Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bab 23
Pelukan Dalam Yang Menenangkan
Seluruh persendian Mila mendadak lemas. Di dalam lorong toilet yang sepi dan terisolasi dari keramaian toko, waktu seolah berhenti berputar. Aroma tembakau menyengat dan sisa alkohol yang menguar dari tubuh Arjun membuat lambung Mila bergejolak mual.
"Arjun..." Mila melangkah mundur secara refleks, hingga punggungnya membentur pinggiran wastafel marmer yang dingin. "K-kamu... bagaimana bisa..."
"Bagaimana bisa gue tahu?" Arjun terkekeh sinis. Ia melangkah maju, menutup jarak di antara mereka dengan santai, seolah menikmati ketakutan yang terpancar jelas dari mata mantan istrinya. "Kamu pikir dunia ini luas, Mila? Setelah semua yang gue korbanin buat lu, lu pikir bisa lari gitu aja?"
"Jangan mendekat!" pekik Mila dengan suara bergetar, tangannya terangkat ke depan untuk menahan pergerakan Arjun. "Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi! Tolong pergi, atau aku teriak!" ancam Mila.
"Teriak aja," tantang Arjun. Sorot matanya mendadak berubah liar, kilat frustrasi dan amarah akibat jeratan utang judi mencuat ke permukaan. "Teriak biar satu toko ini tahu kalau lu itu istri yang durhaka, yang kabur dari rumah, malah asyik liburan sama laki-laki lain!"
Arjun merangsek maju dan dengan kasar mencengkeram pergelangan tangan Mila.
"Aw! Lepas, Arjun! Sakit!" Mila meringis kesakitan. Ia mencoba memberontak, memukul dada Arjun dengan tangan satunya, namun tenaga pria itu jauh lebih kuat.
"Ikut gue sekarang!" bentak Arjun sambil menarik paksa tubuh Mila menuju pintu keluar darurat yang berada tepat di ujung lorong toilet. "Lu harus ikut gue pulang ke Jakarta. Sekarang!"
"Nggak mau! Lepasin!" Air mata Mila mulai menetes. Ketakutan masa lalu saat ia kerap dipukuli kini kembali menghantui benaknya.
Sementara itu, di area depan toko, Andra melangkah tergesa-gesa membelah kerumunan stafnya. Dua orang petugas keamanan berbadan tegap mengikutinya dari belakang dengan langkah cepat.
"Risa!" panggil Andra dengan nada suara yang tegas dan penuh penekanan.
Risa yang baru saja selesai membayar di kasir terkejut melihat bos besarnya tiba-tiba berdiri di depannya dengan wajah tegang. "Eh, iya, Pak Andra? Ada apa, Pak?"
"Di mana Mila?"
"Mila? Tadi pamit ke toilet di bagian belakang, Pak. Katanya perutnya agak mulas."
Mendengar kata 'toilet belakang', insting Andra langsung bergolak hebat. Mengingat laporan sahabatnya mengenai jaringan preman Arjun dan pria kurus mencurigakan di parkiran tadi, Andra tidak mau mengambil risiko sedetik pun.
"Ikut saya," perintah Andra pada kedua pengawalnya, lalu berlari menuju koridor belakang toko.
"Lepas... hiks... tolong lepasin, Arjun..." Mila terus meronta, berusaha menahan bobot tubuhnya agar tidak terseret keluar dari pintu darurat.
"Diam, bangsat!" Arjun kehilangan kesabaran. Tangannya yang bebas terangkat ke udara, siap melayangkan tamparan keras ke pipi Mila untuk membuatnya patuh, hal yang sama seperti yang biasa ia lakukan dulu di rumah kontrakan mereka.
Mila memejamkan mata erat-erat, bersiap menerima rasa sakit yang teramat sangat.
Namun, pukulan itu tidak pernah sampai.
Brak!
"Jangan berani-berani kau menyentuh dia dengan tangan kotormu!" Sebuah suara bariton yang menggelegar memecah kesunyian lorong toilet.
