.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Pengunduran Diri, Kepanikan Akademi, dan Kereta Malas Menuju Ibu Kota
Alun-alun utama Akademi Kekaisaran Sayap Barat dipenuhi oleh lautan manusia. Upacara penutupan Turnamen Berburu Hutan Kuno dihadiri oleh seluruh jajaran tetua dan murid. Di atas podium utama, Dekan Agung dengan janggut putih panjangnya berdiri tegak, memancarkan aura wibawa yang menggetarkan udara.
"Tahun ini, Sayap Barat menyaksikan lahirnya seorang jenius eksentrik!" suara Dekan Agung menggema, dibantu oleh formasi pengeras suara spiritual. "Seorang murid yang menembus Istana Gua Karang Jiwa, menundukkan penjaga gua, dan memecahkan Formasi Sembilan Gerhana dalam waktu singkat! Mari kita sambut murid baru terbaik kita, Ji Huang!"
Ribuan pasang mata serentak menoleh ke arah jalur VIP. Di sana, Ji Huang melangkah lempeng dengan sandal kayu yang berbunyi pletag-pletog di atas lantai pualam. Dia tidak mengenakan seragam kebesaran akademi, melainkan tetap setia dengan jubah tidur longgar dan selimut bebek rajutan tangan ayahnya yang tersampir malas di bahu kiri. Wajah fanya memancarkan ekspresi kelewat mengantuk akibat dipaksa bangun sebelum jam makan siang.
Begitu tiba di atas podium, bukannya berlutut menerima lencana emas Murid Inti yang disodorkan Dekan, Ji Huang justru merogoh saku jubahnya. Dia mengeluarkan lencana VIP asramanya, lalu meletakkannya di atas meja podium dengan bunyi tlak yang santai.
"Dekan Agung," ucap Ji Huang polos, memotong pidato megah sang Dekan. "Turnamen kemarin membuat sendi-sendi faku berderit dan tulang belakangku mengalami kelelahan kronis. Menjadi murid inti berarti aku harus menghadiri kelas kultivasi subuh, ikut serta dalam misi berburu bulanan, dan menjaga kehormatan sekte. Semua aktivitas itu adalah ancaman nyata bagi stabilitas jam tidur siangku. Oleh karena itu, hari ini saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari akademi."
Suasana alun-alun yang tadinya riuh seketika berubah menjadi sunyi senyap. Dekan Agung membeku di tempat dengan tangan yang masih memegang lencana emas, sementara janggut putihnya bergetar hebat. Di barisan instruktur, Mu Ning’er hampir saja tersedak air liurnya sendiri.
"M-Mengundurkan diri?!" Dekan Agung mengucek matanya, mengira dia salah dengar. "Ji Huang! Kamu baru saja mendapatkan hak istimewa terbesar di akademi ini! Mengapa kamu melepasnya hanya karena alasan... jam tidur?!"
"Karena tidur adalah fondasi dari segala keabadian, Dekan," jawab Ji Huang lempeng, wajahnya sedatar papan kayu. "Jika aku tidak bisa tidur siang dengan tenang, untuk apa aku mengejar langit? Itu adalah logika yang sesat."
Mu Ning’er yang panik langsung berlari naik ke atas podium. Sebagai orang yang tahu bahwa Ji Huang memiliki kemampuan "monster" setelah melihat jentikan jarinya yang menghancurkan formasi, dia tidak bisa membiarkan aset sekte berharga ini pergi begitu saja. Ditambah lagi, dia tahu Ji Huang memegang koordinat ibunya yang mengarah ke Ibu Kota Kekaisaran.
"Ji Huang, tunggu dulu!" Ning’er menarik lengan jubah tidur Ji Huang, membawanya sedikit menjauh dari mikrofon formasi. "Kamu ingin pergi ke Ibu Kota untuk mencari asal-usul Cincin Bulan Sabit itu, kan? Jarak dari sini ke Ibu Kota adalah ribuan mil! Jika kamu mengundurkan diri sekarang, kamu harus berjalan kaki atau menyewa kereta fana yang bergetar hebat di jalanan berbatu selama berbulan-bulan!"
Ji Huang berkedip, otaknya yang malas mulai mengalkulasi. Berjalan kaki ribuan mil? Atau naik kereta fana yang bergoyang dan merusak posisi tidur miringnya? Itu terdengar seperti neraka duniawi.
