanya."
"Aku... aku akan ikut kembali bersamamu," bisik Aluna. Suaranya terdengar tercekat, separuh tertahan di tenggorokan akibat rasa sesak yang menghimpit dadanya. "Aku akan melakukan apa pun... asalkan kamu mau membantu keluargaku."
Gavin menatap lurus ke arah Aluna. Menatap wajah yang basah oleh air mata serta bulu mata yang bergetar pasrah. "Kamu bersedia melakukan apa pun yang kuperintahkan?" tanya Gavin acuh tak acuh.
Mendengar riuh makian di luar yang kian anarkis, hati Aluna bagai dihantam godam besar. Ia memejamkan mata erat, lalu mengangguk dengan tegas. "Ya."
"Kalau begitu, tunjukkan inisiatifmu." Gavin menurunkan pandangannya, mengunci tatapan mereka.
Aluna mengerti arah pembicaraan ini. Dengan jari yang gemetaran, ia memberanikan diri mengalungkan lengannya ke bahu kokoh
Gavin. Lalu Ia mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan bilah bibirnya pada bibir Gavin yang sedingin es.
Gerakan Aluna terasa sangat canggung dan kaku. Ia menutup mata rapat-rapat, menggerakkan bibirnya secara acak di atas bibir pria itu tanpa arah.
Gavin sedikit mengernyit. Tatapannya menggelap seketika. Tanpa membuang waktu, ia langsung merengkuh pinggang Aluna, menarik tubuh gadis itu tanpa jarak ke dalam pelukannya sembari berbisik serak,
"Buka mulutmu."
Tubuh Aluna langsung menegang, namun perlahan ia mengendurkan rahangnya yang semula terkatup dengan rapat.
Detik berikutnya, Gavin mengambil alih dengan dominasi penuh. Pria itu menguasai ciuman mereka tanpa ragu, menaklukkan setiap jengkal Mulut Aluna, dan memaksanya larut dalam ciuman yang begitu intens.
Sapuan kasar yang penuh tuntutan itu tanpa sadar membuat Aluna meloloskan lenguhan lembut yang tertahan.
Ciuman itu terasa begitu menyesakkan, bahkan menyakitkan.
Namun, rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa. Aluna menyadari hal itu, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain selain bertahan dan menerima semuanya.
Ketika pautan bibir mereka akhirnya terpisah, Gavin mengusap lembut pipi Aluna yang pucat. Ia menggigit kecil bibir bawah gadis itu sebelum berbisik persuasif di dekat telinganya, "Bukankah segalanya akan jauh lebih mudah jika kamu bersikap seperti ini sejak awal, hm?"
Dengan netra yang memerah sehabis menangis, Aluna hanya bisa bersandar pasrah di bahu Gavin. "Kamu... kamu akan membantu Ayahku, bukan?"
Gavin mengusap punggung Aluna dengan gerakan perlahan, lalu menyelipkan beberapa helai rambut Aluna yang berantakan ke belakang telinga. "Itu semua tergantung pada bagaimana sikapmu di depanku nanti."
Hidung Aluna mendadak terasa perih menahan gejolak tangis yang kembali mencuat. Ia mempererat pelukannya pada leher Gavin, seolah mencoba menenggelamkan seluruh kedukaannya pada tubuh pria itu. "Baiklah," jawabnya dengan suara gemetar.
Setelah melewati hari yang begitu panjang dan menguras emosi, Aluna benar-benar lelah.
Setibanya kembali di vila, Gavin memerintahkan pelayan untuk membawakan sebutir telur rebus hangat guna mengompres mata Aluna yang bengkak.
Kini, Aluna duduk patuh di atas pangkuan Gavin, menyandarkan punggungnya pada dada bidang pria itu, sementara jarinya memegang ponsel yang terhubung dengan Ayahnya.
"Aluna, bagaimana harimu di rumah Gavin?"
Mendengar suara parau Ayahnya yang terdengar begitu lelah dari seberang telepon, dada Aluna mendadak sesak oleh emosi yang campur aduk. Ia mati-matian menelan isak tangisnya agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Ayah, aku baik-baik saja di sini."
Ia mengambil jeda beberapa detik, lalu melanjutkan dengan nada bicara yang dipaksakan senormal mungkin, "Kak Gavin sangat baik kepadaku... jadi, Ayah tidak perlu mengkhawatirkan apa pun."
Mendengar kebohongan manis tersebut, bulu mata Gavin sedikit bergerak. Jari-jari panjangnya perlahan mengusap lembut memar kemerahan di pergelangan tangan Aluna akibat cengkeramannya yang terlalu kuat tadi.
"Benarkah?" Nada suara Pak Surya terdengar jauh lebih lega. "Kalau begitu, Ayah bisa merasa tenang."
Aluna telah kehilangan ibunya sejak masih sangat muda. Sejak saat itu, ia selalu dimanjakan dan dilindungi oleh Ayahnya, yang tidak pernah membiarkan putri kecilnya merasakan kesulitan hidup. Ia tumbuh menjadi gadis riang tanpa beban berkat kasih sayang sang ayah. Jika bukan karena ucapan Rendra hari ini, Aluna tidak akan pernah tahu bahwa fondasi keluarganya telah hancur lebur.
"Ayah sendiri... bagaimana kabarnya?"
Pak Surya sempat tersentak mendengar pertanyaan mendadak itu. Beliau terdiam sejenak sebelum akhirnya terkekeh kecil dan menjawab, "Ayah baik-baik saja. Hanya ada sedikit urusan bisnis di rumah belakangan ini.
Kamu tinggallah bersama Gavin untuk sementara waktu, ya? Nanti jika urusan Ayah sudah selesai, Ayah akan datang menjengukmu."
Hingga detik ini, Pak Surya tetap memilih untuk menyembunyikan masalah yang menimpa mereka.
"Baik, Ayah." Aluna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mengerahkan seluruh kekuatannya agar tangisnya tidak pecah di telepon.
Begitu sambungan terputus, Aluna tidak mampu lagi membendung emosi nya. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Gavin, terisak pelan dalam dekapan pria yang paling ia takuti itu.
Gavin mengembuskan napas hangatnya yang menerpa kulit leher Aluna yang halus, lalu berbisik dengan nada rendah yang ambigu, "Cukup ikuti semua kemauan ku, maka semuanya akan baik-baik saja."