Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 33
Seminggu berlalu dan Rosa semakin uring-uringan. Kesehatannya tak kunjung membaik membuat Hanan dan orang tuanya khawatir. Setiap hari yang dia tanyakan hanya Amelia membuat mereka yang menjaganya menahan benci setengah mati.
“Mas, aku hanya ingin Amelia kembali.” Rosa kembali merengek di pagi hari.
Hanan mengusap kasar rambutnya dengan rasa frustasi. Istrinya itu masih terus menggaungkan hal yang sama setiap hari.
“Kali ini saja dengarkan aku, Sa. Amelia tidak akan pernah kembali. Aku sudah memutuskan itu.” Pria itu masih tetap pada keputusannya.
“Amelia tidak salah, Mas. Semuanya hanya kecelakaan.” Rosa mengelak.
“Benar, itu kesalahan yang nyaris merenggut nyawamu.” Suara Hanan terdengar sangat datar.
“Mas—“
“Rosa Eleanor.”
Rosa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kepalanya terkulai lemah. Menunduk dengan mata berkaca-kaca. Pertama kalinya Hanan tampak kehilangan kesabaran hingga menaikkan suaranya pada wanita itu.
Pria itu mengerang frustasi. Dia keluar meninggalkan Rosa yang tertunduk sedih. Orang tuanya hanya bisa berusaha menenangkan putri mereka itu.
“Jangan sedih. Hanan hanya takut kamu terluka. Bisakah kamu melupakan Amelia sebentar?” Sang ibu membujuk anaknya. Jujur saja, dia pun terkadang masih cukup segan dengan Hanan. Melihat kemarahannya barusan membuat mereka tak berdaya.
“Ibu, aku hanya merindukan Amelia. Dia ... bagaimana jika dia dalam bahaya di luar sana?” Rosa benar-benar menangis sekarang.
“Apa yang kamu pikirkan? Anak itu pasti kabur ke rumah si Kanaya itu. Sayangnya, dia sudah pindah rumah. Benar-benar tidak ada informasi tentang tempat tinggal baru mereka. Anak itu benar-benar kabur kali ini.” Sang ibu tampak geram.
Biasanya Amelia memang sering kabur, tetapi tak akan bertahan lama, paling lama hanya tiga hari, tapi ini sudah seminggu lebih dan sama sekali tak ada kabar. Nomornya bahkan sama sekali tak aktif.
Di luar rumah sakit, Hanan menghubungi Jetro untuk menemani Rosa sementara dia keluar untuk mencari Amelia. Pada akhirnya, demi istrinya dia harus menjilat ludahnya sendiri.
“Tenang saja, aku akan menjaganya. Dia tetap sahabat kecilku.” Jetro menepuk pelan pundak Hanan sebelum masuk ke rumah sakit.
Hanan terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya. Namun, dia tanpa sengaja melihat sebuah kertas yang jatuh dari saku celana Jetro. Entah kenapa dia tiba-tiba tertarik dan mundur memungut kertas yang tak lain adalah sebuah foto.
Dahi Hanan berkerut dalam karena bukan foto siapa pun yang dia temukan, hanya gambar kaki hingga betis yang dibalut sepatu berwarna merah muda. Yang membuatnya tak nyaman adalah kulit yang tak lagi mulus di foto itu, terdapat banyak bekas luka yang sepertinya adalah hasil dari sundutan rokok.
Hanan tahu bahwa dulu Jetro memiliki sepak terjang yang lumayan berandal untuk anak sekolah, tapi foto itu terlalu ekstrem. Apa Jetro bahkan melakukan kekerasan dan mengoleksi foto dari para korbannya itu.
Hanan menghela napas pelan. Jetro memang berjanji bahwa dia tak akan melakukan hal-hal menyimpang lagi selama dia diizinkan berteman dengan Rosa dan itu juga bukan urusannya, kecuali hal itu sudah menyangkut orang yang dia sayangi.
Foto itu kemudian disimpan di saku kemejanya karena dia sedang terburu-buru menemui seseorang sekarang ini.
Mereka telah membuat janji temu di sebuah kafe.
“Jadi, ada urusan apa hingga Tuan Muda keluarga Ester repot-repot menghubungi kawan lamanya ini?” Asta tampak duduk dengan posisi santai. Menatap Hanan yang memberinya pandangan lurus sedari tadi.
“Aku butuh alamat Kanaya.”
Asta menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak memberikan informasi secara cuma-cuma.”
