Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Whist
Para pelayan mulai merapikan meja teh dengan gerakan tenang dan terlatih.
Kotak kartu kayu berlapis ukiran emas kini diletakkan tepat di tengah meja.
Nyonya Albert membukanya dengan tenang sebelum mulai membagikan kartu satu per satu.
Suara gesekan kartu terdengar pelan di tengah paviliun yang perlahan semakin sunyi.
“Sudah lama sejak terakhir kali saya memainkan ini,” salah satu wanita berkata sambil tersenyum tipis. “Anak-anak muda sekarang lebih menyukai pesta dansa dibanding permainan kartu.”
“Tergantung,” wanita lain menimpali ringan. “Putriku masih suka memainkannya bersamaku.”
Tatapannya bergeser samar ke arah Lilly.
Lilly menerima kartu pertamanya dengan tenang.
Permukaan kartu itu terasa halus dan dingin di ujung jemarinya.
Nyonya Albert duduk tepat di sampingnya, sementara dua wanita lain berada di hadapan mereka.
“Lady Lillyane pernah bermain Whist sebelumnya?”
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Namun Lilly cukup menyadari bahwa perhatian seluruh meja kini tertuju padanya.
Ia menganggukkan kepala pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Tidak terlalu sering.”
Tangannya membuka sedikit susunan kartu di tangannya.
“Bahkan bisa dikatakan tidak pernah.”
Beberapa wanita saling bertukar pandangan samar sebelum kembali menatap Lilly.
“Namun ayah saya terkadang memainkannya bersama beberapa tamu di rumah.”
“Dan Anda memperhatikannya?”
Lilly menggeleng kecil.
“Tidak. Saya biasanya hanya duduk di ruang baca sambil mendengarkan kegaduhannya.”
Jawaban sederhana itu justru membuat beberapa sudut bibir terangkat samar.
Permainan akhirnya dimulai.
Kartu pertama diletakkan di atas meja.
Disusul kartu kedua.
Lalu berikutnya.
Perlahan, suasana kembali berubah tenang.
Percakapan mulai mereda, tergantikan oleh perhatian yang seluruhnya tertuju pada permainan.
Namun keheningan kali ini berbeda dari sebelumnya.
Bukan canggung—
melainkan penuh pengamatan.
Gerakan jemari.
Sorot mata.
Cara seseorang menahan ekspresi saat menerima kartu tertentu.
Dan saat itulah Lilly menyadari dugaannya benar.
Permainan ini sama sekali bukan sekadar hiburan untuk mengisi pesta teh.
Melainkan cara halus untuk membaca seseorang.
Beberapa ronde pertama berjalan cukup tenang.
Suara kartu yang menyentuh meja bercampur dengan helaan napas ringan para pemainnya.
Lilly berusaha mengendalikan kegugupannya.
Jemarinya sedikit menegang saat matanya menelusuri kartu di tangannya satu per satu.
Ia memahami aturan dasarnya.
Mengikuti jenis kartu.
Memperhatikan trump.
Serta mencoba membaca pola permainan lawannya.
Namun memainkan permainan itu secara langsung—terlebih di hadapan para wanita bangsawan seperti ini—jelas berbeda dari apa yang selama ini ia lihat di rumah.
Di rumah, permainan kartu dimainkan oleh para pria yang bosan, diselingi suara tawa keras dan percakapan gaduh.
Sedangkan di sini—
setiap kartu dilempar dalam ketenangan yang terasa menekan.
“Lady Lillyane.”
Salah satu wanita di hadapannya tersenyum tipis.
“Giliran Anda.”
Lilly mengangkat pandangannya sesaat sebelum kembali melihat kartu di tangannya.
Untuk sepersekian detik, ia ragu.
Kartu mana yang seharusnya ia keluarkan?
Keheningan kecil itu terasa jauh lebih menegangkan daripada seharusnya.
Tak ada yang mendesaknya.
Namun justru karena itulah Lilly semakin sadar bahwa semua orang sedang mengamatinya.
Pada akhirnya, satu kartu berpindah dari tangannya ke meja.
Sedikit terlambat.
Cukup terlambat untuk disadari.
Salah satu wanita mengangkat pandangannya samar, sementara Nyonya Albert tetap tenang memperhatikan jalannya permainan dari samping Lilly.
Ronde itu berakhir tidak buruk.
Ia tidak menang.
