Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Nona Huang tahu
"Diusir dari istana? Ayah tidak pernah cerita masalah ini padaku," gumamku dalam hati.
Rasa sedih kembali menerpa hatiku, hingga aku termenung dengan air mata tertahan dipelupuk. "Jadi aku ini benar-benar bukan anak ayah, lalu aku ini anak siapa? Kenapa ayah menyembunyikan semua ini dariku?"
Ada rahasia apa lagi yang mungkin belum aku ketahui? Siapa sebenarnya aku ini?
"Nak ... Nak Qiuye. Kenapa diam, Nak?" Bibi Cen mengguncang bahuku dan aku seketika tersadar.
"Ya Bi," balasku.
"Maaf, sepertinya Bibi salah bicara." Bibi Cen merasa bersalah berkata demikian, sebab melihat reaksiku yang berubah murung membuat ia yakin bahwa aku tidak tahu apa-apa mengenai semua ini.
"Ah tidak apa Bi, tidak perlu meminta maaf. Tapi Bibi, bolehkah Bibi ceritakan kejadian yang sebenarnya. Maksudku bisa tidak Bibi memberitahu aku lebih jelas mengenai kejadian enam belas tahun yang lalu saat ayah diusir dari istana?" Aku memohon.
"Dulu tabib Jiang adalah satu-satunya tabib terbaik di istana ini, semua memuji kehebatan tabib Jiang karena tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan olehnya. Akan tetapi semenjak kedatangan tabib Nan, semuanya telah berubah," ucap Bibi Cen
"Tabib Nan? Siapa dia? Dan apa yang berubah Bi?" tanyaku memotong.
"Tabib Nan adalah tabib yang menggantikan Tabib Jiang saat ini, dan semenjak ia masuk ke dalam istana, diagnosis tabib Jiang selalu saja berubah salah. Lalu mereka semua meragukan kemampuan Tabib Jiang, sehingga tabib Jiang mulai kehilangan kepercayaan dari para anggota istana termasuk Kaisar Song sendiri," jawab Bibi Cen.
Akhirnya aku mengetahui sedikit demi sedikit informasi mengenai ayahku, dari cerita Bibi Cen aku berkesimpulan bahwa terjadi sesuatu di istana saat enam belas tahun yang lalu.
Namun yang tidak aku mengerti adalah kenapa ayahku bisa diusir setelah tabib Nan masuk istana, karena setahuku ayah tidak pernah salah mendiagnosis seseorang atau salah dalam mengobati penyakit.
Apakah diusirnya ayahku dari istana ada hubungannya dengan tabib Nan? Tapi apa tujuannya?
Merasa belum cukup aku coba mengorek informasi lain. "Lalu Bibi, bisakah Bibi memberitahuku mengenai para pelayan wanita disini? Maksudku apakah ada dayang istana yang pernah melahirkan di istana ini pada lima belas tahun yang lalu?"
"Nak, dayang dan pelayan wanita di istana semuanya adalah milik kaisar Song. Mereka tidak boleh menikah dan tidak boleh keluar dari istana. Seumur hidup para dayang dan pelayan hanya boleh mengabdi pada yang mulia kaisar dan juga istana ini. Kemudian jika ada seorang pelayan atau dayang yang melanggar aturan tersebut, maka mereka akan diusir dari istana atau dijadikan budak rendahan," balas Bibi Cen.
"Lalu Bibi, apakah ada pelayan atau dayang wanita yang melanggar aturan itu?" tanyaku berharap bisa mengetahui sesuatu.
Bibi Cen tersenyum. "Apa kau ingin mencari keberadaan seseorang?" tanya balik Bibi tanpa menjawabku.
Aku mengangguk.
"Maka pergilah ke ruang arsip istana, disana ada beberapa daftar nama-nama dayang dan pelayan yang bekerja disini. Bahkan skandal atau prestasi mereka tertulis di dalam daftar itu," balas Bibi Cen.
"Ruang arsip istana?"
"Ya, arsip istana. Tapi hanya orang-orang yang memiliki ijin khusus yang bisa masuk ke dalam sana," balas Bibi Chen.
"Ijin khusus? Bagaimana aku bisa mendapat ijin itu?" tanyaku kembali.
"Nak, lupakan saja. Ijin khusus hanya digunakan untuk kepentingan istana, orang biasa yang tidak memiliki kepentingan tidak diperbolehkan masuk kedalam ruangan itu. Lagipula, hanya kepala dayang istana tertinggi, kepala kasim, Kaisar dan Putra Mahkota saja yang bisa mengeluarkan ijin tersebut," jelas Bibi Cen
Aku terdiam sejenak memikirkan sesuatu, apakah tidak ada jalan lain agar aku bisa masuk kesana? Apa aku harus meminta bantuan kepada nona muda huang? Tapi kalau ditanya nanti, maka apa alasanku ingin kesana?