Meski Asta sempat menyebutkan kawan lama, tapi pada dasarnya hubungan mereka sudah lama menjadi dingin setelah Hanan memutuskan meninggalkan keluarga utamanya—keluarga Ester.
“Aku perlu untuk mencari informasi keberadaan Amelia.” Hanan langsung mengatakan tujuannya.
Tawa pelan keluar dari bibir tipis Asta. Terdengar meremehkan dan sangat menjengkelkan di telinga Hanan.
“Bukankah kau sudah mengakhiri hubungan kalian? Kurasa tidak ada lagi alasan aku memberi tahu keberadaannya.” Asta menolak secara halus.
“Aku hanya ingin mengetahui alamat Kanaya.”
“Itu lebih tidak bisa kuberi tahu. Kanaya itu tunanganku—calon istriku.” Asta tersenyum remeh.
Hanan mengepalkan tangannya erat. “Jadi, kau akan memberikan alamatnya atau tidak?”
“Jawabannya sudah jelas.” Asta mengalihkan pandangannya dan menyesap kopi di depannya.
Hanan akhirnya beranjak tanpa kata.
“Tapi, ada satu hal yang bisa kuberitahukan.”
Hal itu sukses membuat langkah Hanan terhenti, meski dia tak berbalik.
Senyum sinis Asta terukir. “Tunanganku sudah tidak ada di kota ini, bahkan di negara ini. Kau tahu artinya, ‘kan? Dia tidak akan pergi tanpa sahabatnya, gadis yang sebenarnya sedang kau cari sekarang.”
Asta beranjak dari kursinya dan menghampiri Hanan. “Aku hanya bisa mengatakan bahwa kau sudah terlambat ... untuk semuanya.”
Pria itu kemudian meninggalkan Hanan yang mematung di dekat meja.
Pergi.
Amelia benar-benar pergi tanpa meninggalkan kabar apa pun. Apa kali ini gadis itu benar-benar akan menghilang seperti yang terakhir kali dia minta.
Hanan akhirnya meninggalkan kafe setelah tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Satu-satunya tempat yang akan dia datangi tentu saja rumah sakit. Kembali pada istrinya.
Sebelum itu, telepon Hanan berdering—panggilan masuk dari Jetro.
“Ada apa?”
“Bisakah kau mampir ke rumahku mengambil kotak berwarna biru? Itu hadiah untuk Rosa, tapi aku melupakannya saat ke rumah sakit. Ada di atas meja dekat kolam ikan. Aku tanpa sengaja meninggalkannya di sana.”
“Baiklah.”
Hanan menutup panggilan itu dan melajukan mobilnya menuju rumah Jetro. Jaraknya tak terlalu jauh dari kafe tersebut, mungkin hanya perlu menempuh kurang lebih sepuluh menit.
Begitu tiba digerbang, Hanan langsung dipersilakan masuk oleh penjaga gerbang. Rumah besar itu tampak begitu kosong karena Jetro tak membiarkan pekerja rumahnya tinggal di sana. Mereka punya tempat tinggal sendiri, hanya bertugas saat pagi dan sore atau saat Jetro meminta mereka datang.
Begitu tiba di area kolam ikan, Hanan segera mengambil kotak warna biru di atas meja. Matanya tanpa sengaja melirik pada sebuah ruangan yang tak tertutup rapat. Posisinya tertutup beberapa tanaman besar di dalam pot. Rasa penasarannya memuncak. Dia tahu itu tidak sopan, tapi instingnya seolah meminta dia masuk.
Tangannya mendorong pintu secara perlahan hingga terlihat isi di dalam ruangan yang seluruh permukaan dindingnya dipenuhi foto. Hanan mendekati salah satu foto yang berada di tengah-tengah papan tulis dengan pita merah menghiasinya, tampak begitu mencolok. Pria itu mengeluarkan foto di sakunya dan mencocokkannya dengan yang di papan tulis itu.
Setelah diamati, ternyata foto di tangan Hanan adalah kaki kiri, sementara foto di papan tulis itu kaki sebelah kanan.
Napas Hanan tercekat untuk sesaat. Dia meliarkan pandangannya dan mendapati foto anggota tubuh yang berbeda dengan luka yang berbeda pula.
Anehnya, Hanan merasa semakin familier dengan seragam dan baju-baju yang dikenakan di dalam foto itu, meski sejauh ini dia tidak menemukan foto dengan wajah sang korban.
“Bajingan ini, apa dia benar-benar masih melakukannya.”