NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Hari Pertama di Dunia Berbeda

Pagi itu Dika terbangun jauh sebelum ayam berkokok. Matanya terbuka lebar, meski semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya melayang ke mana-mana: tentang ibunya yang sakit, tentang rumah besar yang akan ia tinggali, dan tentang bagaimana nanti ia harus bersikap di tempat yang asing itu.

Di atas kasur tipisnya, ia duduk termenung sebentar. Lalu bangkit perlahan, membereskan barang-barangnya. Tidak banyak yang ia miliki: hanya satu tas kain usang berisi tiga helai baju ganti, alat tulis sederhana, dan satu buku catatan kulit lusuh pemberian ibunya. Itu saja seluruh hartanya.

Sebelum berangkat, ia berlutut di samping tempat tidur ibunya. Wanita itu masih terbaring lemah, napasnya terdengar berat. Dika memegang tangan ibunya yang terasa dingin.

“Bu, Dika pergi dulu ya. Nanti dokter datang, Ibu harus nurut sama kata dokter. Dika janji akan sering pulang melihat Ibu,” bisiknya pelan.

Ibunya membuka matanya sedikit, tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. “Hati-hati ya, Nak. Jaga sikap, jangan lupa siapa diri kita.”

“Siap, Bu.”

Belum lama kemudian, suara klakson mobil terdengar dari ujung gang. Warga sekitar yang mulai beraktivitas pun melongok penasaran. Lagi-lagi mobil mewah itu datang menjemputnya. Dika mencium tangan ibunya sekali lagi, lalu melangkah keluar dengan tas kainnya di tangan.

Perjalanan pagi itu terasa lebih terang, tapi hatinya tetap terasa canggung. Begitu sampai di depan gerbang rumah Wijaya, suasana terasa sangat berbeda. Matahari pagi menyinari halaman yang luas, menampakkan barisan bunga warna-warni dan pohon-pohon yang terawat rapi. Udara di sini terasa lebih sejuk dan bersih, jauh dari debu dan bau asap di tempat tinggalnya.

Begitu turun dari mobil, seorang wanita paruh baya berpakaian seragam rapi sudah menunggu di teras. Wajahnya datar, tidak ada senyum menyapa, tapi juga tidak terlihat marah.

“Kamu Dika?” tanyanya singkat.

“Iya, Bu.”

“Saya Marni, kepala pembantu di sini. Ikut saya, saya tunjukkan kamarmu dan aturan-aturan di rumah ini.”

Dika mengikuti dari belakang dengan langkah pelan. Ia berusaha tidak menatap terlalu lama ke segala arah agar tidak terlihat seperti orang tak tahu diri. Ia dibawa ke bagian sayap timur, agak terpisah dari bangunan utama. Kamar yang disediakan tidak terlalu besar, tapi jauh lebih bersih dan lengkap dibanding rumahnya. Ada tempat tidur, lemari, meja kecil, dan jendela yang menghadap langsung ke taman belakang.

“Ini tempatmu tinggal. Simpan barang-barangmu rapi. Di rumah ini ada aturan yang harus kau patuhi: jangan berjalan berlari atau berisik, selalu berpakaian sopan saat bertemu Nyonya atau Non Kirana, dan jangan sembarangan masuk ke ruangan tertutup tanpa izin. Paham?”

“Paham, Bu. Terima kasih,” jawab Dika sopan.

Setelah Bu Marni pergi, Dika meletakkan tasnya di sudut ruangan. Ia berjalan mendekat ke jendela, memandangi halaman yang luas. Rasanya seperti mimpi, tapi ia sadar ini nyata. Ia ada di sini bukan untuk bersenang-senang, tapi demi kesembuhan satu-satunya orang yang ia sayangi.

Tak lama kemudian, suara panggilan terdengar dari luar. Dika keluar mengikuti Bu Marni menuju ruang makan. Ruangannya sangat luas, dengan meja makan panjang dari kayu mengkilap yang dikelilingi kursi-kursi empuk. Di ujung meja sudah duduk Nyonya Wijaya, sedangkan di sebelahnya ada Kirana yang sedang membaca buku tebal.

“Masuk, Dika. Duduk di situ,” tunjuk Nyonya Wijaya pada kursi yang agak menjauh dari posisi mereka berdua.