Namun juga tidak kalah.
Meski begitu, Lilly tahu kesalahannya tetap terlihat jelas.
Ia terlalu lama berpikir.
Dan wanita di seberangnya tersenyum kecil.
Bukan senyum mengejek.
Lebih seperti seseorang yang baru memastikan sesuatu.
“Lady Lillyane ternyata cukup berhati-hati.”
Nada suaranya terdengar ringan.
Ronde berikutnya berjalan lebih cepat.
Lilly mulai menganalisis jalannya permainan dengan lebih cermat.
Para wanita itu memainkan trik yang berbeda-beda.
Sebagian tampak terlalu santai.
Sebagian lain justru sengaja membuat lawannya merasa aman.
Dan Lilly perlahan mulai memahami ritme mereka.
Namun semakin lama, ia menyadari masalahnya bukan sekadar gugup.
Melainkan kebiasaannya menahan keputusan terlalu lama.
Para wanita itu tentu menyadarinya juga.
Mereka melihat keraguan kecil di mata Lilly setiap kali ia harus memilih kartu.
“Ah.”
Salah satu wanita tersenyum tipis sambil meletakkan satu kartu ke meja.
“Trump.”
Suaranya lembut.
“Sepertinya ronde ini milik kami.”
Tak ada yang membantah.
Suasana hanya diisi keheningan kecil yang terasa semakin menekan.
Lilly menatap kartu itu beberapa detik.
Dan saat itulah ia menyadari sesuatu.
Kesalahannya bukan pada keterlambatan.
Melainkan pada caranya menentukan kartu mana yang harus disimpan dan mana yang harus dilepaskan.
Ia mengembuskan napas kecil sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Kali ini saya kalah.”
Nada suaranya terdengar jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Ia menerima hasil permainan itu tanpa berusaha mencari alasan.
Wanita di hadapannya terkekeh pelan sambil menutup bibirnya dengan satu tangan.
“Permainan kartu memang sulit dipelajari.”
Tatapannya bergeser tipis ke arah Lilly.
Kalimat itu terdengar ringan.
Namun cukup jelas bagi semua orang di meja bahwa ada makna lain yang tersembunyi di baliknya.
Beberapa ronde berikutnya kembali dimulai.
Dan kali ini, Lilly tidak lagi terburu-buru.
Perhatiannya bergerak lebih cermat menyusuri meja permainan.
Ia memang masih kalah satu ronde lagi setelah itu.
Namun tidak separah sebelumnya.
Lilly juga tak banyak bicara.
Ia hanya duduk tenang sambil memainkan kartunya satu per satu dengan hati-hati.
Salah satu wanita sempat tersenyum kecil ketika Lilly terlalu lama menahan kartu tinggi miliknya.
Namun beberapa ronde kemudian—
senyum itu perlahan memudar.
Mereka mulai menyadari sesuatu.
Lilly perlahan membaca pola permainan mereka.
Dan ketika ronde berikutnya memasuki putaran terakhir—
suasana meja berubah jauh lebih sunyi.
Sebagian besar kartu penting telah dimainkan.
Wanita di seberang Lilly saling bertukar lirikan kecil dengan rekannya.
Mereka cukup yakin telah mengendalikan permainan sejak awal.
Senyum tipis penuh keyakinan masih bertahan di bibir mereka.
Sementara itu, Lilly menatap kartu terakhir di tangannya selama beberapa detik.
Lalu—
“Trump.”
Nada suaranya lembut.
Tenang.
Jenis kartu yang sejak awal sengaja ia simpan.
Dan hanya dengan satu kartu itu, alur permainan lawannya langsung runtuh seketika.
Keheningan jatuh di meja.
Ekspresi wanita di seberangnya berubah samar. Untuk pertama kalinya sejak permainan dimulai, ketenangan mereka sedikit goyah.
“Ah…”
Wanita itu akhirnya tersenyum tipis.
Kali ini senyumnya terasa jauh lebih tulus.
“Sepertinya kami terlalu meremehkan Anda.”
Nada suaranya tetap lembut dan sopan.
Lilly membalas dengan senyum kecil.
“Bukankah seseorang memang harus belajar dari kekalahan?”
Dan jawaban sederhana itu—
berhasil membuat meja kembali sunyi selama beberapa saat.
Di sampingnya, Nyonya Albert melirik Lilly dengan sudut bibir yang terangkat samar.
***