"Nak, Qiuye. Obatmu sudah matang." Bibi mengingatkanku.
"Aduh, karena terlalu lama bicara aku sampai melupakan obat nona." Aku bergegas mematikan bara api pada tunggu dan mengangkatnya.
"Hmm.. Sini Bibi bantu," ucapnya menawarkan bantuan dengan mengambil mangkuk tanah liat.
"Ya Bibi, terima kasih." ucapku kemudian menuang obat ke mangkuk tanah liat.
"Bibi, aku sudah selesai. Terima kasih banyak ya Bibi," ucapku lalu pamit.
"Nak, Qiuye."
"Ya Bibi," jawabku ketika Bibi Cen memanggil.
"Titip salam untuk Tabib Jiang," balasnya.
"Baik Bibi."
...***...
Setelah dari dapur obat, aku segera mengantar obat untuk nona muda Huang. Disana aku sudah melihat nona telah berpakaian rapi.
"Nona, ini obat anda."
"Terima kasih Qiuye," balasnya lalu meneguknya perlahan.
"Sama-sama," balasku mundur.
"Ah pahit sekali," ucap Nona Huang menaruh mangkuk kemudian membersihkan sisa obat yang menempel pada bibirnya. "Qiuye, sampai kapan aku harus minum obat ini?" tanyanya kemudian.
Aku memeriksa nadi nona Huang dan tersenyum padanya. "Nadi anda sudah stabil, jadi ini adalah obat anda yang terakhir. Setelah itu anda sudah tidak perlu meminum obat lagi," jawabku kemudian.
"Ah syukurlah, aku senang rasanya. Terima kasih Qiuye," ucap Nona Huang.
"Sama-sama Nona," jawabku turut senang.
"Oh iya, ini untukmu." Nona Huang memberikanku sebuah kotak hadiah.
"Apa ini Nona?" tanyaku ingin tahu.
"Buka saja."
Aku membuka kotak tersebut dan terkejut dengan isi didalamnya. "Ini," ucapku menatapi sebuah hanfu baru berwarna merah jambu.
"Ya ini untukmu, coba pakailah."
"T-tapi Nona, ini terlalu bagus. Aku tidak bisa memakainya," jawabku menolak.
"Bagaimana kau akan pergi ke pesta rakyat dengan baju burukmu itu? Kau terlihat seperti laki-laki memakai baju tabib dan penutup kepala jelek ini," ucap Nona Huang mencubit bajuku yang sudah usang.
"Tapi Nona," ucapku menolak. Karena bukan tanpa alasan, aku tidak ingin orang lain mengetahui warna asli rambutku ini dan aku takut mereka menganggapku orang aneh.
"Tidak ada tapi-tapi, kali ini kau harus menurut!" Nona Huang kemudian memerintahkan Bibi Lan dan pelayannya yang lain agar memegangiku.
"Nona," ucapku memohon agar nona Huang tidak memaksaku.
Namun apa boleh buat, aku hanya bisa pasrah ketika nona Huang membuka penutup kepalaku.
Seketika semua di ruangan itu mendadak hening, mereka semua menatap kearahku. Mereka terperangah ketika melihat helaian rambut panjangku yang berwarna coklat keemasan jatuh menjuntai hingga kepunggung.
Cengkraman tangan Bibi Lan lantas mengendur, bahkan pelayan yang lainnya perlahan mundur dan menjauhiku.
"Qiuye ..."
"Nona Qiuye ..."
Aku tertunduk sedih, dan aku tidak tahan lagi untuk menangis.
"Nona Qiuye maafkan kami," sesal Bibi Lan dan pelayan yang lainnya.
Melihatku menangis dan enggan berbicara, Nona Huang lantas memerintahkan Bibi Lan dan beberapa pelayan di kamar ini agar meninggalkan ruangan dan membiarkan kami berdua.
"Qiuye, jangan menangis. Ini kah alasanmu menutupi kepalamu?" tanya Nona Huang akhirnya mengerti kenapa Qiuye menutupi kepalanya.
Aku mengangguk dengan deraian air mata.
"Jangan bersedih Qiuye, menurutku rambutmu ini sangat indah. Kau hanya perlu menatanya saja," ucap Nona Huang membelai-belai rambutku.
"Tapi Ayah berkata aku tidak boleh menunjukkan warna rambutku ini," ucapku sesunggukan.
"Kenapa?" tanya Nona Huang penasaran.
"Entahlah, tapi ayah benar-benar melarangku."
Aku akhirnya menceritakan semua rahasiaku kepada nona Huang, dimana aku bukanlah putri kandung dari ayahku sendiri. Hingga tekadku untuk mencari identitasku di istana ini dan berharap aku bisa menemukan keluarga kandungku yang asli.
...Bersambung....