Mila membuka matanya yang basah. Andra sudah berdiri di sana, dengan satu tangan mencengkeram kuat pergelangan tangan Arjun yang menggantung di udara. Wajah Andra tampak begitu mengerikan; rahangnya mengetat, dan tatapan matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
Arjun tersentak, menatap pria asing berjas kasual di depannya dengan pandangan meremehkan. "Siapa lu?! Nggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang!"
"Saya Andra," jawab Andra dengan nada suara yang teramat dingin namun penuh penekanan. "Dan mulai hari ini, siapa pun yang berani menyakiti Mila, artinya dia sedang mencari masalah dengan saya."
"Oh... jadi lu bos yang sering berduaan sama istri gue?!" Arjun berteriak geram. Ia mencoba melepaskan cengkeraman Andra, lalu mengayunkan tinjunya ke arah wajah Andra.
Andra dengan tangkas menghindar ke samping. Tanpa membuang waktu, dua petugas keamanan yang berada di belakang Andra langsung merangsek maju. Dengan keahlian taktis mereka, kedua pria tegap itu memiting kedua lengan Arjun ke belakang dan mengunci tubuhnya ke dinding koridor.
Gubrak!
"Lepasin gue! Sialan! Bajingan lu semua!" Arjun berteriak-teriak, wajahnya memerah karena amarah dan posisi tubuhnya yang terkunci rapat.
Andra tidak memedulikan makian Arjun. Ia segera berbalik dan merengkuh tubuh Mila yang sudah gemetar hebat ke dalam pelukannya.
"Mila... kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Andra, suaranya mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh kekhawatiran.
Mila menggelengkan kepala di dada Andra. Ia meremas kemeja biru gelap pria itu erat-erat, menumpahkan seluruh rasa takut dan tangisnya yang pecah di sana. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mila merasa memiliki sebuah benteng kokoh yang siap melindunginya dari badai apa pun.
Andra mengusap punggung Mila pelan, mencoba menenangkannya. Namun, matanya kembali menatap Arjun yang masih meronta di bawah kuncian petugas keamanan.
"Bawa laki-laki ini ke kantor polisi terdekat," perintah Andra dingin kepada kedua pengawalnya. "Saya sendiri yang akan mengurus laporan atas tindakan pengancaman, penguntitan, dan percobaan kekerasan fisik."
"Polisi?! Lu nggak bisa laporin gue! Dia istri gue!" teriak Arjun kalap. "Mila! Lu tega laporin suami lu sendiri, hah?!"
"Kalian sudah bercerai secara siri dan dia sudah mengajukan gugatan resmi," potong Andra tajam. "Dan di mata hukum, tindakanmu hari ini sudah lebih dari cukup untuk menjebloskanmu ke dalam sel."
Petugas keamanan langsung menyeret Arjun yang terus memaki keluar melalui pintu darurat agar tidak membuat kehebohan di dalam area perbelanjaan toko.
Suasana lorong kembali sepi. Andra perlahan melonggarkan pelukannya, lalu menangkup wajah Mila dengan kedua tangannya. Ia mengusap sisa air mata di pipi wanita itu menggunakan ibu jarinya.
"Semuanya sudah selesai. Kamu aman sekarang," bisik Andra menatap lekat mata sembab Mila.
Mila menatap balik manik mata Andra yang teduh namun penuh ketegasan. Rasa hangat yang sangat besar kembali merayapi hatinya, mengalahkan rasa takut yang tersisa. "Terima kasih... terima kasih banyak, Pak Andra."
Andra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu tulus. "Ayo, kita kembali ke bus. Kita pulang ke Jakarta."
Mila mengangguk pelan. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih ringan. Meskipun ia tahu proses hukum ke depan mungkin tidak akan mudah, ia sadar bahwa kali ini, ia tidak lagi berjalan sendirian di bawah bayang-bayang masa lalunya.
Mila melirik Andra yang berjalan di sisinya, entah kenapa dalam kondisi ketakutan tadi, dia menerima pelukan hangat dari Andra. Pria itu selama ini selalu menjaga kontak fisik.