Dika duduk perlahan, meletakkan tangannya rapi di atas paha. Ia merasa tidak nyaman melihat banyaknya peralatan makan yang tersusun rapi di depannya. Sarapan yang disajikan pun terasa asing baginya: ada roti gandum, selai buah, telur dadar, susu, dan potongan buah segar. Jauh berbeda dari nasi dan lauk sederhana yang biasa ia makan.

“Makanlah. Mulai hari ini tugasmu membantu di kebun belakang, menyiram tanaman, merapikan buku-buku di perpustakaan, dan sesekali menemani Kirana jika dia membutuhkan teman bicara. Jangan sampai ada hal yang tidak wajar terjadi. Kau mengerti?” tanya Nyonya Wijaya sambil menyesap tehnya.

“Mengerti, Nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin,” jawab Dika mantap.

Kirana sesekali meliriknya sekilas dari balik halaman bukunya, tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Suasana meja makan terasa hening dan agak canggung, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu pelan.

Setelah selesai makan, Nyonya Wijaya berdiri dan membereskan gaunnya sedikit. “Saya harus pergi ke kantor. Dokter sudah saya atur untuk memeriksa ibumu sekitar jam dua siang. Sopir akan mengantarmu pulang nanti. Sementara itu, Bu Marni akan tunjukkan apa saja yang harus kau kerjakan.”

Setelah Nyonya Wijaya pergi, Bu Marni langsung mengajak Dika ke bagian belakang rumah. Di sana terbentang kebun yang cukup luas berisi berbagai bunga dan sayuran.

“Setiap pagi sebelum pukul delapan, kebun ini harus sudah disiram. Rumput liar dicabut, sampah dipungut. Kalau ada tanaman yang layu, lapor saja. Di sini tidak boleh ada yang terlihat kotor atau rusak,” jelas Bu Marni tegas.

Dika mengangguk paham. Pekerjaan seperti ini sebenarnya tidak asing baginya, ia sering membantu tetangga membersihkan halaman. Ia segera mengambil gayung dan mulai bekerja dengan rajin.

Benar seperti yang dijanjikan, tepat pukul dua siang Dika diantar pulang bersama dokter dan seorang perawat. Sesampainya di gang, banyak tetangga yang penasaran melihat mobil bagus dan orang berpakaian rapi datang ke rumah Dika. Dika membantu dokter masuk, menjelaskan keluhan yang sering dirasakan ibunya. Dokter memeriksa dengan teliti, lalu memberikan resep obat dan pesan perawatan yang harus dijaga.

“Kalau dirawat dengan teratur dan cukup istirahat, seharusnya kondisinya akan membaik dalam satu atau dua minggu,” ujar dokter menenangkan.

Hati Dika terasa lega mendengarnya. Setelah menyerahkan biaya pengobatan yang sudah disiapkan Nyonya Wijaya, ia berpamitan dan kembali ke rumah Wijaya.

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Dika melihat Kirana sedang duduk sendirian di bangku taman dekat kolam ikan. Wajahnya terlihat murung, pandangannya kosong menatap air kolam. Dika ragu sejenak, ingat pesan Nyonya Wijaya agar ia menemani gadis itu. Dengan langkah hati-hati ia mendekat.

“Permisi... Non Kirana,” sapanya pelan.

Kirana menoleh, sedikit terkejut. “Oh, kamu. Ada apa?” suaranya terdengar dingin dan datar.

“Maaf mengganggu. Saya cuma... ingat pesan Nyonya, kalau boleh menemani Anda jika sedang tidak sibuk,” jawab Dika sopan.

Kirana terdiam sebentar, lalu membuang mukanya kembali ke kolam. “Tidak apa-apa. Kalau mau duduk saja, tapi jangan banyak bicara. Saya sedang suka diam.”

Dika mengangguk, lalu duduk agak berjauhan di ujung bangku. Ia tidak berani banyak bertanya, hanya ikut menatap ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari. Langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan, dan angin sore berhembus pelan menerbangkan daun-daun kering. Untuk pertama kalinya, suasana di antara mereka tidak terasa sepenuhnya dingin. Ada ketenangan yang pelan tumbuh di balik keheningan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!