NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Langkah Anggun Menuju Pintu Yang Salah

Langkah anggun menuju pintu yang salah terdengar laksana ketukan palu hakim di tengah malam gundah. Azzam segera memutar kunci jati dengan gerakan tangan yang bergetar menahan gejolak rasa bersalah. Di ambang pintu yang terbuka lebar, sosok Umi Kalsum berdiri tegak dibalut mukena putih bersih dengan sorot mata sedingin es kutub. Wanita paruh baya itu tidak sudi melangkah masuk, melainkan hanya melemparkan pandangan tajam ke arah Hana yang masih meringkuk ketakutan di tepi ranjang pengantin.

"Azzam, mengapa kamu belum berada di masjid untuk memimpin zikir malam bersama para santri?" tanya Umi Kalsum dengan nada penuh penekanan.

Azzam menundukkan kepala dalam dalam, menghindari tatapan mengintimidasi dari sang ibu kandung. "Maafkan Azzam, Umi, malam ini terasa sangat melelahkan setelah rangkaian acara akad nikah yang panjang."

Umi Kalsum mendengus pelan, seulas senyum sinis tersirat di sudut bibirnya yang mulai keriput. "Sejak kapan seorang putra pemuka agama mengabaikan tugas suci hanya karena terpikat oleh urusan ranjang duniawi?"

Kalimat sindiran itu melesat laksana anak panah beracun yang langsung menembus ulu hati Hana hingga terasa sangat sesak. Hana bangkit berdiri dengan perlahan, mencoba merapikan kain penutup raga abu muda yang membungkus tubuh gemetarnya sejak tadi. Ia tahu keberadaannya di kamar ini telah dianggap sebagai perusak tatanan kesalehan yang selama puluhan tahun dijaga ketat oleh keluarga besar pesantren. Berada di bawah atap yang sama dengan mertua yang antipati membuat pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap tanpa sisa.

"Umi, ini bukan kesalahan Mas Azzam, sayalah yang meminta beliau untuk beristirahat sebentar," bisik Hana dengan keberanian yang dipaksakan.

Umi Kalsum mengalihkan pandangan matanya yang tajam, menatap Hana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan saksama. "Kamu belum berhak memanggilnya dengan sebutan itu sebelum kamu mampu membuktikan kepantasan diri sebagai bagian dari asrama ini."

"Umi, tolong jaga perasaan Hana, kami baru saja melewati hari yang sangat berat," sela Azzam dengan suara rendah yang terdengar ragu.

"Perasaan siapa yang harus Umi jaga ketika marwah surau kita sedang dipertaruhkan oleh menantu tanpa tuntunan?" balas Umi Kalsum telak.

Suasana koridor depan kamar seketika menjelma menjadi arena persidangan yang mencekam tanpa ada satu pun pembela yang berdiri di sisi Hana. Azzam memilih untuk kembali mengunci rapat mulutnya, sebuah sikap mengalah yang justru semakin mengoyak sisa rasa percaya diri sang istri. Hana meremas pinggiran kain penutup kepalanya, merasakan air mata kelemahan mulai mendesak keluar dari pelupuk mata yang terasa kian memanas. Keputusan untuk meninggalkan gemerlap kota demi menjemput hidayah kini terasa laksana sebuah jebakan yang mengurung kebebasan jiwanya.

Umi Kalsum membalikkan raga tanpa mengucap sepatah kata pamit, meninggalkan keheningan malam yang kembali mencekik ruang batin sepasang pengantin baru itu. Azzam menghela napas panjang lalu menutup pintu kayu jati tersebut dengan lambaian tangan yang tampak sangat lunglai tanpa bertenaga. Lelaki itu tidak berbalik untuk menenangkan sang istri, melainkan langsung berjalan menuju meja sudut guna mengambil kembali peci hitamnya yang tergeletak. Ada jarak pembatas yang mendadak membentang luas di antara mereka berdua, menghancurkan sisa kehangatan yang baru saja ingin dirajut.

"Aku harus pergi ke masjid utama sekarang untuk meredam kemarahan Umi," kata Azzam tanpa berani menatap mata Hana.

Hana menahan napas sejenak, mencoba menekan gemuruh rasa kecewa yang bergolak hebat di dalam dadanya. "Apakah kamu akan membiarkan aku sendirian di kamar ini sepanjang malam, Mas?"

Azzam menghentikan langkah kakinya tepat di depan daun pintu, menatap lurus ke arah luar ruangan. "Di sini kita tidak hidup berdasarkan keinginan pribadi, melainkan kepatuhan total pada adat surau dan perintah orang tua."

Pernyataan dingin itu menjadi penutup interaksi mereka sebelum punggung tegap Azzam menghilang di balik kegelapan selasar menuju masjid santri. Hana limbung, menjatuhkan raga di atas lantai marmer yang dingin tanpa beralaskan selembar kain pun untuk menghalau rasa ngilu. Ia memeluk lututnya erat, membiarkan tangis yang sejak tadi ditahannya pecah dalam kesunyian malam yang teramat panjang dan menyiksa. Kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua hati kini justru terasa laksana bilik pengasingan bagi jiwa yang bernoda.

Dari kejauhan, gema suara zikir malam mulai mengudara melalui pengeras suara, dipimpin oleh cengkok vokal Azzam yang terdengar begitu merdu namun terasa asing di telinga Hana. Lantunan kalimat suci itu seolah mengonfirmasi bahwa suaminya adalah milik umat, milik pesantren, dan terutama milik ibu kandungnya yang perkasa. Hana meraba dadanya yang terasa berdenyut nyeri, menyadari bahwa pakaian longgar baru ini tidak sanggup menyembunyikan rekam jejak masa lalunya yang cacat di mata penghuni rumah ini. Ujian ini baru saja dimulai, dan ia dipaksa tegak berdiri tanpa ada sandaran dari lelaki yang telah berjanji menjaganya di depan penghulu.

Waktu merayap teramat lambat, membawa malam menuju ujung fajar yang kian mendinginkan suasana batin yang luluh lantak. Hana tidak sudi kembali ke atas ranjang pengantin yang terasa asing, memilih menghabiskan sisa malam di atas sajadah lusuh yang ia bawa dari kota. Di atas kain pemujaan itu, ia menumpahkan segala keluh kesah kepada Sang Pemilik Kehidupan, memohon kekuatan agar dinding sabarnya tidak retak terlalu dini. Kehidupan esok pagi dipastikan akan jauh lebih menantang ketika matahari mulai menyorot setiap gerak gerik tangannya di area dapur utama.

Saat semburat merah fajar mulai menyembul di ufuk timur, Hana bangkit untuk membasuh muka dan bersiap menghadapi kenyataan pahit yang telah menanti. Ia melangkah keluar kamar dengan sangat hati hati, mencoba menyusuri selasar rumah utama yang masih sepi dari aktivitas para pengurus inti. Tujuannya adalah dapur, tempat di mana ia berharap bisa mengabdi dan mengambil hati sang mertua melalui hidangan pagi yang tulus. Namun, baru saja kakinya menginjak ambang pintu area memasak, sepasang mata tua telah menantinya dengan seulas senyuman yang menyimpan sejuta misteri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!