Melihat keraguan di mata Ji Huang, Ning’er langsung mengeluarkan siasat andalannya. "Tapi... jika kamu mengambil jalur tugas sebagai 'Murid Utusan Khusus Sayap Barat' untuk mengantarkan laporan formasi tahunan ke Ibu Kota, akademi wajib memfasilitasimu dengan Kereta Spiritual Premium Kuda Langit. Kereta itu dilengkapi dengan formasi peredam kejut tingkat tinggi, kedap suara, dan memiliki sirkulasi udara yang sangat sejuk."
Mendengar frasa 'peredam kejut' dan 'kedap suara', sepasang mata sayu Ji Huang langsung berbinar dengan binar kebahagiaan yang tulus.
"Instruktur Mu, mengapa tidak mengatakannya sejak awal?" ucap Ji Huang polos tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia kembali mengambil lencana VIP-nya dari meja podium. "Dekan Agung, tolong batalkan surat pengunduran diriku. Aku bersedia menjadi Utusan Khusus demi dedikasiku pada... fasilitas transportasi gratis yang nyaman."
Dekan Agung hanya bisa memijat pelipisnya, merasa martabat akademi kekaisaran baru saja diinjak-injak oleh logika kemalasan seorang remaja fana.
Sementara kepanikan di podium mulai mereda, di sudut kegelapan di balik pilar aula utama akademi, sekelompok bayangan kultivator berpakaian hitam dengan sulaman serigala perak pekat sedang mengamati Ji Huang dengan tatapan dingin penuh niat membunuh.
Mereka adalah pembunuh elit dari cabang utama Klan Ye Ibu Kota. Mereka dikirim secara rahasia menggunakan jimat teleportasi setelah menerima sisa laporan dari Ye Chen mengenai hancurnya Batu Jimat Resonansi tempo hari.
"Bocah itu... dia benar-benar berhasil mengambil Cincin Bulan Sabit milik sang Putri Buron," bisik pemimpin bayangan, seorang kultivator Tingkat Fondasi Lapis ke-4. "Para tetua agung di Ibu Kota telah memberi perintah absolut. Garis keturunan haram dari perbatasan barat ini tidak boleh menginjakkan kaki di gerbang Ibu Kota. Cegat keretanya di jalur tebing Lembah Kematian, rebut kembali cincinya, dan lenyapkan dia tanpa meninggalkan jejak."
Bayangan-bayangan itu seketika melarut ke dalam kegelapan, bersiap menyiapkan jebakan maut di rute perjalanan menuju Ibu Kota.
Satu jam kemudian, di gerbang luar akademi, Kereta Spiritual Premium milik akademi telah siap. Kereta itu ditarik oleh dua ekor Kuda Langit berbulu putih salju yang memiliki sayap kecil di kakinya.
Ji Huang melangkah masuk ke dalam kereta disusul oleh Xiao Mei yang membawa keranjang makanan baru. Begitu melihat bagian dalam kereta yang luas, Ji Huang langsung tersenyum puas. Dia memodifikasi interior kereta dalam sekejap—meminta pelayan akademi memindahkan ranjang Giok Es-nya ke dalam kereta, lalu membentangkan selimut bebek rajutannya di atasnya.
Wush!
Kereta Spiritual itu mulai melaju cepat, terbang rendah beberapa jengkal di atas jalan setapak menuju Ibu Kota dengan kestabilan yang luar biasa.
Ji Huang merebahkan tubuh fanya di atas Giok Es, menarik selimut bebeknya hingga menutupi dada, dan menikmati aroma dupa penenang jiwa yang mulai mengepul di dalam kabin kereta yang kedap suara.
"Tuan Muda, perjalanan ini akan melewati Lembah Kematian. Saya mendengar dari para pelayan luar bahwa tempat itu sering dihuni oleh bandit dan binatang buas," ucap Xiao Mei sembari merapikan tirai jendela kereta.
Ji Huang memejamkan sepasang matanya yang sayu, membiarkan tubuhnya bergoyang lembut mengikuti ritme kereta yang nyaman.
"Tidak apa-apa, Xiao Mei... ingatkan aku untuk tidur sepanjang jalan," gumam Ji Huang dengan suara yang perlahan meredup menuju alam mimpi. "Orang-orang dari Klan Ye di luar sana sepertinya sudah menyiapkan sambutan yang cukup bising di tengah lembah nanti. Kita harus mengumpulkan energi tidur yang cukup sekarang... agar nanti, saat mereka mencoba berteriak membangunkan tidur siangku, aku bisa menendang mereka semua kembali ke tanah dengan cepat tanpa perlu merusak waktu istirahat soreku."
Kereta spiritual itu melesat membelah kabut pegunungan, membawa sang Dewa Pedang pemalas menuju pusaran konspirasi terbesar di Ibu Kota Kekaisaran yang telah menantinya.