NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22: Retakan di Dinding Kaca

Lautan lampu kota Jakarta berkedip-kedip di balik jendela kaca besar sebuah restoran rooftop mewah di kawasan SCBD.

Di atas meja yang diterangi temaram lilin, denting cangkir teh porselen mahal terdengar beradu pelan.

Amanda Santoso, putri tunggal Devan Santoso, duduk menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.

Gaun satin merah marun yang dikenakannya melekat sempurna, memancarkan aura kemewahan seorang sosialita kelas atas yang terbiasa hidup di puncak piramida sosial.

Namun, malam ini, wajah cantiknya tidak secerah biasanya.

Sepasang matanya yang tajam menatap Andreas yang duduk di hadapannya dengan pandangan dingin dan penuh selidik.

"Jadi, kamu mau bilang kalau proyek tol Papa yang bernilai triliunan itu sekarang nasib logistiknya bergantung pada mantan kuli gudang pudar?"

suara Amanda terdengar renyah namun sarat akan nada sinis yang menusuk. Ia mengaduk tehnya dengan gerakan lambat.

"Andreas, aku mengira kamu itu jenius karena lulusan terbaik."

"Tapi membawa orang asing tanpa latar belakang jelas masuk ke lingkaran dalam perusahaan... itu terdengar seperti tindakan amatir."

Andreas menghela napas berat, melonggarkan sedikit kerah kemejanya yang mendadak terasa mencekik.

Di depan Amanda, ia selalu berusaha tampil sebagai pria alpha yang memegang kendali penuh, namun laporan performa Doni Salman selama seminggu terakhir benar-benar mengikis rasa percaya dirinya.

"Kamu tidak mengerti, Amanda,"

jawab Andreas, mencoba membela diri sambil memajukan tubuhnya.

"Anak itu... Doni Salman, dia bukan buruh biasa."

"Dia memotong anggaran Sektor Utara sebesar dua puluh empat koma delapan persen hanya dalam hitungan hari."

"Papa bahkan terpaksa menyetujui klausul dua persen opsi saham kosong di

kontraknya."

"Kalau performanya stabil selama tiga bulan, dia akan punya hak suara resmi di PT Santoso Karya."

Mendengar kata 'opsi saham', gerakan tangan Amanda seketika terhenti.

Matanya menyipit, memancarkan kilatan ego yang terluka.

Bagi Amanda, PT Santoso Karya adalah warisan mutlak miliknya yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun, terutama oleh orang-orang dari kelas bawah yang ia anggap tak lebih dari sekadar sekrup murah dalam mesin pencari uang keluarganya.

"Dua persen?"

Amanda terkekeh, namun tawanya terdengar garing dan berbahaya.

"Papa pasti sudah gila karena terlalu bernafsu mengejar efisiensi."

"Kita tidak boleh membiarkan tikus pelabuhan itu menggerogoti dinding rumah kita, Andreas."

"Kalau kamu tidak bisa menyingkirkannya dengan cara halus melalui manajemen, biar aku yang turun tangan menggunakan caraku sendiri."

Di kehidupan pertamanya dulu, Amanda menggunakan taktik manipulasi psikologis yang serupa.

Ia mendekati Doni setelah Zahra tewas, berpura-pura menjadi wanita penyayang yang mendukung kariernya, lalu perlahan meracuni hidup Doni hingga pria itu menyerahkan seluruh asetnya tanpa sisa.

Namun, baik Amanda maupun Andreas tidak pernah tahu bahwa pria yang sedang mereka bicarakan malam ini adalah seorang penguasa lini masa yang telah menghafal setiap busuknya isi kepala mereka.

Sementara itu, beberapa puluh kilometer di sudut pinggiran Jakarta Utara, atmosfer di dalam pos lapangan kontainer Marunda terasa jauh lebih hangat namun penuh kesiagaan.

Doni Salman duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi oleh peta jalur distribusi baru.

Di hadapannya, Joko sedang menghitung lembaran nota jalan dengan wajah yang berseri-seri.

"pak Doni, ini gila! Rekor penghematan kita di hari ketujuh menyentuh angka dua puluh lima koma dua persen!"

Joko menepuk meja dengan penuh semangat.

"Tim keuangan pusat sampai tiga kali meneleponku hari ini, memastikan tidak ada kesalahan input data."

"Mereka seperti orang linglung yang tidak percaya kalau jalur utara bisa sebersih ini dari pungutan liar."

Doni tersenyum tipis, menyandarkan punggung mudanya ke kursi kerja.

"Biarkan mereka bingung, Joko."

