Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
...~Act Like Man~...
"Kita mampir warung itu, ya. Aku harus ke wartel."
Arka menunjuk salah satu warung yang cukup besar di sisi seberang jalan kedai Pak Sur. Suasananya temaram, hanya diterangi satu lampu jalan dekat pohon mangga yang rendah serta sebuah kursi kayu panjang yang reyot.
Naira masih memegang bakul di tangannya ketika Arka lebih dulu masuk ke dalam bilik kaca telepon. Suara derak saat koin dimasukkan dan bunyi "ting!" terdengar samar.
Naira berdiri di dekat penjaga warung. "Bu, bolpoin merah."
Penjual itu memberikan pesanan Naira, lalu segera dibayarnya. "Mas Arka sering banget telepon jam segini dan pagi."
Naira menoleh sesaat. "Benarkah?"
"Iya, kelihatan penting sekali. Mungkin lapor atasannya."
Naira hanya mengangguk dan tersenyum. Gadis itu menyeret langkah ke depan, lalu duduk di kursi kayu panjang yang reyot. Cahaya lampu kekuningan menyamarkan tanah di bawahnya. Bakul yang ia bawa masih dipeluk dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memutar-mutar bolpoin merah yang baru saja dibeli.
Sesekali bibir tipisnya menyenandungkan lagu terbaru Sheila on 7. Ia mendongakkan kepala; bintang malam ini tersebar begitu luas, banyak, dan berkelip. Cahaya rembulan pun memberi efek cahaya tambahan.
Dari dalam warung terdengar samar radio tua yang menyetel drama ketoprak. Entah berapa menit pria itu berdiri di balik bilik kaca, sampai suara deru motor halus berhenti tepat di samping Naira.
Langkah penumpangnya terdengar tergesa mendekat ke arah Naira hingga, "Nai!"
Teriakan suara itu membangunkan insting pertahanan Naira. Gadis itu menoleh cepat, mendapati Santoso telah berdiri dekat dengannya. Rasa dingin seketika melingkup tubuhnya.
Pria itu sepertinya belum jera.
"Malam-malam begini, tumben kamu keluar." Suara pria itu terdengar ceria, sedikit dipaksa ramah saat mendekat ke arah Naira.
Namun, gangguannya tak hanya sampai di sana. "Mending kamu ikut aku saja kalau suntuk di rumah."
Sedikit bulu roma Naira berdiri. "Nggak, Mas," tolak gadis itu halus.
Santoso tidak mendengarkannya. "Udah, ikut aku aja."
Pria itu menarik lengan Naira. Bakul yang tadi dibawanya jatuh ke tanah, menimbulkan suara debam samar. Naira berusaha mengelak, tapi cengkeraman tangan Santoso kian mengerat.
"Lepas, Mas. Sakit!" ucapnya sambil berusaha melawan arah tarikan Santoso. Tangannya berulang kali mencoba melepaskan cengkeraman itu, tapi gagal.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Santoso. Pria itu berhenti seketika, menatap Naira yang baru saja menamparnya keras. Napas keduanya terengah-engah. Wajah Santoso yang tadi terlihat ceria tiba-tiba menggelap.
"Dasar perempuan nggak tahu untung!" teriaknya keras.
Sedikit keberanian Naira beberapa saat lalu langsung ciut. Namun, satu tangan Santoso yang melayang di udara seketika terhempas oleh tangan Arka yang jauh lebih kekar. Arka melepas cengkeraman Santoso, lalu merengkuh bahu Naira yang gemetar ketakutan, menggiring tubuh ringkih gadis itu berlindung di balik punggungnya yang tegap.
"Minggir!" teriak Santoso lebih dulu. "Dia perek yang baru saja kubayar!" teriaknya kian keras. Pemilik warung sampai keluar untuk melihat keributan di luar.
Dua pria itu saling berhadapan. Tubuh Santoso jauh lebih kecil dibanding tubuh tegap berotot Arka. Namun, suaranya jauh lebih keras dengan umpatan kasar.
"Punya mulut dijaga." Hanya itu ucapan Arka, datar namun terlontar pedas tepat di depan wajah Santoso yang harus mendongak untuk menatapnya.
Arka membalikkan tubuh begitu saja setelah berucap. Ia menggiring Naira ke arah tempat bakul tadi terjatuh, menggenggam erat lengan kecil gadis itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memungut bakul.
"Sudah? Masih mau berurusan dengan dia?" tanya Arka sambil menunjuk Santoso dengan dagunya.
Naira masih gemetaran, napasnya tak teratur. Ia menggeleng pelan. "Pulang saja, Mas," ucapnya menahan tangis.
Arka akhirnya membimbing Naira pulang. Ia membiarkan umpatan kasar Santoso terus terdengar, bahkan saat pria itu sengaja melempar kerikil ke arah bahu Arka.
Langkah Arka terhenti sejenak. Ia menoleh, melemparkan tatapan tajam yang berkilau terkena sinar lampu jalan. Keheningan mendadak mencekam di antara mereka. Santoso menelan ludah. Sementara Arka berdiri tegak, menunggu apa tindakan selanjutnya dari si anak carik itu. Di saat yang sama, suara kayu-kayu pintu toko terdengar mulai dirapikan pemiliknya dengan terburu-buru.
Arka menarik Naira dengan lembut, menjauh dari Santoso yang kembali berteriak dengan hinaan-hinaan tadi.
"Jangan didengarkan. Mulutnya akan robek sendiri jika terus berteriak," ucap Arka sambil berjalan menjauh menuju rumah.
Sesampainya di rumah, tempat itu masih sepi. Orang tua Naira belum pulang. Arka menarik Naira hingga ke teras. Setelah Naira duduk, ia melihat bekas cengkeraman Santoso yang erat hingga memerah di lengan gadis itu. Tak lama kemudian, suara sepeda motor bebek milik ayah memasuki halaman.
Seolah lupa akan kejadian tadi, Naira segera membuka pintu rumah agar kedua orang tuanya bisa segera masuk.
"Mas, ambilin air putih, ya," pinta Naira sebelum akhirnya mengikuti langkah orang tuanya.
Arka hanya menuruti. Pria itu menuju dapur, namun seketika pandangannya berubah. Ia menaruh bakul nasi di atas meja makan, melihat kekacauan dapur yang biasanya hangat itu.
Namun tak ada waktu. Arka segera menyiapkan air minum dan mengantarkannya sampai ke ambang pintu kamar orang tua Naira. Setelah itu, ia kembali ke dapur. Kekacauan di dapur mungkin bisa meredakan kekacauan dalam dirinya setelah konfrontasi dengan Santoso tadi.
...----------------...
Arka masih berkutat di depan bak cuci. Suara gemericik air terdengar halus, bersahutan dengan piring yang dirapikan ke rak tiris.
Naira baru saja masuk ke dapur saat melihat Arka berdiri tegap di depan bak cuci. Jaket pria itu telah dilepas, menyisakan kaus putih lengan panjang yang digulung hingga ke siku. Gadis itu membulatkan matanya sesaat—kekacauan di dapur adalah tanggung jawabnya.
"Ya ampun, Mas," ucap Naira sembari mendekat.
"Berhenti di sana, Nai. Biar aku yang bereskan," suara berat Arka terdengar menginterupsi.
"Tapi ini tugasku."
"Duduklah."
Naira menggigit bibir. Ia menyerah dan akhirnya duduk di kursi meja makan, menghadap ke arah Arka yang berdiri di depan bak cuci. Tak lama kemudian, pria itu meletakkan wajan terakhir yang baru saja dicucinya. Ia membersihkan sisa kotoran di bak cuci, lalu mencuci tangannya hingga bersih.
Langkah pria itu terdengar menggema di ruangan dapur. Ia mendekat ke arah Naira dan mengambil satu tangan gadis itu—tangan yang tadi dicengkeram Santoso hingga meninggalkan bekas kemerahan yang samar.
"Masih sakit?" tanya Arka pelan.
Naira mendongakkan kepala, menatap wajah Arka yang kini tampak jauh lebih teduh. Gadis itu menggelengkan kepalanya samar.
Untuk sesaat, napas gadis itu tertahan saat telapak tangan Arka yang besar dan kasar mengusap bekas cengkeraman Santoso dengan lembut.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.