"Tugas kita hanya mempertahankan ritme ini.

"Bagaimana dengan situasi di jalur timur Kampung Bahari?"

Raut wajah Joko sedikit berubah, gurat kegembiraan terganti oleh kecemasan lapangan yang familier.

"Nah, itu dia yang mau aku laporkan, pak."

"Sejak si Codet dan anak buahnya diringkus polisi minggu lalu, suasana di gerbang lama memang sepi."

"Tapi, dari desas-desus para sopir di warung kopi bawah, ada pergerakan aneh."

"Beberapa preman lokal dari wilayah barat mulai terlihat sering mondar-mandir di jalur baru kita di Kampung Bahari."

"Mereka seperti sedang mengintai jadwal lewatnya truk-truk semen kita."

Doni memutar pulpen hitam murahan di antara jemari tangannya yang stabil.

Sepasang mata sumur tuanya berkilat dingin di bawah temaram lampu neon kontainer.

"Mereka bukan preman lokal biasa yang mencari uang rokok, Joko."

"Mereka adalah anjing penjejak yang dikirim oleh Andreas."

Joko tersentak,

"Pak Andreas?

Tapi kenapa, pak?"

"Bukankah kesuksesan kita di sini juga menaikkan nama dia di depan Pak Devan?"

"Di dunia mereka, Joko, memiliki alat yang terlalu pintar dan tidak bisa dikendalikan adalah sebuah ancaman maut,"

Doni berdiri, melangkah menuju pintu kontainer yang terbuka, menatap hamparan rawa sepi yang kini gelap gulita dilingkupi malam.

"Andreas dan Devan tahu, jika aku berhasil mencapai target sembilan puluh hari, mereka harus menyerahkan sebagian kepemilikan perusahaan kepadaku."

"Dan bagi orang-orang serakah seperti mereka, menghancurkan jalanku dari dalam adalah opsi yang jauh lebih murah daripada menepati janji."

Doni tahu persis skenario yang sedang disusun di lantai tertinggi Menara Thamrin saat ini.

Berdasarkan lini masa yang ia ingat, Andreas dalam beberapa hari ke depan akan mendanai gerakan sabotase massal membayar kelompok preman bayaran untuk menyerang armada truk di jalur sepi,

merusak material konstruksi, dan menciptakan kondisi 'kahar' atau kerusuhan lapangan yang akan menghentikan pasokan material selama lebih dari empat puluh delapan jam, demi memicu pasal penalti dalam kontraknya.

"Lalu... apa yang harus kita lakukan, pak?"

"Apa kita perlu minta bantuan pengawalan polisi lagi dari Pak Wahyu?"

tanya Joko dengan suara yang mulai bergetar panik.

"Tidak perlu untuk saat ini,"

Doni menggelengkan kepalanya perlahan, seulas senyuman dingin yang sarat akan kalkulasi matang terukir di wajah tirusnya.

"Jika kita terlalu sering menggunakan polisi, Andreas akan melarikan rencananya ke area yang tidak bisa kita pantau."

"Biarkan mereka bergerak sesuai rencana mereka. Aku ingin mereka merasa berada di atas angin."

Doni meraba saku celananya, memastikan ponsel monokrom lamanya aktif.

Ia telah menyiapkan langkah tandingan yang jauh lebih mematikan.

Ia tidak hanya akan mempertahankan jalur logistiknya, tetapi ia akan menggunakan momen serangan sabotase Andreas nanti untuk memicu skandal internal yang akan langsung meretakkan kredibilitas Andreas di hadapan dewan komisaris PT Santoso Karya.

"Pulanglah dan istirahat, Joko," kata Doni lembut,

memecah ketegangan di dalam ruangan.

"Besok adalah hari Sabtu."

"Aku ingin menghabiskan waktu bersama Zahra tanpa ada gangguan dari orang-orang Thamrin."

"Biarkan para ular itu sibuk menyusun racun mereka di kegelapan;'

"mereka tidak tahu kalau aku sudah menyiapkan penawarnya bahkan sebelum mereka sempat menyemburkannya."

Doni melangkah keluar dari kontainer, memacu motor bebek tuanya membelah angin malam pesisir yang asin.

Di dalam batinnya, fondasi kekaisaran finansialnya kian mengeras bagai semen mutu tinggi di jalur Marunda.

Retakan-retakan pertama di dinding kaca Menara Thamrin telah ia ciptakan lewat lembaran laporan efisiensi harian, dan ia siap menyaksikan bangunan megah itu runtuh berkeping-keping saat waktunya tiba nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!